
Senja mulai memamerkan jubah keemasannya meski sedikit ditutupi awan kelabu. Setelah berdoa di pemakaman Khalila, Ameena berdiri lalu menatapku. Kami saling berhadapan sambil memendam rasa sakit yang tertahan. Langkah segera membawanya pergi melewati aku yang hanya bisa diam terpaku.
Kakiku bergerak, hendak menyusulnya. Namun, tiba-tiba tubuhku seakan tertancap ke tanah. Setelah gagal menjaga Khalila dan tak merawat baik-baik buku tafsir pemberiannya, aku tak yakin untuk bisa melindungi Ameena seperti yang kucetuskan padanya selama ini. Kakiku mulai melangkah ke depan berjalan berlainan arah dengannya. Aku menyeret kaki dengan pelan di antara bimbang yang masih menguasaiku. Pada langkah ketiga aku justru berbalik dan mengejarnya.
Ameena adalah Timur sedang aku adalah Barat. Kami mungkin tak akan bisa bersatu. Namun, selagi bisa bersama, semua tenaga akan kukerahkan untuk melindunginya.
"Mina-chan." Aku berteriak memanggil namanya setelah berhasil menyusulnya.
Dia berbalik pelan, menatapku yang membungkuk dengan tersengal-sengal.
"Aku ... tidak memiliki apa pun. Aku juga tidak membawa apa pun selain sepatu Khalila. Aku ... tidak tahu cara kembali ke Damaskus untuk saat ini. Bisakah ... kau memungutku lagi?" ucapku terbata-bata.
Ameena menatapku dengan sendu. Ia memutar badannya kemudian kembali berjalan. Karena tak ada sepenggal kata yang keluar dari mulutnya, aku pun langsung mengekornya.
Kami berjalan dalam lindungan selimut senja, melewati tanah bebatuan yang bergunduk dan menanjak. Seperti sedang berada di sebuah arena off-road. Aku tidak tahu dia akan ke mana, tapi juga tak akan bertanya. Aku hanya menduga dia menuju tempat tinggalnya saat ini. Efek perang membuat rumah warga termasuk yayasan panti asuhan milik tuan Ali tersapu rata.
Hingga senja hampir tenggelam ke pangkuan malam, kami pun tiba di area perkebunan di pegunungan yang terdapat sungai kecil, rawa, dan pepohonan yang berbuah ranum. Tak jauh dari kami, sayup-sayup terdengar suara anak-anak yang tengah bermain. Kami terus mendaki hingga sekelompok anak-anak yang berlarian terlihat.
"Guru!" Mereka berbondong-bondong berlari ke arah Ameena.
"Ah, itu Kakaknya Khalila! Dia juga ada di sini!" Mereka kemudian mengelilingiku sambil meminta permen dan aneka jajanan yang sering kubawakan.
Ternyata, mereka adalah para anak yatim yang tersisa dan kini tinggal bersama Ameena di sebuah gubuk yang mana menjadi satu-satunya hunian di tempat itu. Jumlah mereka hanya tinggal enam orang di mana Ameena adalah pengurus yang tersisa.
"Mana Khalila? Bukankah dia bersamamu?" Seorang bocah lelaki tiba-tiba menodongku dengan pertanyaan. Dia adalah Omar, bocah yang pernah kulempari permen dan menjadi satu-satunya anak lelaki tertua di antara lainnya.
Aku bergeming. Mata bocah itu secara spontan melihat sepatu Khalila yang ku genggam. Para bocah lainnya pun ikut bertanya-tanya.
"Anak-anak, sudah Maghrib, waktunya untuk beribadah!" seru Ameena.
Anak-anak itu lantas berbondong-bondong ke aliran sungai untuk membasuh wajah, kepala, tangan dan kaki mereka. Aku masih di luar, duduk di bangku persegi panjang yang terbuat dari batang kayu. Kusandarkan kepala ke dinding rumah yang sedikit lapuk.
Aku berbalik sejenak. Dari jendela yang terbuka, aku bisa melihat bocah lelaki tadi berdiri paling depan memimpin ibadah.
Satu jam berlalu, aku masih duduk di sini sedang Ameena tampak sibuk. Melihatnya hanya seorang diri mengurusi keenam bocah membuatku respek padanya. Aku sendiri tak tahu dengan rencanaku ke depan. Aku gagal pulang ke Jepang dan sekarang terpisah kontak dari teman-teman dan keluargaku.
Seorang gadis kecil datang membawakan makanan untukku. "Kakak, ini makanannya."
__ADS_1
Aku tertegun beberapa saat. Untuk sekilas, aku melihat Khalila di wajah gadis kecil itu. Aku bahkan seperti mendengar suara Khalila yang sering memanggilku dengan julukan andalannya.
"Terima kasih," ucapku.
Baru saja hendak mencicipi makanan tersebut, mendadak terdengar suara bocah lelaki tadi.
"Tidak mau! Aku tidak mau berbagi kamar dengan dia! Dia menyebabkan kita semua kehilangan Khalila. Seharusnya Khalila tidak pergi bersamanya! Seharusnya Guru tidak mengajaknya ke sini!"
