
"Ada apa Lik?," Aku masih sedikit ngantuk, seakan nyawaku belum terkumpul semua saat menerima telepon dari Lik Diran.
"Cepet ke Rumah Sakit. Sekarang Dan!," Lik Diran terdengar tidak sabar, dan menutup teleponnya.
Aku merasa ada yang nggak beres, segera menyambar kunci si Thor dan berlari keluar dari studio. Amel yang bertugas siar pagi, baru saja datang menatapku heran. Aku tak mempedulikannya. Aku segera menaiki Thor dan ngebut menuju ke Rumah Sakit.
Langit entah kenapa terlihat lebih muram dari kemarin. Mendung terlihat menggumpal di ujung batas pandangan mata atas sana. Padahal kupikir musim penghujan telah selesai, namun sepertinya hujan lebat akan datang hari ini. Kilat terlihat menggertak di kejauhan. Seakan memberi peringatan pada orang orang yang sedang beraktivitas di luar untuk tidak melupakan jas hujan atau payungnya.
Aku menapaki paving parkiran Rumah Sakit ketika satu dua butir air langit turun dalam bentuk titik titik halus. Gerimis yang dingin turun perlahan. Aku sedikit berlari memasuki Rumah Sakit. Menyusuri lorong, yang entah kenapa terasa lebih panjang dari biasanya. Detak jantungku berdegup lebih kencang, ada sebuah kekhawatiran yang tak mampu kuungkapkan. Seakan aku sudah bisa menebak apa yang kira kira menyambutku di ujung lorong nanti, namun aku mencoba memungkirinya.
Pintu kamar tempat Bapak di rawat terlihat di depan sana. Aku semakin mempercepat langkah. Aku memasuki ruangan 4 x 5 meter. Terlihat ada 2 perawat sedang berdiri di depan tempat tidur Bapak. Salah satu perawat perempuan sedang memeluk Ibuk. Sementara Lik Diran sedang membisikkan sesuatu di telinga Bapak.
Bapak yang terlihat kurus, tampak memucat. Aku berdiri di sebelah Lik Diran. Kini terdengar jelas apa yang coba dibisikkan Lik Diran ke telinga Bapak. Aku menyentuh kaki Bapak, sungguh terkejut dengan apa yang kurasa. Kaki itu teramat sangat dingin. Aku tertegun tak mampu berucap sepatah katapun. Beberapa saat berikutnya mata Bapak telah terpejam. Bapak telah pergi, selamanya.
Aku terduduk lemah. Entah kenapa air mata ini tak mau menetes. Apakah ini mimpi? Aku menampar pipiku beberapa kali, terasa sakit tapi entah kenapa dadaku yang terasa jauh lebih sakit. Kilat dan guntur terdengar bersahut sahutan, suara rintik gerimis terdengar semakin keras berganti dengan hujan menghantam atap seng pelataran taman Rumah Sakit. Suara riuh dan ramai yang mampu meredam setiap jarit tangis kesedihan hingga tak terdengar dari luar.
"Yang sabar Dan . . .," Lik Diran mendekapku erat, terisak. Air mataku masih tak mau menetes. Jika ada kebahagiaan dan tawa hingga membuatmu menangis, maka saat ini adalah duka lara yang teramat sangat hingga merenggut air mata.
Terbayang di benakku, bagaimana waktu itu pertengkaran, perdebatan terjadi antara aku dan Bapak. Aku yang pernah memasukkan nama Bapak di daftar orang yang paling kubenci. Aku yang belum sempat meminta maaf atas semua kenakalan dan kesalahanku.
__ADS_1
Banyak hal buruk yang kualamatkan padanya waktu itu, banyak kemarahan yang kuluapkan padanya. Kini penyesalan, dan permintaan maafku tak kan pernah sampai di telinganya. Lik Diran melepas dekapannya, terduduk di sebelahku. Begitupun Ibuk yang duduk bersimpuh di lantai agak jauh di belakangku bersama perawat yang menyodorkan air minum padanya.
Hujan terdengar semakin deras, dalam sudut hatiku masih berharap bahwa ini hanyalah mimpi.
* * *
Selesai pemakaman, aku masih merasa bahwa saat ini bukanlah sebuah kenyataan. Beberapa teman telah datang, mengucapkan bela sungkawa dan menyemangatiku. Aku tak berbicara pada mereka sepatah katapun. Aku masih berada dalam lamunanku, aku hanya ingin sendiri.
Hujan masih saja terus mengguyur permukaan bumi. Aku duduk di teras depan rumah Lik Diran. menatap langit dengan mendungnya yang menghitam. Ketika rintik hujan yang dingin menerpa kulit wajahku aku baru tersadar bahwa ini bukanlah mimpi. Ini adalah kenyataan yang sebenarnya. Dan akhirnya bersama hujan yang kembali menjadi deras, air mataku menetes, aku menangis tak bersuara.
