Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 34 : Jangan Bodoh Mencintaiku, Yuna ....


__ADS_3

Ada saatnya, di satu titik kita akan membuat pasangan merasa tersakiti walau tak bermaksud menyakitinya. Inilah yang kulakukan pada Yuna saat itu.


.


.


.


Aku mengajak Yuna jalan-jalan berkeliling karena ini adalah waktu luang kami. Dia banyak bercerita tentang aktivitasnya selama aku pergi. Ternyata dia sempat hampir ikut terkena ledakan di tempatnya bertugas. Hal itu membuatku semakin merasa bersalah. Jika bukan karena aku, tentu dia tak akan menginjakkan kaki di negara perang ini. Lebih mirisnya lagi, dia sampai harus menunda pendidikan spesialisnya.


Kami menaiki bukit yang tak jauh dari lokasi gedung asramanya. Aku berjalan lebih dulu, menuntunnya dari depan dengan tangan yang saling berpegangan erat agar dia tak jatuh. Di bukit itu kita bisa melihat kota Damaskus secara keseluruhan. Hingga berada di puncak, tangan kami masih saling bertautan. Bukti jika hubungan kami masih hangat hingga kini.


"Hah ... kurasa aku jarang berolahraga sampai mendaki bukit pendek seperti ini saja sudah melelahkan!" keluh Yuna membungkuk dengan kedua tangan yang berada di pinggangku.


Aku berbalik, mengambil sapu tangan dari saku celana untuk mengusap peluh yang bercucuran di sekitar wajahnya.


Yuna memegang tanganku sambil berkata, "Kau masih seperti dulu. Begitu perhatian!"


Aku memandang lurus ke depan dengan sepasang alis yang nyaris menyatu. Bingung. Bagaimana caraku memulai obrolan dari hati ke hati dengannya? Selama ini aku selalu melarikan diri dari kenyataan kalau hubungan kami tak memiliki tujuan.


Aku berjongkok sambil mengambil sebatang rokok yang kemudian kuapit di sela bibir. Kunyalakan ujungnya dengan pemantik kemudian kuhisap dalam-dalam zat bernikotin itu. Yuna duduk membelakangiku dengan kaki berselonjor ke depan sambil menyandarkan badannya di punggungku.


"Yuna-chan, apa kau masih ingat ketika kita sering menghabiskan jam istirahat di puncak gedung sekolah?" tanyaku sambil ikut duduk berselonjoran dengan saling membelakangi.


"Ya, kau selalu suka berada di ketinggian untuk mencari inspirasi. Sementara aku harus menjagamu dari gadis-gadis yang ingin mendekatimu."


Aku tertawa hambar sambil terus mengisap rokok. "Aku bahkan sampai tak tahu kalau aku sepopuler itu di sekolah."


"Sesuai namamu ... Kei yang artinya unggul, bijak dan penuh berkat. Itulah dirimu. Apa kau ingat, seisi kelas gempar karena mengetahui kita berpacaran!" Yuna mencoba mengingatkan masa-masa awal kami menjalin hubungan.


"Kurasa bukan hanya seisi kelas, bahkan seluruh murid di sekolah tahu kita berpacaran."


"Kita cuma punya waktu berpacaran di sekolah. Kau terlalu sibuk mengurus klub judo dan mengikuti pertandingan. Dan setelah lulus pun, kita terpaksa menjalin hubungan jarak jauh."


"Saat berada di asrama aku menggunakan jam istirahat untuk meneleponmu. Aku ingat, saat meneleponmu malam-malam, tapi yang mengangkat telepon malah temanmu dan mengatakan kalau kau sedang berada di Rumah Sakit. Karena panik dan takut terjadi sesuatu padamu, aku sampai nekad keluar dari asrama secara diam-diam untuk menemuimu."


"Dan ternyata kau salah mendengar informasi. Aku ke Rumah Sakit karena sedang praktek."


"Setelah pulang, aku harus menerima hukuman. Bahkan Yoshizawa dan rekan sekamarku lainnya juga ikut dihukum karena dianggap bersekongkol membantuku keluar dari asrama." Alih-alih membicarakan masa depan hubungan kami, aku malah terjebak dalam kenangan yang telah kami lewati bersama.

__ADS_1


"Ah, aku jadi rindu melihat kepalamu yang plontos. Kau jauh terlihat seksi seperti itu dibanding dengan rambut pirang seperti sekarang." Tawa kecil Yuna terdengar.


