Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Menjenguk Lik Wo


__ADS_3

Jam dua belas siang tepat. Aku duduk di ruang kelas seni rupa. Pak Ibad, dosen seni rupa sedang menjelaskan pengertian dan cara menggambar perspektif.


"Menggambar perspektif dengan satu titik lenyap artinya garis garis yang digambar berada dalam posisi sejajar pada satu sama lain dan tidak terbatas", Pak Ibad menjelaskan dengan menggebu gebu, namun aku belum bisa mencerna apa yang disampaikannya.


Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tidak nampak batang hidung baik Irul ataupun Febi. Sudah beberapa kali dua manusia itu tidak ikut kelas. Sementara itu teman satu geng, si Nita dan Hasan akhir akhir ini terlihat makin lengket saja.


Aku menghela nafas, teringat kembali keluargaku terhitung mulai hari ini numpang tinggal sementara di tempat Lik Diran. Aku hari ini memakai baju batik milik Lik Diran yang sebenarnya terkesan sedikit tua ketika kukenakan. Tapi mau bagaimana lagi, belum sempat ambil baju ganti di rumah. Masih ngeri juga untuk balik ke rumah, apalagi kata Mbah Diran ada makhluk lain yang naksir sama aku. Hiii. . . Aku ngeri sendiri. Namun, kalau dipikir dari sisi lain lucu juga ya, ternyata pesona ku lintas dimensi.


Tanpa terasa kelas selesai ketika aku melamun. Duh, aku tak mendapatkan asupan ilmu apapun hari ini. Waktuku hanya kuhabiskan dengan bengong dan melamun.


"Hei Dan, aku mau njenguk Erni nih. Mau ikut nggak?", tanya Hasan tiba-tiba di sebelahku..


"Njenguk Erni. . .sama siapa?", Aku bertanya, sambil memasukkan alat tulisku ke dalam tas.


"Sama Nita", Jawab Hasan singkat.


"Ah, aku nyusul aja deh, males jadi ba*gon obat nyamuk", Aku melotot pada Hasan. Hasan hanya terkekeh.


"Hei Dan, baju dapat darimana tuh? kayak om om tauk", Nita ikut nimbrung.


"Nyolong, di jemuran", jawabku ngasal.


"Ihh, perhatian banget sih sama Dani?", Hasan pura pura cemberut.


"Napa . . cemburu?", Nita terkekeh, menggoda Hasan.

__ADS_1


"Aisshhh. . .pergi dah pergi kalian. Dunia ini bukan hanya milik kalian. Ah", Aku bersungut sungut jengkel. Hasan dan Nita kompak tertawa.


"Eh, bicara bicara alias ngomong ngomong. . .aku kok lumayan lama nggak ngeliat si kunyuk Irul?", Nita bertanya padaku, alis nya terlihat naik turun.


"Iya e, biasanya kan ngekor kamu terus Dan. Hilang kemana tuh anak?", Hasan ikut ikutan bertanya padaku.


"Lha kalian pikir, aku bapaknyaaaa. . .ya mengeteheekk", Aku menggendong tas ranselku, bersiap pergi.


"Aku cus duluan ya, orang yang ngontrak di dunia milik kalian berdua mau pergi, silahkan menikmati dunia kalian", Aku segera melangkah pergi meninggalkan dua temanku yang kelihatannya memiliki hubungan spesial.


Kali ini aku berencana untuk berkunjung ke tempat Lik Wo. Aku sebenarnya ada jadwal siar di radio, namun aku sudah SMS krisna tadi untuk tukar jam siar, dan dia mengiyakan. Tak enak hati kalau nggak menyempatkan untuk berkunjung ke rumah Lik Wo, apalagi Bu Sumini sampai menelepon memintaku ke rumahnya.


Aku mengendarai Thor membelah kota, mengingat ingat jalanan yang dulu pernah kulewati bareng Febi. Aku sedikit lupa dengan jalan menuju ke rumah Lik Wo. Ada beberapa kali pertigaan, perempatan yang harus aku lewati. Beberapa kali pula aku salah jalan. Namun akhirnya setelah belasan kali bertanya ke orang orang, sampailah aku di sebuah rumah luas dengan halaman penuh pohon beringin. Beberapa pohon bonsai beringin terlihat sedikit tak terawat, mungkin karena si pemilik masih sakit ya.


