
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Sama sepertinya, aku juga turut terkejut dengan apa yang baru kami ketahui. Tak kusangka, Zaheera adalah Ameena. Teman dunia maya yang telah banyak membantuku dalam mengungkap kasus besar. Ternyata selama ini kami sangat dekat, bahkan sebelum pertemuan kedua itu terjadi. Padahal aku sering merasa ada kemiripan antara Zaheera dan Ameena.
Kami sama-sama membatu hingga beberapa saat. Ameena terus menatapku seakan sedang meminta penjelasan dariku.
"Ya. Aku ... memang Khairunnisa. Aku sengaja memakai nama itu agar kau mau berteman denganku." Aku mengaku karena tak ada lagi alasan untuk menutupi hal ini.
Hanya butuh empat detik untuk membuat semuanya menjadi canggung. Kami hanya saling memelihara keheningan. Namun, matanya mengatakan lebih banyak dari apa yang mungkin disampaikan kata-kata. Aku tidak tahu, apa itu sebuah kemarahan? Apa itu Kekecewaan? Aku tidak bisa menebak.
Tepat saat ponselku berhenti berderu, Ameena pun beranjak tanpa berkata apa-apa.
"Mina-chan!"
Ameena enggan menoleh. Aku turun dari ranjang dan bergegas menyusulnya, tanpa memedulikan tubuhku yang masih lemah.
"Maaf, tidak ada maksud membohongimu. Aku juga benar-benar tidak tahu kalau Zaheera itu ...."
Sederet kata yang ingin kukeluarkan seakan tertelan kembali saat dia terus berjalan tanpa berbalik ke arahku.
"Jangan ganggu guru kami! Kau sudah membuat guru kami marah!" Seorang bocah lelaki yang datang bersama Ameena membentangkan kedua tangannya di depan pintu, seakan menghalangiku untuk mengejar Ameena.
Aku berjalan gontai kembali ke ranjang. Seperti orang yang menenggak anggur tanpa henti. Karena terlalu mabuk, sampai tak melihat ada kolam renang dan akhirnya aku tercebur sampai ke dasar yang paling dalam. Seperti itulah perasaanku saat ini. Baru saja merasa kasmaran, sekarang malah didekatkan dengan kepahitan.
Hingga menjelang sore, Ameena tak kembali. Bahkan, bukan dia lagi yang mengantarkan makan siang untukku. Apakah dia sudah tak mau menemuiku? Lantas, apa artinya aku tetap berada di sini?
Aku menoleh ke samping. Kuambil buku catatan miliknya, lalu kurobek selembar kertas yang kosong. Aku mulai menulis sebuah catatan untuknya dalam bahasa inggris. Hasil goresan tanganku itu kemudian kulipat hingga membentuk burung bangau. Saat meletakkan surat bangau tersebut, mataku terarah pada sebuah buku kecil nan tebal seukuran saku yang juga berada di atas nakas.
Aku lalu mengemas barang-barangku meski sebenarnya tubuhku belum pulih. Kuambil kameraku yang memang sudah diletakkan di atas meja. Benda ini sangat berjasa karena menjadi alasanku untuk datang kembali. Sayangnya, aku harus segera pergi. Namun sebelum itu, aku ingin berbicara kembali dengan Ameena. Meski hanya sekadar mengucapkan kalimat perpisahan.
Suara anak-anak yang begitu berisik mengalihkan perhatianku. Aku berjalan ke arah jendela. Dari sini, aku bisa melihat anak-anak tengah bermain di bawah sana. Rupanya ada Khalila yang sibuk membagikan jajanan dariku pada teman-temannya. Ada juga bocah pria yang bersama Ameena tadi pagi. Sayangnya, aku tak melihat Ameena di sana.
"Ini untukmu!" Khalila memberikan jajanan itu pada bocah lelaki tersebut.
"Tidak usah, itu untukmu saja!" tolak bocah itu.
"Tapi ini bagianmu. Aku sudah punya. Lagi pula Kakak Pirang menyuruhku membagikannya secara adil."
"Tidak apa-apa. Bagianku untukmu saja," pinta bocah itu sambil tersenyum lebar.
Entah kenapa aku malah tertarik melihat mereka saling tolak-menolak. Bocah itu terlihat lebih tua dari Khalila. Mungkin sekitar sepuluh tahun.
"Ya, sudah kalau begitu. Terima kasih, ya!" Khalila langsung pergi.