"Andaikan setelah selesai dari pelatihan militer aku langsung menikahimu, mungkin sekarang kita sudah memiliki anak," ucapku pelan.


"Hei ... itu terlalu muda bagi usia kita. Saat ini saja kita baru berusia dua puluh lima tahun. Aku masih ingin kita seperti ini untuk lima sampai sepuluh tahun ke depan. Yang penting kita saling mencintai dan terus menjaga kesetiaan. Lagi pula, kita bisa tinggal bersama tanpa perlu menikah. Bukankah begitu?"


Untuk ke sekian kalinya, Yuna seakan mematahkan keinginan dan harapanku untuk berkomitmen lebih jauh. Ini membuatku menyadari kalau yang dikatakan Yoshizawa itu benar adanya. Hubungan kami tak memiliki masa depan.


"Yuna-chan, maafkan aku ...."


"Eh? Kenapa tiba-tiba meminta maaf?"


"Kurasa ... untuk ke depannya ... hubungan kita sulit berlanjut." Ketahuilah, kalimat ini tidak panjang, tetapi terasa sulit untuk kulontarkan.


Yuna berbalik dan menoleh ke arahku. "Bicara apa kau ini?" Ia malah mencubit pinggangku seolah-olah kami sedang bersenda gurau.


"Aku sudah memikirkannya," ucapku sambil menunduk sambil membasahi bibirku yang kering.


Melihat rautku yang begitu serius, kurasa senyum di bibir Yuna lantas memudar. Dia lalu berpindah posisi dari belakang ke depan agar kami bisa saling berhadapan.


"Kei-kun! Ada apa? Ayolah, kau terlalu banyak pikiran dan beban pekerjaan." Tangan kecil Yuna membungkus punggung tanganku.


Aku lama terdiam dengan pandangan ke bawah. Entah kenapa suasana di antara kami mendadak terasa suram.


"Ya, katakan saja!" ucapnya tak sabaran.


"Waktu aku tersesat selama empat hari di Padang Pasir, sebenarnya aku sedang bersama seorang wanita. Dia wanita yang kutolong saat sedang—"


"Soal itu aku sudah tahu dari kawan-kawanmu," potong Yuna tiba-tiba. "Kau ke sana karena mengantar dia ke pengungsian, kan? Tapi kalian terpisah saat terjadi penyerangan di kamp pengungsian itu."


"Tidak. Mereka salah. Dia terus ada denganku selama empat hari. Kami menghadapi rintangan bersama, tapi harus terpisah di tempat kalian menemukanmu. Dia lebih dulu pergi dan hanya meninggalkan kerudung hitam yang sempat kau gunakan," ucapku dengan intonasi lambat.


Kali ini tak ada tanggapan apa pun dari Yuna. Raut wajahnya pun tampak masih biasa saja.


"Lalu ...." sambungku sambil menarik napas sesaat, "kami kembali bertemu kemarin. Kami menghabiskan waktu semalaman penuh sebelum aku pulang ke Damaskus."


Yuna masih bergeming. Namun, aku bisa melihat pupil matanya melebar dengan ekspresi yang membatu.


"Menghabiskan waktu semalaman penuh?" Dia mengulang kalimat terakhirku.

__ADS_1


"Hum ...." Aku mengangguk tanpa ragu.


"Apa maksudmu mengatakan ini padaku?" Suara serak Yuna terdengar. Terdengar jauh lebih suram dari nada suaraku.


"Kurasa aku harus menceritakan ini padamu. Maaf ...." Aku kembali tertunduk. Sebenarnya, aku hanya tak siap melihat kesedihan di bola matanya.


Dia mengalihkan pandangan lalu tertawa kecil. "Aku bisa mengerti. Jangan khawatir, ini tidak masalah bagiku!" ucapnya terbata-bata seperti tengah menahan sesak.


Aku menaikkan pandanganku. Dia membuat respon yang tak terduga. "Kurasa kau tidak mengerti maksudku."


Dia mengangkat tangannya membentuk simbol oke. "Kurasa tidak ada yang perlu dipermasalahkan jika pasangan melakukan kekhilafan. Ayahku bahkan pernah khilaf juga. Jangan khawatir, aku bisa mengerti! Kau sudah jujur padaku dan aku menghargai itu!" ucapnya dengan nada cepat diiringi senyum yang memaksa.


