
Dalam perjalanan menuju Damaskus, aku hanya sibuk meniupkan uap dari mulutku ke jendela kereta, kemudian mencoret-coret hal abstrak dengan ujung jari telunjukku. Ini sudah kulakukan dalam satu jam perjalanan. Saat hendak pulang, aku hanya berpamitan pada tuan Ali dan Khalila. Tuan Ali memberiku aneka buah-buahan dan sayuran segar yang bisa dijadikan bahan makanan.
Ameena tak datang menemuiku dan aku pun tak mencarinya. Lagi pula, semalam kami telah mengobrol di kamar masing-masing.
Menemukan dan melepaskan cinta adalah dua hal yang tampak selalu bergandengan. Bagiku, melepaskan cinta sama halnya memberi kesempatan pada orang yang kita cintai untuk meraih kebahagiaannya dan memulai kisah baru untuk diri sendiri agar bisa mencari kebahagiaan lainnya. Itu sudah pernah kualami saat melepaskan Yuna. Berselisih beberapa bulan setelah hubungan kami kandas, aku pun menemukan cinta yang baru. Sayangnya, siklus ini kembali terjadi sehingga aku pun harus melepaskan Ameena sama seperti Yuna.
Mina-chan, mengejarmu mungkin seperti berlari di tempat. Tak akan pernah sampai.
Begitu tiba di Damaskus, ada banyak laporan dan berita yang harus kutulis. Selama tiga hari aku begadang untuk menyelesaikannya. Paling tidak, semua harus rampung sebelum aku pulang ke Jepang. Aku bahkan masih turun meliput berita tentang semakin melemahnya perekonomian negara ini, di mana harga pangan melonjak, mata uang runtuh, pemadaman listrik memburuk, hingga kekurangan bensin.
Ini berbanding terbalik dengan desa yang ditinggali Ameena di mana kehidupan masyarakat sana lebih layak dan terjamin. Entah kenapa, itu justru membuat jari-jariku mendadak kaku saat menuliskan krisis negara ini. Firasat buruk menyongsong pikiranku. Jika krisis pangan dan bahan bakar terus terjadi di daerah kekuasaan pemerintah, bukan tidak mungkin peperangan besar perebutan wilayah pecah.
"Otsukaresama desu!" Eiji datang mengejutkanku dengan meletakkan botol arak di samping laptop.
"Aku tidak bisa minum malam ini. Aku tak mau mabuk," tolakku halus sambil menggeser botol arak yang baru saja Eiji berikan padaku.
"Oh, iya, kau kan akan berangkat besok!"
"Berikan saja aku rokok!" pintaku.
Eiji menyodorkan rokoknya, aku mengambil sebatang dan memintanya menyalakan pemantik. Tiba-tiba So menepuk pundakku dari arah belakang. Tak hanya itu, dia bahkan memijat-mijat punggungku. Disusul Aoba yang langsung duduk merempet di sampingku sambil memakan setangkai kurma yang diberikan tuan Ali.
"Ayano, kami pasti akan merindukanmu. Setiap kau tak ada di sini, kamu benar-benar merasa hampa. Seperti saat kau hilang selama empat hari dan pergi mengantar gadis kecil itu selama lima hari. Sekarang, kau akan pulang ke Jepang sebulan penuh!" keluh So sambil terus memijat belakangku.
"Bilang saja kau hanya takut tidur sendiri!" cemoohku sambil tertawa geli.
Setelah satu tahun bersama mereka, rasanya seperti menemukan anggota keluarga baru. Menemukan rekan kerja yang solid, kompak dan saling pengertian merupakan surga tersendiri bagiku. Padahal, dulunya kami sangat canggung satu sama lain saat awal penugasan.
