
Aku segera bangun dan berbalik ke arah So. "Apa kau benar-benar yakin itu dia?"
"Ya, aku bahkan melihatnya dalam jarak yang cukup dekat. Hanya saja, aku memilih langsung ke sini untuk memberitahumu karena selama ini aku tahu kau mencarinya."
Ya, itu pasti Ameena. Tanpa berpikir panjang, aku langsung keluar tenda dan berlari menuju kamp pengungsian. Tak ada yang bisa kupikirkan saat ini selain ingin melihat Ameena secara langsung.
Posisi tenda kami yang berada di dataran tinggi, membuatku banyak kali hampir terpeleset saat menuruninya. Ditambah lagi, membutuhkan jarak ratusan meter untuk sampai ke sana. Tidak peduli seberapa jauh, aku harus segera sampai dan bertemu dengannya.
Mina-chan, apa kau masih mengingatku? Apa kau masih mengenalku? Tunggu aku! Biarkan aku bertemu denganmu. Sekali saja ....
Butuh sekitar kurang lebih lima belas menit untuk bisa membuat langkah ini sampai di kamp pengungsian. Mataku langsung berpendar, berkeliling ke segala arah melihat suasana pagi yang cukup ramai dengan aktivitas pengungsi. Di mana Ameena? Kenapa mataku tak dapat menemukannya?
So menyusul dan baru saja sampai. Dia langsung mengajakku ke tempat di mana Ameena terlihat sebelumnya. Namun, tak ada siapapun di sana.
Dengan wajah tak percaya, So berkata, "Tempat ini tadinya sangat ramai. Bahkan ada banyak anak-anak."
"Apa kau yakin yang kau lihat itu dia?"
"Tentu! Aku masih sangat mengenal wajahnya. Aku bukan pelupa!"
"Bagus So!" Aku menepuk pundaknya dan langsung berlari untuk mencari Ameena.
So ikut membantuku mencari keberadaan Ameena. Kami berpencar menyusuri kamp yang luasnya hampir menyerupai sebuah distrik. Tak masalah, akan kutelusuri setiap jengkal tanah jika bisa menemukannya.
Aku belum menemukannya. Kakiku terus melangkah, berjalan ke setiap jalur tenda-tenda dengan badan yang memutar ke sana-sini. Tidak ada! Kucoba mengamati setiap pengungsi wanita yang penampilannya serupa Ameena. Tidak ada juga! Berlari hingga ke ujung tempat ini. Tetap tidak ada juga!
Aku masih mencari. Dengan kepala yang menengok ke segala arah dan mata yang terus waspada hingga tak mau berkedip. Aku dan So dipertemukan dalam satu titik tempat.
"Bagaimana? Apa kau menemukannya?" tanyaku penasaran.
So menggeleng kaku.
Tak menyerah, aku ke pusat penjagaan. Aku sampai meminta data nama-nama pengungsi di tempat ini. Namun, data yang mereka berikan semuanya berbahasa Arab.
"Ayano-san, sepertinya dia bukan pengungsi di sini. Mungkin dia hanya datang berkunjung di tempat ini. Yang jelas, penampilannya tadi jauh berbeda dari saat kita menemukannya. Jauh dari kesan seorang warga pengungsian. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya lagi, dia terlihat baik-baik saja!"
"Begitukah? Lalu kenapa dia berada di tempat ini?" Mataku menatap jauh ke depan.
"Mungkin saja ... dia tengah mencari keluarganya yang hilang."
Jawaban So cukup menjawab pertanyaanku. Meski menyesal karena tak dapat melihatnya langsung, tetapi setidaknya aku telah mengetahui keadaannya. Sesuai yang dikatakan So, dia baik-baik saja dan penampilannya jauh dari awal kami bertemu. Itu artinya dia mendapatkan kehidupan layak di sana.
__ADS_1
Aku pun mendongak, menatap langit biru sebagai penggantinya.
Mina-chan, entah kau masih ingat aku atau tidak, aku ingin bertemu denganmu sekali lagi. Melihat dari jauh pun tak masalah. Yang penting, aku bisa memastikan keadaanmu secara langsung. Meski ini menjadi yang terakhir.
Aku dan So balik ke perkemahan kami untuk menulis berita laporan dari kamp pengungsian tadi. Aku membuka ponsel yang tidak kupegang selama semalaman. Ada banyak pesan masuk dari Yuna yang mengkhawatirkan aku. Wajar saja, aku tak mengabarinya sejak kemarin sore. Ketika hendak membalas pesannya, entah kenapa jari-jariku mendadak kaku. Aku pun memilih mengabaikan pesannya.
Aku membuka email yang masuk. Beberapa di antaranya dari redaksi media tempatku bekerja dan juga dari Zaheera. Astaga, aku hampir melupakan tujuanku ke sini!
Ada yang lebih penting dari sekadar memikirkan nasib hubunganku dengan Yuna atau rasa penasaranku pada Ameena. Ya, mengungkap fakta tersembunyi yang tidak diketahui orang-orang di luar sana.
Keadaan negara ini semakin kondusif. Bukan tidak mungkin kami akan ditarik pulang ke Jepang. Sebelum itu terjadi, aku bertekad untuk merilis berita tentang pelecehan seksual yang terjadi di beberapa kamp pengungsian.
