
"Khair?" Aoba mengernyit, "siapa dia? Maksudku ... kenapa kau ingin mencari tahu tentangnya?"
"Aku ingin mencari tahu kisahnya karena tidak banyak informasi yang kudapat."
"Ada berapa nama Khair di negara ini. Aku tidak tahu Khair mana yang kau maksud."
"Kudengar dia salah satu pejuang dari kubu pemberontak yang gugur. Kupikir, sebagai jurnalis kita perlu membuat berita berimbang dari segala sisi. Selama ini kita hanya fokus menyampaikan kejadian di lokasi peperangan."
"Ya, benar. Kau adalah seorang jurnalis. Sudah merupakan tugasmu untuk menyampaikan informasi dari segala sisi. Tapi Ayano-san, ini terlalu berbahaya! Belum tentu artikelmu akan lolos."
"Tenang saja. Kau hanya perlu membantuku mencari tahu tentang orang itu. Masalah lainnya, akan menjadi urusanku."
Ya, apa yang dikatakan Aoba benar. Setiap artikel yang akan diedarkan media, masih harus melewati proses penyuntingan. Tak jarang artikel kami akan batal rilis jika tulisan dan fakta yang dimuat terlalu frontal. Untuk itu, aku berniat membuat website sendiri yang menuliskan tentang perjalananku selama di negara ini. Setidaknya lewat website itu, aku lebih bebas menulis hal-hal apa saja yang terjadi selama berada di sini. Aku ingin lewat tulisanku itu, dunia akan belajar dari hal-hal yang dapat menciptakan perpecahan dan perang seperti yang terjadi di negara ini.
Di antara kami berempat, memang hanya aku yang murni dari jurusan jurnalistik. So adalah seorang kameraman, Eiji adalah fotographer profesional dan Aoba adalah seorang editor buku yang beralih menjadi wartawan. Namun, kami semua bekerja dalam naungan media yang sama. Karena aku memiliki kemampuan bahasa asing yang baik, aku juga merangkap sebagai reporter.
Sebagai jurnalis, setiap kata yang akan disampaikan harus netral dan berimbang. Untuk itu, aku tertantang untuk membuat artikel dengan berbagai sudut pandang yang kutemukan.
Pengetahuanku tentang peperangan ini hanya sebatas ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan diktatorr negara ini yang telah berkuasa selama puluhan tahun. Para rakyat ini lalu membentuk gerakan revolusioner untuk melawan rezim otoriiter.
Ada tiga kubu yang berusaha mengambil keuntungan dari perang ini. Kubu pertama, negara adidaya Amerika Serikat dengan pencitraannya yang hendak membantu rakyat melakukan revolusii tetapi sebenarnya ada kepentingan terselubung terutama di bidang ekonomi dan politik. Kubu kedua yaitu Rusia yang mendukung penuh pemerintahan Suriah dalam menuntaskan para pemberontak demi keamanan negaranya dan kubu terakhir, kelompok ektremis yang berambisi menyatukan negara-negara Timur-Tengah di bawah kekuasaannya dengan berlandaskan ideologi mereka.
***
Tak terasa, senja telah terbaring dipangkuan malam. Aku dan kawan-kawan tengah sibuk mendirikan tenda di bawah langit yang bernuansa gelap. Ya, kami membangun tenda berdekatan dengan kamp pasukan perdamaian PBB. Sebab, kami masih harus meliput kamp pengungsian besok pagi. Selain itu, Yuna juga masih menetap di daerah ini untuk beberapa hari. Sebagai kekasihnya, tentu aku harus menjaganya.
Aku mengusap kedua tanganku, membersihkan sisa-sisa tanah yang ada di telapak sambil mengembuskan napas lelah.
"Ayano-san!"
Aku berbalik ketika seseorang memanggilku. Dalam remang, aku melihat seorang pria gagah berseragam militer datang berjalan ke arahku. Saat pria itu semakin dekat, mataku spontan membesar. Tentu saja aku mengenalinya, dia adalah teman sekamarku sewaktu menempuh pelatihan Pasukan Bela-diri Jepang.
"Yoshizawa!" sebutku dengan wajah semringah.
"Ayano-san! Tidak disangka dapat bertemu denganmu di sini."
"Ya, aku ditugaskan meliput di negara ini. Kau sendiri ...." Aku melihatnya dari atas ke bawah, lalu melirik orang-orang di belakang sana. Ada beberapa Pasukan Bela-diri Jepang yang ikut berbaur dengan militer dari berbagai negara itu.
"Seperti yang kau lihat, aku dan lainnya diberangkatkan panglima untuk bergabung dengan pasukan perdamaian PBB."
Sepasang alisku naik ke atas. Ini pertama kali sejak perang dunia II, negara kami mengirimkan pasukan militernya untuk bergabung di bawah bendera PBB.
