
Setelah perdebatanku dengan Erni, aku memilih tidur-tiduran di sofa ruang tengah studio radio. Sebenarnya aku nggak ada jam siar hari ini, tapi aku males pulang ke rumah. Krisna yang selesai siaran menghampiri aku yang mungkin memang terlihat sedang galau.
"Ada apa broohh? Wajahmu kayak sayur lupa dipanasi", Krisna cengengesan. Aku mengernyitan dahi.
"Mambu maksudmu?", tanyaku nggak ngerti dengan ungkapannya.
"Ho'oh, nggak enak dipandang, apalagi dicicipi", Krisna terkekeh, mengambil duduk di sebelahku.
"Udah makan belom?", Krisna bertanya lagi. Aku menggeleng.
"Halah, ini. . .ini nih, kalau sampek nggak mau makan pasti urusan hati nih. Karena udah jadi rumus, ketika urusan hati bermasalah, manusia akan lupa urusan perut", Krisna manggut-manggut, mengagumi teori nya sendiri. Manusia satu ini memang terbilang aneh.
"Sotoy luuu", jawabku bangun dari tempatku tiduran.
"Sotoy lamongan, mantaabbb", Krisna mengangkat jempolnya. Aku hanya geleng-geleng kepala, males menanggapi.
"Mbok critao brooh, ono opo?", Krisna mengambil permen karet dari tas ransel nya dan menyodorkan padaku. Aku mengambil dan memakannya.
__ADS_1
"Urusan cewek, au ah puyeng", jawabku menggaruk-garuk kepala belakangku, benar-benar gatal.
"Cepet pulang sana, ngapain disini? Ganggu orang nglamun aja", Aku menyuruh Krisna pergi.
"Huuu, aku masih nunggu yang jadwal siar setelahku, belum datang itu lho", Krisna menunjuk ruang siar yang masih kosong.
"Siapa jadwalnya?", aku bertanya, meniup permen karet di mulutku, beberapa detik kemudian meletus. Thok!
"Mbak Amel kayaknya", Krisna melihat jam tangannya.
Dari arah pintu luar terlihat cewek berhijab berlari tergopoh-gopoh. Amelia Safitri, penyiar cewek yang sudah memecahkan rekor selalu telat datang dijam siar nya.
"Dasar Puteri telat of the years", Krisna ngomel dengan gerak tubuhnya yang sedikit gemulai. Aku sedikit tersenyum melihatnya.
Terdengar suara motor sport memasuki area parkir studio. Siapa nih, kalau dari suaranya, motornya pasti keren. Sejurus kemudian muncul Iwan masuk ruangan tanpa permisi. Terlihat nggak sabar dan tergopoh-gopoh seperti kedatangan Amel tadi.
"Hei hei, siapa nih, maen masuk tanpa permisi", Krisna berkacak pinggang menghardik Iwan.
__ADS_1
"Kak Iwan?", Aku yang nggak ngerti kenapa Iwan datang ke studio, berdiri dan hendak menghampirinya.
Tiba-tiba tanpa ada "kulonuwun" sebelumnya, sebuah tinju yang sangat keras menghantam pipi kiriku. Aku terjatuh tersungkur di lantai. Iwan langsung menubrukku, dan mencengkeram kerah bajuku. Aku yang nggak ngerti dengan apa yang terjadi hanya bisa memegangi pipiku. Sudut bibirku terasa anyir, darah pasti menetes dari sana. Sementara Krisna hanya terdiam mematung.
"Brengsek! Kau apakan Erni? Dimana Erni?", Iwan menggeram, terlihat dari sorot matanya yang tajam, dia benar-benar marah. (Yaiyalah beneran marah, pipiku saja benjut kok).
"Apa ini Wan? Aku nggak ngerti", Aku nggak tahu harus ngomong apa.
"Jangan bohong kamu! Tadi, ada yang lihat kamu sama Erni di kampus. Dia tadi janjian sama aku, tapi aku menunggunya dua jam dia nggak datang. Ku telepon pun nggak ada jawaban. Sekarang jawab aku! Dimana Erni?", Iwan bertanya sambil sekali lagi satu dua tiga empat pukulan melayang ke arahku. Aku hanya mampu menyilangkan lenganku untuk melindungi wajahku jadi samsak tinju Iwan.
Krisna kali ini membantuku, menarik paksa Iwan, memisahkan pertarungan yang tidak seimbang ini.
Amel keluar dari ruang siar dan membantuku berdiri. Krisna masih memegangi Iwan yang masih terlihat sangat bernafsu menghajarku. Aku menyeka darah di sudut bibirku menggunakan punggung tangan.
"Wan, aku beneran nggak tahu apa-apa. Aku nggak ada apa-apa dengan Erni tadi. Dan aku nggak tahu Erni dimana sekarang", Aku mencoba memberikan penjelasan pada Iwan, nafasku masih tersengal.
"Itu lho, kupingmu dengerin. Jangan main pukul aja, temenku babak belur tuh", Krisna ngomel masih tetap memegang i Iwan. Kuat juga dia. Iwan diam saja. Masih terlihat sangat marah.
__ADS_1
"Heh, pergi kamu, sebelum tak telepon e polisi!", kali ini Amel yang menggertak Iwan. Iwan melepaskan cengkeraman Krisna dan segera berjalan keluar tanpa sepatah katapun. Beberapa saat kemudian terdengar suara knalpot motor sport meraung-meraung seperti teriakan kemarahan tuan nya.