
Kata orang, perasaan adalah senjata biologis paling mematikan. Bahkan tak akan pernah kalah meski dilawan logika ....
.
.
.
Satu kata yang meloncat dari mulutnya sukses membuatku terperanjat. Ya, hanya satu kata! Tubuhku yang membeku perlahan memutar dengan raut kaku yang membayang di wajahku. Bertepatan dengan itu, dia menaikkan burkak ke atas kepalanya seperti yang kulakukan saat ini. Sontak, sepasang mata ini membesar dua kali lipat begitu melihat wajah lembutnya yang kini terpampang jelas di hadapanku.
Aku dan dia berdiri di bawah sinar bulan dengan pandangan yang tertancap satu sama lain. Aku masih termangu. Maksudku, aku masih tak percaya wanita yang berdiri dengan jarak satu meter dariku itu adalah dia. Bahkan mulutku sampai tak bisa terbuka, seolah terkunci rapat. Apakah ini ilusi?
Detik-detik waktu seolah merayap lambat, membuat semua situasi yang tadinya mencekam mendadak sendu dipenuhi rindu. Ini cukup memalukan! Kami bertemu di momen yang tak tepat. Bahkan di saat aku sedang memakai busana perempuan yang tertutup seperti ini.
Aku masih menatapnya tanpa berpaling sedikit pun. Bibir perempuan itu bergerak, mendesiskan sesuatu yang tampak sulit untuk dikeluarkan.
"O–ogenki desu ... ka?" ucapnya ragu-ragu dengan aksen yang tak tepat.
(Ogenki desuka dalam bahasa Jepang artinya apa kabar)
Aku tak memercayai ini. Dia lebih dulu menyapaku. Bahkan dengan bahasaku sendiri. Bingung. Bisu. Bodoh. Itulah diriku saat ini. Aku mendadak menjadi orang tercanggung di dunia. Lidahku sampai kelu untuk berbicara. Oh, tidak, aku tidak boleh begini! Jangan sampai dia mengira aku tak mengenalinya lagi!
"Hai, genki desu," balasku dengan suara yang nyaris berbisik.
(Hai, genki desu\=Aku baik-baik saja)
Dia mengangguk kecil. Meski samar, aku bisa melihat senyum tipis yang mengalun di bibirnya. Setelah itu, ia memalingkan tubuhnya secara perlahan. Tidak, jangan bilang dia akan pergi begitu saja!
"Mina-chan!" panggilku cepat.
__ADS_1
Langkahnya terhenti diikuti dengan kepala yang menoleh pelan ke arahku.
"Kaifa haluki?" Aku balik bertanya kabarnya dalam bahasa arab.
Dia tampak tersentak, tapi segera menjawab. "Ana bikhoirin."
(Ana bikhoirin\=aku baik-baik saja)
Apa lagi yang harus kukatakan? Aku bingung! Aku kehilangan perbendaharaan kata. Kami kembali terperangkap dalam diam. Namun, itu tak berlangsung lama saat terdengar suara berisik di sekitar area. Ternyata para tentara itu mulai menyisir tempat ini. Mereka telah siaga dengan pistol dan senapan. Beberapa di antaranya membawa anjing pelacak dan alat pendeteksi bom. Mereka pasti telah menerima laporan dari kamp bantuan internasional. Tak ayal, aku pun segera mengajak Ameena pergi.
"Mina-chan, ayo ikut aku!"
Aku mengajaknya berlari. Sialnya, ternyata para tentara itu juga ada dari arah depan. Kami pun putar balik dan terpaksa menuruni jurang tandus. Entah kesialan apa yang menimpa aku dan dia sehingga pertemuan kami yang kedua kali harus seperti ini. Ini mengingatkanku saat kami mencoba melarikan diri dari serangan dadakan di kamp pengungsian, kemudian berakhir tersesat di Padang pasir.
"Akh!" Jerit kecil Ameena terdengar saat ia tiba-tiba tergelincir karena menginjak ujung jubahnya sendiri.
Aku segera menghampirinya. Tanganku spontan terulur ke arahnya. "Kau tak apa?"
Ameena langsung menyandarkan punggungnya di batu itu dengan kaki yang berselonjor ke depan. Napas perempuan itu tampak terputus-putus. Peluh pun mengalir dari dahinya. Aneh, sudah hampir tiga bulan kami tak bertemu. Namun, rasanya semua yang kami lewati malam ini hanya seperti mengulang peristiwa yang telah berlalu. Jika tak dikejar seperti ini, masihkah ada kesempatan untuk kami bertemu?
