Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Kobeng


__ADS_3

Aku memacu Thor dengan kecepatan penuh. Tak kuhiraukan beberapa kendaraan yang berlawanan arah denganku membunyikan klaksonnya dengan penuh nafsu. Aku memang sedang terburu buru. Ibuk terdengar sangat panik di telepon. Bapak yang tiba tiba saja jatuh sakit, padahal kemarin masih sehat sehat saja.


Memasuki area desa karang dengan terpaksa aku mengurangi laju si Thor. Karena jalanan mulai terasa bergelombang dan tidak rata. Akhirnya sampailah di jalan semen alias rabat. Matahari cukup terik kali ini, meskipun siang sudah hampir berganti sore.


Melewati jembatan penghubung antar dusun, dekat area rumah yang beberapa hari ini telah keluargaku tinggalkan. Hamparan padi terlihat hijau seperti permadani yang membentang. Beberapa ratus meter di sebelah kiri terlihat rumah beratap merah yang berdiri kokoh. Satu satunya rumah yang berada di tengah tengah sawah tanpa ada tetangga ataupun bangunan lain di sekitarnya. Aku tidak belok ke kiri, melainkan melaju terus ke selatan.


Menuju ke rumah Lik Diran jalanan semakin terjal saja. Beberapa semen atau cor sudah terkelupas, meninggalkan lubang lubang yang siap menyambut velg Thor. Duk duk duk. . . Suara velg Thor beradu dengan kerasnya pinggiran cor, menimbulkan sensasi berguncang pada kedua lenganku.


Flaaappppp


Sayup sayup terdengar gemericik air sungai. Aku sedikit heran, kok bisa terdengar suara air sungai? Rumah Lik Diran jauh dari aliran sungai. Aku menghentikan Thor, aku tertegun. Aku nggak yakin dengan penglihatanku sendiri. Di depanku terlihat jelas sebuah jembatan, jembatan dekat rumah keluargaku.


Aku menoleh ke kanan dan kiri. Bukankah aku tadi sudah melewatinya? Apa aku tadi bermimpi? Sialan, konsentrasiku buyar. Aku memutuskan untuk lanjut saja. Aku kebanyakan melamun sepertinya.


Melewati jembatan, hijau nya sawah melambai lambai diterpa semilir angin. Aku mengambil jalur lurus ke selatan, aku yakin kali ini berkonsentrasi penuh.


Flaapppp


Sekali lagi, terdengar suara gemericik air sungai. Dan aku sudah berada di jalan sebelum jembatan, lagi. Glek. Aku menelan ludah. Kali ini aku yakin aku nggak melamun, ini nggak beres. Kucoba sekali lagi memacu Thor dengan lebih cepat. Melewati jembatan, hijaunya sawah terus ke selatan.


Flaappp


Dan ternyata terulang kembali. Aku kobeng (tersesat) atau mungkin lebih tepatnya disesatkan. Bagaimana ini? Aku harus segera pulang, namun seakan akan dihalang halangi. Aku berpikir sejenak. Kurogoh HP di saku celana. Mencoba menelepon Ibuk atau mungkin Lik Diran. Tidak ada sinyal sama sekali. Yang benar saja, bagaimana bisa nggak ada satu pun sinyal nyantol di HP ku? Ku ketuk pelan pelan layar HP ku. Ku goncang goncangkan siapa tahu sinyal akan kembali penuh dengan cara ini. Hasilnya nihil.

__ADS_1


Kulihat jam, baik di HP ataupun jam tangan keduanya nggak bergerak nggak berkedip. Mati. Aku mulai gelisah, apalagi matahari yang tadi di atas kepala perlahan mulai bersembunyi di balik bukit. Jangan sampai hingga malam tiba, aku masih berputar putar di tempat ini.


Oke, kuputuskan untuk kembali saja, berputar balik ke arah kota. Nyari sinyal dulu, untuk menghubungi Ibuk atau Lik Diran. Aku bersiap untuk tancap gas, baru beberapa meter, Thor terasa aneh. Tersendat sendat kemudian mati. Ah, ayolah Thor . . . jangan becanda disaat seperti ini. Aku menepikan Thor di pinggir jalan, membuka tangki bahan bakarnya, kulongok dan ternyata kosong melompong. Brengsek! Aku kelamaan berputar putar tadi.


Jarak jembatan dengan rumah warga tidak terlalu jauh, aku bisa segera menjangkaunya dengan berjalan kaki. Ku elus elus jok si Thor, dan kutinggalkan dia di pinggir jalan. Aku mantab berjalan setengah berlari, menjauhi jembatan. Terlihat beberapa atap rumah dari tempatku melangkah.


