
"Tinggalkan negara ini dan ikutlah bersamaku ke Jepang!" Aku mengulang permintaanku untuk mengajaknya tinggal di negaraku.
Walau terdengar bercanda, tapi ketahuilah niatku benar-benar serius. Aku menyadari hubungan kami sangat dekat dengan perpisahan. Ada masa di mana aku akan benar-benar kembali ke negaraku. Namun, aku tak siap jika harus berpisah darinya. Oleh karena itu, aku ingin membawanya ikut bersamaku.
"Terima kasih atas tawaran kebaikanmu, tapi ... aku ti—"
"Jangan buru-buru memutuskan!" potongku cepat, "aku ... akan memberimu waktu untuk berpikir. Paling tidak, sampai kita bisa keluar dan selamat dari tempat ini" lanjutku kembali.
Kurasa aku tak siap mendengar penolakannya. Untuk itu, aku memberi opsi lain. Kuharap, dia benar-benar mempertimbangkan tawaranku setelah kuberi waktu untuk berpikir.
Kami saling berpandangan sesaat. Aku langsung memalingkan pandangan seraya berpura-pura menguap.
"Hoaam ... sepertinya aku sangat lelah. Baru begini saja mataku sudah tak tahan. Aku akan tidur bersama onta di luar.
Ketika aku hendak berdiri, Ameena justru berada berkata, "Tidurlah di dalam sini!"
"Eh?" Aku terbelalak.
"Di luar sangat dingin. Badai susulan mungkin akan datang sewaktu-waktu," ucapnya kemudian berbalik membelakangiku.
Aku tersenyum tipis. Kubaringkan tubuh ini sembari menoleh ke arahnya yang duduk meringkuk di sudut gua. Malam itu, aku dan Ameena tidur bersama di dalam gua dengan api unggun yang berada di antara kami sebagai pembatas.
Aku tenggelam dalam tidurku yang lelap. Entah sudah berapa lama waktu terlewati. Sayup-sayup kudengar suara keributan. Aku membuka mata dengan perlahan. Dalam penglihatan yang samar, kulihat ada beberapa pasang kaki yang memakai sepatu militer tengah berada di depan mataku. Aku bangun dalam keadaan terkejut. Pasalnya, kedua tanganku kini terikat rantai!
"Apakah pria ini yang kau maksud?" tanya seorang pria dengan sorban yang menutupi seluruh wajah dan kepalanya.
Seseorang kemudian masuk ke dalam gua. Aku tersentak. Dia adalah salah satu anggota ekstremis yang sempat berkonfrontasi denganku kemarin.
"Benar! Dia orangnya! Dia mengaku jurnalis asing. Dia pasti mata-mata dari pasukan Amerika!" ucap pria itu dengan keras.
Pria di hadapanku menyembulkan senyum dingin. "Bawa dia!"
Tak ingin jatuh begitu saja di tangan mereka, aku pun melakukan perlawanan. Di gua yang sempit ini, di mana ruang gerak sangat terbatas, aku menyerang mereka dengan menggunakan kedua kakiku. Kulayangkan tendangan pada mereka yang menghampiriku. Kulilit kakiku ke kaki orang yang hendak menyergapku. Bahkan kubenturkan dahiku ke dahi salah satu pria yang hendak menghajarku.
Seseorang menyerangku dari arah belakang. Kubalas dengan menghadiahkan sebuah tendangan indah yang tepat mengenai wajahnya. Kulakukan hal yang sama pada kawanan lainnya. Namun, dia berhasil menangkap kakiku sehingga tubuhku kehilangan keseimbangan dan jatuh. Kedua kakiku ditarik olehnya sehingga aku tampak berdiri dalam posisi terbalik. Tak hilang akal, kukalungkan kakiku ke lehernya sekaligus memberi serangan kuncian. Sontak, tangannya pun segera melepaskan diri dari kakiku.
Kugunakan kesempatan ini untuk kabur dari mereka. Namun, begitu keluar dari mulut gua, langkahku terhenti seketika saat melihat Ameena duduk bersimpuh dengan tali yang melilit tubuhnya. Tak hanya itu, ada enam orang yang berada di belakangnya dengan senjata yang di arahkan padanya.
Detik itu juga aku langsung mengangkat tangan yang terikat dan berlutut di hadapan mereka sebagai bentuk penyerahan diri. Beberapa orang yang sempat mendapat serangan dariku kini balik memukulku dari segala arah.
