Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Daftar orang yang kubenci


__ADS_3

Jam di dinding depan ruang siar, baru menunjukkan pukul 7 malam. Tapi mata ini serasa digelayuti ribuan ton pemberat. Amel terlihat sibuk menyiapkan request lagu dari pendengar. Si ratu telat yang hari ini nggak telat siaran. Kemajuan yang luar biasa pikirku.


Setelah kemarin aku mengetahui fakta bahwa Pak Kudori sudah meninggal dunia lebih dari satu bulan yang lalu, padahal beberapa hari sebelumnya aku bertemu dan mengobrol dengannya. Aku memutuskan untuk tidak menyambangi SPBU itu lagi, apalagi kalau malam hari. Kenapa sih hidupku akhir-akhir ini penuh dengan hal tak masuk akal.


Dua hari ini, Irul beberapa kali menelepon dan SMS yang semuanya aku hiraukan, tak kupedulikan. Aku yakin Irul akan mengajakku makan-makan atau sejenisnya untuk melaksanakan perintah Febi memasukkan sesuatu ke minumanku. Untungnya waktu itu aku sempat menguping. Kalau tidak entah apa yang akan terjadi. Ngeri memikirkan bahwa sahabatku sendiri tega mengkhianati aku, apapun alasannya.


Hooaahhhm


Aku menguap lebar, emang udah ngantuk, ditambah otak diajak berpikir hal-hal yang berat membuat kesadaranku benar-benar menipis. Aku mulai terlelap.


Drrtt drrtt drrtttt


HP di meja depanku bergetar, mengganggu proses meditasi ke alam mimpi. Kuraih dan kulihat, ternyata Ibuk yang telepon.


"Hallo Buk, assalamualaikum", Aku mengucap salam terlebih dahulu.


"Waalaikumsalam. Lee, suaramu kok koyok udah ngantuk gitu?", Ibuk bertanya padaku. Begitu hafalnya, suaraku berubah sedikit saja langsung hafal apa yang sedang kurasakan.


"Iya buuk, wes hampir merem lho ini. Ngantuk banget. . . hooaahhmm", Aku berbicara sambil menguap lebar.


"Sek sore kok udah ngantuk. Eh, lee. . .Dani, besok Bapak ngajak kita semua pulang ke rumah", Ibuk berkata dengan intonasi yang membuat aku merasa rindu. Rindu rumah, rindu Ibuk.


"Beneran Buk? Kok bisa", Aku agak kaget dengan kabar dari Ibuk. Rasa kantukku terasa berkurang.


"Kemarin kayak e Bapakmu ketemu lagi sama Mbah Kadir. Terus ya ini tadi ngajakin besok pulang ke rumah katanya. Bapak ngomong juga, kabari Dani gitu", Ibuk bercerita, dengan nada dan suara yang kurindukan.

__ADS_1


"Tapi Bapak belum ngasih penjelasan soal sajen Buk, untuk apa", Aku terus mendesak meminta penjelasan.


"Leee. . .Ibuk yakin, Bapakmu tidak seperti yang kamu tuduhkan. Aku kenal dan bareng sama Bapakmu itu sudah dua puluh tujuh tahun lamanya. Bapakmu nggak mungkin melakukan hal semacam itu. Percayalah", Ibuk menenangkan.


"Kata Bapakmu soal sajen dan semuanya, nanti bakal dijelasin. Yang penting kita bisa kembali ke rumah dulu", Ibuk mengakhiri nasehatnya.


"Baiklah, besok aku akan menyusul pulang Buk ", Aku memyudahi percakapan malam ini.


Ibuk yang selalu menghubungiku, memperhatikanku selama ini. Bapak tak pernah sedikitpun bertanya bagaimana kabarku, sudahkah aku makan, aku tidur dimana, dia nggak peduli. Aku menatap langit-langit, sebuah harapan terpanjat di sana. Semoga kelak jika aku menjadi orangtua aku tidak seperti Bapakku ini. Mengecewakan anak dan isterinya.


Rasa kantukku menghilang, ambyar sudah. Aku duduk di sofa, mulut yang sedari tadi terus menguap kini berubah menjadi meminta jatah makan. Disusul perut yang mulai keroncongan, dan bersuara seperti orkestra. Teringat memang aku belum makan malam ini. Karena kemarin baru gajian, dan besok aku sudah pulang, malam ini aku pengen makan makanan yang enak. Memanjakan diri sekali-kali.


