Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Bab 32 : Seperti Bulan Purnama


__ADS_3

"Ayano ...."


"Ayano ...."


Dalam lelapku, samar-samar terdengar suara orang yang memanggilku. Sayangnya, mataku cukup berat untuk mengerjap saat ini.


"Ayanooooo!" Teriakan So yang begitu menggelegar dan memekik telinga, sontak membangunkan aku dalam posisi terduduk.


Aku mengusap mata berkali-kali untuk menjernihkan penglihatan. Mulutku terbuka lebar, melepas kantuk yang masih menghinggapi diri ini. Sejak beralih profesi menjadi jurnalis, bangun terlambat merupakan bagian dari kebiasaan burukku. Mungkin karena aku terlalu sering begadang.


"Eh? Di mana ini?" tanyaku yang masih berusaha memulihkan kesadaran. Kepalaku lantas memutar ke kiri dan kanan.


"Tentu saja di tenda. Apa kau pikir ini di Kahyangan?"


Aku menatap So yang tengah mengemas barang-barang.


"So, kau selamat? Kau baik-baik saja, kan?" tanyaku sambil memegang kedua pundaknya.


"Tentu saja! Aku lebih dulu tiba di sini dan berhasil menyelesaikan misi kita. Aku bahkan berkenalan dengan salah satu dari mereka," ucap So dengan senyum gelitik. Tak sampai sedetik, ia langsung mengubah intonasinya. "Justru kau yang membuatku khawatir karena tak kunjung pulang! Aku takut kau kenapa-kenapa! Untunglah, pas bangun kau sudah tertidur pulas di sampingku."


"Maaf membuatmu khawatir."


"Kau tahu, PBB telah mengumumkan ke publik dan media kalau kamp bantuan internasional mereka diserang malam tadi. Pastikan kau tidak meninggalkan jejak apa pun semalam. Oh, iya, sepulang dari sana aku mendapat teleponnya dari Eiji. Mereka meminta kita untuk pulang hari ini karena pimpinan menyuruh kita untuk melakukan liputan khusus di Ghouta Timur. Pagi-pagi sekali aku pergi ke terminal untuk berburu tiket. Kita akan berangkat sekitar setengah jam lagi. Jangan lupa ganti uang tiket yang sudah kubayarkan untukmu!"


Aku bergeming sesaat. Kucoba memundurkan ingatan.


Semalam, aku dan Ameena berhasil menghindari kejaran militer dengan bersembunyi di pohon. Lalu, kami cukup lama berdiam diri di sana sambil memandang bulan. Begitu keadaan kurasa cukup aman, kami pun memutuskan turun dari pohon.


"Mina-chan, ayo lompat!" pintaku setelah lebih duluan turun ke bawah.


Ameena tampak ragu untuk melompat. Bahkan mimik wajahnya terlihat tegang. Aku mengumpulkan dedaunan kering tepat di bawahnya.


"Jangan takut! Tanahnya empuk, tidak ada batu!" ucapku sambil menghentak-hentakkan tanah dengan kakiku.


Sambil menutup mata, dia melompat ke bawah. Aku yang telah siaga di bawah, berusaha menangkap tubuhnya. Kami sama-sama terjatuh dalam posisi aku berada di bawah dan dia di atasku.


"Ah, kenapa kau tidak memberi aba-aba kalau ingin melompat. Lihat, aku tidak sempat menyingkir," ucapku berlagak protes.


"Afwan ...." Ia tampak merasa bersalah karena nada suaraku terdengar menggerutu.


Dia bergegas bangkit berdiri. Aku hanya bisa tersenyum dari balik burkak karena berhasil mengelabuinya. Tentu saja ini hanya bagian dari modusku. Ya, aku rela menjadikan tubuhku sebagai alas tempatnya jatuh.


Kami berhasil menyusup masuk ke kamp pengungsian di saat fajar hampir datang dan orang-orang mulai bangun untuk melaksanakan ibadah. Tak ada yang mencurigai kami karena sebagian besar pengungsi telah memulai aktivitasnya di pagi buta. Ini cukup menjelaskan kebersamaan kami semalam lebih dari satu jam. Aku lalu menanggalkan pakaian wanita yang kupakai di salah satu jemuran pengungsian.


