Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Bab 76 : Masih Belum Menyerah


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Aku duduk terpegun di depan meja bartender dengan segelas sampanye di tanganku. Seseorang menepuk bahuku dari belakang. Dia adalah So yang juga baru pulang kerja. Aku memang mengajaknya ke sini. Selama hampir dua tahun berada di Suriah dan tidur sekamar dengannya, membuat kami menjadi sangat akrab.


"Lama tak berjumpa, kau semakin sibuk di tempatmu yang baru," tegurnya sembari mengambil sebatang rokok lalu menawarkan padaku.


Aku ikut mengambil rokok dari bungkus yang isiannya hanya tersisa setengah dari yang ada.


"Aku mengundurkan diri dari tempat kerjaku!" ucapku sambil mengapit batang nikotin.


So menutup kembali pemantik api yang sempat dinyalakan. Dengan mata yang terbelalak, dia menoleh ke arahku.


"Lagi?" ucapnya mengernyit tak paham dengan tindakanku.


Ya, ini kedua kalinya aku berhenti dari tempat kerja di saat telah mendapat posisi yang strategis.


Aku tersenyum ringkih sembari merebut pemantik api dari tangannya. "Mau bagaimana lagi, aku sudah tak sejalan dengan mereka."


"Lalu? Apa kau akan kembali ke perusahaan kami? Bukankah waktu itu kepala redaksi masih mau menerimamu?"


"Mungkin saja. Mengingat gaji di sana lebih tinggi. Tapi ... perusahaan berita kita juga tak punya gebrakan apa pun dalam menemukan berita besar. Itu membosankan untukku," ucapku seraya mengepulkan asap rokok.


Kami pun mengobrol santai sembari melepaskan kepenatan dengan saling menuangkan minuman.


"Hei, Ayano ... apa kau masih mengumpulkan uang untuknya?" tanya So tiba-tiba.


Aku tak menjawab. Sinar mataku seolah meredup. Selama dua tahun ini, aku telah hidup berhemat dan menekan pengeluaran untuk diriku sendiri. Tujuh puluh persen dari gajiku tak kugunakan, melainkan kusimpan di tabungan. Aku bertekad ke negara Suriah suatu hari nanti dan bernegosiasi dengan kelompok ekstremis. Aku berharap, uang yang kukumpulkan, dapat menebus Ameena. Namun, untuk dapat membebaskan Ameena dari tawanan kelompok itu, setidaknya aku harus menyiapkan uang sebesar tebusanku waktu itu. Hanya So satu-satunya yang tahu upaya gilaku ini.


"Ckckck ...." So mendecakkan lidah sembari bergeleng-geleng seirama. Tampaknya, hanya dengan melihat ekspresiku, dia sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya sendiri.


"Ini sudah lebih dari dua tahun sejak kepulangan kita dari negara itu," ketusnya.


"Kau salah .... Ini baru dua tahun, belum hitungan belasan atau puluhan tahun!" tampikku sambil kembali menuang sampanye.


"Kau masih mengharapkan kemungkinan yang sulit terjadi?" Dahi So berkerut membentuk lipatan-lipatan kecil.


"Bahkan jika harapan itu hanya tersisa satu persen," jawabku.


"Apa pengorbananmu ini akan sebanding dengan yang kau dapatkan darinya? Ingat, kalian sangat berbeda!"


"Aku ingin menolongnya bukan untuk mendapatkan balasan cinta darinya. Aku hanya ingin menepati janjiku untuk menjemputnya dan membebaskannya dari kelompok itu."

__ADS_1


"Mari kita berandai-andai. Katakanlah dia masih hidup, selamat, dan bebas dari kawanan kelompok itu, tapi ... apa dia masih mengingatmu?"


"Jika memang dia selamat, bebas dari kelompok itu dan tetap melanjutkan hidupnya tanpa mengingatku lagi, tidak masalah. Bukankah artinya Tuhan benar-benar mengabulkan doaku?"


Kali ini So hanya mengembuskan napas kasarnya. Aku tahu dia terlihat keras karena tak ingin aku terluka terlalu jauh.


Setelah mengobrol dengan So, aku memutuskan pulang ke apartemen dalam keadaan setengah mabuk. Duduk di depan komputer, aku menghempaskan tubuh pada kursi depan meja komputerku seraya menenangkan pikiran. Ku pejamkan mata sebentar kemudian membukanya lagi.


Aku termenung sejenak. Tanpa sadar aku terjun ke dalam pemikiranku sendiri. Sejujurnya, aku ingin berkarir di luar negeri, dengan begitu mungkin akan lebih mudah untuk mencari Ameena. Sayangnya, ibu tidak mengizinkan karena masih trauma dengan kejadian yang kualami di Timur Tengah.


Aku lalu menghidupkan komputer hanya untuk mengecek email dari akun atas nama Khai. Tak ada pesan dari siapapun. Meski begitu, aku rutin mengirim pesan ke Ameena hanya untuk menanyakan kabarnya.


Selama dua minggu menganggur, akhirnya aku memutuskan melamar kerja ke media Ibukota yang berhasil menguak kebobrokan Biro Keuangan Negara. Aku yang telah memakai setelan jas hitam, duduk di hadapan ketiga pimpinan tertinggi yang siap mewawancarai. Ketiga orang itu masih lebih muda dibanding pimpinan dari dua media sebelumnya.


"Lulusan universitas Harvard, pernah bekerja di dua perusahaan media terbesar di Jepang dan sempat menjadi jurnalis lepas di Routers, lalu kenapa memilih masuk ke media kecil yang baru merintis?" tanya salah satu di antara mereka.


