Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Rencana pembongkaran rumah


__ADS_3

Hari berganti, waktu melesat dengan kecepatan yang tak terduga. Lima belas hari sudah Bapak dirawat di Rumah Sakit. Kondisi badannya semakin melemah. Sebenarnya tak ada keluhan berarti yang dirasakan oleh Bapak. Suhu badan normal, hasil pemeriksaan lab pun tidak ada jenis penyakit tertentu yang diderita. Namun, selama satu minggu ini tak ada se suap makanan yang masuk ke dalam pencernaannya.


Bapak terlihat semakin kurus. Rambutnya yang memutih juga mengalami kerontokan. Pandangan matanya yang sayu, cekungan di pipinya yang terlihat jelas. Bapak hanya mampu terbaring, sudah kesulitan untuk duduk sendiri.


Malam ini Aku, Ibuk dan Lik Diran duduk lesehan di sebelah tempat tidur Bapak. Tak ada satupun dari kami bertiga yang bersuara. Bapak terlihat tidur pulas, beberapa kali dengkuran terdengar. Udara cukup dingin kali ini. Bapak terlihat nyaman memakai selimut dalam tidurnya.


Beberapa hari ini Ibuk selalu menemani Bapak. Karena Bapak selalu memanggil manggil Ibuk ketika Ibuk tidak ada didekatnya. Manjanya semakin menjadi. Sementara Adik sudah lengket dengan Bu Minah. Lik Diran wira wiri mengurus rumah, pekerjaan, dan Kakangnya. Sementara aku lebih sering menginap di studio daripada harus tidur sendirian di rumah Lik Diran.


Uhuuk Uhhukk Uhuuukk


Suara Bapak terbatuk batuk memecah keheningan. Batuk yang terdengar kering dan menyakitkan.


"Buukk, Ibuk mana?," Bapak terdengar mencari cari Ibuk.


Ibuk beranjak dari duduknya, mendekati Bapak.


"Aku disini Paakk," Ibuk menjawab dengan penuh kesabaran.


"Rumah wes dibongkar?," Bapak tiba tiba saja menanyakan hal yang membuat Aku, Ibuk dan Lik Diran terkaget.


"Be- belum Paakk," Ibuk menjawab tergagap.


"Kok belum?," Bapak kembali bertanya, matanya membuka dan menutup seperti orang menahan kantuk.


"Bapak sudah yakin?," Ibuk mencoba bertanya, memastikan keinginan Bapak.


"Iya Buukk. . . Rumah itu Bukk, pokoknya harus segera dibongkar," Bapak menjawab dengan serius tak ada keraguan dalam ucapannya. Ibuk terdiam dan menunduk.

__ADS_1


"Iya Kang, besok tak minta e pekerjaku ya untuk mbongkar. Nanti atapnya saja dulu yang di bongkar. Genteng dan kayu kayunya di boyong ke samping rumahku ya. Disana kan masih longgar, ada tanah kosong punyaku. Cepetlah sehat gek buat rumah lagi disitu," Lik Diran ikut bersuara menjawab permintaan Bapak. Bapak terlihat mengangguk setuju.


"Kang, berjanjilah . . . Kalau rumah sudah dibongkar, berjanjilah kamu segera sembuh Kang, segera sehat," Lik Diran terlihat berkaca kaca, gurat kesedihan nampak di wajahnya.


"Iyaa," Bapak menjawab lirih.


"Bapak mau maem?," Ibuk bertanya pada Bapak. Jatah makan malam masih utuh belum tersentuh. Saat ini baru jam delapan malam.


"Enggak enak buk. Aku tak tidur saja," Bapak masih nggak mau makan. Setiap ditawari makan selalu seperti itu jawabannya.


"Yasudah, tapi nanti jam berapapun Bapak merasa lapar, Bapak ngomong sama Ibuk ya," Ibuk mengelus elus lengan Bapak dengan penuh kelembutan. Bapak mengangguk setuju dan kembali memejamkan matanya.


"Mbak Yu, . . Dani . . besok aku minta pekerjaku untuk mbongkar rumah lhoh ya," Lik Diran bertanya padaku dan Ibuk dengan berbisik.


"Iya Lik," Aku mengiyakan, Ibuk mengangguk setuju.


"Iya, aku manut sama kalian gimana baiknya," Ibuk terlihat pasrah.


