
Di tempat yang penuh konflik ini ... bukan hanya menjadi awal kisah cinta rumitku terjalin, tapi juga menjadi awal dari petualanganku sebagai jurnalis yang sesungguhnya ....
.
.
.
Dari keterangan tanggal dan tahun yang tertera, blog itu telah dibuat sekitar tiga tahunan. Namun, kalah jauh populer dari blog pribadiku yang baru dibuat seminggu lalu. Aku juga baru tahu kalau ternyata dia bagian dari pengikut blogku.
Aku mencoba masuk ke halaman utama blog. Tak ada yang bisa kubaca karena semua postingan menggunakan huruf Arab. Kubuka salah satu postingan di mana terdapat foto perbandingan antara Suriah sebelum dan sesudah perang. Karena aku tertarik untuk membaca postingan itu, maka aku berusaha menerjemahkannya.
Aku sempat mengernyit ketika membaca terjemahan tulisan tersebut. Ada beberapa kalimat yang tidak aku mengerti meskipun telah diartikan ke bahasaku. Mungkin karena memakai bahasa sastra Arab semacam prosa. Ini seperti sebuah puisi yang bercerita tentang kerinduan negara yang tentram, aman, dan jauh dari peperangan.
Tampaknya, dia hanya menjadikan blog-nya semacam buku jurnal pribadi yang memuat tulisan-tulisan indah dengan pemakaian kata-kata pujangga. Karena blog-nya tidak menyediakan layanan chat dengan para pembaca, maka aku hanya bisa meninggalkan pesan di komentar di postingannya tersebut.
"Hai, terima kasih telah mengikuti blogku. Aku telah mengikuti balik blogmu. Bolehkah aku meminta alamat e-mailmu? Aku tertarik untuk lebih akrab dan mengobrol denganmu." Aku menulis kalimat itu dengan menggunakan bahasa Arab hasil terjemahan mesin bahasa di internet.
Jujur, aku meminta alamat e-mailnya memang untuk menjalin kedekatan dengannya. Kupikir, mungkin saja dia bisa bertukar informasi denganku tentang kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarnya untuk dimuat sebagai bahan berita. Orang-orang di negara ini masih sangat tertutup pada kami, sehingga sangat sulit mendapatkan informasi langsung dari para korban perang. Apalagi, kami juga terkendala bahasa untuk berinteraksi pada warga. Selama hampir dua bulan di sini, aku dan Aoba hanya berhasil mendapat berita dari para wartawan lainnya, salah satunya dari Kamal Malek.
Aku mulai mencari tulisan lainnya. Kupilih postingan dengan gambar utama sebuah gurun pasir. Itu menjadi postingan terbaru yang dirilis di blog-nya, tetapi ditulis sekitar dua Minggu yang lalu. Baru saja hendak mengartikan isinya, Aoba datang menghampiriku dengan tergesa-gesa.
"Ayano-san, kita dapat bahan berita pagi ini dari tempat pengungsian Idlib. Ada banyak warga yang mengalami luka-luka akibat saling dorong saat berebut bantuan dari relawan di kamp pengungsian sana."
"Berapa jumlah orang yang luka-luka?" Aku langsung membuka Microsoft word bersiap untuk menuliskan berita dari informasi yang baru saja disampaikan Aoba.
"Ada 113 korban, 93 orang adalah wanita sisanya anak-anak yang dibawa ibunya saat pengambilan bantuan."
Aku terkejut. "Bagaimana kronologinya?"
"Begitu mobil relawan datang, mereka yang tak sabaran langsung berlari menyerbu. Para wanita ini saling berdesakan dan dorong mendorong karena takut tak kebagian. Aku mendapat rekaman kejadian dari salah satu wartawan yang ada di sana." Aoba menunjukkan rekaman video itu padaku.