"Kei! Kei!" Suara teriakan Yuna terdengar.
Yuna menghampiriku sambil berlari kecil. Begitu kami berhadapan, pandangannya beralih pada Yoshizawa yang berdiri di sebelahku.
"Kau!" Ekspresi kaget tampak di wajah Yuna begitu melihat Yoshizawa. "Kenapa kau mengikutiku sampai di sini!" ketusnya pada pria itu.
__ADS_1
"Jangan salah sangka! Ayahmu yang mengirimkan aku ke sini. Jika kau tak pergi tanpa sepengetahuan ayahmu, tentu Jepang tidak pernah mengirimkan pasukannya ke sini," balas Yoshizawa dengan santai.
"Kalian berdua saling mengenal?" tanyaku kaget. Sebab, selama di kamp pelatihan, aku tak pernah menceritakan tentang Yuna pada Yoshizawa dan setahuku Yuna juga tak mengenal teman-temanku yang bergabung di pasukan Bela-diri Jepang. Jangan pun itu, Yuna tak pernah akrab dengan para anak buah ayahnya.
Sepertinya Yuna juga terkesiap saat tahu aku mengenali Yoshizawa.
"Maaf, aku tinggal dulu, ya!" Yoshizawa pamit pergi meninggalkan kami berdua.
Aku dan Yuna saling melirik sejenak.
"Dia ... teman sekamarku sewaktu kami menempuh pelatihan," ucapku menepis keheningan yang terjalin.
"Oh ... dia ... prajurit terbaik tahun ini yang dekat dengan ayah," jelas Yuna dengan terbata-bata.
"Oh ...." Aku mengangguk saru.
Beberapa detik berlalu tanpa ada yang bersuara di antara kami. Kulihat Yuna tampak kedinginan. Ia menyatukan kedua tangannya membentuk satu kepalan. Aku berbalik membelakanginya sambil menarik kedua tangannya untuk masuk ke dalam saku jaketku. Ini membuatnya terlihat seperti memelukku dari belakang.
"Kalau begini apa masih dingin?" tanyaku sambil menoleh ke belakang, menatap wajahnya.
Yuna menggeleng pelan sambil menahan senyum. "Tapi ... kita tidak mungkin seperti ini sepanjang malam, kan?"
Aku tertawa kecil. "Kalau begitu, bawalah jaketku!"
Tempat ini memang berada di dataran tinggi sehingga udara malam terasa sangat dingin. Apalagi, musim dingin akan segera datang di negara yang dulunya dikenal dengan sebutan negeri Syam.
Ketika aku hendak membuka jaket di badan, Yuna malah mengambil kerudung Ameena di leherku.
"E ... Yuna, itu sebenarnya bukan syal," ucapku sedikit gagap.
Kini dia malah memasangkan kerudung itu di kepalanya. "Sepertinya ini cocok denganku. Aku selalu membayangkan memakai pashmina seperti gadis-gadis Timur-tengah," ucapnya kembali.
"Yuna-chan, itu ... a ... e ...." Rasanya sulit untuk mengatakan kalau dia tak boleh mengambil benda kenangan Ameena.
"Aku kembali ke tendaku dulu. Jangan lupa habiskan vitaminmu!" teriaknya berlari sambil membawa kerudung itu.
Aku hanya bisa menggaruk-garuk kepalaku dengan raut masam.
***
Tak terasa, malam telah ditenggelamkan oleh matahari yang mulai terbit di kaki langit. Aku sudah terbangun sejak dua jam lalu, bahkan di saat sang fajar belum menunjukkan eksistensinya. Aku sudah tak sabar untuk meliput daerah pengungsian. Harapanku besar untuk menemukan Ameena di sana. Setidaknya aku harus melihatnya secara langsung dan memastikan keadaannya walau hanya sekali.
Pagi ini, kami meliput di daerah pengungsian warga sipil. Selama meliput, mataku terus mengawasi setiap wanita berkerudung yang melintas. Selesai melakukan reportase, aku berjalan-jalan ke sekitar tempat pengungsian ini. Perhatianku malah teralihkan pada bocah berusia sekitar lima tahun yang tengah duduk berjongkok sendirian.
Aku segera membuka ranselku, lalu mengambil kamera. Pose anak itu membuatku tertarik memotretnya. Satu jepretan rasanya tak cukup. Aku kembali memotretnya. Kali ini, kuberanikan diri mengambil bidikan dalam jarak yang cukup dekat. Bocah itu menoleh kaget ke arahku. Dia sontak mengangkat kedua tangannya tepat saat aku mengabadikan gambarnya.
