Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 47 : Dia yang Telah Menggiring Kewarasanku


__ADS_3

Ameena seakan menjadi jawaban atas pertanyaanku selama ini. Siapa yang aku dambakan? Di mana yang ingin ku tuju? Apa yang kuharapkan? Semua pertanyaan yang sejak lama bersarang di kepalaku, kini memiliki jawaban.


.


.


.


Aku menaiki mobil bersama Ahmed dan para anak buah tuan Ali. Mereka telah berada di sana lebih dulu menungguku. Begitu mobil jalan perlahan, aku segera menengok ke belakang melihat Ameena yang masih berdiri di sana. Seakan terus mengawal kepergianku.


"Apakah kalian setiap hari mengantarkan makanan pokok ke kamp pengungsian?" Aku mencoba menggali informasi.


"Ya, begitulah! Sejak terungkap kasus wanita di kamp pengungsian dieksploitasi demi mendapat kebutuhan mereka, tuan Ali meminta kami untuk menyalurkan hasil dari perkebunan dan peternakannya," jawab Ahmed.


"Tuan Ali sangat baik, ya?" ucapku berdecak kagum.


"Ya. Selain baik, dia juga sangat setia pada mendiang istrinya. Ada banyak orangtua yang menawarkan anak perempuan mereka untuk dinikahinya, tapi dia menolaknya secara halus."


"Benarkah? Itulah kenapa ... tuan Ali juga belum mempertimbangkan Ameena untuk menjadi istrinya?" Aku menyimpulkan dengan hati-hati.


"Mungkin saja seperti itu. Tapi, tuan Ali memang sangat perhatian pada saudari Ameena. Bahkan selalu meminta pendapat apa pun padanya. Sampai tersebar isu miring kalau Ameena adalah wanita tuan Ali, semacam gundik. Itulah kenapa para tetua menyarankan agar tuan Ali segera melamarnya agar tak mengundang fitnah yang merugikan saudari Ameena," jelas Ahmed.


"Apakah ... Ameena ... menyukai tuan Ali?" tanyaku terbata-bata.


"Ah, kalau soal itu ... aku tidak tahu. Saudari Ameena sangat dingin pada semua pria. Hingga kini, aku belum pernah melihatnya tersenyum apalagi tertawa."


"Oh, begitu ...." Aku terdiam beberapa saat sembari membayangkan awal pertemuan kami sampai dengan saat ini. Ternyata dia memang seperti itu. Tanpa ekspresi. Namun, bukankah aku sedikit beruntung dari Ahmed? Aku sudah pernah melihatnya tersenyum hangat, tertawa kecil, hingga tersipu malu.


"Omong-omong, apa aku boleh tahu, biasanya kalian pulang jam berapa jika selesai membagikan sembako ke kamp-kamp pengungsian terdekat?" tanyaku mencoba mencari tahu.


"Yang pasti, kami akan bermalam lebih dulu dan pulang di pagi hari. Biasanya kami tiba di desa sebelum Maghrib," jawab Ahmed.


"Oh, begitu."


Itu artinya aku harus lebih dulu tiba di perbatasan sebelum mereka mendahuluiku. Aku sudah tidak sabar untuk kembali lagi ke tempat itu.


Begitu tiba di perbatasan wilayah kekuasaan mereka, Ahmed membuka pintu kaca mobil seraya berseru pada mereka yang berjaga-jaga. "Aku akan pergi ke Aleppo untuk mengantar sumbangan makanan dan juga tamu tuan Ali."

__ADS_1


Aku ikut membuka kaca mobilku, sengaja menunjukkan diri agar para penjaga itu bisa menghafal wajahku jika besok aku kembali ke sini.


"Apakah dia orang asing yang menyelamatkan putri tuan Ali?" tanya salah satu pria berseragam lengkap dengan senjata setelah sempat menoleh ke arahku.


Ahmed menoleh ke samping. "Ya, dia orang Jepang. Jangan khawatir, insya Allah dia pemuda baik!"


"Bisakah kami memeriksanya?"


"Silakan saja!" ucapku sambil keluar dari mobil.


"Dari mana asalmu? Jepang? Cina? Taiwan atau Korea?" tanya salah satu pria yang hendak memeriksaku.


"Aku dari Jepang." Aku memerhatikan senjata yang dibawanya. Itu jenis senjata yang tentunya tak seberapa dibanding milik pasukan militan pemerintah.


"Oh, aku sulit membedakan orang-orang di empat negara itu. Kalian terlihat sama."


"Aku juga sulit membedakan orang-orang di negara Timur Tengah dan orang-orang di negara Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, Filipina dan Indonesia."


Mereka kemudian memeriksa seluruh tubuhku. Tak hanya itu, mereka juga menggeledah isi tas ransel yang kubawa. Menurut Ahmed, desa ini tak pernah dimasuki warga asing sepertiku, bahkan wartawan sekalipun. Meski sebenarnya wilayah mereka mendapat perlindungan dari pemerintahan Turki yang turut berada di kubu separatis.


Kami melanjutkan perjalanan setelah mereka selesai memeriksaku. Selama di perjalanan, bibirku tak bisa berhenti tersenyum. Hati dan perasaanku masih menghangat, seolah cahaya matahari musim dingin bersembunyi di sana. Aku tidak tahu perasaan apa ini. Jika ini adalah perasaan cinta, apakah aku harus kembali terseret ke dalam pusaran yang rumit sama seperti kisah cintaku bersama Yuna? Entahlah ....