"Karena saya menaruh harapan besar pada media ini," ucapku dengan tatapan tegas.


Mereka mengernyit mendengar jawabanku.


Aku menghela napas, lalu kembali berkata, "Ada banyak hal miris dan ketidakadilan yang membutuhkan atensi publik, sayangnya tertutupi begitu saja. Saya ingin berjuang, menyuarakan orang-orang yang tak berani bersuara. Tapi, saya sadar ... saya tak bisa mengubah apa pun dengan sendirian. Butuh kerja sama tim yang satu visi misi denganku."


Aku terdiam sejenak. Jika pendapatanku berkurang, itu berarti semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan uang. Di saat aku goyah, hati kecilku justru menguatkan untuk mencoba.


Aku berhasil diterima di media itu. Di sana, aku ditugaskan di lapangan, melakukan penelusuran untuk kasus yang dianggap memiliki kejanggalan. Hasil investigasi yang kuselidiki terentang luas di segala bidang. Mulai dari perundungan di tingkat sekolah, korban malpraktek rumah sakit, hingga kasus pembunuhan.


Dalam bertugas, terkadang aku harus menyamar demi mendapatkan informasi langsung dari tempat kejadian atau pun narasumber terkait. Meski gajiku tak sebanyak di tempat sebelumnya, tapi aku senang bisa menjadi bagian dari perusahaan ini. Bermusyawarah dan bertukar pikiran bersama editor-editor kritis untuk bahan berita yang akan diselidiki.


Selama menjadi jurnalis di tiga media berbeda, tak ada yang tahu aku anak dari tokoh publik terkemuka. Aku merahasiakan latar belakang keluargaku, karena tak ingin dispesialkan siapapun.


Di rentang waktu ini, aku masih berupaya mencari tahu keberadaan Ameena. Dari memburu berita tentang kelompok ekstremis, hingga mengontak beberapa jurnalis perang yang bertugas di sana. Konflik di negara itu seperti tak pernah usai. Semakin tahun, semakin menambah korban dari wanita dan anak-anak yang tak bersalah. Ini semakin memperkecil harapanku atas keselamatannya. Meski begitu, aku masih belum menyerah. Aku mencoba meminta bantuan lewat jalur langit. Aku rutin mengunjungi kuil untuk berdoa.


Suatu hari, saat melintas di kawasan Harajuku, aku tak sengaja menemukan masjid, sebuah rumah ibadah dari ajaran yang dianut Ameena. Aku langsung menghentikan motorku tepat di depan bangunan megah yang bergaya Turki itu. Entah kenapa, tiba-tiba terbesit keinginan untuk masuk ke dalam sana. Pikirku mungkin saja berdoa di tempat ini akan lebih dikabulkan. Mengingat, Tuhan selalu berbeda-beda di setiap ajaran agama.



@camiiTokyo


Aku melepas alas kakiku sesuai peringatan yang ada di pintu masuk, kemudian melangkah masuk ke tempat itu. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di rumah ibadah umat muslim. Seorang pria tua berpeci lantas menghampiriku. Kurasa dia adalah penjaga masjid ini.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucapku sambil menangkup kedua tangan dengan kepala yang sedikit menunduk.


"Walaikum salam," jawabnya.


Mataku berpendar ke seluruh ruangan yang memiliki tiga lantai. Terdapat pilar-pilar besar, ornamen cantik yang didominasi warna biru dan langit-langit kubah yang memiliki ketinggian lebih dari dua puluh meter laksana bangunan di zaman kejayaan Ottoman.



@masjidcamii.org


"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.


"Aku ingin beribadah."


"Silakan! Silakan! Sholat berjamaah baru saja selesai. Kau bisa sholat sendiri di sana! Ini belum terlambat." Ia menunjuk tempat yang beralaskan karpet panjang.


"Aku ... tidak tahu ... caranya. Bisakah ... kau mengajariku?" Aku mendadak terbata-bata.


Dahi pria itu berkerut. "Apakah Anda muslim?"


Aku menggeleng kaku. Pria itu semakin mengernyit.


"Untuk beribadah di sini, tentu Anda harus mengimani Allah terlebih dahulu," ucapnya padaku.


"Oh, begitu." Aku lalu berbalik, bermaksud keluar dari tempat itu.


"Tunggu!" Pria tersebut menghentikan aku.


Pria berpeci putih itu mengajakku menuju sebuah lemari yang terdapat deretan buku-buku tebal. Dia menyerahkan sebuah buku yang tulisan depannya berbahasa arab. Pupil mataku membesar seketika. Pasalnya, tulisan di sampul buku tersebut sama seperti buku yang pernah Ameena serahkan padaku.


.


.


.


Catatan author:


Chapter kemarin, tentang isu besar yang ditutupi oleh berita receh yang dibuat booming itu terjadi di negara mana aja ya. jadi, gua gak bermaksud menyinggung yang ada di negara ini, walaupun emang 11 12 kan. Di Korea Selatan pun, gua pernah baca katanya skandal artis atau idol dibuat rame media sana untuk menutupi kasus-kasus besar pemerintah. Di negara Amerika, pernah ada skandal terbesar di mana selama 30 tahun pemerintaah membohongi publik lewat media terkait perang Vietnam. So, setiap pemerintahann itu pasti punya sisi gelapnya.

__ADS_1


Terus, untuk cerita ini, perhatikan timingnya. Di chapter 71 aku dah spill kalo cerita di Jepang akan banyak lompatan waktu. Terima kasih buat yang masih menunggu novel ini. Jangan lupa like dan komengnya.


__ADS_2