
Manuver mendadak yang kulakukan tak hanya membuat mereka terkejut, Ameena pun demikian. Pria yang dalam dekapanku tak berkutik, sementara pria satunya lagi tampak berang.
"Apa kau pasukan Amerika?" tanyanya.
"Menurutmu, apa aku terlihat seperti orang Amerika?" Aku balik bertanya sambil tersenyum miring.
Tatapan matanya mengarah ke rambutku.
"Turunkan senjatamu!" perintahku pada pria itu.
Lelaki itu masih memegang erat senapannya yang diarahkan pada kami.
"Kubilang turunkan senjatamu jika ingin kawanmu selamat!" tegasku.
"Jangan lakukan! Jangan menyerah pada musuh! Tembak saja kami berdua! Ayo, tembak kami berdua! Aku sudah siap mati!" teriak kawannya yang menjadi tawananku saat ini.
Mataku melebar seketika. Sial, dia malah meminta kawannya untuk tak gentar dengan ancamanku! Aku lupa mereka adalah kelompok siap mati. Jika seperti ini, aku dan Ameena berada di posisi yang berbahaya. Meski begitu, kawannya tampak ragu untuk menembak ke arah kami.
"Ayo, tunggu apa lagi! Tembak kami! Ini kesempatanmu untuk membunuh langsung salah satu pasukan Amerika!"
"Tidak! Dia bukan tentara Amerika! Dia bukan orang Amerika!" Ameena berteriak dari belakangku. Suaranya bergetar.
"Mina-chan," desisku pelan.
Kedua pria itu lantas terkesiap. "Jadi kalian saling mengenal? Kalian tinggal bersama?"
"Dia seorang jurnalis, dia hanya datang untuk mewawancarai aku dan anak-anak ini karena kami memilih hidup di pegunungan," jelas Ameena.
"Mereka berbohong! Keduanya saling mengenal nama dan seperti memiliki hubungan!" pria yang kutahan menyela ucapan Ameena.
"Bagaimana mungkin wanita muslim hidup bersama pria asing. Kalian harus diadili karena telah melakukan dosa besar! Serahkan diri kalian, kami berdua akan menjadi saksi di depan hakim ulama," teriak pria itu dengan sniper yang tetap siaga.
Lucu! Mereka berbicara soal dosa seolah lupa dengan niat bejat yang hendak dilakukan beberapa saat lalu.
"Tidak! Aku berkata jujur! Dia hanyalah seorang jurnalis biasa. Kami tidak melakukan hal yang kalian tuduhkan!" Ameena yang berada di belakangku terus berusaha membelaku
"Kalau begitu ... tunjukkan kartu pengenalmu!" perintah pria itu padaku.
__ADS_1
Permintaan pria itu membuat ucapan Ameena terlihat bohong. Ini karena aku sudah tak memiliki kartu identitas apa pun. Jadi, tak ada yang bisa kubuktikan.
Mengabaikan apa yang dimintanya, aku justru fokus untuk mencari cara keluar dari tempat ini. Posisi kami tak menguntungkan untuk berlama-lama di sini.
"Mina-chan, tetap berada di belakangku dan ikuti setiap langkah kakiku!" Aku memberi instruksi pada Ameena sambil terus menahan pria yang menjadi bagian dari anggota ekstremis.
Dengan tetap meletakkan pistol di pelipis kawannya, aku mulai menyeret langkah sedikit demi sedikit ke arah pintu. Ameena mengikuti instruksi dengan baik. Sambil memegang ujung bajuku, ia pun ikut bergeser di belakangku. Sebaliknya, pria yang memegang sniper masih bersiaga.
"Mina-chan lari!" teriakku.
Ameena lari lebih dulu melewati pintu. Pria itu lantas mengarahkan senapannya pada Ameena. Untungnya, ujung kakiku dengan cepat menutup pintu untuk menghalau bidikannya. Kudorong kuat pria yang berada di depanku ke arah pria yang memegang senjata. Aku lalu melompati jendela untuk menyusul Ameena. Tembakan kedua segera lepas tapi gagal menerpaku.
Pria itu berlari ke jendela dan berusaha kembali memuntahkan pelurunya. Namun, aku lebih dulu menembak tangannya hingga membuat senjatanya terjatuh. Pria yang sempat kutahan tadi, bergegas mengejar kami berdua. Kulepaskan peluru panas ke kakinya agar ia tak bisa memburu kami. Sejujurnya aku tak mau melukai siapapun. Namun, ini harus kulakukan demi keselamatan kami.
Aku dan Ameena berlari bersama. Sialnya, sebuah mobil tempur dengan bendera hitam yang berkibar di atasnya, berhenti tak jauh dari kami. Lantas, kami pun berbalik arah.
"Kejar mereka! Tangkap mereka hidup-hidup! Pria itu kemungkinan mata-mata!" teriak pria yang baru saja kutembaki kakinya.
Tak pelak, kami dikejar kelima orang yang baru saja turun dari mobil tersebut. Aku menoleh ke belakang sembari menarik pelatuk pistol. Sial, pelurunya telah habis!