"Sekarang Bapak sudah tidur, kamu cepet pulang gek istirahat Lee. Kamu juga Lik, kasihan Mbah Kung sendirian di rumah," Ibuk menasehati aku dan Lik Diran.


"Iya Mbak yu, aku mau nyari rawon dulu buat Mbah Kung. Terus langsung pulang. Ayok Dan nek bareng," Lik Diran pamit mau pulang, mengajakku turut serta.


"Aku tak tidur studio saja ya . . . Besok pagi saja tak pulang," Aku memilih tidur di studio, karena disana tidurku lebih nyenyak.


"Lha kenapa Dan, kok nggak pulang saja?," Lik Diran bertanya padaku. Kedua alisnya terangkat, heran.


"Ya biar dekat dari sini Lik. Jadi kalau sewaktu waktu, misal malam nanti Ibuk atau Bapak butuh sesuatu biar mudah dan cepet aku kesininya," Aku beralasan. Lik Diran manggut manggut paham.

__ADS_1


"Yasudah, aku tak duluan ya," Lik Diran berpamitan setengah berbisik.


"Kalau ada apa apa SMS lho ya," Lik Diran berpesan, kemudian melangkah keluar kamar.


"Buk Ibuk. . .," Aku memanggil Ibuk setelah Lik Diran pergi.


"Ada apa Lee?," Ibuk bertanya lirih.


"Emm anu, aku mau cerita Buk . . . jadi gini, aku pilih tidur studio soale aku nggak krasan di rumah Lik Diran," Aku kali ini merasa perlu bercerita pada Ibuk.


"Lha kenapa?," Ibuk mengerutkan kening, terlihat dia nggak mengerti maksudku.


"Soale aku pernah Buk, diweruh i perewang e Mbah Kung Kadir. Serem e Buk," Aku menceritakan pengalamanku ketemu yang katanya "Teman e" Mbah Kung Kadir.


"Masak? Nggak ganggu kamu kan Lee?," Ibuk kembali bertanya.


"Nggak Buk. Tapi aku yang jadi was was dan nggak tenang kalau pas sendirian. Aku pilih nginep studio saja lah," Aku menggaruk garuk tengkukku yang terasa dingin teringat kejadian ngantar rawon ke rumah belakang malam itu.


"Yah, terserah kamu saja. Yang penting kamu nyaman, istirahatmu cukup," Ibuk berbicara lembut, suara yang selalu bisa menentramkan hatiku.


"Iya Buk. Aku tak ke studio ya kalau gitu. Mumpung Bapak sudah tidur, Ibuk juga harus segera istirahat lho," Aku berpamitan dan mencium tangan Ibuk. Di Rumah Sakit ini memang hanya satu orang yang diperbolehkan untuk menginap menunggu pasien. Dengan tujuan agar si pasien dapat beristirahat secara maksimal, sehingga mampu mempercepat penyembuhan dan pemulihan keadaan pasien.


Aku meluncur menuju radio. Jarak yang cukup dekat, sepuluh menit saja aku sudah mendarat di parkiran radio Pesona FM. Aku melangkah malas masuk studio, dan seperti biasa duduk di sofa, sambil mengamati penyiar yang sedang ngoceh di ruang siar. Kali ini Mas Henri yang terlihat ketawa ketiwi sendirian memandang layar komputer. Kelihatannya lagi asyik menyapa pendengar setianya tuh.


Aku merebahkan badanku, menggeliat sesaat, mengatur posisi rebahan se enak mungkin.


Drrtt Drrtt Drttt

__ADS_1


Getaran di HP memaksa aku duduk kembali. Sebuah telepon dari nomor yang sudah lama ingin aku hapus dan ku blokir namun urung kulakukan. Nama Febi tertulis di layar HP sedang memanggil. Aku membiarkannya, meletakkan HP ku di atas meja. Sungguh aku merasa, jengkel, marah dan takut bercampur aduk teringat dengan cewek gendeng itu. Sudah berminggu minggu Febi nggak datang ke kampus. Nggak jelas kemana perginya cewek itu. Lik Wo pun sampai saat ini belum mengabari aku sama sekali tentang perkembangan kabar Febi. Seperti pesan Lik Wo disuratnya, aku sebisa mungkin tidak berhubungan dengan Febi. Cewek aneh, mistis dan kurasa "berbahaya".


__ADS_2