Aku terkesiap. Tidak! Ada yang salah dengan ini semua! Seharusnya dia marah atau membenciku. Bukan melazimkan sesuatu yang tak sehat dalam sebuah hubungan. Sepuluh tahun mengenalnya, aku baru tahu kebodohannya ada saat ia mencintaiku.


"Yuna-chan, maafkan aku ... dari lubuk hatiku, aku masih ingin mengulang pertemuan kami. Saat bersamanya, aku bahkan hampir tidak mengingatmu. Jadi, kurasa kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini." Kupikir ini adalah alasan perpisahan yang paling tepat meskipun terkesan kejam. Ya, aku bersikap layaknya seorang pria brengsek yang mencampakkannya demi wanita yang baru kutemui.


Yuna mengambil posisi berdiri dengan cepat, kemudian tertawa hambar. "Dasar bodoh! Lain kali jika kau mau bermain dengan wanita lain, tidak perlu beritahu aku," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia berbalik cepat sambil menengadahkan kepala.


"Yuna-chan ...." Aku memanggilnya dengan nada serak dan pasrah.


"Tidak masalah jika ... kau menginginkan ... hubungan yang terbuka. Aku tahu ... lelaki cenderung bosan dan ingin mencari sesuatu yang baru." Kali ini ucapannya sedikit terbata-bata.


Mana boleh dia membiarkan aku seperti itu? Meski aku penganut kebebasan, tapi aku masih menerapkan prinsip dalam berhubungan.


"Jangan mempersulitku! Seharusnya kau tidak perlu mengejarku sampai di negara ini!" ucapku dengan sedikit tegas.


Dia masih membelakangiku. Aku bisa melihatnya mengusap mata. Dalam ketidakberdayaan ini, aku menatap punggung Yuna yang tampak berguncang menahan pilu. Kucoba menghampirinya. Dia tarus mengusap matanya.


"Yuna-chan, kita akhiri saja, ya?" Suaraku hampir tak keluar di ujung kalimat.


"Astaga, aku lupa! Hari ini aku masih harus mengontrol pasien anak-anak! Maaf, aku harus segera kembali. Aku akan meneleponmu malam nanti, jangan lupa habiskan suplemenmu." Bukannya memutuskan setuju atau tidak, dia malah melarikan diri dari topik. Aku tahu ini adalah cara dia menolak permintaanku.


Dia berbalik cepat sambil buru-buru meninggalkan tempat itu tanpa merespon ucapan terakhirku. Baru berjalan beberapa meter, ia malah jatuh terduduk. Aku bergegas berlari menghampirinya. Dia berusaha berdiri tanpa menghiraukan aku yang hendak membantunya.


Aku berjongkok di depannya, lalu memaksanya naik ke punggungku. Sepanjang menggendongnya menuju ke asrama, kami tak berbicara sama sekali. Namun, aku dapat merasakan linangan air matanya yang tak henti menetes membasahi pundakku.


Saat membuat keputusan, kupikir akulah yang akan menjadi orang paling menyedihkan karena harus mengakhiri hubungan ini secara terpaksa. Nyatanya, justru Yuna-lah yang paling menyedihkan.


Sejujurnya, aku tidak yakin memiliki perasaan romantis pada Ameena. Kisahku bersama Ameena seharusnya bukan menjadi alasanku ingin mengakhiri hubungan ini. Aku hanya tak ingin keputusanku ini membuat Yuna menyalahkan ayahnya. Jika alasanku karena ayahnya, bukankah itu hanya akan membuat Yuna semakin membenci ayahnya?

__ADS_1


Tidak mudah melepaskan hubungan yang sudah terjalin begitu lama. Tidak mudah melupakan kenangan yang terbentuk setiap tahun. Namun, jika ini terbaik untuknya, biarkan aku yang bertindak sebagai antagonis di cerita kami. Sialnya, dia benar-benar menjadi protagonis yang sempurna. Sebagaimana tokoh protagonis yang selalu digambarkan baik hati dan pemaaf meski telah disakiti antagonis, begitulah sikapnya padaku.


Yuna-chan, ketahuilah aku tak bermaksud menyakitimu. Aku melakukan ini semua agar kau mau meninggalkan negara berbahaya ini, kembali pada orangtuamu dan melanjutkan pendidikanmu. Terima kasih atas pengorbananmu selama ini. Darimu, aku belajar mencintai dan juga melepaskan ....


__ADS_2