
Aku masih berlutut di depan jendela yang telah tertutup. Dengan satu tangan yang berpegangan pada papan jendela. Aku yakin Ameena masih berada di balik jendela ini. Setidaknya, aku bisa mendengar tarikan napasnya beriringan suara tangisan tertahan. Tangisan itu, apakah untukku?
Dengan pandangan tak berdaya, aku mengetuk pelan jendela sebanyak tiga kali.
"Mina-chan ...." panggilku serak.
Tak ada balasan.
Aku tersenyum tipis. "Apa kau pernah mendengar dongeng tentang dua pohon yang saling mencintai?"
Masih tak ada balasan. Tak apa-apa, aku akan menceritakan kisah ini sekalipun ia mungkin tak mendengarnya.
"Di sebuah hutan terdapat dua pohon besar yang tumbuh bersebelahan dengan jarak yang cukup jauh. Sebut saja mereka pohon Jantan dan pohon Betina. Hidup berdampingan selama bertahun-tahun, membuat pohon Jantan jatuh pada pohon Betina. Pohon Betina pun tampak mengirimkan sinyal yang sama pada pohon Jantan. Mereka hanya saling menatap, tanpa bisa saling menyentuh."
Hening sesaat ketika aku menghela napas sejenak. Pandanganku masih setia pada jendela kayu itu. Aku membasahi bibirku, kemudian melanjutkan cerita.
"Keinginan kuat pohon Jantan untuk bersatu dengan pohon Betina, membuatnya berusaha keras mengayunkan tubuhnya dengan bantuan angin hingga memperlebar akar agar bisa mencapai pohon Betina. Sayangnya, semua itu sia-sia. Beberapa pohon tiba-tiba tumbuh di antara mereka. Seiring tahun, pohon-pohon itu mulai besar dan semakin menghalangi mereka untuk bersatu. Sedangkan pohon Jantan yang semakin tua, mulai ditinggalkan daun-daunnya hingga menyisakan dahan yang kering kerontang. Ini membuatnya khawatir jika hidupnya mungkin tak akan lama lagi yang artinya dia akan meninggalkan sang pohon Betina. Suatu hari, terjadi kebakaran hutan yang membuat seluruh pohon yang ada di sana hangus tak tersisa termasuk pohon Jantan dan Betina. Namun, ini membuat pohon Jantan sangat senang karena keinginan mereka selama ini akhirnya terwujud. Abu mereka bersatu dan terbang bersama di udara."
Senyum tipis mengambang di bibirku seusai mengakhiri kisah itu. Namun, ini bukan tentang pohon. Ini tentang aku dan kamu yang tak bisa menjadi kita. Aku merepresentasikan pohon Jantan sebagai diriku dan dia sebagai pohon Betina.
Aku lalu turun dari tempat duduk dan mulai mempersiapkan diri untuk pergi. Beberapa menit kemudian, Omar datang menghampiriku selepas latihan.
"Apa yang kau lakukan? Aku mencarimu dari tadi, ternyata kau di sini," tanya Omar.
"Hanya menyelesaikan pembuatan mainan kuda-kudaan goyang untuk adik-adikmu. Ini sedikit berisik. Takutnya akan membangunkan mereka. Makanya aku membuatnya di dekat sungai," balasku sambil memalu paku pada papan.
"Kenapa tidak besok saja? Seperti tidak ada waktu saja! Ayo, kita tidur! Aku juga lelah. Besok saja, ya, lanjut latihannya."
"Kau saja yang duluan tidur!"
"Ya, sudah!" Omar pun berbalik dan kembali ke gubuk.
Aku tertegun beberapa saat sambil memandang sendu punggung bocah laki-laki itu. Kulanjutkan pekerjaanku meski malam semakin larut. Tak hanya membuat mainan kayu, aku juga membuatkan meja persegi panjang sebagai tempat mereka belajar. Begitu semuanya selesai kubuat, aku lanjut menimba air di sungai untuk diisi ke penampungan air yang terdapat di pekarangan samping gubuk. Tujuannya, agar mereka tak perlu repot ke sungai di pagi buta untuk mensucikan diri sebelum beribadah.
__ADS_1
Setelah pembicaraan itu, aku memutuskan pergi meninggalkan mereka sesuai permintaan Ameena. Aku pun pergi meninggalkan mereka sebelum pagi buta menyerang. Kata pamit atau pun maaf tak sempat keluar dari mulutku. Anak-anak mungkin akan terkejut ketika tahu aku sudah tak ada. Sebelum bertolak, kutengok sekali lagi gubuk tua itu. Khayalanku untuk hidup bahagia bersama mereka harus terkubur.
Dengan berbekal uang yang diberikan Ameena, aku memutuskan pulang ke Damaskus hari ini. Tepat saat matahari mulai menempati singgasananya, aku berhasil turun dari gunung dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Di beberapa titik tempat, tampak beberapa tentara dari Amerika masih berjaga-jaga. Wilayah ini masih porak poranda akibat peperangan. Beberapa penduduk mulai kembali walaupun hanya sekadar mengambil barang mereka yang tersisa untuk dijual.
Di sisi lain, aku melihat beberapa wanita dan anak-anak tampak terburu-buru masuk ke dalam mobil pikap. Aku melewati dua bapak-bapak yang tengah melakukan perbincangan serius sambil mempersiapkan keberangkatan keluarga mereka.
