
DEG! Aku dapat merasakan jantungku berdentam kuat, bergema seperti sebuah pukulan gong. Ada rasa penasaran besar dalam diriku atas pertanyaannya. Kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti itu?
"Kenapa kau bertanya tentang jurnalis Jepang?" tanyaku setelah sempat tertegun. Ah, sungguh ... aku tak sabar menerima balasan e-mailnya. Mataku pun masih tertancap di layar laptop.
Satu pesan masuk beberapa menit kemudian. Dengan tak sabar, aku langsung membuka pesan itu dan menerjemahkannya.
"Aku hanya tiba-tiba teringat berita tentang jurnalis Jepang yang menghilang di pengungsian dan penasaran ingin mengetahui nasibnya."
Membaca balasan pesannya, membuat tubuhku seakan merosot ke lubang yang paling dalam.
"Oh, begitu. Aku tidak mengenalnya. Tapi yang kubaca di berita, dia sudah ditemukan empat hari setelah menghilang," balasku.
"Aku juga berburu beritanya. Tapi tidak dijelaskan apakah dia masih di sini atau telah pulang ke Jepang. Tidak ada berita yang memuat kabar jurnalis itu setelah ditemukan. Aku sungguh penasaran ingin mengetahuinya. Adakah link berita yang bisa kubaca terkait informasi terbarunya?"
Mataku kembali memancarkan kilauan harapan membaca pesan barunya. Jari-jariku dengan cepat mengetik balasan. "Kenapa kau ingin tahu? Apakah itu penting untukmu?"
Lagi-lagi jantungku berdenyut kencang menunggu balasannya. Sungguh aneh jika dia sampai meminta link berita hanya untuk mengetahui kabar terbaruku.
"Karena kupikir dia pasti trauma untuk tetap bekerja di sini. Aku berempati untuk orang-orang tak bersalah yang menjadi korban atas perang ini," balasnya kembali.
Aku mengembuskan napas seraya memejamkan mata. Ternyata Zaheera hanya berempati pada peristiwa yang sempat kualami.
Ya, berita tentang jurnalis yang menghilang atau disandera memang selalu menyedot perhatian publik internasional. Wajar saja jika dia tiba-tiba teringat itu. Mungkin ekspektasiku terlalu tinggi sehingga mengharapkan hal yang tak mungkin. Dunia terlalu luas untuk kembali dipertemukan dengan orang yang tak sengaja kita temui.
"Ya ... bisa jadi seperti itu. Bisa jadi dia trauma atas kejadian yang menimpanya." Aku mengiyakan dugaannya sambil kembali teringat perpisahanku dengan Ameena.
"Jadi, menurutmu jurnalis itu tak bertugas lagi di negara ini?" Kali ini balasan pesannya lebih cepat dari sebelum-sebelumnya.
"Mungkin saja," jawabku.
Mina-chan, apa kabar? Apakah hanya aku saja yang penasaran dengan kabarmu saat ini? Tidakkah kau ingin mencari tahu kabarku?
Mina-chan, aku masih di sini dan masih belum lelah mencari tahu kabarmu. Bersembunyilah dengan aman dari orang-orang yang tidak berprikemanusiaan. Aku akan memperjuangkan hak-hak kalian, membebaskan para wanita di negara ini dari cengkraman pria-pria buas. Aku berjanji!
Setelah mendapatkan informasi berharga dari Zaheera, aku pun langsung berunding dengan timku. Aku meminta bantuan Aoba, So, dan Eiji karena mereka adalah bagian dari timku. Sama sepertiku, mereka bertiga juga ikut tercengang dan tak percaya.
"Biadapp! Bagaimana mungkin mereka membawa atas nama kemanusiaan, tapi melakukan hal seperti binatang!" So menggebrak meja begitu mendengar cerita dariku.
"Ayano-san, ini akan menjadi berita besar jika benar-benar dirilis!" Aoba melebarkan mata.
__ADS_1
"Maka dari itu kita membutuhkan data dan bukti atas kebenaran dari kasus ini!" balasku.
"Tapi, kita bukan jurnalis investigasi. Melakukan ini di sela-sela pekerjaan utama kita bukankah terlalu berisiko? Lagipula, kita semua adalah jurnalis pemula yang baru merangkak dari bawah," Eiji malah terlihat bimbang.
