Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 61 : Ichi Rittoru no Namida


__ADS_3

Braakkkk!


Pupilku membesar seketika. Jantungku terpukul. Lututku melemas. Bahkan tubuh membeku beberapa saat. Tabrakan hebat yang disengaja terjadi di depan mataku. Begitu dahsyat, hingga mobil tentara Amerika terpental sejauh tiga meter ke depan dan menghantam pohon besar di depannya. Menghancurkan bagian depan dan belakang mobil hingga tak berbentuk dalam hitungan detik itu juga. Sementara, mobil berbendera hitam itu terbalik dan meledak setelah menabrak.


"Khalila!" Suara teriakanku tak kalah menggelegar beradu dengan bunyi ledakan yang terjadi.


Detik itu juga aku berlari menghampiri tempat kecelakaan mobil tersebut. Kuhampiri mobil tentara AS yang berasap dan rusak parah, di mana tak satupun ada bagian bodi yang terlihat utuh.


"Khalila! Khalila!" Aku memanggil namanya sembari mencarinya karena pandanganku terhalau oleh asap yang mengepul.


Jeritan seseorang terdengar, tapi bukan suara Khalila. Bisa dibayangkan bagaimana kacaunya diriku saat ini.


"To–tolong!" Satu tentara yang duduk paling belakang mengerang kesakitan. Dia terjebak di dalam mobil dan tengah meregang nyawa. Tak sampai sedetik, jeritannya sudah tak terdengar lagi.


Aku masih sibuk mencari Khalila. Aku menemukannya! Khalila masih berada di posisi sebelumnya dalam posisi terjepit bodi mobil.


"Adik!" panggilku dengan suara gemetar.


Dia mendongak, menatap gamang dengan tangan yang merambat ke depan seolah hendak menggapaiku.


"Ka—kakak ... Pi–rang," desis Khalila dengan suara tertahan.


Aku langsung memeluknya. "Tenang, aku akan menyelamatkanmu! Aku akan menyelamatkanmu! Kau harus bertahan!"


Saat sebelum terjadi kecelakaan dahsyat itu, Khalila sempat mengeluarkan setengah tubuhnya ke jendela mobil hanya untuk melihatku mengambil sepatunya. Karena itulah, dibanding para tentara yang langsung tewas di tempat, Khalila masih sadar. Sayangnya, bagian bawah tubuhnya justru terjepit oleh mobil yang ringsek hingga membuatnya terjebak.


Duduk bersimpuh, aku berupaya menariknya keluar. Ternyata sangat sulit! Aku berusaha mengangkat tubuhnya agar dapat lolos dari mobil. Namun, tampaknya itu malah membuat Khalila kesakitan. Aku lalu berusaha mengangkat bagian atap mobil yang menindih tubuh bawahnya. Nyatanya kakinya juga terjepit bodi bagian belakang.


Aku menderam. Mengeluarkan seluruh tenagaku. Kurasakan urat-urat nadiku bermunculan di permukaan. Usahaku sia-sia. Sekuat apa pun tenagaku, tak bisa mengeluarkannya. Bagaimana ini?


Aku merogoh saku celana untuk mengambil ponselku. Mataku membeliak saat menyadari ponsel dan seluruh barang-barangku ikut tertimbun di dalam mobil yang reyot. Karena kami tengah berada di sekitar hutan, maka mustahil menunggu seseorang akan datang menolong. Apalagi, jembatan yang menghubungkan tempat ini telah dirobohkan. Tak ada cara lain, aku berdiri dan mencoba mencari pertolongan. Apa pun akan kulakukan demi keselamatan Khalila.


"Adik, bertahanlah! Aku akan mencari bantuan untuk menolongmu!" ucapku sambil hendak beranjak. Baru selangkah, aku malah terhenti sembari menoleh kembali ke arahnya dengan kening yang berkerut. Kutatap tangan mungil berlumuran darah yang menahan tanganku dengan erat.


"Ka–kak pirang ... jangan ... pergi! Ja–jangan tinggalkan aku ... sendiri di sini!"


Aku kembali terduduk sembari membelai wajahnya. "Tentu! Tentu aku tidak akan meninggalkanmu, tapi ... aku harus mencari bantuan untuk keselamatanmu. Aku pasti akan kembali sesegera mungkin."


