
Waktu itu ... aku masih terlalu polos sampai tak tahu betapa banyaknya jenis manusia di dunia ini. Aku masih belum bisa membedakan mana yang benar-benar baik dan mana yang hanya menjebak.
.
.
.
Aku tak menyangka pria yang sepanjang perjalanan duduk di kabin itu tiba-tiba datang menyerangku. Untungnya aku segera menangkap ujung kayu yang akan dipukul padaku. Kuputar kayu itu 180 derajat hingga tangannya menjadi ikut terputar. Satu orang ikut menyerang dari arah samping. Aku langsung melayangkan tendangan ke arah perutnya hingga membuatnya jatuh terlempar. Orang yang akrab denganku sedari tadi, memberi pukulan dari arah belakang. Kutarik memutar pria yang berada di hadapanku, sengaja membuat posisi kami bertukar. Di waktu itu juga pukulan yang seharusnya mengenai diriku, malah terkena temannya sendiri.
Salah satu di antara mereka kembali melayangkan pukulan yang begitu mudah dihalau olehku. Aku menangkap kepalan tangannya, memuntir lengannya ke belakang dan membantingnya ke tanah. Tak sampai di situ, aku juga memutar kepalanya ke sisi bahuku. Ini salah satu teknik kuncian mematikan dari bela diri judo.
Saat SMP, aku memutuskan bergabung di kelab bela diri judo. Aku meraih sabuk tertinggi dan banyak memenangkan berbagai turnamen nasional. Namun, baru kali ini kugunakan keahlian bela diriku untuk melawan penjahat.
Pria yang berada dalam kuncianku tampak membiru. Aku tak berniat membunuhnya, tapi juga enggan melepasnya.
"Kalian salah orang jika cari masalah denganku!" ucapku sambil mematahkan lehernya.
Dua kawannya tampak terkesiap. Mereka bergerak mundur secara perlahan. Pria berewok berlari menuju mobil. Aku tersadar jika Ameena masih berada di dalam sana. Baru saja hendak mengejarnya, satu dari mereka malah memukul punggungku hingga membuat tubuh ini jatuh dalam keadaan berlutut. Di waktu yang sama, pria berewok yang pandai berbahasa Inggris itu menarik paksa Ameena turun dari mobil sambil mendekapnya dengan posisi menghadap ke arahku, seakan menjadikannya sebagai tawanan.
"Jangan sentuh dia, Sialan!" teriakku berang.
__ADS_1
Ameena lantas berteriak memanggilku dan mencoba melepaskan diri. Tamparan keras malah mendarat di pipinya. Aku langsung berdiri dengan mata yang memancarkan amarah.
Kedua tanganku mengepal kuat. "Kau!" teriakku sambil hendak menyerangnya.
"Jangan coba mendekat jika kau tak ingin dia mati!" ancamnya sambil mengarahkan pisau belati ke leher Ameena.
Aku membatu di tempat. Kaki ini mendadak seperti tertancap ke dalam tanah. Tak bisa kugerakkan. Tidak, yang benar adalah aku dipaksa untuk tak berkutik dengan menjadikan Ameena sebagai tameng mereka. Bertepatan dengan itu, salah satu dari mereka memukul punggungku hingga membuat posisiku bersujud mencium tanah. Aku mengangkat kepala dengan pelan sambil memandang Ameena yang begitu gemetar dan ketakutan.
"Lepaskan dia!" teriakku dengan bertekuk sebelah lutut.
"Kalau kau tak bisa diam, pisau ini bisa membunuhnya!" Pria itu semakin merapatkan pisau ke leher Ameena yang tertutupi sorban.
Kurasakan sebuah pukulan kembali melayang di punggung ini. Tak hanya sekali. Berkali-kali. Satu tendangan melayang ke wajahku hingga kepalaku seakan terlempar. Mereka menarik rambut depanku hingga wajah ini terangkat ke atas. Serangan kepalan tangan mendarat ke wajahku bertubi-tubi. Demi keselamatan Ameena, aku merelakan tubuh ini dihajar mereka tanpa perlawanan apa pun dariku.
"Mina-chan, jangan menangis! Aku tidak apa-apa dan tidak akan kenapa-kenapa asal kau selamat. Ketahuilah, melihatmu meneteskan air mata lebih sakit dibanding pukulan mereka," batinku berucap lirih sambil menatapnya dengan pandangan nanar.
Pria yang menahan Ameena memerintahkan sesuatu pada kawannya. Salah satu kawannya mengambil tasku lalu memeriksa isinya. Mereka mengambil seluruh uang yang ada di dompetku dan kamera mahal yang sering kupakai bekerja. Mereka juga menggeledah kantongku untuk mengambil gawai yang menjadi sarana komunikasi antara aku dan Ameena. Bahkan melepas paksa jam tangan mewah yang merupakan pemberian kekasihku saat aku berulang tahun. Aku hanya bisa pasrah tanpa melawan.