Di sanalah juga aku dan Ameena akhirnya berpisah dan kembali ke tempat masing-masing. Namun sebelum itu, kami membuat janji untuk bertemu di tempat itu lagi saat pagi menyongsong.


"Tunggu, jam berapa sekarang?" tanyaku pada So setelah aku berhasil memulangkan ingatan semalam.

__ADS_1


"Sudah hampir jam sembilan."


Mataku terbelalak seketika. Astaga, aku harus menemui Ameena sekarang. Dia pasti sudah menungguku dari tadi. Aku bergegas berdiri sambil memperbaiki rambut yang berantakan.


"Hei, hei, kau mau ke mana?" So menahanku saat aku hendak keluar dari tenda.


"Aku mau ke kamp pengungsian. Aku sudah membuat janji bertemu dengannya sekarang!"


"Dia siapa?"


"Ameena. Wanita yang kutolong waktu itu! Aku bersamanya semalaman," ucapku dengan nada yang tergesa-gesa.


So kembali menahanku saat aku hendak pergi. "Ettt ... kita akan segera berangkat. Jika kau ke sana kita bisa ketinggalan bus. Lihat, aku bahkan sudah mengemas barang-barangmu!"


Aku memegang tangan So. "So, kumohon!" pintaku memelas.


"Lalu bagaimana kalau bus itu meninggalkan kita?"


"Kau bisa lebih dulu ke sana, aku akan segera menyusulmu. Jika aku terlambat, mintalah mereka untuk menungguku."


"Ya, sudah! Pergilah cepat!"


"Terima kasih, So!" Aku memeluk So dengan erat, lalu melingkarkan kerudung Ameena di leherku.


Aku berlari cepat begitu keluar dari tenda. Namun, baru beberapa meter langkah kakiku terhenti saat melihat Yoshizawa yang berjalan ke arahku.


"Kau bisa lihat sendiri, kan, aku baru keluar dari tenda," balasku dengan nada sinis. Setelah pembicaraan waktu itu, aku tak bisa lagi bersikap layaknya seorang teman.


Yoshizawa membuang muka sambil tertawa ringkih. "Pertanyaanku bukan tentang sekarang. Ini tentang semalam, dari mana saja kau semalam? Sepertinya kau dan temanmu tidak ada di tenda."


Wajahku spontan menggelap. Namun, tak berlangsung lama aku langsung tersenyum kecut.


"Kami adalah pemburu berita. Tentu saja kami ke sini bukan untuk bertapa di dalam tenda."


"Pasti kau sudah mendengar tentang penyerangan di kamp bantuan PBB semalam, kan?"


"Ayano, kenapa kau masih di sana? Bukankah aku menyuruhmu segera ke sana!" Teriakan So dari belakang mengejutkan aku.


Aku menatap Yoshizawa tanpa berkata apa pun, kemudian pergi meninggalkannya. Kakiku segera berlari menuju lokasi pengungsian. Ameena mungkin sudah menungguku dari tadi. Sangat tidak rela rasanya aku menemuinya hanya untuk berpisah lagi. Namun, jika ini yang terakhir kalinya bukankah aku tak boleh melewatkan kesempatan?


Aku sudah sampai di tempat ini. Aku membungkuk sambil mengatur napas. Kuluruskan badan dengan mata yang berpendar ke sekeliling. Di mana Ameena? Aku tidak melihatnya. Apakah dia lupa? Ataukah ... jangan-jangan dia sudah lelah menungguku. Jangan bilang, dia telah pergi dari tempat ini! Arrght, pikiranku kusut berkecamuk!


Aku sampai nekat menghampiri beberapa wanita yang perawakannya mirip seperti Ameena. Aku berjalan gontai di tengah beberapa orang yang sibuk berlalu lalang. Tampaknya, dia sudah pergi dari tempat ini.


"Khai!"


Tunggu! Aku mendengar suara teriakan Ameena. Aku menoleh ke kiri dan kanan, memutar badan ke segala arah mencoba mencari keberadaannya. Tidak ada!

__ADS_1


"Khai! Khai!" Teriakan itu terdengar sekali lagi.


