Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Akhir kisah (?)


__ADS_3

Dua minggu setelah terbakarnya rumah, Febi tidak pernah ditemukan. Begitupun Mbah Kung Kadir yang menghilang tidak pernah lagi terlihat pulang. Lik Diran sudah membuat laporan orang hilang di kepolisian, namun memang Mbah Kung Kadir hilang bagaikan asap, tanpa jejak.


Aku pernah mencoba kembali menapaki jalan di dekat ruko kosong. Namun tak pernah kutemukan desa berkabut tempat Mbah Ginah berada. Hanya ada hutan dan sebuah sungai disana. Jembatan dari glugu (batang pohon kelapa) untuk menyeberang ke desa itu tidak pernah kulihat lagi.


Orangtua Febi seakan sudah tak peduli dengan keberadaan anaknya. Mereka tidak pernah tahu dan tidak mau tahu apa yang menimpa anaknya. Aku beberapa hari yang lalu berkunjung ke rumah Lik Wo dan menceritakan apa yang sebebarnya terjadi. Lik Wo dan Bu Sumini terlihat bersedih atas apa yang menimpa keponakannya itu. Tidak ada yang bisa dilakukan sekarang.


~ ~ ~


Hari ini di teras rumah Lik Diran, berjejer beberapa koper dan beberapa barang yang siap diangkut oleh mobil pick up ber stiker 'cinta di tolak dukun bertindak'.


"Sudah semuanya?," Lik Diran bertanya padaku yang masih sibuk melamun dan menyeruput coklat hangat di cangkir bertuliskan Pesona FM.


"Cangkir ini Lik, ini jangan sampai tertinggal," dengan setengah bercanda aku mengangkat cangkir di genggamanku.


Ibuk dan adik terlihat keluar dari dalam rumah membawa sekotak plastik besar berisi mainan lego.


"Kenapa sih kalian nggak tinggal disini saja? Lahan lho masih luas. Kalau mau, tak buatin rumah buat kalian . . .," Lik Diran menghela nafas. Aku dan Ibuk bertukar pandang.


"Kami ingin mandiri Lik. Sekalian mau fokus ngurus toko, peninggalan Bapak," Aku menghabiskan sisa cokelat panas di cangkir.


Aku dan Ibuk telah memutuskan untuk tinggal di toko. Seperti yang kukatakan pada Lik Diran, hal itu agar aku dan Ibuk bisa fokus mengurus toko peninggalan almarhum Bapak. Tapi di atas itu semua aku sangat ingin pergi jauh dari daerah sini. Setelah semua kejadian mistis, menyeramkan dan nggak masuk akal yang telah kulalui, perlu rasanya untuk menjernihkan pikiranku.


"Gimana Buk, siap?," Aku bertanya pada Ibuk, sambil memasukkan cangkir kesayanganku ke dalam tas. Ibuk tersenyum dan mengangguk. Aku, Lik Diran dan dibantu Lik Manto, menaikkan barang barang ke bak pick up.


"Liikk, kami pamit yoo. . . maaf selama kami disini banyak ngrepotin," Ibuk berpamitan pada Lik Diran. Seulas senyum tersungging di bibir Ibuk, terlihat kelegaan dari wajah Ibuk.

__ADS_1


"Iya Mbak yuu. . .aku yang seharusnya minta maaf. Seharusnya aku bisa membuat kalian nyaman tinggal disini. Pokoknya kalau ada apa apa, butuh apapun kalian wajib, harus dan kudu hubungi aku lhoh ya," Lik Diran nampak berkaca kaca.


"Maaf ya nggak bisa nganter kalian," Lik Diran melanjutkan, nampak penyesalan dari wajahnya. Kebetulan memang hari ini Lik Diran jadi narasumber di kecamatan. Ada seminar dari dinas pertanian, dan Lik Diran sebagai salah satu petani sukses di undang untuk memberikan motivasi dan berbagi pengalamannya.


"Iya Likk, nggak pa pa. . . ," Aku menjabat tangan Lik Diran, dan segera masuk ke dalam mobil. Disusul Ibuk dan Adik di sebelahku. Sementara kursi kemudi dipercayakan pada Lik Manto.


"Ngati ati Too bawa mobilnya. Pelan pelan saja, ini mbak yu sama ponakanku lho. Awas sampek ngebut ngebut, tak potong gajimu," Lik Diran memberi perintah setengah bergurau pada Lik Manto.


"Oke pak. Siap. Pokoknya aman," Lik Manto tersenyum mengangkat tangannya, membuat gerakan hormat.


"Daann, kalau butuh uang jangan sungkan. Hubungi paklik lho ya, tak transfer segera pokok e," Lik Diran menatapku serius.


"Aman Liikk. . . aku kan ada kerja. Jangan khawatirkan kami, kami baik baik saja. Njenengan sebaiknya fokus nyari gandengan, daripada sendirian di rumah se gedhe ini," Aku tertawa, mencoba bercanda. Lik Diran terkekeh mendengarnya.