"Kau kira kami memberi tumpangan karena ingin membantu kalian? Tidak, kami melakukannya karena melihat kau memakai jam tangan mewah!" jelas pria yang menahan Ameena diiringi tawa teman-temannya.
Ternyata mereka adalah kawanan perampok. Aku teringat, seorang warga pernah bercerita padaku kalau ada sekelompok bandit yang berkeliaran di gurun untuk merampok orang-orang yang tersesat. Mereka juga menculik gadis pengungsian untuk dijadikan pekerja sekss komersial. Sejak saat itu, gurun ini jarang dilewati orang-orang. Betapa bodohnya aku yang tidak memiliki firasat apa pun, bahkan sempat menganggap mereka orang-orang baik dan ramah.
__ADS_1
Seseorang yang memeriksa isi tasku tiba-tiba berseru sembari mengangkat kotak cincin berlian. Aku terperanjat dengan mata terbelalak. Tentu saja tak terima jika cincin itu juga akan diambil oleh mereka. Aku berusaha berontak, tetapi seseorang langsung menginjak kepalaku sehingga membuat sisi wajahku merapat ke tanah.
"Apakah cincin berlian itu asli?" tanya pria berewok itu, "melihat reaksimu, ini pasti asli dan mahal, kan?"
"Kalian boleh mengambil semuanya, tapi cincin itu ... jangan!" ucapku terbata-bata dengan rahang yang mengetat, "letakkan kembali cincin itu jika tidak ingin kubunuh!" teriakku penuh dengan luapan amarah.
Pria yang menahan Ameena malah terkekeh. "Begitukah? Bagaimana kalau wanita ini saja yang kami bawa?"
Aku terbungkam. Mereka seolah memberiku pilihan antara Ameena dan cincin itu. Aku masih bergeming. Seakan harus memilih antara kekasihku dengan wanita yang baru kukenal. Aku melihat cincin berlian yang dipegang rekan mereka, kemudian menatap Ameena yang bergeleng pelan seakan memintaku untuk tak usah memedulikan dirinya.
"Sebenarnya kami ingin membawanya kabur dan meninggalkanmu di sini! Perempuan cantik seperti dia, pasti akan laku dengan harga mahal jika dijual di Dubai. Tapi, karena kami kasihan melihat kalian, kau bisa bernego dengan kami. Berikan semua benda berharga yang kau miliki, termasuk cincin berlian itu!" kata pria yang menahan Ameena sambil terkekeh.
Aku kembali melihat Ameena yang juga menatapku. Bulir air mata tak berhenti mengalir di sudut matanya. Seketika aku teringat, karena mencari cincin itulah kami sampai terjebak di dataran tandus ini. Namun, tak sedikit pun dia menyalahkanku. Aku sadar, ini awal kesalahanku dan tak akan kuulangi lagi. Aku tidak ingin keegoisanku menahan cincin itu malah akan membahayakan keselamatan Ameena.
Cincin itu memang mahal dan sangat berharga bagiku, tapi manusia harusnya tak bisa disandingkan dengan apa pun. Nyawa seorang manusia, tidak bisa ditentukan dan ditukar dengan batu permata termahal sekalipun. Aku yakin, kekasihku akan memaklumi pilihanku saat ini.
"Ambil saja! Tapi ... lepaskan dulu dia," ucapku dengan suara kelam.
Mereka malah kembali menghajarku seolah belum puas. Aku hanya bisa membentengi kepala ini dengan kedua tangan dari tendangan dan pukulan. Tak berlangsung lama, pukulan yang mereka arahkan padaku mendadak berhenti ketika aku terkulai tak berdaya. Dalam pandangan yang gamang, kulihat kaki-kaki mereka bergerak cepat meninggalkanku. suara tangisan Ameena perlahan semakin kecil dan tak terdengar.
Kucoba mengangkat kepala yang terasa berat. Bola mataku membesar begitu melihat hanya ada kerudung panjang Ameena yang jatuh ke tanah. Ternyata perempuan itu juga dibawa oleh mereka. Aku bangkit mengambil kerudung itu, kemudian berlari mengejar mobil mereka yang belum jauh dariku. Tak peduli berapa banyak benda berharga yang diambil, perempuan itu menjadi pengecualian. Tak peduli seberapa lemah dan sakit yang dirasakan tubuh ini, aku harus menyelamatkan Ameena!
__ADS_1
Jangan lupa like dan komeng