
Proses pembongkaran rumah terpaksa harus terhenti. Lik Diran dan beberapa pekerjanya melarikan Pak Manto ke Rumah Sakit. Aku memilih untuk pulang ke rumah Lik Diran. Membereskan barang barang, ijasah, berkas, serta surat surat penting yang telah dipindahkan.
Saat aku sibuk beberes, Mbah Kung Kadir datang mendekatiku.
"Dani?," Mbah Kung Kadir memanggilku dengan nada suaranya yang terasa datar dan dingin.
"Ah, Eng. . . Dalem Kung," Aku menjawab sedikit tergagap. Entah kenapa kakek satu ini auranya selalu terasa mengintimidasi.
"Sido mbongkar omah? (Jadi membongkar rumah?)," Mbah Kung Kadir duduk di sofa kemudian bertanya padaku. Sementara aku yang sedang sibuk membuka buka laci lemari yang baru dipindahkan terpaksa berhenti sejenak.
"Ah, anu Kung tadi ada kecelakaan di rumah, jadi pembongkarannya ditunda dulu," Aku sedikit ragu membicarakan hal ini dengan Kung Kadir.
"Lha mbongkar omah kok asal mbongkar. Ngono iku kudu ne takon nang aku, golek dino sing pas (seharusnya tanya aku dulu, mencari hari yang sesuai). Lakon iku nggak asal mlaku, grusa grusa (nggak asal ngawur grusa grusu). Lagian kan wes tak omongi, ojo ndudohne lek dadi wong lemah, awak e dewe iki keluarga sing mbukak deso kene (sudah tak kasih tahu, jangan menunjukkan kelemahanmu, keluarga kita adalah keluarga yang mendirikan desa ini dulunya)," Mbah Kung Kadir berbicara dengan setengah membentak.
"Tapi Kung, yang minta mbongkar rumah itu Bapak lho. Bapak saat ini sakit Kung, makin lemes. Kasihan Kung," Aku membantah Mbah Kung Kadir, suara ditenggorokanku terasa mangkel. Kakek tua di depanku ini seolah tak peduli dengan kesehatan Bapak, anaknya sendiri.
"Yo lek manut aku ra usah mbongkar mbongkar omah. Ben piye? Ra ono critane wong lara goro goro omah (Ya kalau nurut sama aku nggak usah dibongkar rumahnya. Buat apa, nggak ada ceritanya rumah membuat seseorang jadi sakit)," Mbah Kung Kadir terus memojokkanku.
"Kudune manut aku wae jok mbiyen. Saben kamis wage tolu, gawe sesajen. Wes cukup, ra bakal kedaden ngene (Seharusnya nurut aku dari dulu. bikin sesajen, nggak bakal kejadian seperti ini)," Mbah Kung Kadir menunjuk nunjukku, seolah semua ini gara gara aku. Aku terdiam beberapa saat. Amarahku sudah di ubun ubun. Orangtua ini sudah sungguh keterlaluan bagiku.
"Kung, njenengan peduli nggak sih sama Bapak? Sudah njenguk Bapak belum? Sudah lihat keadaan Bapak belum?," Aku balik menyerang Mbah Kung Kadir dengan pertanyaan beruntun.
"Aku yo peduli nang Bapakmu. Aku ndino ndino nang puthuk manik manik kan yo amrih Bapakmu dang mari (Setiap hari aku di bukit manik manik ya supaya Bapakmu cepat sembuh)," Mbah Kung Kadir menjawab pertanyaanku dengan nada tinggi.
"Terus? Hasil e opo Kung? Bapak nggak sembuh sembuh. Yang njenengan lakukan Nggak berguna kung!," Aku ikut meninggikan suaraku. Kali ini pasti dari luar rumah terdengar seperti suara orang yang sedang bertengkar.
"Lancang kowe dadi bocah. Diomongi ra kenek, podho karo Bapakmu kae. (Kamu nggak bisa dikasih tahu seperti Bapakmu)," Kung Kadir memelototi aku. Aku sudah nggak peduli, bagiku pemikiran kakek tua di depanku ini perlu diluruskan.
__ADS_1
"Rumangsamu lek omah wes dibongkar, opo iso nggawe omah neh, duit ko ndi? kowe arep ngenger nang kene terus? Paleng o ra liwat o yo ngrepotne aku (Kamu pikir kalau rumah jadi dibongkar apa bakalan bisa mbangun rumah lagi? Uang darimana, arep numpang disini terus? Ujung ujung nya yang repot aku juga)," Mbah Kung Kadir membenta bentakku. kata kata dan kalimat yang teramat sangat menyakitkan keluar dari mulut pedasnya.