Lagi-lagi Khalila menahanku. Kali ini pegangan tangannya lebih erat dari sebelumnya.


"Kakak ... tolong ... tetap di sini!" pintanya memelas.


Aku menggeleng. "Tidak! Aku harus mencari bantuan. Kita harus ke rumah sakit sekarang!"


"Kakak ... jangan ke mana-mana, kumohon!" pintanya kembali dengan memelas, "aku cukup kuat. Lihat, aku tidak mengeluh atau meringis kesakitan, kan?" Kalimat itu ia ucapkan dengan susah payah. Meski begitu, ia masih bisa melempar senyum ke arahku.


"Bagaimana bisa seperti itu? Kau harus segera mendapatkan penanganan," ucapku serak dengan mata yang dipenuhi genangan air. Namun, aku segera menyadari, meninggalkannya juga bukan hal yang tepat. Situasi ini bagaikan buah simalakama bagiku.


Aku lantas berlutut seraya kembali memeluknya dengan satu tanganku. Sebab, sebelah tanganku tetap berada dalam genggamannya dan tak berniat kulepaskan. Kepalaku merunduk hingga dahi kami saling bersentuhan.

__ADS_1


"Kalau begitu, kau harus bertahan!"


Khalila mengangguk pelan. Aku tahu dia tengah menahan sakit yang menderanya. Namun, berusaha menutupi rasa sakit itu dariku.


"Katakan apa yang sakit! Jangan sembunyikan apa pun dariku! Jangan terlalu banyak bergerak agar tidak banyak darah yang keluar!


"Aku tidak bisa menggerakkan kakiku. Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa berjalan lagi?" tanyanya dengan nada suara datar.


"Maka aku akan menjadi sepasang kakimu. Akan kubawa ke tempat mana pun yang kau inginkan."


"Benarkah? Apa itu tidak akan merepotkan, Kakak?"


Aku menggeleng.


"Lalu, bagaimana kalau genggaman tangan kita terlepas karena aku sudah tak mampu menggenggam Kakak lagi?"


"Maka aku akan balik menggenggam tanganmu dan tak akan melepaskannya. Bahkan ... jika kau ingin melakukan sesuatu yang tidak bisa kau lakukan, biar aku yang melakukannya!" ucapku sambil menautkan jari-jemariku di jari-jarinya yang mungil. Lewat genggaman tangan ini, aku seolah bisa merasakan derita yang ia rasakan.


Khalila terus mengajakku mengobrol seolah-olah tak ada yang terjadi pada dirinya.


"Kakak Pirang, apa kau punya adik kandung?"


"Tidak, aku anak tunggal. Aku hanya memiliki adik sepupu."


"Berarti kita sama-sama anak tunggal. Sepertinya kita cocok menjadi sepasang saudara."


Aku tersenyum getir. "Sedari awal, aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri. Kau adalah malaikat kecilku. Maka dari itu, kau harus tetap hidup dan jangan tinggalkan aku! Oke?"


Aku menggeleng-geleng kepala. Menolak perkataan manis darinya yang terterima pahit olehku. Aku segera melengos sambil menggigit bibirku kuat-kuat agar tak meneteskan air mata. Aku tak boleh kalah kuat dan tegar darinya.


"Kakak Pirang, apakah kau masih memiliki ayah dan ibu?" tanyanya kembali.


"Hum ...." Aku mengangguk sambil tetap menggigit bibirku. Aku bisa merasakan ujung bibirku telah luka dan berdarah.


Ekspresi Khalila berubah sendu seketika. "Kalau begitu ... kita tak sama di bagian itu."


"Tapi kau masih memiliki ibumu, Ameena."


"Benar, ummi ..." Khalila seakan tersadar sesuatu. "Kakak harus mencari ummi! Kakak harus selamatkan ummi!"


"Pasti! Kita akan bersama-sama mencari ibumu setelah ini."


"Cu–cukup Kakak Pirang saja ...." Suara Khalila mulai melemah.


"Kenapa?"


"Karena aku ... tak bisa melakukannya. Bukankah tadi Kakak Pirang mengatakan akan melakukan hal yang tak bisa kulakukan?"


