Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 58 : Wajah Bumi yang Lesu


__ADS_3

Aku tak mengerti maksud dari perkataan salah satu pria itu. Termasuk lontaran kalimat sama yang diucapkan hampir semua orang di sini. Namun, melihat Ahmed yang berlutut dengan wajah terpukul, Ameena yang langsung menyebut nama Khalila dengan mata berkaca-kaca, serta tangisan orang-orang yang ada di sini, membuatku menyadari sesuatu yang buruk telah terjadi pada tuan Ali dan para pria lainnya. Ternyata lebih menyedihkan dari dugaanku. Pria itu mengumumkan jika tuan Ali dan pasukan lainnya telah gugur di tempat pertempuran.


"Tuan Ali ... memilih berdiri di garis depan. Dia menerima tembakan sebanyak empat kali. Bahkan, hingga detik-detik embusan napas terakhirnya, ia masih sempat berlari ke pasukan musuh hanya untuk melempar granat. Jasadnya ikut hancur bersama ledakan," papar pria itu dengan wajah yang berkabung. Ia juga menyerahkan sorban milik tuan Ali yang telah bersimbah darah.


Terguncang! Mataku membulat tak percaya. Tuan Ali gugur? Benarkah, Tuan Ali meninggal? Aku mempertanyakan itu berulang kali di dalam hati. Wajahnya yang hangat, ucapannya yang bijaksana, cara dia menyapaku, hingga senyum khasnya sontak membayang di ingatanku.


Ahmed menerima sorban andalan tuan Ali dengan tangan yang bergetar. Ekspresinya hancur dengan lelehan air mata yang seketika memenuhi pipinya.


"Tuanku, kenapa Anda meninggalkan kami semua secepat ini? Bukankah Anda seharusnya pulang untuk menikahi saudari Ameena? Apakah Anda tidak ingin menemui Khalila? Dia menunggu Anda sejak semalam." Ahmed meremas sorban peninggalan tuan Ali.


Semua orang bersedih. Semua orang menangis. Mereka telah kehilangan sosok yang memiliki banyak peran di tempat ini. Sebagai seorang ayah untuk anak-anak yatim. Sebagai seorang saudara untuk orang-orang yang tak punya keluarga. Sebagai dermawan untuk para fakir miskin. Dan sebagai pejuang untuk seluruh masyarakat di wilayah ini.


"Kita harus mundur dan bersembunyi sekarang juga seperti yang ia katakan kemarin!" Pria berseragam itu menoleh ke arahku. "Kudengar, Amerika menyatakan akan memberi bantuan persenjataan pada kubu kita. Aku tidak tahu apakah orang-orang kita bersedia menerima bantuan itu. Turki juga telah mengirim pasukannya untuk membantu kami. Sepertinya akan ada perang yang lebih besar, jadi sebaiknya kalian bersembunyi sementara waktu!"


Mendengar keadaan yang semakin genting dan mencekam, tak satupun dari mereka yang takut. Mereka masih larut dalam suasana berkabung atas tewasnya tuan Ali dan beberapa pria di wilayah ini.


"Ummi!" Suara teriakan Khalila terdengar. Gadis kecil itu berlari dengan busana putih bersih yang melambangkan kepolosannya.


Ahmed buru-buru memasukkan sorban tuan Ali ke dalam pakaiannya lewat kerah leher. Sementara Ameena langsung menghapus air matanya seraya menghampiri Khalila.


"Khalila, kau sudah bangun?" tanya Ameena seraya berjongkok dan memegang lengan Khalila.


"Ummi, kenapa kalian semua berkumpul di sini?" Mata Khalila berkedip sayu memerhatikan kami yang tertunduk dan berusaha menyembunyikan kematian ayahnya. "Paman Ahmed, apa Abi sudah berhasil mengusir orang-orang yang membuat keributan itu?"


Dengan bibir yang bergetar menahan tangis, Ahmed mengangguk-angguk. "Ya, kau bisa lihat, kan, sekarang sudah tak ada lagi suara-suara itu. Ayahmu adalah pahlawan kami."


"Lalu, mana Abi? Kenapa belum pulang?"


Di waktu yang sama, suara desing dari pesawat tempur terdengar samar. Perhatian orang-orang pun teralihkan untuk mendongak ke langit. Kami terkejut melihat pesawat tempur telah mengitari langit ini. Meliuk-liuk di atas kami. Tak pelak, semuanya pun berlari berhamburan menyelamatkan diri masing-masing. Tak cukup sedetik, terdengar sebuah dentuman keras memekakkan telinga. Menggetarkan tanah yang kami pijaki. Menimbulkan asap hitam yang membumbung tinggi. Bau mesiu merambat penciuman.


"Semuanya, tiarap dan bernapas dengan mulut kalian!" teriakku. Saat terjadi ledakan di sekitar kita, bernapas secara alami akan memengaruhi organ-organ dalam tubuh kita.


Aku berlari menghampiri Khalila yang menjerit ketakutan. Kubungkus tubuhnya dengan pelukanku. Namun, dahiku malah berbenturan dengan dahi seseorang. Ternyata orang itu adalah Ameena yang juga datang memeluk Khalila. Tangan kami sama-sama melingkar di badan gadis itu. Untuk sesaat, mata kami bersitatap dalam kepanikan.

__ADS_1


Suara ledakan bersahutan dengan jerit tangis anak-anak. Cahaya jingga dari api menyambar mata kami. Rudal-rudal menghujani desa ini. Menghujam atap-atap rumah warga. Menghanguskan dan menghancurkan apa saja. Bangunan-bangunan teronggok berantakan.


