Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 3: Perkenalan Manis


__ADS_3

Begitu melihat dia tenang, aku mencoba menjelaskan kalau kami adalah jurnalis asal Jepang yang membantunya sore tadi. Aku juga menjelaskan bahwa dirinya terluka dan tempat tersebut kembali mendapat serangan sehingga kami terpaksa membawanya ke sini. Aku tak tahu apakah dia paham dengan apa yang kukatakan, tapi kurasa dia mengerti karena sudah tak sepanik tadi.


"Sebaiknya kau beristirahat dulu di sini! Besok pagi, kami akan mengantarmu ke Rumah Sakit agar lukamu lebih mendapatkan penanganan yang sesuai," ucapku terbata-bata sambil menggerakkan kedua tangan yang menjadi penunjang agar ucapanku dapat dimengerti.


Karena dia hanya diam saja, aku mengambil kembali bantal dan selimut yang sempat dilemparkan ke arahku. Aku berjalan beringsut pelan ke arahnya bermaksud memberikan bantal dan selimut itu. Namun, dia malah bergerak mundur ke belakang seakan menghindariku. Tak ingin membuatnya kembali panik, aku hanya meletakkan selimut dan bantal itu di tepi ranjang lalu pergi.


"Tidurlah!" ucapku sambil memperagakan gaya orang yang tertidur anggun.


Lagi-lagi mata tegasnya menunjukkan sorot penuh waspada. Sejenak kulihat lirikan matanya tertuju pada So yang tidur terlentang di depan pintu kamar itu.


Di depan pintu kamar, aku berkata, "Aku akan menjagamu di sini."


Aku menutup pintu kamarnya , lalu duduk bersandar tepat di hadapan So yang terlelap. Malam ini kami berempat semua tertidur di luar.


Keesokan harinya, dia duduk dalam kepungan kami. Rekan-rekanku berusaha menggali informasi dengan bertanya berbagai hal yang terjadi selama kerusuhan. Mereka berniat jadikan dia sebagai narasumber berita. Sayangnya, dia sama sekali tak menjawab pertanyaan kami. Bahkan ketika Aoba mencoba menerjemahkan pertanyaan mereka lewat aplikasi bahasa otomatis.


"Apa lukamu sudah baikan?" tanyaku yang langsung mendapat terjemahan suara otomatis dari aplikasi di laptopku.


Dia menatap tangannya yang diperban lalu mengangguk.


"Maaf, apa kau masih memiliki saudara?" tanyaku lagi.


Dia tertunduk lemah sambil menggeleng.


"Meninggal?"


Dia mengangguk dengan raut sedih. Aku tak melanjutkan bertanya. Beberapa saat ruangan ini menghening. Kami berempat pun berunding untuknya. Ketiga rekanku sepakat agar aku yang mengantar wanita itu ke kamp pengungsian paling aman yang memiliki fasilitas lengkap. Sementara mereka tak bisa ikut karena harus mencari info terkini. Eiji akan menggantikan posisiku dalam meliput siaran langsung nantinya.


Eiji berusaha menjelaskan pada wanita itu kalau aku akan mengantarnya ke kamp pengungsian. Wanita itu langsung berdiri dan merangkul Aoba yang berada di sampingnya. Tentu ini membuat kami bingung.


"Apa kau mau diantar dia?" tanyaku sambil menunjuk Aoba.


Dia mengangguk cepat.


"Tidak bisa." Eiji mengibas-ngibaskan tangan. "Kalian berdua perempuan. Sangat berbahaya!"


Aoba adalah kekasih Eiji, wajar jika dia tak mengizinkannya mengantar wanita itu.


Aoba melepas tangan wanita itu dari lengannya. "Benar. Kau tidak bisa mengandalkan aku. Meski yang kita tuju adalah kamp paling aman, tapi sepanjang jalan sangat rawan."


So menepuk bahuku sambil berkata pada wanita itu. "Tenang, kawan kami ini mantan Pasukan Bela-diri Jepang. Dia juga ahli judo. Kau akan aman bersamanya."


Mata kami beradu pandang. Kurasa dia tidak punya pilihan untuk menolakku.


Aku mengantarnya ke kamp pengungsian Rakban yang berlokasi di sekitar daerah gurun pasir. Dari info yang kami dapat, tempat ini aman dari segala serangan pemberontak maupun kelompok radikall. Selain itu, jauh dari lokasi peperangan.


