
Kuncup-kuncup rasa yang terus bermekaran terlalu kuat menguasai hati, menjadikan diriku seolah tak berdaya untuk menepis harapan akan dia. Wahai takdir, jika memang ada, bawalah aku dan dia pada kata bahagia yang kau tulis.
.
.
.
"Tenang saja! Aku akan tinggal di sini dan hidup bersama kalian," ucapku pada anak-anak itu.
Tanpa berpikir rasional, aku langsung membuat keputusan mendadak. Aku siap untuk hidup bersama mereka sebagai Khai. Bagiku, Key Ayano sudah mati terkubur bersama barang-barangku yang hilang. Perasaanku yang meluap-luap seolah menarikku masuk ke dalam dimensi yang dibutakan oleh cinta. Tak peduli entah nantinya aku akan diguyur oleh badai atau ancaman lainnya. Tinggal di sisi Ameena sudah menjadi pilihanku.
Anak-anak menyambut ucapanku dengan rasa girang. Beberapa di antara mereka bahkan memelukku. Aku menoleh ke arah Ameena. Sayangnya, ekspresinya saat ini tak sama seperti anak-anak. Ah, sudahlah, dia memang selalu datar seperti itu, kan?
Meski sudah sedekat ini, Ameena masih menghindari berinteraksi denganku. Bahkan hanya sekadar untuk berhadapan pun, ia bergegas berbalik dan mencari arah yang berbeda untuk menghindari dariku. Karena tak ingin membuatnya tidak nyaman, aku pun tak berani masuk ke rumah tersebut. Aku terus berada di luar, sibuk membuatkan mainan kayu untuk anak-anak.
"Kakak Omar mana, ya?" tanya salah satu anak.
"Eh, iya, aku juga tidak melihatnya setelah makan tadi!" sahut anak lainnya.
Aku lantas menoleh ke sekeliling. Benar, Omar tak ada di sekitar tempat ini. Ke mana dia?
"Anak-anak, kalian tunggu di sini! Kakak akan mencari Omar!"
Aku lantas berdiri dan melepas peralatan yang kugunakan untuk membuat mainan. Tepat saat aku berbalik, aku melihat Omar muncul dari kejauhan, berlari ke arah kami sambil membawa setumpuk pakaian.
"Kau dari mana saja?" tanyaku.
"Aku ... pergi ke kamp pengungsian. Di sana ada pembagian baju-baju bekas dari relawan," kata Omar dengan napas tersengal-sengal. Ia lalu membagikan pakaian bekas itu untuk kelima adiknya.
"Ini untukmu! Maaf aku hanya mendapatkan dua potong pakaian pria dewasa." Omar menyerahkan dua busana pria khas Timur Tengah padaku.
Aku langsung memakainya. Pakaian ini cukup kebesaran di tubuhku. Tiba-tiba salah satu dari bocah perempuan itu memanjat kursi untuk meletakkan surban dan ringnya di atas kepalaku.
"Kakak, kau terlihat seperti pangeran Arab," pujinya.
Omar lantas menarik tanganku agar sedikit menjauh dari adik-adiknya.
"Tadi, aku mencari pria yang bisa menikahkan kau dengan guru kami."
"Apa? Menikah?" Aku terperanjat hingga menimbulkan suara yang melengking.
"Ya, kau menyukai guru kami, kan?" Omar menatapku dengan serius.
__ADS_1
Aku terdiam sesaat.
"Kalau memang kau ingin menikahi guru kami, aku akan mengajakmu bertemu imam besok. Dia akan menjelaskan persyaratannya."
Aku tidak menjawab. Bukan karena ragu, tapi karena hingga kini aku pun tak tahu bagaimana perasaan Ameena terhadapku. Selain itu, pernikahan adalah hal yang sangat serius dan sakral. Tak bisa diputuskan dengan terburu-buru. Dengan keadaan kami seperti ini, bersamanya sudah lebih dari cukup bagiku.