Hening. Aku mencoba mengintip dari atas batu untuk melihat keadaan sekitar. Mataku melebar saat melihat gerombolan tentara itu menuju ke sini. Tak pelak, aku langsung mengajak Ameena untuk kembali bergerilya. Setelah menuruni jurang, kami harus kembali mendaki ke atas. Tidak ada jalan untuk kami melarikan diri. Semua tempat telah disisir oleh tentara. Walau bagaimanapun juga kami tak boleh tertangkap karena tentara PBB yang berjaga-jaga saat ini adalah Pasukan Bela-diri Jepang.
Ameena menatapku dengan cemas. Aku memicing seraya menoleh ke sekeliling tempat. Pasukan yang memegang senapan sudah tak terlihat, hanya tersisa mereka yang sibuk membawa alat pendeteksi bom dan anjing pelacak. Itu artinya, mereka mungkin berjaga di sekitar titik yang lebih tinggi dari tempat ini. Strategi ini kupelajari saat menjadi prajurit.
Aku mencegat Ameena yang hendak berlari ke bawah. Sebab, itu hanya memudahkan para penembak jitu membidik kami. Jika tak ingin terlihat, maka kami harus berada di tempat yang lebih tinggi dari persembunyian mereka. Tapi di mana?
Aku mendongak ke atas, tepatnya ke beberapa pohon yang mengelilingi kami dan hampir menutupi langit. Tak ada cara mengalahkan kehebatan anjing militer dalam mengendus. Namun, bersembunyi di pohon mungkin menjadi taktik jitu untuk menghindarinya.
"Mina-chan, apa kau bisa memanjat?" tanyaku menunjuk pohon.
__ADS_1
Ameena menggeleng pasrah.
Mereka semakin dekat ke arah kami. Tak ada cara lain, aku menggulung pakaian panjang itu hingga sebatas pinggang, lalu memanjat pohon berukuran sedang yang berdiri kokoh di samping kami. Begitu sampai di dahannya, aku melihat Ameena yang masih berdiri di bawah sana.
Aku membuka khimar panjang yang kupakai dan juga menanggalkan busana panjang hingga hanya menyisakan singlet dan celana jeans ditubuhku. Kuikat khimar dan jubah itu menjadi satu kemudian kujulurkan ke bawah.
"Naiklah! Aku akan menarikmu dari sini!"
Dia melihat ke arahku dengan wajah tak yakin. Namun, aku kembali memohon padanya untuk segera naik. Dia lalu melompat untuk berusaha mengambil ujung kain. Begitu berhasil diraih tangannya, aku langsung menarik kain tersebut sedikit demi sedikit hingga dirinya naik ke atas.
Kini, kami berdua duduk di dahan yang sama. Dia bersandar di batang pohon, sementara aku berada di sampingnya sambil memantau ke bawah. Untungnya, Ameena berhasil naik ke atas. Sebab, hanya berselang beberapa menit kemudian, pasukan militer sudah berdatangan dan melacak di bawah sana.
Kami berusaha tak bergerak, tak bersuara bahkan sampai harus menahan napas selama beberapa saat. Untung saja pohon ini memiliki daun yang lebat dan lebar. Pandanganku beralih ke Ameena. Perempuan itu menutup matanya rapat-rapat. Bibirnya yang mungil mengerucut dan kedua tangannya mengepal kuat. Ekspresi takutnya itu justru membuatku menahan tawa.
"Mina-chan," panggilku dengan suara berbisik.
Dia membuka matanya, hanya sedikit saja.
"Jangan khawatir! Mereka sudah pergi," ucapku menenangkan.
Matanya kini terbuka sempurna. Dia menoleh ke bawah untuk memastikan ucapanku. Napas leganya berembus diikuti kedua tangan yang langsung mengusap wajah.
"Mina-chan, lihat!" Aku menunjuk ke depan, tepatnya pada bulan purnama yang berpendar terang.
Lengkungan bulan sabit lantas terbit di bibirnya, tak kalah dengan keindahan purnama di musim dingin. Membawa keteduhan hati dan jiwa yang melihatnya. Dia masih seperti waktu itu. Tak banyak bicara. Namun, raut wajahnya susah cukup menggambarkan suasana hatinya.
"Mina-chan, give me one hour." Sebuah permintaan keluar dari mulutku secara tiba-tiba.
(Give me one hour\=Beri aku satu jam)
__ADS_1
Ameena menoleh ke arahku tanpa suara. Tak ada jawaban apa pun darinya. Hanya diam sambil kembali menatap ke depan. Kami sama-sama kembali menyaksikan satelit bumi itu dengan kaki yang berayun-ayun.
Aku masih ingin seperti ini. Aku masih ingin berlama-lama di sini, duduk tenang dengannya dan melupakan sejenak yang terjadi. Biarkan kami seperti ini, menciptakan enam puluh menit berharga sebelum fajar merenggut malam dan melarikan purnama dari cakrawala.