Aku berbalik cepat, tepatnya ke arah akses keluar kamp ini. Aku melihatnya! Aku melihat Ameena melongok dari jendela mini bus yang hendak membawanya pergi dari tempat ini. Seketika, aku mengejar mini bus yang berjalan lambat itu. Berusaha lari sekuat tenaga untuk menyusul mobil itu. Langkahku berhasil menyamakan jalannya bus.


"Mina-chan, kau akan pergi dari sini?" tanyaku memakai bahasa Arab sambil terus berlari agar tak tertinggal.


Ameena mengangguk dengan sepasang alis yang tampak turun.


"Ke mana? Apa aku boleh tahu?" tanyaku lagi.


Dia tak menjawab. Hanya diam dan tertunduk mencoba menyembunyikan raut sendunya. Aku melompat naik dan bergelantungan tepat di jendela samping tempat duduknya. Ameena yang terkejut dengan aksiku ini lantas buru-buru menutup jendela yang sempat terbuka. Dia juga sempat menoleh ke sekitar tempat duduk seolah takut terlihat orang-orang.


Aku dan dia salin berpandangan dalam jarak yang sangat dekat dan hanya dibatasi oleh kaca jendela. Satu tanganku kutempelkan ke kaca tersebut, di tempat di mana ia juga menempelkan tangannya. Ini membuat telapak tangan kami seolah saling bersentuhan. Sebelah tanganku berpegangan kuat di atap mobil agar tubuhku masih tetap bergelantung.


Bola mata kami masih bersirobok. Aku tidak ingin perpisahan kami yang kedua kali ini mendatangkan penyesalan seperti sebelumnya. Setidaknya, aku harus mengatakan sesuatu padanya, tapi bukan kalimat perpisahan.


Aku meniupkan uap dari mulutku ke jendela kaca, lalu menuliskan sebuah kalimat tanya.


"May i be your friend?


(Bolehkah aku jadi temanmu?)


Dia mengenyitkan dahi. Tampaknya dia tak memahami kata-kataku atau mungkin kesulitan membaca tulisan ini. Aku menghapus kalimat itu, untuk menggantinya dengan tulisan baru. Sial, tanganku yang memegang atap bus hampir terlucut. Aku berusaha naik ke atas. Sia-sia! Peganganku sudah tak kuat.


Di sisa-sisa pertahananku, aku meniupkan kembali uap dari mulutku. Tubuhku semakin turun ke bawah. Peganganku tinggal di ujung jari. Tanpa bermaksud apa pun, aku lantas mengukir lambang hati di jendela tersebut sebagai jejak terakhirku, sebelum tanganku benar-benar terlepas dari pegangan bus dan tatapan Ameena menghilang dari pandanganku.


Tepat saat kakiku telah berpijak di jalanan yang beraspal, Ameena malah melongok ke jendela tersebut sambil melambaikan tangannya.


"Khai, jaa mata, ne!" Kata terakhir melompat dari bibirnya.


(Jaa mata dalam bahasa Jepang artinya sampai jumpa lagi)


"Jaa!" balasku sambil ikut melambaikan tangan.


Mini bus itu perlahan mulai menjauhiku. Aku masih terpaku dengan sepasang mata yang terus mengawal kepergian Ameena. Sejujurnya, ada banyak yang ingin kutanyakan padanya. Di mana tempat tinggalnya sekarang? Apakah kawan-kawan mendiang suaminya memperlakukannya dengan baik? Kenapa dia datang ke pengungsian ini? Dan ... apa yang membawanya berada di tempat itu semalam? Aku sungguh penasaran!


Seperti sebelumnya, dia pergi dengan meninggalkan banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Kepergiaannya juga berhasil membawa rasa kehilangan di hati ini. Ya, begitulah dia ... wanita sederhana yang meneduhkan, seperti bulan purnama yang berani tampil apa adanya dengan cahayanya yang tidak begitu terang, tapi membawa kedamaian dalam kegelapan.


Mina-chan, kita masih akan bertemu lagi, kan?


.


.


.


__ADS_1


Visual Ameena setelah jajak pendapat di GC jatuh pada gambar ini. kupikir foto ini juga paling mendekati deskripsi tokoh Ameena yang sederhana, pendiam, dan bersahaja. Dengan mata biru dan kulit putih pucat. Kalo menurut kalian cocok, enggak.


__ADS_2