Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 35 : Rentetan Nestapa itu Datang


__ADS_3

Setelah hari menyakitkan itu, Yuna malah menganggap seolah tak ada sesuatu yang terjadi pada hubungan kami. Dia masih seperti biasa, aktif mengirimkan pesan walau sekadar mengucapkan selamat makan dan tidur. Sebaliknya, tak satu pun pesannya yang mendapatkan balasan dariku. Aku juga sudah tak lagi menjawab panggilan teleponnya. Sengaja kulakukan agar dia menyerah dan berhenti menghubungiku.


Mungkin baginya kini aku benar-benar menjadi orang yang tak berperasaan. Bukan berarti aku bisa dengan mudah meninggalkannya. Aku hanya sedang berusaha mengalahkan ego dan perasaanku. Untungnya, beberapa hari ini aku disibukkan meliput beberapa wilayah yang kembali memanas. Waktu luang pun kugunakan untuk belajar bahasa Arab dan menyusun artikel investigasi tentang kasus pelecehan seksual yang telah kurangkum setelah mendapatkan sejumlah bukti. Selama penyusunan berita itu, aku terus berinteraksi dengan Zaheera. Tampaknya, dia sudah tak sabar melihat kasus ini terangkat ke media sesuai janjiku.


"Hah ... akhirnya selesai juga!" Aku mengangkat tangan tinggi-tinggi setelah jari-jari ini sibuk menari-nari di papan tombol selama berjam-jam.


"Wuah ... Ayano-san, Sugoi ne! Kau bisa menjabarkan ini dengan begitu detail." Aoba memujiku sambil membaca hasil artikel laporan investigasi dari beberapa kamp pengungsian.


"Ini berkat pertolongan kalian juga!" Aku memandang ketiga rekanku yang setia membantuku selama ini.


"Aku sudah tak sabar. Tenang saja, aku rela membagikan lebih dari seratus kali link beritanya supaya lebih banyak orang yang mengetahui di luar sana," ucap So menggebu-gebu.


"Otsukaresama desu! Jika berita ini meledak dan mendapat perhatian luar biasa, kau mungkin akan diperebutkan media asing," ucap Eiji sambil menyodorkan sebotol arak padaku sebagai bentuk solidaritas.


(Otsukaresama desu: kerja yang bagus)


"Arigatou!"


Aku langsung menginfokan pada Zaheera kalau kasus pelecehan tersebut telah ditulis dalam berita dan siap untuk diangkat oleh media.


"Apa menurutmu berita ini akan membantu para wanita yang tertindas di pengungsian?" tanya Zaheera.


"Jika berita ini bisa menarik perhatian publik internasional, maka PBB tak punya pilihan selain mengusut kasus tersebut atas desakan dan kecaman orang-orang," ucapku optimis. Aku bersyukur bekerja di bawah media besar Jepang yang cukup terkenal di kalangan internasional. Setidaknya, artikelku berpeluang besar untuk dijangkau negara lain.


"Tolong sampaikan ucapan terima kasihku pada teman jurnalismu. Aku sudah tak sabar membaca berita yang ditulisnya."


Balasan pesannya semakin membuatku bersemangat. Aku juga ingin tahu apa respon Zaheera tentang berita yang kutulis. Dengan tak sabar, aku langsung mengirim artikel investigasi itu ke pimpinan redaksi melalui surat elektronik. Karena berita ini bukan bagian dari perintah tugas, maka aku tak bisa langsung mengirim naskah artikel ke asisten redaktur. Aku perlu persetujuan dari pimpinan redaksi lebih dahulu.


Ternyata istilah "apa yang kita harapkan kadang tak sesuai kenyataan" benar-benar ada. Seperti yang kualami usai mendapat balasan email dari redaksi. Artikel yang kukirim semalam ditolak. Dengan kata lain, berita ini gagal rilis!


"Ayano, ini memang berita besar. Namun, kita tidak bisa merilis berita ini," ucap kepala redaksi saat aku meneleponnya.


"Kenapa?" tanyaku cepat.


"Ini terlalu berisiko! Perusahaan kita akan mendapat sorotan dan mungkin juga pencekalan di kemudian hari. Lagi pula, kau itu jurnalis baru yang belum punya nama di dunia pemberitaan. Siapa yang akan percaya dengan tulisanmu ini?!"


"Tapi aku menyertakan bukti-bukti dan data. Ada bukti wawancara langsung dengan para korban. Anda bisa mengeceknya langsung." Aku berusaha memperjuangkan artikelku.

__ADS_1


"Sekalipun seperti itu, tetap tidak bisa. Kita punya ruang terbatas dalam mengambil isi berita. Muatan berita ini memenuhi unsur provokatif yang bisa memancing beberapa kubu bereaksi pada orang-orang PBB."


