Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Aku menyukaimu


__ADS_3

Hari pertama ngampus setelah sembuh dari kecelakaan yang menimpaku. Beberapa luka meninggalkan bekas menghitam di bagian lenganku. Hari ini aku menunggang motor baruku (tapi bekas), si Thor. Sesampainya di parkiran kampus, ada Irul yang dengan hebohnya melambai-lambaikan tangan.


"Wuiihh, baru nih, ada hikmahnya juga nyungsep kemarin ya", sapanya cengengesan.


"Mbahmuu, . .", sahutku sewot.


"Aku ketinggalan apa aja nih, selama nggak masuk?", aku bertanya pada Irul, yang sibuk mengelus-elus tangki bensin si Thor.


"Banyak. . yang jelas tugas-tugas numpuk broo, trus ada pegawai baru di fotocopy an depan kampus, cewek. .cakep bener dah, suwer", jawab Irul ngasal.


"Truusss?? Ngaruh ke hidup aku gitu?", ingin rasanya ku jitak kepala bocah berambut ikal ini.


"Ya . .sapa tau kamu pengen mup on gitu", jawab Irul tanpa beban.


"Move on nyukk, pake v", aku mengoreksi. "Eh, maksudmu, move on dari siapa?", aku bertanya penuh selidik.

__ADS_1


Irul hendak membuka mulut, menjawab. Terdengar suara gahar motor sport masuk di parkiran.


"Tuh", Irul menunjuk ke arah suara motor.


Kak Iwan datang dan membonceng . . .Erni. Aku terdiam, mematung. Entahlah, tiba-tiba otakku nge blank. Jika Superman bakal lemas terkena mineral kryptonite, maka seluruh tulang penyangga tubuhku saat ini menghilang ketika melihat Erni bersama Kak Iwan. Bukannya lebay, tapi memang sungguh terasa nyeri di hatiku. Dan, apa yang dikatakan Irul tadi? Move on dari Erni? Berarti Erni dan Kak Iwan sudah . . . Ah, sial! Aku terlambat. Aku mengutuk diriku sendiri.


"Hoi bro! Gak po po kan?", Irul menepuk pundakku. Menyeret, memaksa masuk kembali kesadaranku yang tadi menghilang sesaat.


"Aku tahu, kayak e kamu bener-bener suka sama Erni". Irul manggut-manggut.


"Sok tahu kamu, wes siap ndukun po gimana", aku menoyor jidat Irul, kesal.


"Kan masih ada Febi, kelihatan jelas lho, dia naksir kamu". lanjut Irul.


"Opo sama pegawai baru fotocopy an aja?", alis mata Irul naik turun, mengejek.

__ADS_1


"Sini, tak jotos. .belum pernah kan kamu di jotos sama orang ganteng?", Irul berlari, aku mengekor menuju ruang kelas.


Hari ini mata kuliah logika matematika dan sosiologi. Aku mencoba untuk fokus belajar, karena memang aku tertinggal materi yang cukup jauh. Sebenarnya tadi Febi menawari aku untuk menyalin dan meng copy catatannya serta tugas-tugasnya. Namun aku enggan meng iya kan, karena merasa nggak enak selalu merepotkan dirinya.


Sesekali kulirik Erni yang duduk di sudut lain, berseberangan dengan tempat dudukku. Kini, aku benar-benar merasa semakin jauh dengannya. Semenjak gosip aku memiliki hubungan dengan Febi tersebar, Erni mulai menjauh dariku dan kini jarak itu semakin bertambah dengan adanya Kak Iwan. Apakah memang sudah tidak ada lagi peluang untukku mendapatkan hatinya? Setidaknya dia harus tahu perasaanku yang sesungguhnya padanya.


"Dannii?", sebuah suara memanggilku. Ternyata Pak Suroso, dosen sosiologi yang menyadarkan aku dari lamunan.


"Lihat apa kamu? Fokus, ke papan di depan!", hardik Pak Suroso, dengan melotot.


"Nggeh pak, ma-maaf", aku merasa bersalah sekaligus malu. Sesaat, aku melihat dari ekor mataku, Erni memandangku. Meskipun sepersekian detik, pandangan kami sempat beradu. Mata itu, mata yang selalu aku ingat sebelum aku tidur.


Perasaan suka tidak bisa memilih kepada siapa.


Meskipun bidadari lain datang menggenggam tanganku, namun aku akan tetap mengejarmu.

__ADS_1


Meskipun kamu telah bersama pangeran rupawan berkuda putih, aku akan tetap mengejarmu.


Aku akan mengatakan padamu, aku menyukaimu . . .


__ADS_2