
Waktu yang terus bergerak memaksaku untuk melanjutkan hidup. Bangun kesiangan adalah kebiasaan buruk yang dari sejak masih sekolah. Tak peduli dengan suara alarm, aku akan tetap tertidur kecuali dibangunkan orang. Anehnya, sejak pulang dari Timur Tengah, kebiasaan buruk ini seakan hilang. Aku kini justru sering terbangun di pagi buta.
Aku membuka balkon kamar sembari menyaksikan semburat keemasan yang mulai memenuhi langit. Ini hari pertama aku tampil sebagai presenter berita yang menuntutku untuk lebih memerhatikan penampilan. Aku mulai mempersiapkan diri menuju kantor. Memakai setelan jas dan tak lupa memasang dasi. Aku keluar dan mengunci apartemenku. Sebelum berangkat, aku menyiram beberapa tanaman liar dan juga memberi makan kucing yang terlantar. Kegiatan ini sudah kulakukan sejak lama.
Dengan motor besar kesayanganku, aku meluncur ke kantor media tempatku bekerja. Sesampainya di sana, aku bertemu dengan So, Aoba dan Eiji yang ternyata telah kembali dari Suriah. Mereka memberondong pertanyaan seputar peristiwa penyekapan yang dilakukan kelompok ekstremis padaku. Hal ini sontak kembali membuatku mengingat keadaan Ameena di sana.
So menyerahkan sebuah stik memori padaku. Aku langsung mencolokkan ke laptopku guna membaca isi file. Kubuka satu-satunya file yang tersimpan dalam flashdisk tersebut. Isinya adalah foto-foto yang kuambil selama berada di Suriah. Ya, di malam sebelum kecelakaan yang menimpa Khalila, aku memang sempat mengirim pada So foto-foto yang tersimpan dalam kameraku.
Aku membuka salah satu foto yang tersimpan. Itu adalah potret Ameena bersama seorang nenek yang ditolongnya saat penyerangan tengah berlangsung. Foto itu kuambil saat aku mengantarnya di pengungsian sebelum kami melakukan pelarian ke gurun pasir dan tersesat di sana.
"So, arigatou ...." Aku memegang kedua pundaknya sambil mengguncang tubuhnya dengan senang.
Kepada mereka bertiga, aku tak sungkan menceritakan tentang yang kualami bersama Ameena selama dalam penahanan kelompok ekstremis.
"Dari informasi yang kudengar, wanita yang ditahan oleh kelompok itu sudah pasti mengalami pelecehan dan kekerasan seksual. Mereka menyeleksi wanita-wanita yang akan dijadikan budak nafsu terlebih dahulu. Wanita yang memiliki paras cantik, akan sedikit beruntung karena dinikahi oleh petinggi kelompok itu untuk menjadi istri yang ke sekian. Bagi yang menolak, akan dibakar hidup-hidup. Kau mengatakan mereka tak menyentuh Ameena selama kau ditahan, kan? Ada kemungkinan itu karena Ameena akan dihadiahkan pada ketua mereka," jelas Aoba padaku.
"Mereka benar-benar mengerikan! Bahkan, ada juga yang dilelang dengan penawaran tertinggi," imbuh Eiji.
Aku terpaku sejenak dengan mata yang tertancap pada foto Ameena di layar laptop. Setiap mengingat Ameena, hatiku seperti mendapat puluhan tikaman di tempat yang sama. Aku pun mencoba mencari informasi tentang ketua kelompok ekstremis di internet. Sayangnya, hanya sedikit artikel yang mengulik tentang kehidupan pribadinya. Tertulis di sana ia memiliki istri lebih dari satu, tapi tak ada satu pun yang menuliskan identitas istrinya.
Sepulang kerja, aku buru-buru membuka laptop hanya untuk melihat kembali foto Ameena. Mendadak, aku teringat dengan email lamaku yang pernah menjadi sarana komunikasi antara aku yang sebagai Khai dan Ameena yang sebagai Zaheera. Karena akun email tersebut sempat dinonaktifkan, maka perlu waktu untuk memulihkan.
Begitu akun itu berhasil dipulihkan, aku langsung menulis pesan yang kutujukan padanya.
__ADS_1
"Mina-chan, bagaimana kabarmu?"
Hanya sebaris kalimat pertanyaan sederhana yang kukirim kepadanya. Namun, ada harapan besar suatu saat dia bisa membaca dan membalas pesanku. Dengan begitu, aku bisa tahu dia masih hidup.
***
Empat musim telah terlewati. Hari demi hari yang membosankan terus kujalani. Untuk waktu yang tak sebentar ini, aku telah berusaha menahan rindu yang selalu menyerang. Berharap rasa sesak perlahan lenyap tersipu ketika mengingatnya. Namun, kenyataannya keinginan untuk bertemu dengannya semakin bertambah dan menggebu-gebu. Setiap hari aku hanya bisa memandang langit, sembari membisikkan kerinduan padanya.
