Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Permintaan maaf Iwan


__ADS_3

Jam setengah satu, mata kuliah seni rupa di sekolah dasar selesai. Aku beranjak dari kursi ku, melihat sekeliling tak nampak batang hidung Irul ataupun Febi hari ini. Selain Irul dan Febi ternyata Hasan dan Nita pun tidak ada di dalam kelas. Wah, kompak sekali mereka membolos.


Aku berjalan malas menyusuri anak tangga menuju tempat parkir si Thor. Jujur, aku masih ragu apakah aku harus menemui Iwan atau tidak. Di tengah hatiku yang sedang kalut, kenapa Iwan mengajakku bertemu? Rasa rasanya aku sudah nggak ada urusan lagi sama dia. Bukan berarti aku sudah memaafkan perbuatannya menduakan Erni ketika Erni sedang sakit. Namun, hendak mengajaknya berduel lagi pun, hasilnya masih akan sama seperti kemarin. Aku yang babak belur.


Aku duduk di bangku taman depan kantin Mak Emi. Tempat favoritku sih. Tempat dimana aku dan Erni ngobrol berdua untuk pertama kali. Masih teringat bagaimana dia secara tersirat perhatian kepadaku. Hmmm, andaikan waktu bisa kuputar kembali. Aku akan mengatakan perasaanku padanya waktu itu. Aku yakin jika waktu itu aku menyatakan perasaanku, saat ini aku sudah bersamanya, dia nggak akan terluka, dan aku nggak merasa sendirian seperti sekarang ini. Aku menghela nafas. Nasi yang sudah menjadi bubur mustahil menjadi beras kembali.


Kurang lebih lima belas menit aku duduk termenung dan melamun. Kuputuskan untuk menemui Iwan. Janji adalah janji, aku bukan orang yang suka mengobral janji tapi lupa merealisasikannya. Aku beranjak, berdiri dari dudukku, menepuk-nepuk pahaku yang sedikit berdebu dan segera melangkah untuk pergi ke Tella caffe.


...* * *...


Krinciingggg


Suara pintu masuk Tella cafe yang khas menyapaku saat aku mendorongnya. Aku celingak celinguk mencari sosok Iwan. Kulihat jam di dinding menunjukkan jam satu kurang lima menit. Mungkin Iwan belum sampai, aku saja yang terlalu awal datang.


Aku memilih duduk di dekat jendela, mengamati kendaraan lalu lalang di luar sana.


"Mas nya mau pesan apa?", seorang waitress menawarkan daftar menu dengan senyum ramah.


"Eemm, sebentar lagi boleh ya mbak? Soale nunggu temen", Aku kikuk, agak malu juga, duduk di sini tanpa memesan menu.


"Oh iya mas, nggak pa pa", Mbak nya beringsut meninggalkanku, terlihat sedikit kecewa.


Aku merogoh saku celanaku. Kujejalkan headset ke kedua telingaku. Lagi dan lagi, aku tenggelam dalam alunan musik.


Kutanya malam


Dapatkah kau lihatnya perbedaan

__ADS_1


yang tak terungkapkan


tapi mengapa kau tak berubah


ada apa denganmu~


Satu lagu terlewati, dua lagu terlewati, menginjak lagu yang ketiga akhirnya kuputuskan untuk balik ke radio saja. Aku sudah ngantuk menunnggu. Iwan tak kunjung datang juga.


Krinciingg


Terdengar pintu masuk Tella cafe di buka. Seseorang yang memakai hoodie warna hitam masuk dan langsung berjalan ke arahku. Setelah dekat barulah tampak oang itu adalah Iwan. Dia melepas penutup kepalanya. Sesekali dia menoleh ke belakang seperti sedang ketakutan.


Kuamati sekilas, Iwan tampak pucat dengan cekungan di matanya yang nampak jelas. Seperti orang yang kurang tidur. Iwan segera duduk di kursi di depanku. Aku mau nggak mau akhirnya ikut duduk kembali. Waitress yang tadi, datang kembali ke meja ku, menawarkan daftar menu dengan sekali lagi tersenyum sumringah. Iwan memesan ayam asam pedas dan kopi, sementara aku memesan nasi goreng hijau dan es susu soda.


"Maafkan aku membuatmu menunggu", Iwan berbicara setengah berbisik.


"Oh. . .iya nggak pa pa", Aku bingung harus bicara apa, karena yang di depanku bukan seperti Iwan yang biasanya. Kenapa dia? Ekspresi dan gelagatnya gelisah seperti orang yang ketakutan.


"Hah? Ada apa ini Wan? Kamu yang kemarin begitu asyiknya menghajarku. Begitu bahagianya kamu menduakan Erni. Kenapa sekarang seolah-olah kamu menyesalinya?", Aku mulai merasa emosiku meluap kembali, mengingat kejadian yang telah berlalu.