"Sembunyi! Selamatkan anak-anak!" teriak Ahmed sambil membawa beberapa anak-anak yang sebaya dengan Khalila.


Kugendong Khalila di belakang punggungku, kemudian membawanya lari merangkak bersama Ameena mencari benda-benda kokoh sebagai tempat persembunyiaan. Kami memilih masuk di kolong meja yang terletak di teras. Rasa takut menggelayuti Khalila.


Bom kembali dijatuhkan dalam jarak yang sangat dekat dengan kami. Menamatkan kehidupan orang-orang yang dihajarnya detik itu juga. Menghancurkan bangunan yang sering dipakai belajar para anak-anak di yayasan ini. Hanya menyisakan kawat-kawat besi yang mencuat telanjang. Mayat-mayat tergeletak, darah bersimbah. Di antaranya, ada anak-anak dan wanita dari yayasan ini.


Debu mengepul dari bangunan yang runtuh, membuat jarak pandang kami terbatas. Aku bahkan kesulitan melihat Khalila dan Ameena yang berada di hadapanku. Hanya terasa remasan kuat tangan Ameena dan Khalila di lenganku.


Langit indah nan luas kini tak biru lagi. Bukan karena mendung, tapi karena berselimut asap dan abu pekat. Bukan karena tertutup awan, tapi karena dipenuhi pesawat tempur. Orang-orang berlarian mencari tempat bernaung seraya meneriakkan nama Tuhan.


"Ummi, apakah kita akan mati di sini? Ke mana Abi? Bukankah dia telah berhasil mengusir orang-orang ini! Kenapa mereka masih di sini?" tanyanya sambil menangis meraung-raung.


"Khalila, tenang, Sayang!" Ameena membelai wajah Khalila yang berlumuran air mata.


Khalila terus menangis. Dadanya sesak, seperti hampir kehabisan pasokan oksigen. Wajahnya berkecamuk dalam kecemasan. Seluruh tubuhnya gemetar. Keringat dingin keluar dari sela-sela pori-porinya. Ia hanya salah satu potret penderitaan yang dialami anak-anak korban kebengisan perang.


"Khalila! Khalila!" panggil Ameena saat kesadaran Khalila menipis. Ia menepuk-nepuk pipinya yang memucat.


"Dia terkena serangan panik!" Aku merebahkan Khalila di pangkuanku lalu melonggarkan pakaiannya.


"Khai, seperti katamu semalam. Jika kita terus membiarkan Khalila di sini, maka akan merusak mentalnya." Ameena mengulang ucapanku dengan nada terbata-bata, "untuk itu, bawalah Khalila sekarang juga! Bawa dia pergi bersamamu! Bawa dia menjauh dari tempat ini!"


"Lalu, bagaimana denganmu?" tanyaku.


"Aku tidak bisa ikut dengan kalian ...."


"Tidak! Aku juga tak akan pergi jika kau tidak ikut bersama kami!" tolakku.


"Jangan pedulikan aku! Aku bisa menyelamatkan diriku sendiri!" pintanya.


Aku menatap Khalila yang sudah tak sadarkan diri. "Bagaimana mungkin aku dan Khalila meninggalkanmu di sini!"

__ADS_1


"Aku tidak bisa meninggalkan anak-anak yang masih hidup. Mereka masih membutuhkan perlindungan dari kami. Tuan Ali mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan anak-anak itu," balasnya dengan mata berkaca-kaca. Ada getaran dari setiap helaan kata yang diucapkannya.


Aku tetap menggeleng. Kakiku enggan bergeser sedikit pun.


"Aku mohon, Khai! Bawalah Khalila pergi ke tempat aman! Tempat di mana dia tak mendengar suara ledakan dan tembakan. Sekarang juga! Aku mohon ...." Suara Ameena begitu serak dan hampir tak terdengar di ujung kalimat. Ia meremas ujung jaketku dengan kepala yang menunduk dalam. Butiran air matanya berjatuhan mengenai lututku.


Dengan berat hati, aku pun keluar dari persembunyian. Berdiri sambil menggendong Khalila di atas punggungku. Tak sampai semenit, aku kembali berjongkok untuk dapat memandang wajahnya.


"Mina-chan, aku akan kembali! Aku akan datang ke sini lagi. Bersembunyilah di tempat aman hingga aku datang untuk menjemputmu! Jaga dirimu baik-baik!" ucapku sambil memandang wajahnya dengan nanar.


Ameena mengangguk getir. "Jangan khawatir, Tuhan selalu mengikuti prasangka hamba-Nya."


Sekali lagi, kami harus berpisah. Meski bukan yang pertama kali, hatiku belum sematang itu untuk menerima perpisahan ini. Entah kenapa, kami selalu dibatasi oleh jarak, waktu dan keadaan.


.


.


.


Catatan author ✍️✍️


Hari ini, usia saya menginjak 17 tahun 😊😂 (jangan dianggap serius). Terima kasih untuk para pembaca setia yang telah mendukung setiap karyaku di platform ini selama empat tahun ❤️.


Terima kasih untuk pembaca baru yang menyempatkan membaca karya ini. Baca juga karya saya lainnya yang sedang on going, DOSA (DOSEN SAYANG) novel ini project kolaborasi antara saya dan editor NT. Di awal-awal chapter, cerita emang klise dan cringe karena menyesuaikan alur yang ditentukan editor. Tapi memutuskan menulis genre ringan ini untuk mengulas hal-hal yang sering terjadi di masyarakat, terutama tentang kontruksi sosial, toxic relationship, toxic parenting, stereotip dan double standar.





__ADS_1


__ADS_2