Akhirnya, waktu kepulanganku pun tiba. Setelah berpamitan dengan rekan-rekanku, aku pun menuju bandara internasional Damaskus dengan menaiki taksi. Mereka tak bisa mengantarku karena harus meliput serangan kecil yang dilayangkan kelompok ekstremis sebagai peringatan.
sumber: Gatra.com
Untungnya perjalanan menuju bandara berjalan lancar meski ada isu penyerangan di pinggiran Damaskus. Aku duduk di ruang tunggu sembari membuka buku yang diberikan Ameena. Ponselku mendadak berderu. Ternyata itu panggilan dari ibuku. Pasti dia ingin mengonfirmasi kembali kepulanganku.
"Moshi-moshi ...."
"Kei-chan ...."
"Ya, Okaasan! Aku sudah di bandara."
"Ano, okaasan bertemu dengan Yuna beberapa saat lalu di supermarket. Dia ... sedikit aneh. Dia ... tidak mengenali okaasan saat okaasan menyapanya. Selain itu ... dia juga bersama seorang pria," kata ibu dengan intonasi yang pelan dan lambat. Setiap kata diucapkan dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
Mendengar nama Yuna, hatiku sedikit berdesir. Aku lupa jika ibu belum tahu tentang perpisahanku dengan Yuna.
"Okaasan, aku dan Yuna sudah selesai."
"Eh? Kalian sudah putus?" Ibu terperanjat. Bisa terdengar dari lengkingan suaranya.
"Itu sudah hampir setahun yang lalu. Sebaiknya Okaasan tidak perlu menyapanya lagi jika bertemu dengannya di lain waktu," balasku lagi. Dengan keadaan Yuna yang seperti itu, aku hanya tak mau membuat Yuna bingung dan bertanya-tanya.
"Apa yang terjadi pada kalian? Apa kalian kurang komunikasi? Apa karena dia tak setuju kau pergi ke Suriah? Atau ... karena dia berselingkuh dengan pria yang bersamanya tadi?"
"Hentikan, Okaasan! Pertanyaan Okaasan mirip cecaran wartawan. Lagi pula Yuna tak seburuk itu. Aku dan Yuna berpisah baik-baik," balasku.
"Kenapa kau tidak cerita pada okaasan sebelumnya?" protes ibu.
"Anakmu ini bukan lagi anak kecil. Masalah hati, seharusnya menjadi urusan diri sendiri, kan?" ucapku sambil tertawa getir.
"Jangan berkata seperti itu. Sedewasa apa pun usia dan pikiran seseorang, di mata orangtuanya tetaplah seorang anak."
Aku hanya tersenyum masam. Sepertinya kandasnya hubungan kami merupakan pukulan bagi ibu juga. Wajar saja, mengingat Yuna cukup dekat dengan ibuku.
"Apa ... kau baik-baik saja?" tanyanya.
Aku terdiam sejenak. "Tidak apa-apa. Aku ... telah melewati masa-masa patah hati. Semua telah berlalu."
"Tidak perlu!" tandasku cepat, "aku ... sudah memiliki penggantinya."
"Benarkah?" Ibu terdengar senang, "ceritakan pada Okaasan orang seperti apa dia!" tanyanya memburu.
"Dia ... berbeda dari Yuna dan wanita jepang lainnya. Dia wanita di negara ini, Okaasan pasti tahu penampilan wanita-wanita Timur Tengah pada umumnya. Statusnya juga berbeda denganku. Dia ... pernah menikah, tapi jangan khawatir dia berpendidikan. Dia juga seorang pengajar sekaligus relawan," jelasku panjang lebar. Aku bagaikan seorang sales yang gencar promosi.
Aku berasal dari latar belakang keluarga kaum cendekiawan, jadi kurasa wajar jika orangtuaku mengharapkan pasangan yang bisa mengimbangi keluarga kami.
Kini, gantian ibu yang terdiam. Cukup lama. Aku sampai menatap layar ponsel untuk memastikan apakah kami masih saling terhubung. Hingga beberapa detik berkumpul menjadi semenit, ibu masih senyap.
"Okaasan?" panggilku sesaat.
"Kau menyukainya?" tanya ibu dengan nada serius.
"Sangat menyukainya!" balasku cepat.
"Okaasan juga akan menyukainya jika kau memang menyukainya."