"Jangan mengatakan seolah-olah kau akan ...." Suaraku tercekik, tak mampu kuteruskan.

__ADS_1


"Semalam, aku bermimpi bertemu Abi. Aku sangat senang. Kurasa Allah akan segera mengabulkan doaku," ucapnya dengan mata yang hampir tertutup.


Di waktu yang sama, terdengar alat komunikasi militer yang berbunyi. Sepertinya itu berasal dari komandan mereka. Mataku segera menelisik keberadaan alat komunikasi tersebut. Rupanya, itu ada di dalam mobil.


Aku pun berteriak, berharap seseorang di balik suara itu dapat mendengarku. "Tolong, tolong kami, telah terjadi kecelakaan di sini. Tentara kalian berjumlah empat orang tewas di tempat!"


"Di mana lokasi kejadiaannya?" tanya seseorang dari balik saluran komunikasi.


Mataku berpendar ke segala arah. "Di daerah hutan menuju desa yang belum terjamah peperangan."


"Sangat sulit akses menuju ke sana! Ada jembatan yang dirobohkan. Biarkan saja jika memang sudah meninggal. Kami tidak bisa melakukan evakuasi dengan segera," ucap pria itu lagi.


"Tapi di sini ada anak kecil yang masih bisa diselamatkan! Dia butuh dibawa ke Rumah Sakit sesegera mungkin!" teriakku.


Pria itu terkejut, tapi masih merespon biasa. "Baik, kami akan usahakan ke sana!"


Setelah komunikasi terputus, aku pun menoleh ke arah Khalila dengan secercah harapan di wajahku.


"Adik, kau dengar sendiri, kan? Akan ada yang menolong kita!" ucapku senang.


Mata Khalila telah terpejam. Meski begitu, dia masih menggenggam tanganku dengan erat.


"Khalila?" kupanggil namanya dengan lirih.


Dia tak menjawab. Jantungku mulai berdebar was-was. Kucoba menyentuh wajahnya seraya kembali memanggil namanya.


"Khalila?"


Khalila membuka setengah matanya. Menatapku tak berdaya. Namun, aku masih menemukan setitik kehidupan di bola matanya itu. Mulutnya berusaha mengeluarkan kata-kata yang tak bisa kudengar. Aku sampai harus mendekatkan telingaku.


"Aku ... ingin ... beristirahat," bisiknya pelan.


"Ya, istirahatlah! Jangan menguras banyak tenaga!" ucapku seraya mengecup kepalanya yang tertutupi jilbab.


Tangan Khalila yang menggenggam erat tanganku mendadak terlepas. Aku menatap wajahnya yang penuh damai. Kepalan tanganku yang besar membungkus punggung tangannya. Sesuai janjiku, aku akan balik menggenggam tangannya apabila ia sudah tak menggenggam tanganku.


Tak cukup semenit, kurasakan tangannya berangsur-angsur mendingin. Pada saat itu juga, mataku berenang dengan air mata.


"Aku sudah menepati janjiku untuk tak meninggalkanmu sendiri di sini. Kenapa sekarang malah kau yang meninggalkanku!" ucapku sambil tertunduk dalam.


Air mata yang sedari tadi berusaha kutahan, kini terjun bebas dari mata dan hidung. Dua buah titik air mata berebut keluar. Aku larut dalam tangis tanpa suara. Kubenturkan dahiku ke tanah berulang-ulang. Tanganku memukul dada kiri berkali-kali.


Sesak! Hatiku lebam. Jantungku remuk. Aku seperti tergulung ombak, terseret dari kesakitan yang berlipat-lipat. Bagaikan awan putih yang berubah menjadi kelabu. Laksana langit suram yang tiba-tiba meneteskan butiran-butiran air. Aku kehilangan terang. Semua warna dalam hidupku seakan lenyap hari itu juga.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih untuk lagu orange by 7 dan lagu only human By K yang telah mengiringi aku membuat chapter ini.


Ichi rittoru no namida artinya satu liter air mata, judul ini terinspirasi dari judul dorama favorit saya. Jangan lupa like dan komeng ya


__ADS_2