
Di dunia ini,
ada hal-hal yang tak bisa dipaksakan ....
Biar aku ulangi sekali lagi.
Di dunia ini, ada hal-hal yang tak bisa dipaksakan meski kau telah berjuang sekuat tenaga.
Aku selalu bilang pada mereka yang dimabuk asmara bahwa ketika sedang jatuh cinta, kau akan menganggap dirimu benar dan orang lain salah. Dan itu telah berlaku pada diriku sendiri.
****************
Namaku Ayano Kei. Aku tidak tahu harus memulai dari mana kisah ini. Apakah dimulai dari awal mula aku memasuki pelatihan bela diri Jepang hingga dipaksa mengundurkan diri dari keanggotaan? Tidak, kurasa itu terlalu panjang. Apakah saat aku memutuskan kuliah di Harvard untuk mengambil study jurnalistik? Tidak, kurasa tidak ada sesuatu yang spesial untuk diceritakan di sana selain bagaimana diriku menjadi mahasiswa Asia yang masih mendapat perlakuan rasis dari orang-orang sana.
Baiklah, sebaiknya kuceritakan saja saat awal mula aku bergelung di bidang jurnalistik. Ya, aku mengawali karirku dengan menjadi jurnalis perang. Tugas pertamaku meliput di salah satu kawasan Timur Tengah yang sedang berkonflik. Dengan latar belakangku sebagai seorang mantan pasukan bela diri Jepang, mereka memercayakan aku meliput di negara rawan yang tengah berperang. Mereka beralasan, aku cukup bisa melindungi diriku dengan baik.
Tentu ini sebuah tantangan berat. Dalam melakukan peliputan di negara konflik, jurnalis harus siap menerima risiko terburuk jika harus kehilangan nyawa demi mendapat berita. Selain harus mempertaruhkan nyawa di negara orang, aku juga harus berpisah dengan kekasihku, wanita yang kucintai.
Saat itu usiaku dua puluh lima tahun. Aku meliput serangan di Homs yang merupakan bagian perang saudara di Suriah. Serangan ini merupakan yang terburuk dan terparah selama sepekan. Bahkan ikut menewaskan jurnalis kawakan perempuan asal Amerika Serikat, Marie Colvin.
Aku berdiri sambil memegang mikrofon dan mulai melaporkan langsung di dekat sisa-sisa reruntuhan yang baru saja terjadi pengeboman. Masih terlihat jelas kepulan asap di beberapa titik yang tak jauh dari pijakan kakiku.
Sedang menjelaskan kejadian di depan kamera, samar-samar aku mendengar suara jeritan perempuan yang terdengar serak dan lemah. Aku mencoba tetap fokus dengan liputanku yang mungkin sedang ditonton banyak pasang mata. Namun, raungan itu terdengar semakin memilukan bahkan semakin lama semakin melemah.
Konsentrasiku semakin buyar di penghujung liputan. Begitu penayangan selesai, segera kulepas semua atribut pekerjaan. Tak peduli dengan beberapa pertanyaan tim kru yang heran. Nuraniku membawa kaki ini melangkah ke sumber suara, meneroboskan bangunan yang baru saja hancur menyisakan kepiluan.
Aku mengedarkan pandangan. Semakin kupertajam pendengaran dan penglihatanku. Kuyakin sumber suara itu berasal dari tempat ini. Kakiku maju pelan-pelan, mulai mencari dengan teliti. Berapa mayat terlihat jelas dengan kaki, tangan dan kepala terpisah dari badan. Hampir terinjak jika tak hati-hati.
Itu dia! Aku menemukannya! Seorang perempuan yang terjebak di sebuah lubang yang akses keluarnya dipenuhi reruntuhan bangunan. Wajahnya pucat, dengan sedikit luka di bagian pelipis. Ia tak berhenti meneriakkan sebuah kata yang tidak kutahu, tapi dapat kupahami jika dia sedang meminta pertolongan.
__ADS_1
Aku bergegas berlari ke arahnya, menyingkirkan puing-puing beton di sekitar tubuhnya. Beberapa rekanku ternyata mengikutiku dan langsung ikut membantu.
Aku berjongkok seraya mengulurkan tanganku ke arahnya agar dia bisa keluar dari lubang yang memerangkapnya. Anehnya, dia menggeleng saat aku memberi tanganku untuk membantunya berdiri. Aku tak mengerti kenapa dia menolak uluran tanganku. Namun, malah memberikan tangannya pada rekanku yang baru saja datang. Oh, iya, rekanku itu seorang wanita yang bertugas sebagai mata-mata dalam mendapatkan informasi.
"Syukron!" ucapnya berterima kasih setelah kami berhasil mengevakuasinya dengan cukup dramatis. Namun setelah itu tubuhnya malah berayun ke arahku. Dia hampir jatuh ke tanah jika saja tak segera kutangkap. Sepertinya, kakinya mengalami cedera parah.