"Eh?" Aku terkesiap.
__ADS_1
"Okaasan tahu kau tidak akan memberi jawaban ragu-ragu untuk segala sesuatu yang kau sukai. Mendengar kau sangat bersemangat membicarakan tentang wanita itu, membuat okaasan lega," balas ibuku kembali.
Mendadak, suara ibu terdengar tenang seperti air danau yang juga membawa kesejukan. Kupikir, dia hanya sedang berempati padaku atas kandasnya hubungan lama yang kujalani bersama Yuna. Mungkin, di matanya saat ini, anaknya terlalu menyedihkan.
"Tapi, dia bukan pacar baruku. Hubungan kami hanya sebatas berteman biasa. Mungkin ... hanya aku yang menyukainya sementara dia tidak," ucapku dengan suara yang memelan.
"Mungkin? Apa kau belum mengungkap perasaanmu padanya? Kau tidak akan tahu perasaannya yang sebenarnya jika kau tak mengatakannya lebih dulu."
"Aku ... tidak yakin bisa mengatakan langsung padanya. Aku harus pulang ke Jepang di saat dia akan dilamar seseorang. Aku sudah tak memiliki kesempatan itu lagi." Aku malah keterusan mencurahkan isi hatiku pada ibu.
"Kalau begitu, buatlah kesempatan itu sekarang!"
Manik hitamku melebar seketika. Kini, giliran aku yang menghening selama beberapa saat.
"Okaasan," panggilku serak.
"Tidak apa-apa. Hidupmu adalah milikmu. Bukan milik Okaasan maupun Otousan. Semua ini tentang pilihan. Bagaimana kau memilih jalan hidupmu dan bertanggung jawab setelahnya."
"Apa tidak masalah meskipun dia berbeda dari kita?" tanyaku ragu-ragu.
"Di dunia ini tak ada yang serupa antara satu dan lainnya, kan?"
Aku menahan haru. Aku sampai menggigit bibirku seiring mata ini terasa berkabut. Aku beruntung terlahir dari keluarga yang demokratis. Sebagai orangtua, mereka tidak memaksa aku untuk berjalan di rel yang telah dipersiapkan. Mereka hanya menekan agar aku selalu bertanggung jawab dengan pilihanku. Ini membuatku teringat saat aku harus melepaskan seragam pasukan bela-diri dan keluar dengan hanya memakai pakaian biasa. Ayahku menjadi satu-satunya orang yang menungguku di pintu gerbang angkatan darat sambil tersenyum lebar.
"Hontouni arigatou gozaimasu!" ucapku padanya berkali-kali.
(Aku sungguh-sungguh berterimakasih)
Di penghujung telepon, ibu berkata dengan suara yang lembut, "Kei-chan, okaasan hanya meminta satu hal darimu. Jika kau sudah mendapatkan kepastian dari dia, kembalilah ke Jepang dalam keadaan hidup-hidup!"
"Tentu saja, Okaasan. Aku juga tak berniat mati di sini!"
Aku menutup telepon, menyimpan kembali buku pemberian Ameena ke dalam tasku kemudian berlari kencang keluar meninggalkan bandara ini. Benar kata ibu, setiap orang diberikan pilihan untuk menempuh jalan kehidupan masing-masing. Ada masanya kita harus mengutamakan perasaan sendiri. Sebab, kita memiliki kapasitas untuk melatih kendali atas hidup. Ini sama seperti konsep human agency yang meyakini bahwa manusia sanggup mengatur dirinya, proaktif, reflektif, dan mengorganisasikan diri. Tentunya juga memiliki kekuatan atas tindakan sendiri demi mencapai konsekuensi yang kita inginkan.
Mina-chan, bahkan jika mengejarmu seperti berlari di tempat, akan terus kulakukan sampai kau menoleh ke arahku lalu datang menghampiriku.
.
.
.
kak Yu mengucapkan selamat hari raya Idul Adha bagi yang merayakan. jangan lupa tancepin jempol dan tinggalin Komeng.
__ADS_1