...***...


Peluhku mulai bercucuran. Aku seperti berjalan berjam jam, tapi rasanya tidak semakin dekat dengan rumah warga. Padahal seharusnya jarak antara jembatan dengan rumah terdekat (selain rumahku) mungkin tidak lebih dari 200 meter, mungkin. Aku mulai haus, betisku mulai terasa kaku, dan kram.


"Hooeeeee . . . ", Aku memutuskan untuk berteriak, siapa tahu ada yang dengar.


Matahari sudah tenggelam. Petang sudah datang, pandangan mulai buram.


Kuukk kuukk kuukkk


Suara apa itu? Burung hantu? Bulu kudukku berdiri, leherku terasa dingin. Aku menoleh kanan dan kiri. Sepi dan sunyi. Aku menghela nafas.


"Apa maumu?", Aku berbicara sendiri, seolah olah ada orang lain di dekatku. Aku memang takut, tapi karena akhir akhir ini cukup sering mengalami hal hal nggak masuk akal aku sudah sedikit terbiasa.


"Heii . . . Apa maumu?", Aku mengulang pertanyaanku. Tidak ada jawaban. Langit perlahan lahan menghitam, menambah suasana suram dan gelap, seakan hendak menelanku.


"Heii. . . Bapakku sakit. Biarkan aku pulang!", Aku membentak, entah siapa yang ku bentak. Aku sudah nggak peduli. Teringat betapa Ibuk panik, memintaku untuk segera pulang. Namun, aku malah di tempat antah berantah ini sampai malam.

__ADS_1


Angin berhembus, dingiiinnn menyayat kulit menusuk tulang. Tercium aroma wangi bunga. Awalnya terasa enak di indera penciuman, lama lama semakin menyengat dan anyir, membuatku ingin muntah.


Di depanku terlihat beberapa orang berpakaian serba hitam berjalan mendekat, jumlahnya belasan orang sepertinya. Semakin dekat semakin jelas, Bapak bapak berwajah pucat pasi memikul sebuah . . . keranda. Seperti mimpiku pada waktu aku terbaring di Rumah Sakit dulu. Kulihat seksama, tidak ada satu orang pun yang ku kenal. Lagian seingatku tidak ada area kuburan di daerah sini.


Rombongan terus berjalan, meninggalkanku. Ada satu yang tertinggal di belakang, berhenti tepat di depanku.


"Nggak melu mas (nggak ikut mas)?", Si Bapak bertanya padaku, datar. Tak terlihat jelas wajahnya karena menunduk.


"Ah, siapa yang meninggal?", Aku memberanikan diri bertanya. Bapaknya diam saja.


"Me- memangnya ada tempat pemakaman di daerah sini Pak?", Aku bertanya sekali lagi.


"Wonten mas (Ada mas)", jawab Bapaknya datar, masih menunduk tak melihatku.


"Lhah. . . Dimana Pak?", Aku sekali lagi bertanya. Sudut hatiku mengatakan untuk berhenti bertanya, namun rasa penasaranku tak terbendung.


Si Bapak terdiam, menangkat wajahnya, memandang ke depan, menatap rombongan yang telah berjalan cukup jauh meninggalkannya.


"Kuburan e nang omah mu mas (kuburannya di rumahmu mas)", Si Bapak menjawab, pelan dan datar. Kemudian berjalan gontai, menyusul rombongannya. Aku terdiam sesaat mendengar jawaban si Bapak. Aku sadar tidak ada pilihan lain selain mengikuti rombongan itu. Suasana yang semakin gelap, membuatku tak tahu arah, lebih baik aku menyusul rombongan tadi daripada tersesat semakin jauh.


Langkah gontai si Bapak ternyata sangat cepat, aku ngos ngos an menyusulnya. Langkahku terhenti tepat di depan rumahku. Rumah yang nampak gelap dan sunyi. Rumah yang sudah berhari hari ditinggalkan. Rombongan bapak bapak pembawa keranda, masuk ke dalam rumahku. Aku berlari menyusulnya, menyusuri ruang tamu, dapur dan menuju halaman belakang. Beberapa orang terlihat membuat lubang di bawah rumpun bambu. Aku menyaksikan mayat perempuan diturunkan dari keranda. Siapa?


"Daniii. . . Daniii . . .", sayup sayup terdengar suara orang memanggilku. Ada suara lain di belakang teriakan orang- orang. Suara apa itu? Kentongan?

__ADS_1


__ADS_2