Bocah itu terus menatap Khalila yang sibuk membagikan aneka jajanan pada teman-temannya yang lain. Aku merogoh saku celana, mengambil sebutir permen yang kemudian kulempar ke bawah. Permen itu jatuh tepat di atas kepala bocah laki-laki itu sehingga membuatnya terkejut. Aku melambaikan tangan saat dia mendongak ke arahku.
"Kau suka Khalila, kan?" Aku mengangkat kening sembari mengedipkan sebelah mata bermaksud menggodanya.
"Kakak sendiri suka guru Ameena, kan?" balasnya dengan suara yang cukup besar.
Mataku terbelalak. "Ssttt ... jangan sembarangan bicara! Siapa yang suka," tampikku sedikit kelabakan.
__ADS_1
"Ah, tertebak sekali! Lihat, bahkan wajahmu memerah!" Dia malah balik menggodaku. Ah, tidak, kurasa dia meledekku. "Tapi sayang sekali, Khalila pasti tidak akan membiarkan calon ibunya diambil pria lain selain ayahnya," sambungnya lagi sambil menarik matanya ke bawah.
Seketika, wajahku menggelap. Bersamaan dengan itu, pintu kamar mendadak terbuka. Kupikir itu Ameena, ternyata tuan Ali yang baru datang. Dia membentangkan tangan, kemudian memelukku sebagai sambutan yang hangat seperti dilakukan pria-pria Timur Tengah lainnya pada sahabat dan keluarga karib mereka.
"Saudaraku, kau balik ke sini lagi!"
"Tuan Ali, Anda sudah kembali. Maaf, aku terlalu ceroboh hingga meninggalkan kamera," ucapku terbata-bata antara sungkan dan sedikit malu.
"Tidak apa-apa. Kau harusnya lega kamera itu tertinggal di sini, bukan di tempat lain. Kudengar kau pingsan dan jatuh sakit, pasti sangat kelelahan. Bermalamlah di sini selama beberapa hari sampai kau pulih!"
"Terima kasih atas tawaran dan kebaikan Anda, Tuan. Tapi ... aku harus pulang besok."
"Kenapa harus buru-buru? Lihat, wajahmu saja masih pucat seperti ini."
"Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan sebelum pulang ke Jepang."
"Pulang ke Jepang? Kau akan balik ke negaramu?"
Di saat yang bersamaan, Ameena masuk membawakan pakaian. Aku bisa melihat mimik wajahnya berubah saat tuan Ali menyinggung kepulanganku ke Jepang. Sepertinya ia mendengar perkataan terakhir tuan Ali.
"Oh, iya, ini ada pakaian untukmu. Pakailah ini untuk malam nanti," ucap tuan Ali saat Ameena meletakkan pakaian itu di atas ranjang. Mereka seakan tahu aku tak memiliki pakaian ganti lagi.
"Terima kasih," ucapku dengan pandangan yang tertancap pada Ameena. Dia hanya datang membawakan pakaian ganti, kemudian pergi begitu saja.
"Saudara Kei, apa pendapatmu tentang wanita tadi?" tanya tuan Ali selepas kepergian Ameena.
"Eh?" Aku terkesiap. "Bukankah ... dia ... sangat dekat ... dengan Khalila," ucapku tersendat-sendat.
Pupil mataku melebar seketika. Kurasakan jantungku berdentam seperti pukulan gong.
"Apakah Anda akan melamarnya?" tanyaku dengan hati-hati.
Tuan Ali menyilangkan tangannya ke belakang, lalu berbalik menghadap ke arah jendela. "Akhir-akhir ini banyak yang mendesakku untuk segera menikahinya, tapi aku belum bisa memutuskan."
"Kenapa?"
Tuan Ali menoleh ke arahku sambil tertawa. "Aku takut lamaranku ditolak olehnya!"
"Hah?" Aku tercungap. Bagaimana mungkin orang yang hampir memasuki kategori sempurna seperti tuan Ali merasa tak percaya diri dan takut tertolak? Lalu, apa kabar dengan diriku yang jauh di bawah pria ini?
"Saudara Kei, sebaiknya Anda kembali beristirahat agar segera pulih. Besok pagi aku akan mengajakmu jalan-jalan lagi sebelum kau pergi," ucap tuan Ali.
Aku membungkukkan badan mengawali kepergiaannya, kemudian mengambil pakaian yang baru saja diberikan. Rupanya itu adalah pakaian panjang yang dipakai para pria di sini. Terlihat sedikit aneh di badanku, seperti memakai dress wanita dengan potongan model lurus tanpa lekukan.
