
Khalila mengajarkanku bahwa kepergian paling menyakitkan adalah perginya orang-orang yang tak mungkin kembali lagi ke dunia. Meninggalkan seseorang yang kita cintai itu menyesakkan, tapi menunggu dan mengharapkan seseorang yang tak mungkin datang kembali itu sungguh menyayat hati.
.
.
.
Perjalananku dengan Khalila terus berlanjut di tengah peperangan yang semakin membara. Menjelang malam, kami tiba di perbatasan menuju ke sebuah desa baru. Untuk ke desa tersebut, aku harus melintasi jembatan yang telah dirobohkan pasukan pemberontak guna memperlambat penyerangan pasukan pemerintah di wilayah itu. Jika melangkah tak hati-hati, maka aku dan Khalila akan jatuh ke sungai yang alirannya sangat deras. Untung saja aku menguasai teknik parkour¹ yang memudahkan aku berpindah dari satu titik ke titik lain.
Dari atas jembatan, aku melihat jauh pasukan AS datang berbondong-bondong dengan persenjataan yang lengkap menuju arah desa yang ditinggali Ameena. Senyum lebar terulas di bibirku. Ada secercah harapan keselamatan bagi Ameena dan orang-orang yang tertinggal di sana. Apalagi, aku sempat mendengar AS sebagai penggaung demokrasi memang menawarkan bantuan pasukan dan persenjataan untuk melawan kubu milisi pemerintah dan Rusia.
"Adik, lihat, ada banyak bala pertolongan yang dikirim ke desamu."
Aku bersorak sambil menunjuk deretan mobil tempur berbendera Amerika Serikat yang memenuhi lintasan jalan seperti tengah konvoi. Terdapat pula beberapa helikopter dengan lambang Amerika mulai memenuhi langit kami.
Khalila bergeming dengan sorot mata hampa. Hanya terlihat matanya yang membengkak karena terlalu lama menangis.
"Kakak Pirang, kenapa harus ada perang?" tanyanya dengan suara lemah.
"Karena ... manusia penuh dengan perbedaan. Ada yang berbeda pemahaman dan pendapat, ada yang berbeda suku bangsa dan negara dan ada yang berbeda agama sehingga sangat mudah untuk timbul perselisihan. Ditambah lagi, manusia memiliki sifat alami untuk bersaing dan menjadi superior." Aku menjawab pertanyaan dengan apa adanya, karena aku tak suka mengakali anak kecil yang bertanya dengan memberi jawaban bodoh yang tak masuk akal.
"Kalau begitu ... kenapa harus ada perbedaan di dunia ini? Kenapa Allah menciptakan perbedaan jika itu yang membuat kita berperang?" tanyanya lagi.
Aku terdiam sejenak. "Supaya manusia mengenal arti toleransi dan belajar saling menghormati," balasku.
"Tapi kenyataannya manusia malah berperang!" tampiknya.
"Ya, karena tidak semua manusia sanggup melakukannya. Tidak semua manusia bisa saling respek dan toleransi," jelasku.
Aku sukses menyeberangi jembatan yang putus. Keadaan desa ini masih lebih baik dari desa yang ditempati Ameena. Setidaknya, kami tidak melihat mayat yang bergelimpangan dan otak-otak yang berceceran seperti di desa sebelumnya.
Kami menemukan lokasi pengungsian darurat yang dibangun PBB. Begitu menyisir pengungsian ini, pemandangan yang terlihat tak kalah membuat hatiku tercabik-cabik. Banyak orang-orang sibuk mencari sanak saudaranya yang hilang. Wajah-wajah anak tak berdosa dipenuhi debu bercampur darah. Beberapa dari mereka telah kehilangan anggota tubuh. Tangisan pilu orangtua yang kehilangan anaknya terdengar sepanjang kawasan pengungsian. Ada juga yang hanya mematung diam dengan tatapan kosong, seolah-olah mereka tak lagi bernyawa. Semua itu membuatku bertanya-tanya, masihkah ada hari esok yang cerah untuk mereka?
Okaasan ... Otousan ... aku merindukan kalian. Tenanglah, aku akan pulang ke rumah, setelah berhasil menyelamatkan orang-orang yang kukasihi ....
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merindukan orangtuaku. Berada di tempat ini setidaknya membuatku sadar arti pentingnya keluarga.