"Apa kau sudah melihat berita pagi tadi? Kelompok ekstremis mengumumkan ke seluruh dunia bahwa mereka akan menaklukkan wilayah Suriah menjadi sebuah negara yang bergabung dengan Irak di bawah kekuasaan mereka. Ini berbahaya! Kehadiran mereka akan mengancam wanita dan anak-anak. Aku khawatir kali ini kita akan terjebak pada perang kelompok ekstremis dan militer Amerika. Anak-anak akan dipaksa ikut berperang sementara wanita akan dijadikan budak nafsu mereka," kata pria bergamis putih.
"Benarkah itu?" tanya temannya kurang yakin.
"Mereka sudah mulai memasuki area pegunungan wilayah kita!"
Sontak, aku yang mendengar obrolan mereka pun ikut terperanjat. "Apakah itu benar? Apa benar mereka telah memasuki wilayah pegunungan ini?" tanyaku panik pada bapak itu.
"Ya, tentara Amerika baru saja menghimbau warga agar mencari tempat yang aman untuk mengantisipasi teror dari kelompok tersebut. Sepertinya Amerika juga telah bersiap memerangi kelompok itu."
Mendengar itu, mataku pun melebar. Kecelakaan pilu yang menimpa Khalila kembali terkilas di ingatanku. Pantas saja, kelompok ekstremis tiba-tiba muncul dan menyerang mobil tentara Amerika yang ikut menewaskan Khalila. Keikutsertaan Amerika dalam perang kemarin tak hanya membuat Rusia dan pemerintah Suriah geram, tapi juga membangunkan kelompok ekstremis yang selama ini bersemayam di perbatasan Irak dan Suriah. Kelompok ekstremis yang tidak berada di kubu mana pun, menganggap Amerika adalah musuh utama yang harus diperangi.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung berbalik dan berlari sekuat tenaga. Aku memutuskan kembali ke tempat tinggal Ameena. Apakah ini yang menjadi alasannya memintaku segera pergi? Apakah dia ingin melindungiku?
Kelompok ekstremis ini paling berbahaya di antara kelompok serupa lainnya yang bersemayam di Timur Tengah. Meski baru terbentuk tiga tahun yang lalu, mereka telah mampu membeli kendaraan tempur, senjata, dan piawai dalam hal teknologi. Mereka tak kenal belas kasih pada orang-orang yang tak seideologi, menangkap dan menjual wanita serta mendoktrin anak-anak untuk dilatih menjadi bagian dari pasukan militan. Mereka juga kerap menangkap dan menyandera para wartawan dan jurnalis untuk diminta tebusan yang besar.
Keberadaan mereka di sana tentu saja menghalangiku untuk sampai ke tempat Ameena. Tak hilang akal, aku pun mengumpulkan ilalang yang banyak kemudian mengikatnya ke lingkaran kepala, atas punggung dan pinggulku. Ini teknik menyamar dan mengelabui musuh yang kulakukan saat menjadi pasukan bela diri Jepang. Setelah menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk mengumpulkan ilalang yang membantu penyamaranku, aku mulai melakukan gerilya dengan bertiarap di hamparan Padang hijau nan luas.
Aku berhenti bergerak dan langsung menenggelamkan wajahku ketika ada mobil yang melintas begitu dekat dengan posisiku saat ini. Butuh kesabaran dan kehati-hatian untuk bertiarap di Padang rumput ini agar tak terlihat oleh mereka.
Sedikit lagi. Ya, sedikit lagi aku akan tiba di penghujung tempat ini.
Setelah berhasil melewati Padang ilalang, aku memutuskan menyeberangi sungai untuk memotong jalan. Setengah badanku basah karena terkena pancaran air. Pondok kecil yang ditinggali Ameena telah terlihat. Aku mengencangkan lariku. Semakin dekat. Hingga sukses menginjak daratan.
Aku melihat Ameena dan anak-anak tampak mempersiapkan diri untuk pergi. Sepertinya mereka juga sudah menyadari pegunungan ini sudah tak aman lagi untuk ditinggali.
"Kakak!" sebut salah satu anak dengan tatapan ke arahku.
__ADS_1
Aku terkulai lemas di atas tanah sambil mengatur napasku. Ameena berjalan tergesa-gesa ke arahku lalu berjongkok tepat di hadapanku.
"Khai ...."
"Aku datang kembali. Apakah ini bagian dari rencana takdir?" ucapku pelan sambil mengangkat kepalaku.
Ameena menatapku lekat-lekat dengan mata yang berkaca-kaca.
"Dasar bodoh!"
"Ya, itulah aku!" Aku tertawa hambar.
"Apa kau tidak sadar tempat ini berbahaya untukmu!" Suara Ameena bergetar, sedikit menahan kekesalan.
"Tidak apa-apa. Aku memang suka menempatkan diriku dalam bahaya."
"Pulanglah ke Damaskus, jangan pedulikan kami!" desak Ameena dengan wajah yang diselimuti kekhawatiran.
"Tenang saja ... aku memang akan pulang ke Damaskus, tapi ... dengan membawa kalian!" tegasku.
Sebuah lelehan bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Kali ini ia hanya memandangku dengan nanar.
"Mina-chan, ikutlah melarikan diri bersamaku! Entah apa yang terjadi ke depan, mari hadapi bersama!"
Ameena mengangguk pelan sembari menggigit ujung bibirnya. Berkali-kali dia mendorongku agar menjauh darinya, tapi berkali-kali itu juga aku tertarik kembali ke sisinya. Seolah ada medan magnet yang mampu mengeratkan kami.
Mina-chan, jika hidup bersama terasa sulit bagi kita, maka pilihanku selanjutnya adalah mati bersama ....
.
.
.
__ADS_1
Like dan komeng