Menjelang malam, tak ada yang bisa kulakukan selain berdiam diri di kamar. Cukup membosankan karena jaringan internet di tempat ini sulit terjangkau di ponselku. Aku juga tak bisa jalan-jalan keluar. Tak berapa lama kemudian, Khalila menghampiriku dengan riang. Dia datang melaporkan kalau semua jajanan telah dibagikan, kemudian meminta bantuan untuk menyelesaikan soal bahasa inggris.
"Kata ummi, Kakak Pirang sangat fasih berbahasa inggris. Jadi, dia menyarankan aku untuk belajar padamu."
"Benarkah ibumu berkata seperti itu?"
__ADS_1
Khalila mengangguk cepat. Aku pun membantunya mengerjakan soal. Aku juga menuliskan beberapa kosakata umum yang sering digunakan dalam bahasa sehari-hari. Termasuk mencatat enam belas tensis yang perlu dipelajari. Mungkin ini sedikit berguna untuknya dan kawan-kawannya karena mereka tidak mendapatkan pendistribusian buku dan kamus bahasa inggris.
Tiba-tiba aku teringat ucapan anak lelaki sore tadi. Aku lantas menggeser badanku mendekati Khalila yang duduk di sisi ranjang.
"Adik, ada yang ingin kutanyakan padamu!"
"Apa itu?" tanya khalila sambil mengerjakan latihan soal dariku dengan posisi tengkurap.
"Apa ... kau mengizinkan jika ayahmu menikah?"
"Tentu, tapi hanya jika dia menikah dengan ummi."
Aku langsung ikut tengkurap di sampingnya. "Kenapa kau ingin dia jadi ibumu?"
"Karena hanya dia yang bisa menjadi ibuku."
"Tapi bukankah orang lain juga bisa menjadi ibumu? Wanita yang lebih muda dan lebih cantik banyak! Mereka lebih cocok dengan ayahmu," bujukku.
"Aku tidak suka selain dia! Dan hanya dia yang pantas!" tegas Khalila sambil sibuk menulis.
Aku menggeser badanku lagi hingga tak ada jarak antara aku dan gadis kecil itu. "Apa kau pernah menonton film Cinderella atau Snow White?"
Khalila menatapku sambil menggeleng pelan. "Memangnya itu film tentang apa?"
"Begini, Cinderella dan Snow White itu memiliki ibu tiri yang sangat jahat. Awalnya ibu tiri itu terlihat baik, tapi lambat laun mereka berubah menjadi ganas seperti hewan buas!" Aku menggerakkan tangan ke arahnya seolah hendak menerkam.
Astaga, apa ini? Aku malah menakut-nakuti anak itu hanya karena takut Ameena akan menjadi istri ayahnya.
Mata Khalila melotot dengan ekspresi ketakutan. Namun, sedetik kemudian dia malah menaikkan pandangan.
"Ummi!" teriaknya.
Aku terperanjat. Mataku ikut mendelik. Ternyata Ameena ada di hadapan kami sambil membawakan makan malam untukku. Gawat, aku tidak tahu sejak kapan Ameena berada di sana.
Aku pun segera menoleh ke arah Khalila sambil berkata, "Tapi ... menurutku ibumu sangat mirip dengan Cinderella dan Snow White yang baik hati dan sabar."
Khalila menepuk tangan sambil berkata, "Ya, ummi memang seperti itu. Makanya aku ingin ummi menjadi istri ayahku!"
Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum masam. Ameena keluar tanpa berkata apa-apa setelah meletakkan sajian makan malam di atas meja. Kepalaku merosot jatuh ke ranjang. Bukannya berhasil mencuci otak Khalila, aku malah seperti ikut mempromosikan Ameena sebagai wanita yang layak untuk ayahnya.
.
.
.
catatan author ✍️✍️✍️
Gak terasa udah masuk 50 chapter, gays. yang tadinya cuma mau bikin bab bonus eh malah jadi novel 🤭😂
__ADS_1
Ini ceritanya udah mendekati klimakss, ya. Artinya udah gak lama lagi petualangan Kei di timur tengah akan berakhir. Biasanya kalo klimaksss di novel gua, kalian harus siap2 menguras bak mandi dan esmoni 😂
kalo di novel never not kalian udah dapat bayangan kan seperti apa Kei sepulang dari timur tengah. Dia tokoh paling berpengaruh setelah Rai dan Shohei dan paling banyak membantu dua tokoh utama di novel itu. Ada banyak pertanyaan kalian di komentar-komentar sini tentang nasib percintaan Kei jika melihat dari novel NN. Apakah itu akan terjawab nantinya? mungkin saja kalo terus di lanjut sampai Kei usia matang.