Aku mengernyit. "Bukankah di sana ada lembaga bantuan internasional yang beroperasi 24 jam? Kenapa mereka masih berebut bantuan sampai harus berdesakan seperti itu?"
__ADS_1
"Entahlah, sepertinya para pengungsi ini menolak bantuan dari relawan PBB. Sudah dibantu masih juga pilih-pilih!" ketus Aoba.
Aku tertegun. Kupikir tidak seperti itu. Jari telunjukku mengetuk-ngetuk meja dengan lambat seiring otak ini mulai menganalisis kejadian beberapa hari lalu di tempat pengungsian berbeda. Aku masih ingat betul saat bertabrakan dengan seorang wanita yang membawa lari sejumlah barang-barang dari posko bantuan internasional. Pasti ada sesuatu yang membuat para pengungsi enggan mengambil bantuan yang telah disediakan PBB. Hal ini membuat aku tertarik untuk melakukan investigasi di beberapa kamp pengungsian. Aku yakin pasti ada sesuatu di balik semua ini.
"Mana So dan Eiji?" tanyaku.
"Mereka sudah berada di sana untuk mengambil dokumentasi. Tadi Eiji mengatakan padaku dia sempat melihat pacarmu di sana."
Mengetahui Yuna juga berada di sana, aku lantas berkata, "Baiklah, kita akan menyusul ke sana setelah aku menulis berita ini."
Aku terpaksa berhenti menjelajah blog perempuan Suriah itu. Namun, aku berharap dia mau memberikan email-nya agar kami bisa membangun komunikasi secara pribadi.
Kami lalu menuju lokasi pengungsian baru. Butuh dua kali menaiki bus berbeda untuk sampai ke sana. Setiap kamp pengungsian memang didominasi perempuan dan anak-anak. Peperangan telah mengakibatkan empat juta penduduk kehilangan tempat tinggal mereka. Ini menjadi bukti bahwa semua hal yang kita miliki mustahil dapat bertahan selamanya.
Selama di perjalanan, aku mencoba membuka kembali halaman blog wanita Suriah itu. Sialnya, tidak ada jaringan internet. Kalau sampai di kamp pengungsian jaringan internet masih tidak ada, maka terpaksa harus menunggu kembali ke Damaskus.
Kami pun tiba setelah melewati perjalanan darat yang memakan waktu berjam-jam lamanya. Yuna datang menghampiriku dengan masih memakai jas putih. Ya, aku memang menghubunginya saat masih dalam perjalanan. Aku sedikit tertegun melihatnya memakai kerudung Ameena di kepalanya sehingga membuatnya tampak seperti wanita Timur Tengah.
"Jangan menatapku terlalu lama, aku tahu aku memang cantik." Kalimat narsistik Yuna berhasil membuyarkan lamunanku yang tak jelas.
"Kebanyakan dari mereka mengalami sesak napas dan terinjak-injak saat saling berdesakan. Untungnya tindakan CPR cepat dilakukan," balas Yuna.
Aku mencatat informasi yang Yuna berikan sebagai bahan berita terbaru. "Apa kau tahu kenapa mereka sampai berebut bantuan dari mobil relawan yang baru datang? Bukannya di sana terdapat posko bantuan juga?" tanyaku pada Yuna.
"Aku tidak tahu. Tapi ... mungkin saja mereka hanya takut kehabisan."
"Aoba, bisakah aku mewawancarai salah satu perempuan yang ada di sini?" tanyaku pada Aoba yang berdiri di sampingku.
"Sepertinya tidak untukmu. Kau laki-laki ... lihat, mereka rata-rata memakai burkak untuk menjaga batasan antara laki-laki dan perempuan."
"Ah, aku mengerti!"
Aku melihat ke sekeliling. Ya, wanita-wanita di pengungsian ini sebagian besar memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya, termasuk wajah. Namun, ada juga yang berkerudung biasa seperti Ameena.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kau saja yang mewawancarai mereka? Aku akan menuliskan pertanyaan untuk mereka!" ucapku pada Aoba sambil mengambil buku catatan kecil dalam ransel.