Di saat yang bersamaan, terjadi sebuah ledakan susulan yang berjarak seratus meter dari kami diikuti suara rentetan senjata. Kami segera menunduk dan bersembunyi di balik tembok yang masih berdiri kokoh untuk menghindari peluru nyasar.
"Eiji, ambil foto-foto penyerangan itu sekarang!" perintahku pada juru foto kami. Bagi kami, ini adalah kesempatan emas.
"Baik!" Dengan kameranya, Eiji langsung membidik beberapa tempat yang bisa menjadi saksi bisu betapa ganasnya peperangan hari itu.
Aku masih memapah perempuan berwajah khas Timur Tengah yang tengah tak sadarkan diri itu. Tanpa sadar, aku malah terpaku memerhatikan detail wajahnya. Alis tebal beraturan, Bulu mata lebat panjang melengkung indah, hidung mancung yang lancip dan berbibir tipis merah muda. Rambut hitam pekat yang sedikit mengintip dari balik selendang panjang yang melingkar di kepalanya. Ah, tidak, kupikir yang dipakainya itu adalah kerudung.
Aku menoleh pada Eiji dan Aoba. "Jaga wanita ini, aku akan meliput situasi secara langsung!" Pandanganku berpaling ke arah kameraman kami. "So, ayo, ikut aku!"
"Ini terlalu berbahaya! Apa kau ingin bernasib sama seperti jurnalis asal Amerika itu? Aku tidak!" tolak So dengan kepala bergeleng lemah, "Masih ada yang menunggu kepulanganku," sambungnya dengan nada serak.
Tiba-tiba situasi semakin tidak terkendali. Peluru terus dimuntahkan dari atas langit seperti hujan. Ledakan bom tak berhenti mencabik-cabik daging manusia. Dalam sekejap udara telah terkontaminasi dengan zat kimia berwarna putih. Kami tidak bisa bertahan terlalu lama di sini jika tak ingin pulang tanpa nyawa.
Aku menengadahkan kepala, melihat beberapa pesawat tempur yang mulai menguasai langit kota ini. Ini gawat! Mereka bisa saja kembali menjatuhkan bom. Sungguh, sebagai jurnalis perang tentu seharusnya kami tak boleh takut mati, tapi jika itu terjadi reportase¹ investigasi yang kami dapat hari ini akan sia-sia. Kami memang tidak membawa perdamaian di negara perang, tapi setidaknya bisa menyampaikan fakta dan kebenaran yang terjadi pada masyarakat.
"Ayo balik sekarang!" perintahku cepat. Meskipun keberadaan jurnalis dan wartawan di medan perang dilindungi hukum humaniter² internasional, siapa yang bisa memastikan keselamatan kami?
"Bagaimana dengan wanita ini? Dia pingsan, apa kita bawa saja ke posko pengungsian terdekat?" tanya So yang berprofesi sebagai kameraman.
Aku menatap perempuan itu sembari melihat bercak darah yang sangat lebar di lengan bajunya. "Dia terluka parah. Membawa dia ke posko pengungsian terlalu jauh. Membawa dia ke Rumah Sakit terlalu berisiko karena serangan saat ini hanya beberapa meter dari Rumah Sakit."
"Kita tinggalkan saja dia di sini. Lagi pula kita bukan relawan," kata Eiji.
__ADS_1
"Apa kau masih bisa menyebut dirimu sebagai manusia?" ucapku dengan nada tertahan dan rahang yang mengetat.
"Lalu bagaimana? Jalan untuk ke Rumah Sakit lain telah terblokir," jawabnya dengan cemas.
Aku terdiam sejenak, lalu berkata, "Mari bawa dia ikut bersama kita!"
.
.
Jejak kaki 🦶🦶
reportase adalah proses pelaporan sebuah berita atau kegiatan peliputan berita, serta pengumpulan fakta mengenai unsur berita dari berbagai sumber atau narasumber, yang kemudian disusun dan disajikan ke publik. (Menurut Heni Suryani dalam buku Cara Praktis Reporter Pemula Memburu Berita)
hukum humaniter: sekelompok peraturan yang dibuat atas dasar kemanusiaan dan bertujuan untuk membatasi dampak dari konflik bersenjata.
catatan author ✍️✍️✍️:
__ADS_1
Novel ini bukan hanya sekadar kisah cinta peran utama dan seluk beluk karirnya. Ini cerita bertema kemanusiaan, ya, gays. Sebelumnya novel ini dirilis di halaman bonus novel never not. tapi karena banyak readers setiaku yang pingin dibuatin buku sendiri, maka aku pindahin ke sini.
Buat pembaca baru karyaku, memilih bacaan itu selera, ya, tapi saya sarankan minimal baca sampai di bab empat sebelum memutuskan lanjut atau tidak, ya 😉