Begitu masuk ke ruangan itu, aku meletakkan ranselku dan membuka pintu yang menghubungkan area balkon kamar. Jangan bermimpi mendapatkan pemandangan alam yang indah, atau megahnya tatanan kota yang dipenuhi kendaraan dan gedung-gedung tinggi. Semua itu tidak ada! Sejauh mata memandang yang terlihat hanya bangunan gedung yang hancur.


Aku kembali ke dalam kamar, kemudian duduk di tepi ranjang berukuran besar sambil menikmati coffee service di hotel ini. Aku pun langsung menghubungi kawan-kawanku karena selama berada di sana jaringan telekomunikasi seperti terputus. Mereka pasti mengkhawatirkan diriku yang tanpa kabar. Aku menggunakan fitur telepon yang menyambungkan empat orang sekaligus.



"Ayano-san! Akhirnya kau menelepon kami! Dari kemarin kami harap-harap cemas," kata Aoba.


"Bagaimana? Apa kau sudah mengantar anak itu ke orangtuanya?" tanya Eiji.


"Kau baik-baik saja, kan?" sambung So dengan nada cemas.


Mereka bertiga tak berhenti membombardir diriku dengan pertanyaan beruntun. Untuk menjawab rasa penasaran mereka, aku lantas menceritakan perjalananku menemukan tempat tinggal Khalila hingga bertemu orang-orang hangat dan ramah di desa itu.


"Apa?! Jadi anak itu putri dari tuan tanah di desa itu?" So, Eiji dan Aoba tercengang begitu mendengar cerita tentang pertemuanku dengan tuan Ali—ayah Khalila.

__ADS_1


"Ya. Tapi ... ada yang lebih penting dari itu. Kameraku ... tertinggal di sana dan aku baru menyadarinya begitu tiba di Aleppo," ucapku terbata-bata karena ini pertama kalinya aku membohongi mereka.


"Kameramu tertinggal?" Lengkingan suara Aoba mengejutkanku.


"Ayano, kenapa kau bisa seceroboh itu? Itu kamera termahal saat ini, bahkan kami tak memiliki kamera seperti punyamu. Bagaimana kalau ada yang mengambil kameramu?" So memarahiku. Ia bahkan terlihat lebih pantas menjadi pemilik kamera itu karena terus mengomeliku.


"Maafkan aku, aku terlalu terburu-buru karena tak sabar ingin pulang dan bertemu kalian." Lagi-lagi aku berkata yang tak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.


"Ayano, kau harus kembali ke desa itu dan mengambil kameramu itu!" sahut Eiji seolah mendukung keinginanku untuk balik ke tempat Ameena.


"Aku juga berpikir seperti itu. Makanya aku belum bisa pulang ke Damaskus," sambungku.


"Tapi tempat itu terlalu jauh, bukan? Seharusnya kau sudah mempersiapkan dirimu untuk pulang ke Jepang! Kepala redaksi telah menghubungi kami, katanya akan ada jurnalis yang diberangkatkan ke sini untuk menggantikan posisimu selama cuti." Aoba mengingatkan agar aku tak lupa dengan hari keberangkatanku yang semakin dekat.


"Aku justru akan menyesal jika tak mengambil kamera itu," jawabku. Yang sebenarnya adalah aku akan menyesal jika tak bertemu Ameena sebelum pulang ke Jepang.


Tak mungkin kuceritakan pada mereka kalau di sana aku juga bertemu dengan Ameena. Untungnya, mereka semua dapat menerima alasanku kembali ke desa itu. Aku juga membantu mereka menyusun berita untuk kemarin dan hari ini.


Aku terus menoleh ke jendela, berharap malam segera hadir dan hari ini menutup dengan cepat. Jika ada yang mengatakan cinta adalah hal yang bodoh, itu benar! Sebab, ada kegilaan di dalamnya yang tak bisa dimengerti oleh logika. Seperti yang kulakukan saat ini. Tubuhku lelah, tapi mataku menolak tertutup. Aku lebih suka mengawasi pergerakan jam.


Akhirnya pagi yang kunanti telah menyongsong. Aku sudah berada di terminal sejak pagi buta hanya agar tak ketinggalan bus. Sebelum berangkat, aku sempat membeli permen dan aneka jajanan untuk anak-anak panti asuhan tersebut. Aku masih menggunakan rute sebelumnya, yaitu turun di sebuah kota kecil yang menjadi pemisah antara daerah kekuasaan pemerintah dan kelompok pemberontak.


Mina-chan, sebentar lagi kita akan kembali bertemu ....


Aku seperti mengalami time loop¹. Kembali mengulang aktivitas yang sama di tempat yang sama pula. Kini, aku hanya tinggal menunggu mobil yang membawa Ahmed dan para pengurus panti asuhan itu lewat di kota ini. Namun, hingga matahari tenggelam, mobil itu belum juga muncul. Padahal aku berusaha sampai di tempat ini sebelum sore tiba.


Kegelapan mulai membentang. Aku masih berdiri bodoh di kesunyian kota mati ini. Pikiranku mulai kacau. Bagaimana aku bisa ke sana jika tak ada mobil yang mengantarku?


.


.


.


Catatan kaki 🦶🦶


__ADS_1


Time loop: plot di mana karakter mengalami rentang waktu yang berulang.



__ADS_2