Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Tembang dan Tangis


__ADS_3

Meskipun hanya berupa gerimis-gerimis manja yang aku terjang tadi, ternyata saat sampai di rumah badan seluruhnya basah kuyup. Kulihat ujung jari jemariku terlihat membiru dan berkerut. Bergegas aku menuju belakang rumah, melepaskan pakaian basahku. Kusambar kolor di gantungan baju dekat jemuran, kaos oblong bertuliskan dagadu, dan segera aku masuk ke dalam rumah.


Kulihat adikku sedang asyik bermain lego di ruang tamu sendirian. Sebelum masuk kamar kusempatkan duduk menemaninya.


"Ibuk kemana cantik?", Aku mencolek pipi adikku.


"Buk nen mbuyii (Ibuk neng mburii)", Adikku menjawab dengan lucunya.


Gemes nyaaa. . .kudaratkan beberapa kecupan ke pipinya. Sejurus kemudian Ibuk datang membawakan menu bubur kacang ijo untuk adikku.


"Lha aku mana buk? Bagianku", Aku pura-pura merengek ke Ibuk, memasang wajah sok imut.


"Njupuk dewe lee, koyok anak kecil wae", Ibuk geleng-geleng kepala.


"Eh, itu pipi mu kenapa? Kok kayak memar gitu?", Ibuk bertanya, menyadari bekas bogem mentah Iwan kemarin. Padahal tadi aku yakin bekasnya sudah tidak terlihat lagi. Memang dasar Ibuk ya, dia hafal betul struktur wajah ganteng anaknya.


"Oh, ini kejedot pintu buk, di rumah Irul", Aku berbohong dengan sangat baik kali ini. Aku cukup sering berbohong, sehingga mudah sekali untuk meneruskan hobi burukku yang satu ini.


"Ngomong-ngomong. . . Erni, temenku yang dulu pernah kesini kerja kelompok itu, masuk Rumah Sakit bukk", Aku memulai curhat ke Ibuk.

__ADS_1


"Erni? Emm, apa yang berjilbab itu? Yang cantik?", Ibuk bertanya, aku mengangguk cepat.


"Sakit apa dia?", Tanya Ibuk sambil memulai menyuapi adik. Kelihatannya buburnya sudah cukup dingin.


"Jatuh dari lantai tiga. Sekarang Erni kritis buk", Aku menghela nafas, teringat kembali kejadian yang telah menimpa "bidadariku" itu.


"Lha kok bisa? Terpeleset atau gimana? Ya ampun, semoga segera pulih", Ibuk mengelus-elus dada.


"Amiinn. . .Ya saat ini belum tau kok dia bisa jatuh. Semoga segera sadar, pulih, baru nanti bisa jelas semuanya", Aku berdiri, hendak masuk kamar.


Kurebahkan badanku di kasur lusuh, tapi nyaman yang penampakannya sudah seperti barang peninggalan nenek moyang. Sedikit tercium aroma apek, dan sedikit berdebu. Peduli amat, cowok kalau nggak jorok bukan cowok namanya, begitu pikirku. Aku tiduran terlentang menghadap langit-langit kamar. Pikiranku mengawang. Banyak tanya dalam benakku. Banyak hal aneh dalam hidupku dalam satu dua bulan ini, yang tidak menemukan jawaban dan penjelasan satu pun.


Aku menguap lebar, lebih tepatnya mengaum ya. Kesadaranku perlahan mulai memudar. Tak kuasa aku menahan kantuk yang datang. Semilir angin bagaikan suplemen untuk mempercepat proses tidurku. Aku sepenuhnya terlupa, terlupa akan masalah-masalah yang aku pikirkan barusan, aku terlelap. Benar memang, tidur adalah pelarian terbaik untuk orang yang dikejar kejar masalah.


* * *


Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Jam berapa ini? Kurogoh HP di saku kolor ku, kulihat ternyata jam lima sore. Waktunya mandi nih. Rencananya kan aku mau balik ke Rumah Sakit lagi. Semoga Erni sudah membaik dan semoga Febi sudah pulang, aku masih males bertemu dengannya.


Terdengar samar-samar suara adikku tertawa riang di depan. Juga seperti ada suara perempuan bernyanyi sambil bertepuk tangan. Kutajamkan telingaku. Sepertinya bukan suara nyanyian Ibuk. Siapa? Apa ada tamu atau saudara yang datang? Kudengarkan lagu yang dinyanyikan. Lagu jawa yang asing di telingaku.

__ADS_1


Aku bangun, dan duduk di sudut kasurku. Sekali lagi mencoba mendengarkan suara yang sedang nembang di depan, menerka nerka suara merdu siapa ini. Saking penasarannya, akhirnya kuputuskan untuk melihat siapa gerangan dia? Aku melangkah keluar kamar dengan gontai, jujur aku masih ngantuk. Aku melongok melihat teras depan. Ada adikku dan seorang perempuan memakai pakaian serba hitam dengan rambut yang sangat panjang sedang duduk membelakangiku. Rambutnya yang panjang hingga menjuntai ke lantai.


Aku menyandarkan badanku di pintu, karena masih cukup ngantuk. Dan sekali lagi mendengarkan suara merdu nyanyian jawa yang di lagu kan si "mbak" nya. Baik adikku atau perempuan ini tidak sedikitpun menoleh. Mungkin mereka tidak menyadari kehadiranku.


"Heemmm. . .mbak e suaranya merdu, sinten nggeh?", Aku mencoba bertanya ketika nyanyian telah selesai.


HUWWWAAAAAAAAA


Tiba-tiba dari dalam rumah, tepatnya dari kamar Ibuk, terdengar suara adikku menangis keras. Refleks aku memutar badanku, hendak berlari menuju sumber suara. Namun, langkahku terhenti. Aku berdiri mematung menghadap ruang tamu. Setelah beberapa detik, tubuhku merinding hebat. Kusadari hal yang tidak wajar di sini. Kalau adikku saat ini sedang menangis di kamar, terus yang di teras depan ini, siapa?


Beberapa bulir keringar dingin menetes. Tenggorokanku terasa kering, Glek! Aku menelan ludah. Suara tangis adikku di dalam kamar semakin kencang, disusul suara Ibuk yang berusaha menenangkannya. Aku mengatur nafas. Aku harus memastikan, siapa yang sedang duduk di teras depan. Aku memutar badanku perlahan. Jantungku berdegup kencang. Masih tetap di tempatnya tadi anak kecil dan seorang perempuan. Mereka tak bergeming, hanya berdiam mematung duduk membelakangiku.


"Dann, sini bantu Ibuk ngeneng-ngeneng adikmu", suara Ibuk memanggil.


"I. . .Iya Buk", Aku menoleh ke arah kamar, dan menjawab Ibuk dengan sedikit tergagap.


Ketika aku melihat ke arah teras depan lagi, sosok perempuan dan anak kecil tadi sudah lenyap. Hilang tak berbekas, tak berbau tak berasa. Aku tolah toleh, mencari-cari siapa tahu masih ada di sekitar sini "orang" asing tersebut, tapi nihil, mereka telah lenyap. Aku sekali lagi menyandarkan tubuhku di pintu, lega rasanya, jantungku berdetak normal kembali.


Aku tersadar, adikku masih menangis meraung-raung. Tidak biasa-biasanya tuh bocah nangis kayak gitu. Segera aku memutar badan dan beranjak ke kamar Ibuk.

__ADS_1


__ADS_2