Aku lalu ikut mengantre untuk mendapatkan makanan gratis. Satu kaleng ransum yang kusimpan tadi telah aku makan di perjalanan. Sebenarnya aku memiliki uang yang cukup untuk biaya hidup beberapa hari ke depan, tapi semua terasa sia-sia saat berada di lokasi titik perang karena tak ada sesuatu yang bisa dibeli.
"Kau bukan terlihat seperti penduduk sini!" kata pria yang membagikan makanan.
"Ya, aku jurnalis yang terjebak di sini. Makanan ini akan kuberikan pada anak kecil itu!" aku menunjuk Khalila yang duduk berjongkok di samping matras lusuh.
__ADS_1
Setelah mendapat pembagian makan malam, aku buru-buru menghampiri Khalila. Kulihat gadis kecil itu tengah bermain pasir. Ini tentu membuatku senang karena akhirnya ia bisa melupakan sejenak rasa sedihnya. Aku lalu mendekatinya yang tengah sibuk membuat gundukan petak segi panjang berukuran mini.
"Kau sedang apa?" tanyaku ikut berjongkok di sisinya.
"Abi sudah meninggal, jadi aku sedang membuatkan kuburan untuknya! Mereka mungkin tak sempat menguburnya," ucapnya lirih sambil menancapkan sebuah batu kecil di pinggiran gundukan pasir tersebut. Di balik kesedihan yang menderanya masih terselip ulasan senyum.
Mataku secara bertahap memerah dan berkabut. Begitupun dengan Khalila, senyum yang mengembang di bibirnya tak bertahan lama dan berangsur-angsur pudar saat menatap kuburan kecil hasil buatannya.
Aku berusaha menghubungi Aoba dan lainnya. Mungkin mereka bisa membantuku mencari akses transportasi untuk kembali ke Damaskus. Sayangnya, ponsel kami tak tersambung. Kucoba juga menghubungi Ameena untuk mengetahui kabarnya. Ternyata juga tak bisa dihubungi.
Aku menahan setiap relawan yang datang bersama pengungsi, hanya untuk menanyakan akses transportasi untuk balik ke Damaskus. Sayangnya, tak seorang pun yang tahu karena relawan itu rata-rata datang dari negara lain.
Khalila menghampiriku seraya menarik ujung bajuku. "Kakak Pirang, aku mau pulang ...."
"Sabar, ya, untuk sementara kita tinggal di sini dulu. Aku akan berusaha menghubungi temanku agar mereka bisa menjemput kita," balasku seraya mengusap kepalanya.
Khalila mengggeleng. "Tidak, aku ingin kembali ke panti. Mereka adalah keluargaku. Aku tidak mau berpisah dengan mereka. Tolong bawa aku kembali ke sana! Kumohon!" ucapnya seraya menangkup kedua tangan.
Aku memandangnya penuh dilema.
"Kakak Pirang, kau juga pasti pasti ingin bertemu ummi, kan?" ucapnya lagi.
Aku terkelu sesaat. Sambil menipiskan bibir, aku mengangguk pelan.
Khalila mengangguk, kemudian berbaring di matras lusuh yang ia letakkan di samping gundukan tanah menyerupai kuburan hasil buatannya. Jumlah tenda yang tak seimbang dengan jumlah pengungsi, membuat beberapa orang seperti kami terpaksa tidur di luar.
Sunyi begitu nyaring ketika orang-orang telah terlelap. Angin malam benar-benar menusuk kulitku. Khalila juga telah tenggelam dalam tidurnya. Sesekali ia tampak terisak sambil memanggil ayah.
Aku membuka laptop, kemudian menyalin foto-foto yang sempat kuabadikan dari kamera sepanjang pelarian kami. Ya, meski tujuanku datang ke sini bukan untuk pekerjaan, jiwa jurnalis tak lantas tersampingkan begitu saja. Kukirim foto tersebut ke email Aoba dan Kamal Malek dengan harapan mereka akan merilisnya ke media. Tujuan utamaku hanya ingin dunia tahu, dunia melihat, dan dunia tergugah.
Setelah mengirim salinan foto dan memberitahukan lokasiku saat ini pada Aoba lewat email, aku pun menyimpan kembali laptop ke dalam tas. Namun, seketika tatapanku tertuju pada buku pemberian Ameena yang hingga kini aku tak tahu isinya. Aku pun penasaran dengan surat yang kutinggalkan di kamarnya. Apakah telah terbaca olehnya?
Ah, sebongkah resah menindih kepalaku begitu memikirkannya. Aku hanya bisa menatap langit malam sebagai pengobat rinduku.