Aku terpukul. Apa yang ia ucapkan ada benarnya. Selama ini, media Jepang sangat berhati-hati dan kerap menghindari muatan berita yang bersifat mengompori situasi. Ini sesuai kultur kami yang selalu menghindari perselisihan demi menjaga keharmonisan sesama. Namun, tentu itu sangat berbeda dengan kasus kali ini. Menurutku, kita tidak boleh mengorbankan beberapa kelompok tertentu hanya karena tak ingin ada pergolakan. Bagaimana bisa kita mengimpikan hidup dalam kedamaian sementara di satu sisi lainnya masih banyak yang hidup dalam nestapa?


"Apa yang harus aku lakukan agar artikelku ini bisa muncul di portal berita? Apakah aku harus menyunting beberapa narasi yang terlalu keras? Katakan saja, akan kuperbaiki segera. Bukankah kebenaran harus tetap dikuak meskipun pahit?" Aku masih memaksa dan mengupayakan artikelku naik ke portal berita.


"Tidak ada! Lupakan saja! Fokus dengan tugasmu sebagai reporter."


"Apa maksud Anda berita ini tidak penting? Aku dan tim bahkan memakai uang kami sendiri untuk berkeliling mencari bukti."


"Siapa yang menyuruhmu melakukan investigasi berita? Kalian dikirim ke sana hanya untuk melakukan peliputan di medan perang, bukan melakukan hal-hal di luar tugas kalian seperti ini. Jangan buang-buang waktu untuk mengurus yang bukan urusanmu! Lupakan saja berita ini! Cepat atau lambat, akan ada media lain yang membahas masalah ini. Atau kau jual saja berita itu pada wartawan luar lainnya." Dia langsung mengakhiri pembicaraan kami dengan memutuskan sambungan telepon.


Aku mengusap rambutku dengan kasar. Rasanya ingin berteriak. Ketika semua telah rampung seratus persen, kami harus mendapat hambatan besar seperti ini. Apa yang harus kulakukan? Zaheera pasti kecewa berat jika tahu artikel ini gagal naik.


"Bagaimana?" tanya Aoba.


Aku menggeleng masam. Tak bisa kuungkapkan lewat kata-kata rasa kecewa ini.


"Sudah kuduga! Kita hanya buang-buang waktu, uang dan tenaga! Dari awal sudah kubilang kita bukan jurnalis investigasi!" ketus Eiji sambil berkacak pinggang.


"Ayano, apa yang akan kau lakukan? Aku tahu kau sangat bekerja keras untuk berita ini." Dibanding Eiji yang langsung bersikap sinis, So malah terlihat iba padaku.


Aku duduk bersandar di belakang pintu kamar sambil mengisap batang rokok. Membiarkan aroma nikotin itu memenuhi kamar kecil ini. Kupikir dengan menjadi jurnalis, aku bebas mengungkap kebenaran yang tersembunyi. Nyatanya, aku pun masih terkendala oleh peraturan dan kebijakan perusahaan media tempatku bernaung.


Ponselku tak berhenti membunyikan pemberitahuan pesan masuk. Aku yang mendadak hilang selera untuk melakukan apa pun, mencoba membuka pesan chat yang masuk. Berharap itu dari kepala redaksi yang mungkin berubah pikiran. Ternyata seluruh chat yang masuk itu datang dari Yuna.


Dia mengirim belasan foto-foto kami selama delapan tahun merajut kasih. Bibirku menyunggingkan senyum, melihat wajahku dalam balutan seragam sekolah hingga seragam pasukan bela-diri khusus atau yang disebut Coyote. Aku cukup terhibur hanya dengan melihat transformasi gayaku dari tahun ke tahun.


"Apa kau ingat foto ini? Aku mengambil foto ini kau berangkat ke Amerika untuk kuliah di sana." Yuna mengirimkan beberapa foto yang diambil di bandara Tokyo. "Apa kau ingat restoran ini? Ini adalah restoran pasta favoritmu. Kita merayakan anniversary yang kelima di sini. Hhmm ... aku penasaran apakah di negara ini ada restoran Italia? Aku ingin sekali makan pasta." Yuna tak henti-hentinya mengirimkan foto.


Ternyata, ada banyak sekali momen kebersamaan kami yang terabadikan dalam kamera. Aku tahu, dia berusaha keras mengingatkan kenangan yang telah kami lalui. Sayangnya, dia tak tahu bagaimana tersiksanya aku yang harus meninggalkannya dan semua kenangan ini.


Yuna, mengertilah ....


***


Hari-hari di negara perang terasa sama saja. Tak ada sesuatu yang baru selain mendengar informasi penyerangan dan ledakan bom. Tak ada agenda lain selain berburu berita. Namun, pagi ini aku mendadak tak bergairah untuk melakukan apa pun.

__ADS_1


Aku sudah bangun dengan mata masih malas menatap lamat ke muka bumi. Masih di atas kasur tipis tanpa pengalas, aku mencoba mengulur tangan untuk menggapai ponsel yang kuletakkan di lantai. Ternyata aku tertidur tanpa sempat mematikan ponselku. Puluhan pesan Yuna semalam tak mendapat balasan dariku. Meski begitu, dia masih mengirimkan pesan sekadar mengucapkan selamat pagi untuk hari ini.