"Apa kau pikir aku menguasai bahasa di negara ini?" sahut Aoba meringis.
Aku hanya bisa mendengus. Tak lama kemudian, So dan Eiji datang menghampiri kami. Mereka menginfokan kalau kami harus memasang tenda di sini karena tak ada transportasi yang beroperasi malam hari. Ya, apa boleh buat. Lagi pula, aku masih penasaran untuk melakukan investigasi mandiri di kamp pengungsian ini. Selain itu, Yuna juga menjadi dokter yang bertugas di kamp ini untuk sementara.
Aku dan Yuna lalu berkeliling untuk melihat-lihat suasana tempat ini. Sambil berjalan, aku memerhatikan beberapa wanita dan anak kecil duduk di depan tenda dengan perban yang terdapat di area wajah mereka. Beberapa di antara mereka buru-buru masuk ke dalam tenda saat beradu mata denganku.
Angin berkesiur seiring pemandangan langit memancarkan corak keemasan. Keindahan langit sore ini segera kuabadikan dengan kamera yang kubawa. Baru saja hendak membidik, kerudung yang dipakai Yuna malah berkibar dan menutupi lensa kameraku. Aku urung memotret sejenak, pandanganku malah beralih ke Yuna. Dia tampak sibuk dengan kerudungnya yang terus tergelincir dari kepala.
"Bukan begitu cara pakainya!"
Sambil menahan senyum, aku mengarahkan wajahnya menghadapku. Kupegang dua sisi kerudung itu seraya mencoba kembali membayangkan cara Ameena mengenakannya. Yang terlintas di benakku malah adegan saat aku memakaikan kerudung itu di kepala Ameena, sesaat setelah kami berhadapan dengan para perampok.
"Kurasa ... cara pakainya dililit seperti ini biar tidak mudah terlepas," ucapku sambil bergeser ke belakang untuk melingkarkan kedua sisi ujung kerudung itu di leher Yuna.
"Kalau seperti ini kau seperti ingin mencekikku!" protes Yuna saat aku mengikat kerudung itu terlalu erat.
"Maaf ... maaf," kataku sambil tertawa.
Karena sudah hampir malam, aku, Eiji, dan So mulai mendirikan tenda. Kali ini tenda kami berdekatan dengan tenda medis. Aku bergegas masuk dan segera mengambil laptop hanya untuk membuka kembali blogku. Aku sangat berharap, wanita itu telah membalas komentarku.
Yosh! Benar, dia membalas komentarku. Aku langsung menyalin komentarnya ke halaman mesin terjemahan.
"Terima kasih telah mendatangi blogku. Terima kasih juga atas respon permintaan foto anak kecil itu. Mengenai alamat e-mail, tidak bisa kuberikan karena aku tidak menerima chat pribadi dengan lawan jenis. Maaf ...."
Aku memasang wajah masam sebagai rasa kecewa. Apakah wanita di negara ini sangat alergi dengan laki-laki? Ini mengingatkanku pada Ameena pun sangat takut berkontak fisik denganku.
Tak menyerah, aku mengetik balasan komentarku di halaman terjemahan. "Maaf, kau mungkin salah mengira. Sebenarnya, aku ini perempuan. Namaku memang Khai tapi nama panjangku ...."
Aku berpikir sejenak, apakah ada nama perempuan yang diawali kata Khai? Aku kemudian menggeser kursor untuk membuka tab baru dan mencari informasi nama-nama perempuan Timur Tengah yang diawali kata Khai.
Mata ini begitu fokus melihat daftar deretan nama yang disajikan dalam mesin pencarian internet. "Khai ... Khai .... Yeah! Aku menemukannya!
__ADS_1
Aku kembali ke halaman blognya untuk membalas komentar. "Nama panjangku Khairunnisa."
.