"Khai!" Ameena berteriak lirih ketika aku tersungkur ke tanah.
"Mereka benar-benar memiliki hubungan?" Orang-orang itu memandang kami dengan sinis.
__ADS_1
"Memalukan! Wanita seharusnya bisa menjaga martabat dan harga diri! Bukan melarikan diri bersama musuh!" teriak salah seorang dari kelompol mereka.
"Tidak! Kami tidak melakukan apa pun. Dia hanyalah jurnalis bukan tentara Amerika!" Ameena berusaha membela.
Seorang pria hendak menampar Ameena, tapi ditahan oleh seseorang yang tampaknya adalah ketua kelompok itu. "Dia barang bagus, sebaiknya jangan menyentuhnya!"
Pria itu kemudian berkata pada Ameena. "Kau pikir kami bodoh? Wilayah ini disterilkan sebelum terjadi perang antar kubu pemerintahan dan pemberontak. Wartawan asing tak dibiarkan meliput apalagi masuk di wilayah ini. Jika dia bisa masuk, itu berarti dia adalah bagian dari pasukan militer Amerika!"
Ketua kelompok itu memerintahkan anak buahnya untuk membawa kami. Kami dipaksa masuk ke dalam mobil keadaan tangan terikat dan mata tertutup.
"Kalian melarikan diri ke mana pun tak akan bisa lepas dari kami karena wilayah ini sekarang dikuasai kami dan pasukan Amerika kalah telak dalam perang," ketus pria yang baru saja mendorongku masuk ke dalam mobil.
Aku tersentak. Seperti sebuah plot twist dalam film, peperangan sengit dalam memperebutkan wilayah ini justru dimenangkan oleh kelompok ekstremis yang datang paling akhir. Rupanya mereka punya strategi jitu memantau pergerakan para lawan.
Selama perjalanan, aku berusaha melepaskan tangan ini dari jeratan rantai besi. Sayangnya, itu hanya pekerjaan sia-sia. Aku lantas terdiam sesaat. Meski tak bisa melihat apa pun, tapi aku bisa merasakan Ameena berada di sampingku.
"Mina-chan, kau baik-baik saja, kan? Maaf ... aku tidak lebih cekatan menolongmu hingga kita terperangkap oleh mereka," bisikku.
"Kita mungkin tak akan selamat Khai." Ameena membalas ucapanku dengan nada yang bergetar.
"Selama kita masih bersama ... tak perlu ada yang kau takutkan karena aku akan berusaha melindungimu," bisikku pelan.
Entah ke mana mereka membawa kami. Setelah menghabiskan perjalanan kurang lebih satu jam. Kami pun dibawa keluar dari mobil menuju suatu tempat. Tak ada sedikitpun cahaya yang bisa kulihat. Namun, aku bisa menerka mereka membawa kami ke dalam penjara saat terdengar bunyi sel yang terbuka.
Sementara, Ameena ditempatkan di sel yang berada tepat di sampingku. Melihat Ameena, perasaanku terasa lega. Di hadapan sel kami terdapat tiang gantung dengan percikan darah kering. Tampaknya penjara ini berada dalam ruang bawah tanah.
"Mina-chan!"
Tak lama kemudian, beberapa orang berbadan besar tiba dan membuka sel tahanan yang kutempati. Mereka menyeretku keluar serta membuka paksa bajuku hingga membuatku bertelanjang dada. Tak hanya itu, mereka juga menggantung tubuhku di tiang yang berhadapan langsung dengan sel tahananku dengan Ameena. Seseorang datang membawakan cambuk dan pukulan.
Mereka memulai interogasi dengan memaksaku mengungkap identitas asli. Mereka tampaknya bersikeras kalau aku adalah bagian dari pasukan militer Amerika yang masuk ke area pegunungan untuk memata-matai kelompok itu.
"Katakan yang sebenarnya apa tujuanmu berada di pegunungan wilayah ini? Dan apa hubunganmu dengan wanita itu!"
"Wanita itu telah banyak kali menjelaskan. Aku tak perlu mengulangnya!"
"Jawaban yang sangat sombong! Kita lihat, berapa lama kau tahan dengan kesombonganmu itu!"
Para algojo mereka mulai menyiksaku. Satu cambukan melayang mengenai punggungku. Terasa sangat panas dan perih.
Mereka kembali memberiku pertanyaanya. Sayangnya, tak ada satupun pertanyaan mereka yang kujawab. Tidak, maksudku tak ada satu pun pertanyaan mereka yang kumengerti. Pasalnya, mereka membawa beberapa nama komandan militer Amerika dan memintaku memberitahukan lokasi keberadaannya.