***
Karena Khalila terus mendesakku agar kembali ke desanya, maka kami melakukan perjalanan balik ke desa ketika matahari terbit. Masih melewati rute kemarin, aku dan Khalila berjalan pelan setelah sukses menyeberangi jembatan rusak.
"Kakak Pirang, bukankah itu mobil tentara?" Khalila menunjuk sebuah mobil yang terparkir di perempatan jalan.
"Ya, benar. Itu mobil pasukan Amerika," kataku melihat dari bendera mungil yang tertancap depan mobil.
Merasa mereka bisa membawa kami pulang, aku pun meminta Khalila untuk naik ke punggungku. Sambil menggendongnya, aku berlari menuju mobil tersebut. Mobil itu diisi empat tentara yang tengah beristirahat. Satu orang tengah tertidur di tempat duduk belakang.
"Selamat pagi, aku Ayano Kei dari J-news. Aku membawa gadis kecil dari desa yang kemarin mendapat serangan. Maaf, jika boleh tahu bagaimana keadaan desa di sana?" tanyaku.
__ADS_1
"Pasukan pemerintah Suriah dan milisi Rusia telah mundur."
Meski perang belum stabil, tapi informasi yang diperoleh dari tentara itu mengatakan ada sekitar 900 tentara Amerika yang dikerahkan untuk membantu pasukan pemberontak. Aku lalu meminta tolong pada mereka untuk mengantarkan kami kembali ke desa Khalila. Untung saja mereka bersedia dan langsung meminta kami untuk masuk ke mobil.
"Kita akan segera bertemu ibumu," ucapku sambil menggenggam hangat tangan mungil Khalila.
"Bisakah kalian menunggu kami untuk menghabiskan sarapan terlebih dahulu?" pinta salah satu tentara. Kulihat dua tentara lainnya tengah menghangatkan makanan.
"Silakan!" jawabku.
Mereka juga menawarkan makanan padaku dan juga Khalila. Namun, khalila enggan memakannya. Dia memang tak berselera makan apa pun sejak kemarin. Setelah menyelesaikan sarapan, mereka menaiki mobil bersiap untuk mengantar kami.
"Kakak Pirang, sepatuku yang sebelah hilang!" ucap Khalila tiba-tiba sambil menunjuk kaki kirinya.
"Astaga, terlepas lagi, ya? Mungkin jatuh di jalan saat aku menggendongmu sambil berlari. Ya, sudah, biarkan saja!" ucapku karena mobil akan segera berangkat.
"Tapi, aku akan kesulitan berjalan jika hanya memakai satu sepatu. Dan juga, sepatu itu pemberian ayahku," ucapnya sambil tertunduk sedih.
Aku mencoba menoleh ke jendela mobil. Tepatnya, ke arah yang kami lewati tadi.
"Ah, sepertinya sepatumu terjatuh di sana!" Aku menunjuk benda yang tergeletak di jalanan, sekitar tujuh meter dari mobil tersebut.
Mesin mobil telah dihidupkan. Aku meminta mereka menungguku sejenak untuk mengambil sepatu khalila yang terjatuh.
"Tolong, tunggu sebentar saja! Aku mau mengambil sepatu gadis kecil ini."
"Oh, iya, silakan!"
"Adik, kau tunggu di sini, ya?" perintahku sambil membuka pintu mobil.
Dengan segera, aku keluar dari mobil dan langsung berlari menuju objek yang kulihat tergeletak di jalanan. Benar, itu adalah sepatu Khalila yang terlepas. Aku mengambil sepatu itu lalu kembali berlari ke arah mobil. Kuangkat tinggi-tinggi sepatu itu untuk menunjukkan pada Khalila yang memandangku dari jendela mobil. Senyum lebar spontan terpatri di bibirnya.
Di waktu yang sama, aku melihat sebuah mobil tempur dengan bendera hitam yang berkibar di atasnya, tengah melaju kencang dari arah belakang. Hanya dalam beberapa detik, mobil dari kelompok ekstremis itu sengaja menabrakkan bagian belakang mobil yang ditumpangi Khalila hingga tercipta suara benturan yang begitu hebat.
.
.
Jejak kaki 🦶🦶
parkour : seni bergerak atau berpindah dari suatu tempat ke tempat lain dengan gerakan cepat dan efisien..contohnya seperti yg dilakukan para peserta ninja warrior.
__ADS_1