Aku merasa seperti tengah dikecam olehnya. Sepertinya dia membenciku karena aku tak berhasil menyelamatkan Khalila.
Aku lantas berdiri di tiang pintu sambil berkata, "Aku akan tidur di luar. Tidak apa-apa."
Ameena hanya bisa diam. Sementara bocah itu langsung keluar dengan raut wajah tak utuh. Aku berinisiatif mengikutinya. Kulihat dia duduk di bawah pohon seraya mengerjakan sesuatu. Aku tercengang melihatnya tengah merakit senjata dari bahan seadanya, seperti botol dan kaleng bekas.
"Hebat! Dari mana kau belajar merakit senjata seperti ini?" tanyaku.
Dia mengabaikan pertanyaanku dan terus menyibukkan dirinya. Tak menyerah, aku lantas berjongkok di sampingnya.
"Kau benar, seharusnya Khalila tidak bersamaku," ucapku sambil duduk menekuk lutut dengan tatapan lurus ke depan. "Andaikan aku tak mengacuhkan permintaannya untuk mengambil sepatu ini, mungkin aku juga akan ikut tewas bersamanya. Kau tau apa permintaan terakhirnya? Dia hanya ingin aku kembali ke desa ini dan mencari kalian. Mungkin, aku memang harus tetap hidup. Sepatu ini menjadi bukti bahwa Khalila pun ikut menyertai langkah kita," ucapku sambil mengeluarkan sepatu yang menjadi satu-satunya peninggalan gadis kecil itu.
Dia terdiam sejenak, lalu mengambil sepatu itu dari tanganku "Aku ... membuat senjata untuk melindungi guru dan juga adik-adikku. Aku tak ingin kehilangan orang-orang yang kusayangi lagi!"
"Kau tahu, begini-begini aku ini mantan tentara Jepang," ucapku.
"Benarkah?"
"Aku juga mantan atlet judo. Jika kau mau, aku bersedia mengajarimu bela diri."
"Aku mau! Tolong ajari aku!" Omar berdiri di hadapanku dengan penuh antusias.
Malam itu, kami tak tidur. Aku mengajarinya teknik menyerang dan bertahan dari musuh. Melalui Omar, aku berharap Ameena akan terlindungi meski aku sudah tak di sisinya lagi. Dia sangat gigih berlatih hingga fajar menyongsong.
Saat matahari belum sepenuhnya muncul, kami bersama-sama mengambil air di sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Rasanya seperti hidup di era lampau tapi ini cukup menyenangkan. Apalagi bisa melihat Ameena setiap hari.
"Biar kubantu," ucapku ketika ia hendak memikul pakaian kotor untuk dicuci di sungai.
Kami beramai-ramai menuju sungai jernih yang dangkal. Anak-anak memimpin perjalanan. Sedang aku selangkah di depan Ameena. Ternyata tanah dan perkebunan di pegunungan ini masih milik tuan Ali.
__ADS_1
"Khai ...." Ameena memanggilku dari belakang.
Aku menoleh seraya melempar senyum.
"Apa kau tidak ingin kembali ke Damaskus?"
"Seperti yang kukatakan padamu, semua barang bawaanku hilang. Termasuk uang dan ponsel. Aku sekarang seorang gelandangan. Maka dari itu, aku meminta kau memungutku, bukan?" Aku tertawa halus sambil menoleh ke arahnya.
"Bagaiman dengan buku tafsir yang kuberikan?"
"Itu ... hilang juga. Padahal, aku belum sempat membacanya. Tolong maafkan aku!" ucapku sambil menunduk.
Kulihat wajah Ameena berubah seketika.
"Apakah kau bisa memberi bocoran tentang isi buku tafsir itu? Aku cukup penasaran!" kataku kembali.
"Sepertinya Tuhan ingin kau mencari tahu sendiri," balasnya pelan.
"Eh?" Aku mengernyit.
Sebenarnya, aku juga ingin menanyakan tentang surat yang kuberikan. Namun, aku tak memiliki keberanian untuk menanyakannya.
Kami pun tiba di sungai. Di saat Ameena sibuk mencuci pakaian bersama anak-anak perempuan yang asyik membuat gelembung busa, aku dan Omar tengah menombak ikan sembari saling memercik air. Sesekali, aku memandang Ameena yang juga ternyata tengah menatapku. Aku melempar senyum ke arahnya. Sayangnya, dia malah menundukkan pandangannya.
Kami membakar ikan hasil tangkapan dan menyantapnya bersama-sama di halaman gubuk. Aku melihat Ameena yang begitu teliti mencabut tulang dari ikan-ikan sebelum diberikan pada anak-anak.
Bocah yang berbeda kini memegang ujung bajunya sambil berkata, "Kakak tinggal di sini saja, ya?"
"Guru dan Kakak sangat cocok untuk menjadi ibu dan ayah kami," celetuk salah satu bocah yang ikut dibenarkan anak-anak lainnya.
"Mana bisa seperti itu. Kakak ini harus pulang," ucap Ameena pada anak-anak itu.
Aku memandang Ameena dengan tatapan tak berdaya.
Mina-chan, bisakah kita terus seperti ini?
.
__ADS_1
.
.