Aku beralih mengecek email yang masuk. Ada satu pesan yang datang dari Zaheera. Dia menanyakan kabar terkait artikel yang kujanjikan rilis dalam waktu dekat.


"Maaf Zaheera, bisakah kau berikan aku waktu untuk membahas ini? Beberapa hari ini suasana hatiku sangat buruk." Ketikku dalam bahasa Arab yang mulai membaik.


"Maaf ... aku tak bermaksud mengganggumu. Aku tidak tahu apa yang sedang kau hadapi saat ini, tapi jika berkenan kau boleh ceritakan padaku agar bebanmu sedikit berkurang."


Aku tersenyum tipis. Sebenarnya, ada dua hal yang sedang kuhadapi. Tentang masalah artikel yang tak bisa kurilis serta tentang hubunganku dan Yuna yang dipaksa berakhir oleh keadaan. Namun, aku memilih menceritakan masalahku dan Yuna, di mana aku terpaksa harus meninggalkannya.


"Kalau boleh aku memberi saran, kita harus menghargai keberadaan seseorang selagi dia masih ada dan masih ingin bersama kita. Hanya karena dia terus melekat padamu, bukan berarti dia tak bisa menjauh ketika kau terus mendorongnya untuk pergi. Sebab, ada beberapa situasi yang membuat orang-orang yang menyayangi kita benar-benar pergi meskipun kita memanggilnya kembali. Aku tidak tahu kesulitan apa yang sedang kalian hadapi, tapi aku pernah berada di posisi orang yang mencintaiku pergi selama-lamanya. Jangan sampai kau penuh penyesalan dan kekhawatiran di masa depan."


Itu adalah balasan pesan yang dikirim Zaheera padaku. Aku tak menyangka dia pernah mengalami hal yang lebih menyedihkan dibanding aku. Aku dan Yuna mungkin hanya dipisahkan oleh restu dan perbedaan prinsip. Namun, Zaheera dan lelaki yang mencintainya telah dipisahkan oleh maut.


Entah kenapa, kata-kata itu membuka keberanianku untuk berjuang mempertahankan hubunganku dengan Yuna. Aku tak boleh menyerah begitu saja. Aku mulai berpikir, tak masalah jika kami tidak menikah. Asal bisa terus bersama seperti yang sudah kami jalani, semua akan lebih indah dari sekadar menyematkan cincin di jari manis. Jika Yuna bisa bertahan, kenapa aku memilih mundur?


Aku pun memutuskan mendatangi Yuna ke asramanya setelah sempat tak mengacuhkannya selama seminggu. Sayangnya, dia tak ada di sana. Rekan sejawatnya mengatakan padaku kalau pagi ini dia ditugaskan menjadi relawan untuk penyerangan yang terjadi di kota Qatana. Di waktu yang sama, aku mendapat telepon dari Aoba untuk bergegas meliput ke kota itu karena baru saja terjadi ledakan bom yang menewaskan puluhan warga sipil.


Aku lantas menyusul kawan-kawanku pergi ke kota yang berjarak 25 kilometer dari Damaskus. Sesampainya di sana, aku bisa melihat beberapa titik api yang masih menyala dan hiruk pikuk petugas medis dalam menangani para korban pengeboman.


Aku meminta pada timku untuk mencari Yuna. Kurasa aku perlu mengatakan padanya kalau semua yang kukatakan padanya waktu itu tak sepenuhnya benar. Aku masih ingin bersamanya meskipun suatu saat nanti hubungan kami akan tetap kandas atau dia memilih menyerah untuk melanjutkan hubungan ini.


"Yuna ...."


"Kei ... kau juga ada di sini? Kau sibuk beberapa hari ini, kan?"


Aku mengangguk. Tangan kami saling berpegangan. Mata yang berkilau itu masih memancarkan pesan cinta yang sama. Aku mungkin makhluk terlabil di muka bumi ini.


"Yuna-chan, aku ...."


"Dokter, ayo kita ke sana! Ada pasien yang terjepit di tengah reruntuhan!" Salah satu rekan medis menghampirinya dengan terburu-buru.


"Kei, aku ke sana dulu! Jaga dirimu baik-baik!" ucapnya sambil melepaskan tautan tangan kami lalu berlari terburu-buru meninggalkanku.


"Yuna-chan, setelah ini mari kita cari restoran pasta yang enak di negara ini!" teriakku di tengah kesibukan para medis yang berlalu lalang.


Senyum lebar tersemat di bibirku. Baru saja memutar tubuh, sebuah ledakan besar terdengar yang tak jauh dariku. Aku berbalik cepat dengan mata yang membulat tajam.

__ADS_1


"Yunaaaa ...."


__ADS_2