" Seharusnya kamu meminta maaf pada Erni Wan", Aku memberi penekanan pada kalimatku kali ini.


"Kumohon Dani, maafkan aku. Dua hari ini aku terusik, hidupku nggak tenang Dan", Iwan kembali menoleh ke belakang, gelisah.


"Ada apa Wan?", Aku mendekatkan diriku pada Iwan, aku mulai penasaran apa yang telah terjadi padanya.


"Sebenarnya, dua hari yang lalu hidupku mulai aneh Dan", Iwan menyeruput kopinya yang telah disajikan oleh waitress.

__ADS_1


"Awalnya pagi-pagi ketika aku bangun tidur, aku menemukan paku di sebelah tempat tidurku", Iwan menatapku tajam.


"Paku?", Aku menggumam, heran.


"Iya, paku. Aku pikir bukan hal aneh waktu itu. Aku buang paku tersebut ke tempat sampah. Kemudian, siang hari waktu aku di kampus aku menemukan paku itu kembali terselip di dalam buku tugasku. Itu paku yang sama, bagian atas bengkok ke kiri dengan beberapa karat di ujungnya. Aku buang kembali. Ternyata, paku itu terus mengikutiku Dan. Sore waktu di kamar mandi dan di tempat futsal, yang lebih parah adalah paku itu ada di dalam jus jeruk yang ku minum di cafe dekat stadion. Lihatlah, ini luka akibat aku minum jus yang berpaku itu", Iwan menunjukkan bibir dalamnya yang sedikit robek.


"Paku itu terus mengikutiku Dan. Ketika malam hari, aku kesulitan untuk tidur. Pintu kamarku seperti ada yang menggores-gores dengan benda tajam dari luar. Suara-suara berisik yang terus menerus menerorku hingga tepat tengah malam. Aku hanya mampu bersembunyi di dalam selimut sepanjang malam. Kebetulan orangtua ku sedang bepergian ke luar kota. Jadi aku benar-benar sendirian waktu itu. Ketika akhirnya aku tertidur, badanku serasa ada yang menindih, berat. Dan kamu tahu, saat aku bangun tidur, di pergelangan tanganku ada bekas luka seperti ini", Iwan menunjukkan bekas luka di tangannya, luka yang terlihat membiru menyerupai bekas cengkeraman jari tangan yang panjang-panjang. Aku bergidik ngeri.


"Terus, apa hubungannya denganku Wan?", Aku bertanya nggak ngerti.


"Jadi, akhirnya kemarin aku pergi ke katakanlah sesepuh di tempatku. Aku tunjukkan bekas luka ku. Aku ceritakan semuanya. Kamu tahu apa yang dikatakannya?", Iwan menghela nafas.


"Ada yang berusaha mencelakaiku dengan ilmu hitam", Iwan berkata setengah berbisik.


"Hah? Kamu menuduhku?", Aku protes nggak terima.


"Akhir-akhir ini, aku hanya bermasalah denganmu Dani. Aku rasa ini semua ada hubungannya denganmu", Iwan menatapku.


"Aku berani bersumpah aku tidak melakukan apapun padamu. Aku memang membencimu, tapi aku nggak ada kemampuan ataupun kenalan orang yang bisa melakukan hal-hal semacam itu", Aku mulai jengkel dengan perkataan Iwan.


"Aku tidak menuduhmu Dan. Kelihatannya memang bukan kamu yang melakukannya. Tapi aku merasa aku harus mendapat maafmu. Setidaknya jika aku celaka nanti, aku tak menanggung salah padamu", Iwan terlihat serius dengan ucapannya.


"Terserah kamu Wan. Mungkin itu karma karena kamu telah menyakiti Erni. Aku prihatin atas sakit dan deritamu, tapi aku tidak bisa melakukan apapun soal itu. Kalau kau ingin mendapat maaf dariku, maka kumaafkan dirimu saat ini juga", Aku menjawabnya tak kalah serius. Nafsu makanku hilang sudah, meskipun dari pagi perut ini belum terisi makanan apapun.


Aku berdiri, ingin rasanya segera pergi dari tempat ini. Dari apa yang disampaikan Iwan, terasa dia menuduhku menggunakan ilmu hitam untuk menerornya.


"Sekali lagi aku minta maaf padamu Dan. Aku tidak bermaksud menuduhmu, sungguh. Aku benar-benar tulus ingin meminta maaf padamu. Aku merasa diriku dalam bahaya, jadi kupikir lebih baik aku tidak punya beban apapun jika nantinya terjadi apa apa padaku", Iwan mendongak menatapku. Sedangkan aku membalasnya dengan tatapan kebencian.

__ADS_1


Aku melangkah pergi, meninggalkan Iwan.


Krinciinggg . . .


__ADS_2