Zaheera mengirimkan data yang berhasil diperoleh dari beberapa kamp pengungsian. Kami juga telah mendapatkan bukti foto semalam. Namun, ini semua masih belum cukup. Dalam melakukan investigasi, jurnalis harus kritis tapi tidak boleh cepat memvonis. Maka dari itu satu bukti pun tak cukup dengan langsung mengangkat kasus ini ke publik. Kami harus punya sikap skeptis dan rasa tak puas agar fakta yang ingin kami ungkapkan terus tergali.
Omong-omong, aku baru ingat kalau Zaheera kemarin mengatakan akan ke sini untuk membagikan bantuan makanan pokok.
"Terima kasih Zaheera. Apakah hari ini kau jadi ke kamp pengungsian perbatasan Yordania?" tanyaku membalas email-nya yang dikirimkan tiga jam lalu.
"Ya. Sayang sekali bantuan yang kami salurkan tidak sebanding dengan jumlah pengungsi yang sangat banyak. Masih banyak pengungsi yang belum mendapatkannya. Mereka mengalami krisis pangan dan kebutuhan harian. Beberapa gadis di pengungsian tadi, mengungkapkan kekhawatiran mereka. Mereka bilang, mungkin orangtua mereka akan memaksa mereka mendatangi lembaga bantuan untuk mengambil bahan makanan malam nanti. Menurutmu adakah yang bisa kita lakukan untuk mencegah pelecehan yang akan mereka hadapi?"
Aku berpikir sejenak, lalu membalasnya. "Kurasa kita harus membiarkan mereka pergi ke sana. Ini akan menjadi waktu yang tepat untuk mengambil bukti kebejatan petugas penyalur bantuan," balasku.
Aku tersenyum kecil. Gadis ini mempunyai rasa keadilan yang tinggi.
Aku kemudian kembali membalas pesannya. "Jangan khawatir! Di dunia ini ... ada beberapa hal yang bisa kita cegah."
"Tapi kau juga harus ingat, ada yang dinamakan takdir. Sekuat apa pun kita berusaha menghindar, jika sudah takdir maka akan terjadi, begitu pun sebaliknya." tulisnya kembali.
Takdir? Aku termasuk orang yang masih meragukan adanya takdir! Jika takdir itu ada, apakah ia akan berpihak pada hubunganku dengan Yuna? Jika takdir itu ada, masihkah aku memiliki kesempatan untuk dipertemukan dengan Ameena?
Dia kembali mengirimkan pesan padaku. "Jika kau butuh bukti yang lebih jelas, biar aku saja yang mencarinya."
Aku tersenyum miring. Dia cukup tangguh. Sayangnya, aku sudah punya rencana sendiri untuk mendapatkan bukti yang lebih akurat. Aku memilih untuk tak memberitahunya karena ini sedikit konyol. Namun, aku juga tak melarangnya untuk ikut membantuku mencari bukti lainnya.
Dua jam setelah saling berbalas pesan dengan Zaheera, So datang dengan membawa dua busana wanita yang kupinta.
"Ayano, aku berhasil mendapatkannya!"
"Wuah, kau hebat! Di mana kau membeli pakaian ini?"
"Aku tidak membelinya!"
__ADS_1
Mataku membulat. "Jangan bilang kau mencuri pakaian ini!"
So menggeleng. "Tentu tidak!"
"Lalu?"
"Aku ... meminjam busana ini dari warga penghuni pengungsian."
Aku memicing curiga. "Meminjam atau mengambil?"
"Tentu saja meminjam!" tegasnya.
Kepalaku mendekat ke arahnya dengan tatapan curiga. "Bagaimana caranya kau meminjam? Setahuku wanita yang memakai busana seperti ini tidak suka berinteraksi dengan pria."
So tersenyum lebar. "Maka dari itu aku meminjamnya diam-diam saat mereka menjemur pakaian ini!"
"Baka! Itu sama saja kau mengambilnya tanpa sepengetahuan mereka! Mereka mungkin akan menuduhmu fetish¹!" geramku.
"Kalau tidak seperti itu mana mungkin kita mendapatkannya. Sudah ... nanti kukembalikan lagi diam-diam. Yang terpenting rencana malam nanti bisa berjalan lancar."
Di malam kedua, aku dan So kembali melancarkan rencana. Saat ini, kami berada di deretan antrean pengambilan bantuan. Dengan memakai burkak, kami berbaur bersama para gadis yang ikut mengantre. Busana ini sangat membantu kami dalam melakukan penyamaran. Proses kerja dalam peliputan investigasi mirip detektif. Bahkan penyamaran pun perlu dilakukan dalam menggali fakta.
"Hei, Ayano, kira-kira apakah penyamaran kita ini akan berhasil? Bagaimana kalau kita tertangkap?" bisik So. Dari nada suaranya, aku bisa merasakan kecemasannya.
"Entahlah! Setidaknya jika kita gagal, kita tetap harus menyelamatkan perempuan yang ada di sini. Kau tahu apa yang harus kau lakukan nanti, kan?"
.
.
.
Jejak kaki 🦶🦶
fetish : Bentuk penyimpangan ketika seseorang terangsang/bergairah melalui suatu benda.
jangan lupa like dan komeng
__ADS_1