
Sudah sekitar lima menit aku bertatapan dengan kalender. Aku masih bimbang apakah harus mengambil cuti pulang atau tidak. Entah kenapa, terasa ada yang membuatku takut dan khawatir jika pulang. Salah satunya, aku belum bisa menerima fakta jika sekarang hidupku telah berubah.
Aku takut sendirian. Ah, tidak, aku takut kesepian. Selama delapan tahun, hidupku hanya berpusat pada Yuna. Saat aku masih kuliah di Amerika, pulang ke Tokyo adalah momen yang paling kutunggu. Sebab, ada Yuna yang akan menyambut kehadiranku dengan penuh cinta. Kini, aku menyadari kenapa bisa bertahan cukup lama dengannya. Salah satu yang menjadi alasan tentu karena aku takut kesepian. Ya, beberapa orang mampu bertahan dengan hubungan yang rumit, karena tak mau kehilangan hal yang terbiasa bagi mereka.
Sekarang, Yuna tak lagi bersamaku. Bagaimana rasanya pulang dengan status sendiri tanpa pasangan?
Ponselku berdering tiba-tiba dengan nama ibuku yang tertulis di layar. Aku menepi ke jendela sambil menerima panggilan telepon.
"Moshi-moshi ...."
"Kei, bagaimana kabarmu? Apa kalian semua baik-baik di sana? Okaasan terus menonton berita, katanya ada banyak penyerangan beberapa hari ini, ya?" tanya ibuku dengan penuh kelembutan.
"Aku baik-baik saja. Akhir-akhir ini status kota tampak tidak aman. Tapi tenang, aku selalu waspada. Okaasan tidak perlu khawatir!"
"Okaasan akan terus berdoa untukmu. Oh, iya, kawanmu yang mengambil cuti pulang datang membawakan cendera mata darimu."
"Iya, aku membelinya saat meliput di pengungsian terbesar."
Aku mengingat kamp pengungsian yang menjadi tempat pertemuanku dengan Ameena. Saat sepulang dari pelarianku bersama Ameena, aku membeli tiga buah hasil kerajinan tangan yang ditawarkan salah satu pengungsi saat kami memasuki kamp di pagi buta. Ketiga hasil kerajinan tangan itu lalu kuberikan pada Ameena, Yuna dan ibuku.
"Ano ... kata temanmu, bulan depan menjadi giliranmu untuk mengambil cuti pulang ...." Ibuku mendadak membahas perihal yang membuatku risau.
"Okaasan, kurasa aku tidak bisa ...."
"Kami sangat senang mendengarnya!" Ibuku memotong ucapanku dengan nada senang yang tak tertahankan, "pulanglah ke rumah! Tinggallah bersama kami selama kau cuti. Okaasan akan memasakkan makanan kesukaanmu setiap hari. Okaasan juga sudah membersihkan kamarmu." Ibuku berbicara dengan menggebu-gebu menunjukkan betapa antusiasnya dirinya dengan kepulanganku.
"Okaasan seharusnya tak perlu serepot itu!"
"Okaasan tahu kau pasti ingin meluangkan waktu lebih banyak bersama Yuna saat pulang nanti. Tapi bisakah ... untuk kali ini kau tinggal di rumah saja?"
__ADS_1
Aku bergeming. Ibu belum tahu jika hubungan aku dan Yuna telah kandas. Ya, sejak masuk militer hingga kuliah di luar negeri, waktu luangku hanya terpakai untuk Yuna. Kami bahkan menyewa apartemen untuk ditinggali bersama. Meskipun kenyataannya dalam setahun kami hanya bisa menghabiskan waktu selama dua bulan.
Aku lalu menyetujui permintaan ibu untuk tinggal di rumah mereka selama cuti nanti. Berbicara dengan ibu, membuatku sadar kalau aku tidak benar-benar sendiri. Aku terlalu fokus pada hubunganku yang kandas hingga lupa masih ada yang menunggu kepulanganku. Mereka adalah orangtuaku. Hubunganku dengan mereka tak bisa dikatakan dekat atau pun renggang. Orangtuaku sedari dini mendidikku menjadi pribadi yang mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.
Setelah berbicara dengan ibuku, aku dikejutkan oleh Aoba, So, dan Eiji yang datang menghampiriku secara bergerombolan. Tak kusangka mereka malah sudah menulis daftar barang titipan yang harus kubeli saat berada di Tokyo.
"Ayano, tolong belikan aku sejumlah makanan kaleng praktis. Aku sudah sangat merindukan makanan jepang." So memberikan sebuah catatan kecil yang panjang berisi daftar merk makanan yang biasanya tersedia di supermarket.
"Aku titip pembalut saja. Di sini tak ada pembalut yang cocok denganku," pinta Aoba.
"Kalau aku ..." Eiji merangkulku sambil berbisik, "tolong carikan film biru keluaran terbaru. Ini sangat berguna untuk menambah referensi di ranjang. Kudengar ada banyak bintang baru berwajah kawaii."