Kami harus menggunakan transportasi bus umum karena perjalanan cukup jauh. Sebelum masuk, mereka melakukan pemeriksaan untuk mencegah penyusup. Wajar saja, selama tragedi perang berlangsung ada banyak kasus bom bunuh diri yang dilancarkan dalam bus. Wajahku yang berbeda dari penumpang lainnya membuat pengemudi bus menatapku dengan saksama. Aku pun langsung mengeluarkan tanda pengenal sebagai jurnalis media Jepang.


Tak banyak penumpang siang itu. Aku dan wanita itu duduk sejajar tapi tidak bersebelahan. Dia duduk di barisan kursi sebelah kanan, sedang aku duduk di sebelah kiri. Kulihat dia hanya terus menatap jendela. Tak ada interaksi apa pun yang kami lakukan. Aku mencoba melihat ke arah jendela samping tempat dudukku. Terdapat retakan dan juga selotip yang menempel di kaca untuk menutupi lubang. Aku hanya bisa menduga lubang itu berasal dari peluru yang menembus.

__ADS_1


Jangan bermimpi untuk melihat pemandangan indah sepanjang perjalanan. Sebagian besar daerah yang kami lintasi hancur berkeping-keping. Persis seperti kota mati.



Di tengah perjalanan, bus terhenti karena harus melewati pemeriksaan dari tentara di negara itu. Kulihat dia segera menutup wajahnya dengan sebagian kain kerudungnya. Ia juga tampak mengatur posisi duduknya sambil menundukkan wajah.


Tentara itu berhenti tepat di kursiku. Aku kembali menunjukkan tanda pengenal. Saat tentara itu berbalik ke arahnya, aku langsung mengatakan kalau dia adalah temanku. Tentara itu tampak percaya dan langsung berlalu.


Bus yang berhenti di terminal membuat kami dan penumpang lainnya harus turun. Aku membuka peta di ponselku. Masih sekitar ratusan meter lagi menuju tempat pengungsian. Tak ada cara lain selain melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.


Di siang yang terik ini, matahari seakan berada tepat di atas kepalaku. Meski sudah sebulan berada di sini, aku belum terbiasa dengan cuaca panas menyengat di negara ini. Sialnya, kami masih harus berjalan jauh untuk sampai di tempat tujuan. Aku sengaja memintanya berjalan di depan agar bisa mengawalnya dari belakang. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar suara seruan dari sebuah tempat. Ia menoleh ke sebuah bangunan yang merupakan rumah ibadah penduduk sini.


"Ada apa?" tanyaku.


Dia tak menjawab dan langsung menuju ke tempat itu. Aku hanya bisa mengikutinya dari belakang. Kami bersama-sama memasuki halaman tempat ibadah itu. Namun, dia yang berada di hadapanku malah berbalik sambil mengangkat satu tangannya seolah memintaku berhenti. Aku terpaku mengikuti instruksinya.


"Muslim?" tanyanya dengan suara yang amat kecil. Ini pertama kalinya aku mendengarkan suaranya yang begitu lembut.


Aku menggeleng pelan. Sepertinya aku paham maksudnya. Aku pun langsung mengambil posisi duduk di teras masjid.


"Aku akan menunggumu di sini!" ucapku berbahasa Inggris.


Sambil menunggunya, aku hanya bisa duduk sambil mengintip aktivitas orang-orang di dalam rumah ibadah tersebut. Aku mencoba ikut memperagakan gerakan mereka, tapi kemudian berhenti saat beberapa orang yang hendak masuk ke rumah ibadah itu menatapku dengan berbagai ekspresi.


Di Jepang, sebagian besar dari kami berpaham agnostik, yaitu tidak menganut satu agama tertentu tapi masih memercayai adanya Tuhan. Saat lahir, kami diberkati di kuil Shinto dan sehari-hari mengamalkan ajarannya. Saat menikah, kami mengikat janji suci secara Nasrani di gereja. Lalu, saat meninggal, keluarga akan memakamkan kami sesuai ajaran Budha. Kami dapat berdoa ke tempat ibadah mana saja yang kami temukan. Hanya saja, rumah ibadah seperti ini masih jarang ditemukan.


Sekitar sepuluh menit menunggu sambil berdiri bodoh di halaman rumah ibadah yang disebut masjid. Tiba-tiba wanita itu keluar dengan penampilan yang sedikit berbeda. Ia melilitkan surban di seluruh kepala dan hanya memperlihatkan sepasang matanya yang indah. Kerudung segi empat panjang yang tadinya dikenakan di kepala kini menjadi penutup bagian dadanya.