***
Di malam hari, aku kembali mengajari Omar teknik dasar bela diri. Dia sungguh cepat menghafalkan teknik menyerang dan bertahan. Mungkin karena dulunya dia pernah mengikuti pelatihan militer dari kelompok ekstremis.
Aku memutuskan memantau latihannya dari jauh seraya duduk di bangku panjang. Kusandarkan punggung di dinding luar rumah. Bertepatan dengan itu, jendela yang berada tepat di atas kepalaku mendadak terbuka. Aku menengadahkan kepala. Wajah Ameena langsung memasuki retinaku. Ia berdiri di depan jendela sambil memegang lilin yang memancarkan cahaya remang.
"Kenapa belum tidur?" tanyaku.
"Aku ingin melihat Omar."
"Dia berlatih dengan sangat serius. Kupikir tadinya dia sangat membenciku karena tak berhasil menjaga Khalila." Aku tersenyum hambar sambil memandang wajahnya yang tersorot cahaya lilin.
"Aku mengatakan padanya, jika dia membenci seseorang atas kematian Khalila, seharusnya orang yang pantas dia benci adalah aku. Karena akulah yang menyuruhmu membawa Khalila pergi," ucapnya pelan dengan sorot mata tak berdaya.
Aku tertegun sejenak. Pandangan Ameena terus tertuju pada Omar yang masih terus berlatih. Aku meluruskan kepala sambil bernapas dengan tenang.
"Malam ini bulan sangat indah. Apa kau ingat saat kita dipertemukan untuk kedua kalinya? Saat itu, kita memanjat pohon untuk bersembunyi dari tentara yang mengejar. Bulan yang kita lihat dari atas pohon, sama seperti malam ini," kenangku sambil memandang langit.
Dinginnya malam tak terasa karena kehadiran Ameena. Entah kenapa bibirku tak berhenti menyunggingkan senyum tipis. Kakiku pun berayun-ayun cepat mengikuti irama detak jantung. Meski kami tak duduk beriringan. Meski kami masih saja dibatasi oleh dinding. Dengan bersamanya, bahkan keadaan yang serba terbatas pun menjadi istimewa.
Ucapan Omar siang tadi seketika kembali terkilas di benakku. Apakah ini waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan Ameena?
Aku pun bergegas berbalik ke arahnya seraya berlutut di depan jendela. "Mina-chan ..."
"Khai, pulanglah ke Damaskus!"
Di saat yang sama, Ameena lebih dulu mengatakan sesuatu yang membuatku tersentak. Dia kemudian berbalik, mengambil sesuatu yang tersimpan di bawah pakaian yang tersusun kemudian kembali menghadap ke arahku.
"Ambillah uang ini! Aku tidak tahu apakah ini cukup atau tidak untuk membuatmu kembali ke Damaskus." Ameena memberikan beberapa lembar pound Suriah padaku.
Untuk sesaat, aku tercengang hingga tak bisa berkata-kata.
"A–apa maksudmu?"
"Kau ... tidak boleh terlalu lama di sini! Kau harus pergi!" pinta Ameena.
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan kalian!"
__ADS_1
"Terima kasih atas rasa empatimu pada kami. Insya Allah, kami akan baik-baik saja," ucapnya dengan lembut.
"Ini bukan sekadar rasa empati. Ini sudah menjadi keputusanku."
"Tempatmu bukan di sini!"
"Tapi aku ingin di sini! Aku bisa membantumu merawat dan menjaga mereka. Aku mampu melepaskan semua yang kumiliki untuk hidup bersama kalian," balasku mencoba meyakinkannya.
Ameena menggeleng. "Itu tidak mungkin!"
"Itu bukan hal yang tak mungkin!" bantahku dengan kening mengernyit.
"Kita tidak bisa! Kita tidak memiliki hubungan dan ikatan apa pun," ucap Ameena dengan suara nyaris berbisik.