Udara sejuk nan dingin langsung menyergap ketika aku turun dari si Thor. Pintu rumah kali ini terlihat terbuka. Aku melangkah menuju ke pintu.


Tok tok tok


Tok tok tok


"Assalamualaikum", masih mengetuk pintu dan mengucap salam.


"Waalaikum salam, Nak Dani. Ayok masuk masuk", Bu Sumini terlihat sumringah dan ramah. Mempersilakan aku masuk.


"Monggo duduk dulu, tak buatin minum sama tak manggil bojoku", Bu Sumini mempersilakan aku duduk.

__ADS_1


"Duh nggak usah repot repot Bu", Aku kikuk, sedikit merasa sungkan, apalagi aku datang dengan tangan kosong. Bu Sumini tak menggubris tetap berjalan meninggalkanku di ruang tamu sendirian.


Beberapa menit berikutnya, Bu Sumini datang mendorong Lik Wo yang masih duduk di kursi roda. Lik Wo sudah terlihat segar dan sumringah, mungkin memang benar beliau tinggal pemulihan saja. Melihatku Lik Wo menganggukkan kepala dan tersenyum. Aku baru ingat pita suara Lik Wo kan bermasalah semenjak kecelakaan waktu itu. Aku berdiri dan menyalami Lik Wo.


"Maafkan Dani ya Lik Wo, belum sempat njenguk jenengan", Aku meminta maaf pada Lik Wo, Lik Wo tersenyum dan menepuk nepuk bahuku. Lik Wo menggerakkan tangannya, sepertinya memintaku untuk duduk kembali. Aku menurut.


"Sebentar, minummu belum tak bawa tadi. Tak ambil e dulu ya", Bu Sumini meninggalkan aku bersama Lik Wo.


Sejurus kemudian Bu Sumini membawa nampan berisi 3 gelas minuman, yang sepertinya wedang jahe. Ada pula satu kaleng kerupuk gadung yang disuguhkan.


"Aduh, kok jadi repot repot Bu", Aku benar benar merasa nggak enak hati.


"Wes to dang diminum, dang di maem jajannya", Bu Sumini mempersilahkan.


"Gimana perkembangan kesehatan Lik Wo Bu?", Aku bertanya, terlihat Lik Wo tersenyum, seolah memberi tahuku dia sudah baik baik saja.


"Ya seperti yang kamu lihat Nak. Sudah sangat baik sih sekarang ini. Makan sudah lahap dan banyak Tapi ya kadang-kadang masih suka lemes, makanya meskipun sudah bisa jalan sendiri, tetep tak suruh pake kursi saja, biar nggak capek capek dulu. Kalau pita suaranya sih ya masih belum bisa dan kata dokter juga jangan dipaksa untuk berbicara dulu", Bu Sumini menerangkan, Lik Wo terlihat manggut manggut.


"Jadi untuk sementara, aku kalau ngobrol sama Lik Wo pake tulisan di kertas Nak", Bu Sumini melanjutkan. Memang terlihat sedari tadi, Lik Wo memegang kertas dan bolpoint hitam di pangkuannya.


Obrolan demi obrolan berlangsung dengan hangat. Tanpa terasa sudah lebih dari satu jam aku berada di rumah Lik Wo.


"Bu Sumini, Lik Wo. . .aku mau pamit nggeh. Soale jalan balik ya lupa lupa ingat, lek terlalu sore khawatir gelap nanti. Semoga Lik Wo benar benar segera pulih, sehat, kapan kapan kita bisa ngobrol ngobrol lagi", Aku berpamitan pada pasutri ini.


Tiba tiba Lik Wo merogoh saku bajunya, dan memberikan sebuah amplop putih. Apa ini? Kulihat di amplop tertulis ~Bacanya nanti kalau sudah sampai rumah~. Oh, sebuah surat. Jadi ini alasan kenapa Lik Wo meminta untuk bertemu, beliau ingin memberikan surat ini padaku.

__ADS_1


"Itu surat khusus untukmu Nak. Bahkan aku saja yang isterinya nggak di kasih tahu apa isinya. Aku nggak boleh mbuka", Bu Sumini tersenyum. Meskipun penasaran yang teramat sangat, namun aku menuruti apa yang tertulis di amplop. Aku memasukkam surat tersebut ke dalam tas ranselku. Aku berpamitan dan segera meluncur, pulang.


__ADS_2