Duniaku seakan telah runtuh. Keinginan Bapak yang terakhir untuk membongkar rumah urung terwujud. Kini terbayang momen momen kebersamaanku dengan Bapak, kebaikan Bapak yang selalu terlupa ketika kemarahan sedang di hatiku. Kebaikan yang tertutup oleh kebencianku yang tanpa alasan kini teringat kembali. Bapak yang selalu bangga kepada anaknya. Kini hanya penyesalan yang ada di depanku. Penyesalan karena akhir akhir ini telah membencinya. Penyesalan karena menuduhnya yang tidak tidak. Penyesalan belum sempat membahagiakannya. Melihatku wisuda, bergelar sarjana adalah impian Bapak. Namun ternyata sebelum itu terwujud dia telah pergi untuk selamanya.
Lik Diran yang melihatku, cepat cepat menyambar payung dan mendekatiku, memayungiku.
"Luapkan kesedihanmu, tapi perhatikan juga kondisimu," Lik Diran berbicara tanpa menatapku.
"Jangan sampai kamu sakit. Sekarang ini, kamulah satu satunya laki laki di keluarga kecilmu. Laki laki boleh menangis, berhak menangis. Tapi jangan sampai kesedihan itu berlarut larut. Tegarlah Dan, Ibuk dan Adikmu membutuhkanmu," Lik Diran menepuk nepuk pundakku.
Aku semakin terisak, mungkin memang aku nggak sempat menyampaikan maafku pada Bapak secara langsung. Tapi dalam hatiku aku berjanji akan menebusnya. Aku akan menjaga Ibuk dan Adikku. Aku akan membahagiakan mereka berdua. Mikul dhuwur mendhem jeru. Akan aku buat Bapak bangga, lihatlah aku dari atas sana. Janji yang kubuat sendiri dalam hatiku. Aku mengusap air mataku. Lik Diran merangkulku, menggoyang goyangkan pundakku.
__ADS_1
"Ibuk sama adik gimana Lik?," Aku bertanya pada Lik Diran, teringat sedari tadi aku belum melihat Ibuk dan Adik. Aku terlalu sibuk melamun dan termenung, tak mempedulikan sekitarku.
"Adikmu nggak pa pa, belum ngerti juga masih kecil. Dia sama Bu Minah mainan tadi. Kalau Ibukmu kelihatan e masih terguncang. Di kamar terus, tadi sih tak suruh nemenin tetangga tetangga sini," Lik Diran menjelaskan. Hujan masih cukup deras dengan sesekali terdengar guntur yang menggelegar.
Aku berjalan masuk kembali ke dalam rumah, mencari Ibuk. Ibuk di dalam kamar bersama beberapa orang yang hanya mampu duduk termenung. Tak ada yang berbicara sepatah kata pun.
"Buukk . . .," Aku memanggil Ibuk lirih. Ibuk terlihat tidur miring, membelakangiku dan orang orang. Ibuk menoleh, menatapku dan mencoba untuk duduk. Terlihat kedua matanya yang sembab parah.
"Sini Lee. . .," Ibuk memintaku mendekat.
Aku mendekat, berjongkok menyandarkan kepalaku di pangkuan Ibuk. Ibuk mengelus rambutku.
"Bapakmu wes nggak ada Lee . . ., Ibuk nggak tahu gimana nasib kita kedepannya. Gimana kuliahmu, gimana susu, maem adikmu. Ibuk . . . Ibuk nggak punya apa apa lagi Lee . . .," Suara Ibuk terdengar bergetar. Butir butir air mata yang terasa hangat jatuh ke pipiku. Aku menarik nafas.
"Jangan dipikirkan Buukk. Semua pasti ada jalannya, percayalah. Aku kan juga ada kerja. Pokoknya aku sudah janji sama diriku sendiri. Aku bakal jagain Ibuk sama Adik. Aku bakal membuat Bapak bangga," Aku mencoba tersenyum, menatap Ibuk. Aku menguatkan diriku, tak boleh terlihat lemah di depan Ibuk saat ini.
Ibuk memelukku, mendekapku. Tangisnya pecah kembali. Tangisan keras yang memecahkan kesunyian. Tangisan yang terdengar dan terasa menyayat hatiku.
Satu hal yang kuyakini, hidup ini bagaikan sekeping mata uang. Dua sisi yang berbeda dalam satu lingkaran kehidupan. Sisi sedih dan sisi bahagia. Jika saat ini engkau sedang terluka dan berduka yakinlah esok akan datang tawa dan bahagia.
__ADS_1
. . . . . .