Mobil pick up perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah Lik Diran. Terlihat Lik Diran melambai lambaikan tangannya. Aku menatap Ibuk, menghela nafas dan berdoa dalam hati, semoga kami diberi kekuatan untuk menjalani hidup yang lebih baik lagi setelah ini.


Getaran HP di dasboard mobil mengalihkan perhatianku. Sebuah telepon dari Hasan.


"Hallo, assalamualaikum," Aku mengucap salam.


"Waalaikumsalam. Dan Erni, Erni sudah sadar, Erni sembuh Dan . . .," Hasan setengah berteriak. Sebuah kabar yang membuatku terdiam, tak mampu berkata apa apa lagi. Tanpa terasa butir air menetes dari mataku membasahi pipi yang terasa hangat.


~ ~ ~


Tahun 2013

__ADS_1


Suara gamelan menyapa telinga dengan nyaman. Aku duduk di deret kursi paling depan. Di sebelahku gadis yang paling cantik sedunia (menurut versiku) sedang menggandeng lenganku erat. Aku tersenyum menatapnya, dia pun membalas senyumku dengan manis. Erni kini telah menjadi pacarku.


Dihadapan kami, duduk di pelaminan pasangan suami istri baru yang tengah berbahagia menebar senyumnya. Hari ini adalah hari pernikahan Lik Diran dengan Mirna. Setelah Mbah Kung Kadir menghilang rupanya Lik Diran bisa leluasa mencari dan memilih pasangan hidupnya. Mirna sepuluh tahun lebih muda dari Lik Diran, berprofesi sebagai penyanyi dangdut dan juga campursari. Mereka bertemu di acara seminar pertanian beberapa tahun yang lalu. Lik Diran sebagai narasumber dalam seminar tersebut bertemu dan berkenalan dengan Mirna yang kebetulan juga sedang diundang untuk bernyanyi sebagai hiburan di sela seminar berlangsung. Aku tulus mendoakan dalam hati semoga Paklikku satu satunya ini mendapatkan kebahagiaan.


Selesai acara resepsi pernikahan Lik Diran, aku dan Erni menaiki Thor berkeliling desa Karang. Kangen juga rasanya, hampir tiga tahun aku tak berkunjung ke desa kelahiranku ini. Sementara Ibuk dan Adik hari ini tak bisa menghadiri pernikahan Lik Diran. Adik sedang mengikuti lomba fashion show tingkat SD kelas rendah di provinsi, Ibuk tentu saja menemaninya.


Aku menghentikan laju Thor di area persawahan. Menatap puing puing rumah yang sudah penuh semak belukar disana. Rumpun bambu terlihat semakin lebat di bagian belakang. Aku berhenti dan memandang bekas rumahku.


Aku melamun, mengingat kembali kejadian kejadian tak masuk akal yang telah kulalui disini. Ngomong ngomong, beberapa waktu lalu Irul mengirimkan pin BB nya via inbox di ef be, meskipun belum juga kusimpan sampai sekarang. Kelihatannya dia sudah bahagia di luar pulau sana. Mungkin kita bisa berteman lagi, meskipun jarak jauh.


Febi ataupun jasadnya tak pernah ditemukan. Mbah Kung Kadir yang menghilang bagai asap, tanpa jejak hingga saat ini. Erni yang pertama kali siuman sempat linglung beberapa bulan. Aku memutuskan untuk menemaninya dan mendukungnya hingga akhirnya kami jadian. Aku yang semula pekerja part time di radio, sekarang sudah menjadi music director disana. Toko kain Bapak juga sudah berjalan, meskipun di awal sempat terseok seok, namun berkat dukungan para pelanggan tetap Bapak, akhirnya sekarang sudah cukup bagus omsetnya.


Emmm, dan aku sebentar lagi wisuda. Keinginan Bapak, impian Bapak dan juga impianku satu persatu terkabulkan. Yaah, begitulah perputaran roda kehidupan. Jalani, nikmati dan syukuri.


Aku mendongak menatap langit yang berwarna biru cerah. Erni mengalungkan lengannya di leherku dengan lembut. Dia menyandarkan kepalanya di punggungku.


"Daann, terimakasih ya. . . sudah mau sama aku," Erni berbisik lirih.


Aku menoleh padanya, menatapnya dalam. Mata itu, mata yang selalu ada dalam setiap mimpiku. Aku mendekatkan wajahku padanya, sangat dekat, sangat lekat. Hingga hembusan nafas Erni terasa menerpa bibirku. Semakin dekat, Erni memejamkan mata, aku pun demikian. Di atas Thor kami berciuman, ciuman pertamaku dengan Erni. Terasa lembut, dan penuh cinta.


^ ^ ^


MAAF BAB AKHIR MASIH PROSES REVISI . ."


'Jangan terlalu percaya terhadap apa yang kamu dengar dan dapatkan dari 'dunia itu' karena bisa jadi itu merupakan tipu muslihat untuk menjebakmu.

__ADS_1


......TAMAT......


__ADS_2