"Yang penting Bapak sembuh, sehat dulu Kung," Aku kali ini menjawab lirih. Suaraku seperti tertekan oleh air mata yang hendak menetes. Mungkin memang benar seseorang semakin tua maka akan semakin egois. Susah mendengarkan pendapat orang lain, lebih suka memaksakan kehendaknya sendiri. Namun apa yang baru saja diucapkan Mbah Kung Kadir benar benar telah melukai perasaanku.
Mbah Kung Kadir berdiri dari duduknya kemudian meninggalkanku. Mbah Kung kembali ke rumah belakang dengan setengah membanting pintu. Aku tidak jadi beberes, mood ku berantakan. Aku duduk bersandar pada lemari di belakangku. Rasa sedih, kecewa, benci dan marah bercampur jadi satu, membuat butir butir air yang akhirnya terjatuh dari pelupuk mata.
Drrtt Drtttt Drttttt
HP yang tersandar di kaki lemari terlihat bergerak gerak karena getarannya. Sebuah telelon masuk, dari Nita. Jarang jarang cewek satu ini meneleponku. Aku mengusap air mataku dan berdehem sebentar kemudian mengangkat telepon dari Nita.
"Hallo Nit, assalamualaikum," Aku mengucap salam terlebih dahulu.
"Waalaikumsalam, Dan . . . Udah denger kabar terbaru?," Nita terdengar antusias langsung nyerocos.
"Apaan? Gosip artis?," Aku bertanya asal asalan.
"Mbahmu. Sepeda motor Erni sudah ketemu," Nita terdengar serius dengan ucapannya.
"Denger dari Hasan aku, katanya motor Erni ketemu di dasar jurang Songo. Pas kemarin ada orang yang nyari rumput di daerah situ, terus nemu motor kondisinya rusak, remuk sih. Terus lapor tuh ke polsek. Setelah diselidiki, plat nomor dan rangka mesin dan apalagi ya aku nggak faham tadi yang dikatakan Hasan, intinya semua cocok, itu motornya Erni Dan," Nita menjelaskan dengan cara bicara yang mbulet.
"Kok bisa sampek jurang songo? Bukankah itu aneh?," Aku bertanya pada Nita, sambil menggigiti kuku jari.
"Iya. Kalau katanya kan Erni terjun sendiri dari lantai 3 kampus. Terus, bagaimana bisa motornya ada di jurang songo? Nah, hal itu juga masih diselidiki sama polisi," Nita ternyata sepemikiran denganku.
Kenapa harus di jurang songo? Aku terdiam mengingat ingat sebentar. Bukankah Lik Wo celaka juga di jurang songo? Aku merasa ini bukan kebetulan semata. Febi? Jangan jangan ini memang ada hubungannya dengan cewek itu.
"Nit, kamu tahu Febi akhir akhir ini dimana?," Aku mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
"Hah? Ngapain jadi nyari Febi?," Nita terdengar kaget dengan pertanyaanku.
" Jawab saja, kamu tahu dimana Febi akhir akhir ini?," Aku kembali bertanya. Febi memang sudah berminggu minggu tidak terlihat di kampus.
"Aku nggak tahu Dan. Teleponnya juga nggak aktif," Nita menjawab cepat.
"Besok ajak Hasan sekalian, kita ke rumah Febi," Aku memutuskan untuk ke rumah cewek gendeng itu, tapi jujur saja aku nggak berani sendirian, makanya kupikir lebih baik ngajak Hasan dan Nita.
"Hah? Ada apa sih?," Nita masih terdengar penasaran.
"Besok saja tak jelasin, pokok e bilang sama bebebmu itu, besok diajak Dani ke rumah Febi. Oke?," Aku mendesak Nita, sedikit memaksanya untuk ke rumah Febi besok.
"Iya dehh. . .," Nita meng iya kan, terdengar pasrah. Setelah itu Nita menutup teleponnya.
Aku masih duduk di teras depan, menikmati panasnya sinar matahari yang menghujam kulit. Bulan April tahun 2011 hampir habis, musim penghujan telah usai, namun masalah dalam kehidupanku belum juga menemui titik akhir.
###
RTS sudah menuju babak akhir ya Kakang dan Mbak Yu
Terimakasih untuk yang selalu baca
Like vote jangan lupa
Komentar, Kritik dan Saran tetap ditunggu
Jika cerita terasa mbulet, absurd, atau keluhan keluhan yang lain boleh kok disampaikan. Demi perbaikan untuk tulisan tulisan selanjutnya.
__ADS_1
Beli kedondong beli rambutan
boleh dong kasih like dan dukungan