__ADS_1
Pukulan dan cambukan lagi-lagi harus kuterima karena tak bisa menjawab pertanyaan mereka. Setiap siksaan fisik yang kudapatkan disertai dengan suara tangisan pilu Ameena. Dia sampai berteriak memohon agar aku dibebaskan.
Seolah tak peduli dengan jeritan Ameena, mereka terus melayangkan pukulan brutal ke arahku. Menjadikan aku bagai samsak tinju mereka. Darah segar menetes dari dahi, hidung dan mulutku. Badanku tercabik-cabik dan penuh luka. Aku hanya dibiarkan beristirahat selama beberapa jam. Kemudian mereka datang lagi dengan para penyiksa baru.
Entah sudah berapa lama. Aku tak mengetahui waktu. Apakah ini masih di hari yang sama? Ataukah telah lewat berhari-hari? Pagi dan malam terasa sama saja. Jika ada yang bertanya-tanya di manakah neraka dunia? Maka tempat ini cocok menjadi jawabannya.
Aku banyak kali tak sadarkan diri karena tidak kuat menerima siksaan mereka. Ketika mataku kembali terbuka dan melihat Ameena berdiri menitikkan air mata sambil memegang jeruji besi, kekuatan untuk bertahan hidup semakin besar. Ya, dibanding mendapat siksaan dari mereka, aku lebih takut berpisah dengannya.
Mina-chan, tenang saja ... aku tak selemah itu. Aku tak akan menyerah pada kematian.
Orang-orang itu datang kembali sambil membawa alat penyiksaan yang baru. Mereka tercengang melihatku masih bertahan.
"Kuat juga fisikmu!" Pria yang bertugas menginterogasi itu menepuk-nepuk pipiku dengan kuat.
"Meski begitu ... dia tetap mengaku bukan anggota militer! Hah ... dasar pembohong!" Temannya meludah tepat di hadapanku.
"Sepertinya kalian berang karena tidak memiliki fisik sebaik lawan kalian!" ucapku sambil memandang gamang ke arah mereka.
"Kami memenangkan perang, berhasil menguasai wilayah ini bahkan merampas peralatan tempur milik tentara Amerika," ucap mereka dengan nada sombong.
Aku tertawa ringkih. "Apakah itu sebuah keberhasilan yang pantas untuk dibanggakan? Kalian memenangkan perang dengan cara menjadikan anak-anak sebagai bagian dari pasukan. Bahkan meletakkan mereka di garda paling depan. Kalian tahu betul bahwa musuh pasti tak akan bisa melawan, karena menyerang anak-anak sama dengan melakukan kejahatan perang."
Ucapanku tentu menyulut amarahnya. Mata pria itu memancarkan kobaran api, seakan hendak melahapku detik itu juga. Ia meletakkan mulut pistol tepat di tengah dahiku dengan tangan yang siap menarik pelatuk.
"Manusia laknat ini benar-benar ingin cari mati!"
"Jangan lakukan itu!" teriak salah satu dari mereka yang baru saja tiba. Sambil memandangku, dia melempar sebuah koran internasional yang halaman depannya memuat wajahku.
"Pria ini ... tawanan berharga yang kita miliki saat ini. Dia mantan pasukan coyote bela diri Jepang yang berpindah profesi sebagai jurnalis internasional!"
Kawan-kawannya lantas terkejut. "Mantan pasukan coyote?"
"Bukan hanya itu, dia merupakan anak dari tokoh publik terkemuka di Jepang dan juga keponakan dari menteri kehakiman negara tersebut. Saat ini, pemerintah Jepang sedang mengajukan kerja sama dengan PBB untuk mencari keberadaannya yang dinyatakan hilang."
Pria yang kerap menyiksaku lantas tersenyum lebar seraya mencengkram kedua pipiku dengan kuat. "Kita lihat, berapa banyak uang yang sanggup dikeluarkan negara itu untukmu!"
.
.
.
Di NN gua pernah bilang kalo Kei itu seperti Najwa Shihab di Indonesia ya. Kenapa gua bilang seperti Mba Najwa. Karena untuk saat ini siapa yang gak kenal mba Najwa. Dia jurnalis terkemuka, influencer anak muda, pegiat sosial dan juga merupakan anak dari tokoh publik terkemuka di Indonesia.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komeng