(kawaii: manis/imut)
Mendengar satu per satu permintaan mereka, ditambah keinginan ibuku tadi seolah mengharuskan aku untuk segera memesan tiket pulang ke Jepang. Meski hati kecilku sebenarnya lebih memilih terus bekerja tanpa mengambil cuti, tapi sepertinya aku harus tetap pulang ke Tokyo.
Tiba-tiba Aoba menerima laporan penyerangan dadakan di pinggiran Damaskus. Dari informasi yang diberikan oleh wartawan di sana, penyerangan ini merupakan aksi balas dendam dari tentara pemerintah Suriah atas penyerangan yang dilancarkan kelompok pemberontak di pusat kota Damaskus. Ya, beberapa Minggu ini kelompok pemberontak itu begitu gigih merebut daerah yang menjadi ibu kota Suriah tersebut. Terbukti sekarang mereka mulai menguasai beberapa titik wilayah Damaskus, termasuk di pinggiran timur yang saat ini terjadi peperangan.
Kami harus siap bekerja meski dikepung lontaran peluru. Tetap harus memotret meskipun di tengah ledakan yang terjadi. Kami bertaruh nyawa demi memperlihatkan realita yang terjadi di tempat konflik itu.
Tak butuh waktu lama untuk tiba di lokasi haus darah itu. Begitu tiba di sana, kekacauan dan peperangan sengit terlihat jelas di pelupuk mata. Suara tembakan dari dua kubu itu tengah bersahut-sahutan. Penduduk setempat tampak berlarian panik menyelamatkan diri. Kubu pemberontak nekad menyerbu barisan pertahanan pasukan pemerintah. Militer Suriah tak tinggal diam dan segera membalasnya dengan serangan udara. Tak menyerah, dua pengendara dari pasukan pemberontak, meledakkan diri di dalam mobil yang mencoba menerobos pertahanan militer Suriah.
Aku mencoba mengambil foto dari jarak yang paling dekat dengan terjadinya ledakan itu. Bau daging manusia yang terbakar begitu mengganggu penciumanku. Seorang tentara menarik rompiku agar aku segera menyingkir di arena yang berbahaya ini.
Ada beberapa wartawan dan jurnalis yang menjadi korban peluru nyasar. Aku melihat seorang wartawan dari negara Libya tengah dipapah akibat terkena ledakan ranjau di kaki. Ada juga wartawan wanita yang terluka parah akibat serangan peluru nyasar. Bahkan ada yang gugur bersama para penduduk lainnya.
__ADS_1
sumber : barneymccoy.wordpress
sumber : alaraby.co.uk
sumber: twitter
So menghampiriku, lalu berkata dengan nada tergesa-gesa, "Ayo kita pergi dari sini! Keadaan semakin memanas. Kita tidak bisa meliput secara langsung, tapi aku sudah sempat mengambil dokumentasi untuk bahan siaran berita."
"Mana Aoba dan Eiji?" tanyaku.
"Mereka membantu para wartawan yang terkena ledakan bom. Ayo, kita pergi dari sini!" ajak So sekali lagi.
Tak cukup satu menit setelah So bicara, sebuah ledakan kembali terjadi tak jauh dari tempat kami berdiri. Kepulan abu hitam nan tebal sontak memenuhi penglihatan kami diikuti potongan tubuh manusia yang terlempar berhamburan. Tak ayal, So pun menarikku untuk lari. Namun, pandanganku mendadak berpusat pada seorang anak perempuan yang berdiri di tengah lautan pertempuran sambil menangis histeris.
Aku lantas menengadah ke atas. Terlihat pesawat tempur kembali mulai menguasai langit. Aku kembali melihat bocah perempuan itu, kemudian berlari ke arahnya dengan sekuat tenaga.
"Ayano kau mau ke mana? Jangan ke sana, berbahaya!" teriak So dengan suara yang begitu melengking.
Aku terus berlari di tengah badai peluru dan ledakan granat. Langkah kaki ini membawaku untuk menyelamatkannya di tengah lautan mayat yang berserakan. Aku menggendongnya, kemudian membawanya lari bersamaku. Kami bersembunyi di toko bangunan yang bagian depannya telah roboh, di mana terdapat banyak kerangka baja yang dapat digunakan untuk berlindung.
"Kau tidak apa-apa?" tanyaku sambil menurunkan bocah itu dari pelukanku.
Bocah polos itu menggeleng pelan. Aku menghapus jejak air matanya. Sejenak, kami saling bertatapan lekat.
__ADS_1
"Eh? Bukannya kau ...."
Aku terperanjat. Pasalnya, wajah anak ini tampak tak asing bagiku. Ya, aku ingat! Dia bocah lucu yang pernah kupotret di salah satu kamp pengungsian setahun lalu. Foto itu kuterbitkan bersama artikel yang kemudian viral di media sosial. Foto itu juga yang membuatku berkenalan dengan Zaheera.