Aku sadar bocah itu begitu ketakutan karena terus mengangkat tangan sambil menggigit bibirnya. Tampaknya, dia mengira aku sedang menodongkan senjata api ke arahnya. Ya, aku memang menggunakan lensa tele sehingga terlihat seperti senapan. Buru-buru kusimpan kameraku, lalu mendekat ke arahnya. Dia masih ketakutan, tapi tak mencoba lari.
Aku berjongkok di depannya sambil merogoh saku celana lalu menunjukkan tiga buah permen. "Ambillah ...."
__ADS_1
Bocah berpipi tembam itu menatapku dengan polos lalu mengambil permen dari tanganku.
"Syukron," ucapnya sambil tersenyum kecil.
"Ayano-san!"
Aku segera berbalik ketika mendengar suara Aoba. Gadis berambut pendek itu berlari ke arahku dengan napas yang tersengal-sengal.
"Kami semua mencarimu. Kau tiba-tiba menghilang!"
"Maaf, aku hanya tertarik mengambil beberapa foto.
"Aku sudah mencari tahu daftar nama pengungsi di tempat ini," ucap Aoba, "sayang sekali, tidak ada nama Ameena dalam daftar pengungsi wanita."
Aku tertunduk sejenak. Entah kenapa, aku merasa sedih sekaligus senang. Sedih karena keberadaan Ameena belum juga tak diketahui. Di sisi lain, senang karena ada kemungkinan dia berada di tempat yang aman.
"Aku juga telah mendapatkan informasi tentang Khair!" seru Aoba.
"Benarkah?" tanyaku cepat, "Mari kita bicara di sana saja!" pintaku mengajak Aoba menepi karena terlalu banyak tentara PBB yang berlalu lalang menjaga.
Saat hendak beranjak, kurasakan sebuah tarikan kecil di jaketku. Aku menoleh cepat ke belakang. Ternyata bocah kecil itu yang menarik ujung jaketku. Dia menatapku dengan lamat, seolah tak mau membiarkanku pergi.
"Ayano-san, siapa anak lucu ini?" tanya Aoba yang terlihat gemas.
"Sepertinya anak salah satu korban pengungsi," jawabku. Aku lalu berjongkok di depan bocah itu, lalu menunjuk tempat yang tak begitu jauh, "aku hanya akan ke situ. Sebentar saja!" ucapku memakai bahasa Inggris.
Entah dia paham atau tidak, yang jelas dia hanya diam sambil melepas tangannya di ujung jaketku. Aku dan Aoba pun menepi untuk membicarakan tentang Khair.
"Apa info yang kau dapat?" tanyaku.
Entah kenapa, kepalaku menoleh ke tempat sebelumnya. Aku terperanjat, bocah itu sudah tidak ada di sana. Aku menoleh ke kiri dan kanan. Kulihat, bocah itu dibawa seorang wanita yang memakai baju panjang semata kaki berwarna merah maroon. Bocah itu ternyata masih menoleh ke arahku. Dia lalu melambaikan tangan sambil melempar senyum padaku.
.
.
.
catatan author ✍️✍️
Jadi pencetus perang saudara di Suriah itu sebenarnya mirip-mirip sama kejadian refoormasi di negara kita, ya. Di mana rakyat sudah muak dan tidak puas dengan rezim yang berkuasa di negara mereka selama puluhan tahun.
Terus, tentang bocah yang di foto lalu tiba-tiba angkat tangan karena dikira ditembak itu, nyata adanya di Suriah. Foto bocah tersebut sempat viral beberapa tahun lalu di sosmed dan mendapat empati besar publik internasional.
Aku agak kaget pas sebagian pembaca masih ingat dengan clue kisah Kei ini di NN. Ya, emang aku pernah nulis satu bab di NN yang menceritakan kisah cinta Kei di Timur-Tengah. Itu bahkan ada di chapter pertengahan novel NN. Yang artinya, cerita ini sudah aku persiapkan dari akhir tahun 2021, Gays. Jadi bukan cerita yang asal terbesit di otak terus langsung aku tulis tanpa mikir alur ke depannya gimana.
Dan aku juga agak kaget cerita ini bisa nyampe 20 chapter. Yang awalnya niat cuma 10 chapter aja, dan cuma fokus di kisah Kei dan Ameena di masa lalu. sekarang malah udah 20 chapter. kalian sih minta dilebarin 🤣. Tapi yang jelas novel ini gak sepanjang novel-novelku sebelumnya.
Thanks banget buat kalian yg udah dukung novel ini. Segala komentar support, rating 5 bintangnya, tips dan gift iklannya pokoknya kuucapkan makasih. Btw, aku belum ada rencana kontrakin karya ini di platform N T, masih mikir2 dulu. So, untuk gift poinnya bisa kasih ke novel DOSA aja. di sini kasih vote aja. kalau mau juga ya....
__ADS_1
Jangan lupa selalu like dan komennya untuk menaikkan popularitas novel.