"O namae wa?" Pertanyaan itu meluncur tiba-tiba dari mulutku.


(O namae wa: siapa namamu)


Dia mengernyit bingung. Aku buru-buru mengambil ponsel lalu membuka aplikasi kamus internasional.


"Maa ismuki?" Aku menerjemahkan pertanyaanku ke dalam bahasanya. Tepat atau tidak yang penting dia bisa tahu apa yang kutanyakan.


Dia masih tak menjawab. Kurasa bukan tak mengerti, tapi karena memang tak mau mengatakannya.


Aku berinisiatif memperkenalkan diri terlebih dahulu. "Namaku Aya ..." Aku berpikir sejenak, lalu kembali berkata, "Namaku Kei." Kuputuskan mengenalkan diri dengan nama asliku, bukan nama keluarga.


"Khai?"


"No ... no ...." Aku menggeleng. "Kei. K-e-i," ulangku mengeja nama sesuai huruf alfabet.


"Khai?" Dia mencoba berkata kembali dengan ragu.


Aku terdiam sejenak. Kupikir nama "Khai" tidak terlalu buruk. Malah terdengar seperti nama baruku dalam versi Arab.

__ADS_1


Aku mengangguk. "Yes. Khai."


Aku berusaha meniru ucapannya walau terasa sulit dan aneh. Sebab, saat dia mengucapkan namaku, suaranya tampak keluar dari pangkal tenggorokan.


"Anaa Ameena," ucapnya tiba-tiba.


"Ameena?" ulangku ragu-ragu.


Dia mengangguk.


"Mina-chan!" sebutku tiba-tiba, "aku ingin memanggil namamu Mina-chan, bolehkah?" tanyaku sambil menunjuk ke arahnya.


Dia mengernyit bingung, meletakkan telapak tangannya di dada sambil mengulang ucapanku. "Mina-chan?"


"Ya, itu terdengar seperti nama orang Jepang," jelasku berbahasa Inggris.


Dia mengangguk setuju.


"Mina-chan ....." Dia menangkup kedua tangannya.


"Khai ...." Aku membungkuk penuh.


"Dozo yoroshiku onegaishimasu/ Ahlan wa Sahlan." Kami mengucapkan salam perkenalan secara bersamaan dengan menggunakan bahasa masing-masing. Tidak saling menjabat. Hanya saling berpandangan beberapa saat sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya.


Kami tiba di tempat pengungsian setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan. Aku mengantarnya masuk ke tenda pengungsian wanita dan anak-anak. Karena aku seorang lelaki, jadi hanya bisa berdiri di depan pintu masuk tenda. Mengantarnya tentu tak sia-sia karena bisa memotret kegiatan serba terbatas para pengungsi dan anak-anak yang berlari-larian di sekitar tenda.


Aku tersentak ketika berbalik. Ternyata dia masih mematung di belakangku.


"Kenapa belum masuk?" tanyaku sambil mengarahkan tangan ke dalam tenda.


Ameena hanya menatapku dengan mimik datar. Aku mengintip ke dalam tenda. Bertepatan dengan itu, seseorang berpakaian dokter dengan membawa tas medis masuk di tenda pengungsian tersebut. Mataku malah mengawasi dokter yang tengah melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap pengungsi di tenda itu. Entah kenapa malah membuatku teringat pada kekasihku yang juga berprofesi serupa. Hanya memeriksa beberapa orang, dokter itu langsung keluar.


Aku memicing tepat saat dokter itu melintas di hadapanku. Rasanya ada yang aneh. Tunggu, dia keluar tanpa membawa apa pun. Aku menoleh cepat ke dalam tenda melihat tas medis yang ditinggalkannya. Mataku terbelalak seketika saat menyadari sesuatu.


"Run! Run!" teriakku dengan suara lantang bergelombang, "cepat keluar dari tenda!"


Aku mendorong Ameena sekuat tenaga agar menjauh dari tenda. Di waktu yang sama, ledakan besar meluluhlantakkan tenda tersebut.



.


.


..


credit foto: google


DISCLAIMER!

__ADS_1


ini bukan story religi! Pembahasan tentang agama, adat dan budaya di cerita ini hanya untuk mendukung setting cerita dan penokohan.


jangan lupa like dan komeng biar aku semangat


__ADS_2