Aku menuju parkiran hendak meluncur bersama si Thor, ketika terdengar suara mobil datang mendekat. Mobil warna putih berhenti di dekatku. Mobil yang aku hafal plat nomornya. Mobil si Irul, tuan muda kaya raya, si kunyuk yang telah berkhianat.


"Lhoh, mau kemana?", Irul turun dari mobilnya bertanya padaku.


"Hmmm, kalau nyari nggak ada, adanya beli", Irul tersenyum cengar cengir, lawakan garing yang nggak lucu sama sekali.


"Kamu kenapa sih nyuk? Kayak lirik lagu, di telepon nggak diangkat di SMS nggak di bales, apaa sih maumu?", Irul bernyanyi, lagi-lagi mencoba melucu di depanku. Aku bersikap acuh tak acuh, seolah Irul tidak ada di hadapanku.


"Nyuk? Kamu ada masalah to? Atau aku ada salah nang dirimu?", Kali ini Irul terlihat serius, ketika memperhatikanku yang tidak menanggapinya.


"Aku lapar, mau cari makan. Dah ya. . .", Aku naik di atas jok si Thor. Irul buru-buru menahan lenganku.


"Sebentar Dan, kamu kenapa sih?", Irul bertanya serius padaku.

__ADS_1


"Apaan, aku kan udah ngomong aku lapar", Aku melepas paksa tangan Irul dari lenganku. Rasanya seperti adegan ftv saja.


"Bro, kalau aku ada salah, ngomong saja lah. Jangan diam-diam kayak gini. Laki-laki itu kalau ada masalah sama temen selesaikan dengan ngomong atau sekalian kalau kamu marah mau mukul ya mukul", Irul terlihat kesal.


"Temen? Temen apa yang berbohong dan menipu temennya?", Aku menatap Irul dengan penuh kebencian.


"Hah?", Irul tampak kaget mendengar ucapanku.


"Coba sekarang jawab aku Rul. Apa yang telah kamu dan Febi rencanakan kepadaku? Hah?", Aku melotot menatap Irul.


Irul terlihat bingung. Seketika tertunduk, mulutnya tertutup rapat, tak ada suara ataupun jawaban atas pertanyaanku dari bibirnya. Terlihat jelas dia tidak menduga aku akan menanyakan ini padanya.


"Kamu nggak bisa jawab kan? Aku tahu kamu sepertinya diancam sama Febi. Sebegitu takutnya dirimu sama cewek aneh itu? Hah?!", Aku terus memojokkan Irul tanpa memberinya waktu untuk menjawab.


"Cewek aneh katamu? Cewek aneh yang kau cium di rumahmu?", Irul kali ini bersuara, sebuah pertanyaan yang membuat darahku mendidih.


"Hah? Darimana kau tahu soal itu Rul? Sebenarnya apa yang kau rahasiakan dengan Febi dariku?", Aku turun dari motor, mencengkeram kaos Irul. Irul terasa pasrah.


"Kamu nggak ngerti apa-apa Dan. Kamu nggak ngerti seberapa berbahaya nya jika kamu menentang Febi", Irul menghela nafas dan menatapku.


"Coba jelaskan padaku. Jika aku memang masih kau anggap teman", Aku balas menatapnya.


"Aku bakal jelasin, tapi nggak sekarang Dan", Irul berkata lirih.


"Oke. Tapi sebelum kamu mau menjelaskannya padaku, sebaiknya kau jauh-jauh dariku. Aku nggak mau kamu kasih minum dari kain kumal yang kau terima dari Febi", Aku tersenyum sinis, melepaskan cengkeraman pada kaos Irul. Terlihat bekas kerutan-kerutan pada kaosnya saking kuatnya cengkeramanku.

__ADS_1


Aku kembali menaiki Thor. Menghidupkan mesinnya dan sengaja menggeber di sebelah Irul. Terlihat Irul hanya diam saja. Tak bergeming, tak melihat ke arahku. Aku merasa puas, puas meluapkan emosiku kepada orang yang beberapa waktu lalu masuk daftar sahabat baikku. Kini, dia masuk daftar salah satu dari sekian orang yang kubenci di dunia. Daftar teratas orang yang kubenci adalah, Bapak, peringkat kedua Mbah Kadir, kemudian Febi, Irul, dan terakhir Iwan. Dan daftar orang yang kurindukan saat ini yang pertama adalah Ibuk, yang kedua adalah. . .Erni . . .


- - -


__ADS_2