Kami sukses menyeberangi sungai dan mulai naik ke daratan, kemudian berlari menyusuri tanah tandus yang bergunduk-gunduk. Aku dan dia mencoba menuruni perbukitan gersang ini dengan melewati pematang jalan.
Dari tempat yang kami pijaki, suara bom dan rentetan senjata mulai terdengar saling bersahutan sebagai tanda jika perang telah berkobar. Langit menjadi suram karena dinistakan oleh kepulan asap pekat. Di sisi lain, kami terus berlari tanpa arah yang pasti. Hanya ada dua pilihan saat ini, ke desa tempat di mana perang telah tercetus atau masuk ke area gurun pasir.
Ameena menahan pergerakanku saat aku hendak berbelok ke kiri. "Jangan ke sana, Khai! Itu wilayah gurun pasir!"
Kami berhenti sejenak sembari menoleh ke belakang. Mereka sudah semakin dekat. Kami tak mungkin turun ke desa yang menjadi zona perang antara kelompok ekstremis dan militer Amerika.
Kami pun nekat memasuki gurun pasir. Kami berlari di bawah sinar matahari yang sangat menyengat. Tak ada alasan untuk berhenti. Tak ada waktu untuk beristirahat. Tak ada tempat untuk bersembunyi. Yang bisa kami lakukan saat ini hanyalah terus berlari.
Langkah Ameena mulai tersaruk-saruk. Tiba-tiba dia terduduk di hamparan pasir. Aku lantas memintanya segera berdiri karena kelima orang itu masih terus mengejar kami. Namun, dia malah membatu sambil memandang lara ke arahku.
"Kau kenapa? Jika tak mampu, biar kugendong!"
"Lari! Larilah Khai!" pintanya.
__ADS_1
"Ayo lari bersama!" balasku serak.
"Sepertinya ... aku harus membiarkan mereka menangkapku. Dengan begitu, mungkin saja aku bisa bertemu anak-anak yang telah mereka bawa," ucapnya pelan. Bahkan sudah seperti ini, dia masih memikirkan nasib anak-anak.
"Tidak!" Aku menggeleng sembari berjongkok di hadapannya. "Aku tak akan membiarkan mereka menangkapmu. Aku tak akan membiarkan itu."
"Mereka di sana!" teriak seseorang yang ternyata salah satu dari anggota kelompok ekstremis.
Mereka berlari menuju ke arah kami. Dengan panik, Ameena memintaku untuk pergi meninggalkannya. Seperti terpaku, aku memilih diam dan tak bergerak.
"Mina-chan, aku telah memilih untuk tetap berada di sampingmu. Bahkan jika denganmu hanya mendatangkan sedikit kebahagiaan, aku tetap memilih bersamamu," ucapku sambil menancapkan pandangan ke bola matanya.
Kami saling berpandangan dalam kepasrahan. Tak peduli dengan mereka yang sudah semakin dekat. Di saat bersamaan, terdengar riuh desiran yang begitu memekakkan telinga. Angin seolah mengamuk, menghempas begitu kuat hingga mampu mengangkat pasir-pasir di sekitar kami. Kulihat, Ameena berusaha menahan pashmina yang menutupi kepalanya. Rambutku pun terasa hendak lepas dari kulit kepala.
"Itu haboob! Itu haboob!" teriak mereka.
(Haboob: sebutan badai pasir dalam bahasa arab dan sekitar Timur Tengah)
Dari jauh, terlihat gumpalan debu tebal nan pekat menyerupai gelombang ombak. Di waktu yang sama, badai yang datang dengan kecepatan tak terhitung itu tak hanya menyapu jutaan ton pasir dan debu di sekeliling, tapi juga menerjang kami semua. Tubuhku terayun ke sana kemari mengikuti arah angin. Seperti helaian kertas yang melayang-layang di udara. Mataku spontan terpejam saat wajah ini bertabrakan dengan jutaan partikel pasir.
Kurasakan tangan Ameena berpegangan di ujung bajuku. Aku menggapai tangannya. Hanya sebentar, cengkraman tangan ini melonggar secara bertahap. Serasa hampir lepas. Meski begitu, aku berusaha menggenggam jari-jarinya.
Empat jari. Tiga jari. Dua jari. Satu jari. Ya, hanya tersisa telunjuk jarinya yang dapat kugenggam. Bahkan peganganku tinggal bertahan di ujung kukunya saja. Pada akhirnya, semua sia-sia karena tautan tangan kami benar-benar terlepas. Aku seakan hanyut terbawa angin.
.
.
.
Catatan author ✍️✍️
Gak lama lagi petualangan bang Khai di Timur Tengah akan berakhir nih, gays. Seperti apa dan bagaimana akhir kisah masa lalu Kei Ayano? Dan bagaimana dengan kisah masa depan sang jurnalis ini? Ada siapa saja yang akan hadir di masa depan?
Nantikan....
__ADS_1