Selama setahun terakhir ini, aku berhasil menjadi pembawa berita nomor satu di media perusahaan tempatku bekerja. Namun, aku mulai berada di titik jenuh. Aku merasa pekerjaan ini sangat monoton. Aku butuh tempat yang membuatku lebih berguna sebagai seorang jurnalis. Di sisi lain, aku butuh mengumpulkan uang yang banyak demi sebuah tujuan. Tepat satu tahun enam bulan, aku pun membuat keputusan besar dengan berhenti menjadi pembawa berita. Saat itu, pimpinan redaksi menyayangkan keputusanku. Dia bahkan mengatakan bersedia menerimaku kembali jika aku berubah pikiran.
Dari media siaran, aku berpindah ke media cetak dan digital. Aku berhasil masuk di perusahaan surat kabar ternama dan terbesar di Jepang. Tugasku menulis artikel yang dimuat di halaman depan koran. Jangan kaget jika media koran masih berkembang di negara ini. Hal tersebut karena jumlah penduduk lansia di negara kami lebih tinggi dibanding jumlah generasi muda.
Di tempat kerja ini, aku tak perlu memburu informasi karena setiap harinya telah disediakan berita yang harus kutulis di halaman utama. Beberapa berita bahkan terkesan hanya dibuat untuk menutupi isu yang berkembang di masyarakat. Ini sedikit mengecewakan karena targetku adalah menjadi jurnalis investigasi yang mampu mengungkap kasus tersembunyi.
Aku membaca isi informasi tersebut dengan sepasang alis yang nyaris bersatu. "Pernikahan selebritis? Kenapa kita harus meletakkan berita pernikahan di halaman utama? Kita bukan media gosip, bukan?"
Pimpinan redaksi melingkarkan sebelah tangannya di pundakku. "Ini adalah pernikahan selebritis ternama dengan anak salah seorang menteri. Berita ini bukan hanya dibaca para bapak-bapak, tapi juga ibu rumah tangga dan fans dari artis tersebut."
Meski tak setuju, tapi aku tak punya kuasa untuk menolak berita yang harus kutulis. Aku mengambil informasi tersebut dan mulai menulisnya dalam bentuk artikel siap terbit.
Pukul sembilan malam aku selesai menulis dan artikel tersebut langsung dibawa bagian percetakan. Tim percetakan mengatakan koran yang beredar besok pagi akan digandakan tiga kali lipat lebih banyak dari hari biasa. Ini mengherankan! Untuk jenis berita yang menurutku tak menarik, mengapa harus diproduksi sebanyak-banyaknya.
Karena pekerjaanku telah selesai, aku pun memutuskan pulang. Saat berjalan menuju parkiran motor, aku tak sengaja melihat pimpinan redaksi sedang berbicara di belakang pohon bersama pria yang memakai mantel dan topi serba hitam. Aku mencoba mengendap-endap untuk mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
Rupanya mereka membahas berita besar yang akan terbit di sebuah perusahaan koran ibukota. Berita itu kemungkinan berisi tentang kebobrokan pemerintah. Dari sini, aku menyadari bahwa artikel yang kutulis tadi hanya untuk menandingi berita besar yang akan beredar besok.
Aku terpukul seketika. Ternyata, perusahaan media cetak sebesar ini disetir oleh pemerintah dan dijadikan alat untuk menekan isu yang berembus dari media massa lain. Ini menjadikan koran yang diterbitkan hanya bisa menulis berita sesuai pesanan pemerintah. Salah satunya dengan hanya mengemukakan kesuksesan kinerja mereka. Tidak heran, para pejabat yg menyimpang akan selalu bertindak lebih cepat untuk menyusun kebenaran versi mereka sendiri. Salah satunya dengan mengendalikan media massa.
Pagi-pagi sekali, aku menanti koran dari media yang disebutkan pria bermantel hitam semalam. Sialnya, loper koran yang datang ke apartemenku hanya membawa puluhan koran dari media tempatku bernaung, di mana halaman utama adalah artikel pernikahan yang kutulis. Aku terpaksa ke majalah terdekat untuk memburu berita tersebut.
Aku menemukan koran tersebut terselip di antara koran dari perusahaan mediaku. Aku buru-buru membaca halaman depan koran tersebut. Mataku terbelalak seketika. Pasalnya, berita utama yang mereka terbitkan menguak tentang permainan kotor biro keuangan nasional. Lebih menakjubkannya lagi, mereka mampu melampirkan data dari dokumen rahasia negara.
Aku kemudian melaju menuju kantorku. Di hadapan kepala redaksi, aku menunjukkan koran dari kantor berita lokal.
"Bagaimana bisa media sebesar kita hanya memuat berita tentang pernikahan yang sama sekali tak ada manfaatnya untuk publik, sementara kantor berita kecil mampu mengungkap kasus sebesar ini?" ucapku dengan wajah kesal. Aku bahkan sampai tak mengontrol suaraku sehingga membuat karyawan lainnya menoleh ke arah kami.
"Lalu, apa masalahnya?" tanya pimpinan redaksi dengan nada sinis.
"Kita seharusnya ikut memberitakan dan menelusuri kebenarannya. Bukan membuat berita murahan untuk menutupinya," jawabku sengit. Dengan mata yang berkilat tajam, aku berkata, "Apakah media ini akan terus menutupi kesalahan pemerintah?"
"Tidak ada yang salah dan benar, selama publik percaya itu adalah faktanya. Jika tidak suka, kau bisa mengundurkan diri sekarang juga!" ucap pimpinan redaksi.
.
.
.
__ADS_1