"Lantas hubungan seperti apa yang kau inginkan dariku? Teman? Keluarga? Atau sebagai pasangan? Katakan saja, aku bersedia menjadi apa pun yang kau mau," ucapku dengan penuh antusias. Aku tidak selancang itu untuk mengutarakan keinginan hatiku. Untuk itu, kubiarkan dia memilih seperti yang dia inginkan.
Ameena malah kembali menggeleng. "Kita terlalu berbeda. Kau dan aku tidak sama."
"Kenapa perbedaan harus disamakan? Selama ini kita telah berdampingan dengan perbedaan dan aku tidak mempermasalahkan itu."
Ameena menatapku lamat-lamat. "Di dunia ini ... ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan. Kecuali ... jika itu ... atas izin Tuhan melalui sebuah takdir."
Aku berpaling dari tatapannya. "Aku masih meragukan adanya takdir!" Menurutku, apa yang terjadi di kehidupan adalah konsekuensi logis dari pilihan bebas setiap orang.
"Bukankah kau sudah melihat sendiri? Bagaimanapun kita berusaha menyelamatkan Khalila dengan membawanya pergi, tapi kematian tetap menghampirinya. Itu adalah bagian dari takdir yang tidak bisa cegah." Ameena berkata dengan lambat-lambat sambil terus menatapku.
Aku terdiam seketika. Di otakku saat ini hanya bisa menyimpulkan bahwa Ameena menolak kehadiranku di sisinya. Apakah aku selama ini salah menafsir bahasa tubuhnya? Ataukah aku terlalu percaya diri menganggapnya juga merasakan hal yang sama seperti yang hatiku rasakan?
"Kenapa ... kenapa kau memintaku pergi?" Nada suaraku turun satu tingkat. Rasanya separuh energiku hilang.
"Karena aku ingin terus melihatmu sebagai seorang jurnalis. Aku ingin kau membantu banyak suara masyarakat yang tak bisa di dengar dunia luar. Jika kau memilih bersama kami, maka kau akan kehilangan profesi itu. Selain itu ... tidakkah kau merasa ada yang sedang menunggumu dengan cemas di sana? Kau pernah dinyatakan hilang karena mengantarku ke pengungsian dan sekarang ini seakan terulang kembali. Pikirkan juga orang-orang yang tengah menunggu kabarmu saat ini."
Aku menancapkan pandangan pada bola matanya. Kami terjerembab dalam kebekuan. Pikiranku bergulat antara logika dan rasa. Haruskah aku memenangkan logika dan mengalah pada rasa seperti yang diinginkan Ameena?
"Baiklah!" Dengan berat hati, kata itu kusampaikan padanya. "Jika kau menginginkan itu, tapi ... aku tidak berhak mengambil uang ini! Kau dan anak-anak lebih membutuhkannya."
"Jangan khawatir! Sebelum tewas, Ahmed telah menitipkan sejumlah uang yang cukup untuk kehidupan kami ke depan. Kami juga bisa mengambil bahan makanan di ladang tuan Ali."
"Aku tidak bisa—"
"Anggap saja ini imbalan kebaikan yang kau terima dari tuan Ali. Tuan Ali dulunya sangat ingin membalas kebaikanmu. Jadi, tolong terimalah uang yang tak seberapa ini sebagai bekal untuk pulang ke Damaskus."
Dengan tetap memandangnya, aku pun mengambil pemberian Ameena. Hal ini tentu menjadi persetujuan akan keinginannya agar aku kembali kepada keluarga dan kerabatku. Aku bisa melihat bola mata yang kebiruan itu mulai terselimuti air. Entah sejak kapan tatapan mata itu seolah menjadi panah yang menyakitkan bagiku. Ia lantas buru-buru menutup jendela.
__ADS_1
Aku masih berlutut sambil menatap nanar jendela kayu yang telah tertutup. Kuletakkan sebelah telapak tanganku di jendela tersebut. Aku yakin dia masih berdiri di balik sana.
Mina-chan, begitu sulitkah untuk kita bersatu?