"Semua pekerjaan memiliki risiko dan setiap profesi seharusnya bisa bermanfaat bagi banyak orang. Asal tidak melanggar kode etik profesi, seharusnya tidak apa-apa," ucapku tanpa keraguan.
Aoba memukul kepala Eiji. "Baka! Kenapa kau bisa bekerja di bidang jurnalistik kalau tidak punya jiwa pengungkap kebenaran!" serangnya sambil terus memukuli pacarnya dengan gulungan kertas.
"Iya ... iya ...." Eiji berusaha menghindar dengan bersembunyi di belakangku.
"Baiklah, aku dan Eiji akan mengunjungi beberapa kamp pengungsian. Paling tidak, kita bisa menangkap basah dengan kamera saat mereka melakukan aksi," ucapku berapi-api.
"Andalkan kami juga!" Aoba dan So menawarkan diri.
"Aoba-san, tolong cari tahu apakah UNFPA telah melakukan penelitian tentang kekerasan seksual yang ada di negara ini dan cari tahu juga apakah telah ada laporan-laporan dari para pengungsi wanita terkait masalah ini," pintaku.
"Baik."
"So-san ...." Aku menatap ke arahnya, "kau hanya perlu menemaniku!"
"Baik."
***
Masa-masa gencatan senjata ini, kami pakai untuk melakukan investigasi. Kebanyakan orang-orang hanya mengetahui tugas jurnalis sebatas melaporkan berita. Padahal, ada tantangan yang lebih besar dari itu. Jurnalis juga memiliki peran dalam mengungkap fakta-fakta yang disembunyikan secara sengaja maupun tidak sengaja dari orang-orang yang memiliki kekuasaan.
Kami melakukan pembagian tugas untuk berpencar dalam melakukan pengumpulan data dan bukti foto. Targetku, berita tentang kasus pelecehan di negara ini harus segera terangkat di media internasional dalam waktu kurang dari sebulan.
Zaheera tentu punya andil besar dalam membantuku melakukan investigasi. Ia sepakat bekerja sama denganku meskipun hanya lewat berbalas pesan elektronik. Walau bagaimana pun dia warga asli negara ini dan bisa berdialog langsung dengan keluarga pengungsi. Jadi, aku mengirim daftar pertanyaan untuk mewawancara wanita-wanita di kamp pengungsian. Hasil wawancara yang kutulis itu akan dikumpulkan sebagai data dan riset.
Setiap malam menjelang tidur, kami meluangkan waktu untuk berbalas pesan. Meskipun yang kami bahas hanya tentang seputar kasus ini. Entah kenapa, ada rasa familiar ketika mengobrol dengannya lewat pesan teks. Sayangnya, dia masih enggan menjawab saat aku bertanya di mana lokasi tempat tinggalnya. Aku hanya bisa menerka kalau dia tinggal di suatu tempat yang aman di mana bisa mengakses internet dengan lancar.
"Assalaamu'alaikum, Zaheera ... besok kawanku yang seorang jurnalis akan melakukan investigasi ke salah satu kamp pengungsian." Aku mengirimkan pesan padanya pukul sepuluh malam. Sebab, dia mengatakan aktivitasnya selesai di jam tersebut.
"Wa'alaikumussalaam, yaa Nissa. Semoga Allah senantiasa melindungi temanmu," balasnya cepat.
Keesokan harinya, aku mendatangi asrama untuk kumpulan para dokter lintas batas. Ya, hampir seminggu aku dan Yuna tak bertemu karena kesibukan kami masing-masing. Saat bertemu pun karena aku hanya hendak berpamitan padanya.
Yuna berlari kecil menghampiriku sambil menunjukkan senyum terindahnya. Ternyata dia masih setia menggunakan kerudung Ameena untuk menutupi kepalanya.
__ADS_1
"Yuna, aku akan ke perbatasan Yordania bersama rekanku untuk melakukan investigasi."
"Apa yang ingin kau selidiki di sana? Apa ada kasus besar yang selama ini ditutupi?" duga Yuna.
Aku mengangguk. "Ini termasuk kasus kemanusiaan. Aku yakin jika kasus ini terkuak, akan cukup menggemparkan dunia dan mungkin ... namaku bisa diperhitungkan sebagai jurnalis berpengaruh di masa yang akan datang," ucapku sambil terkekeh.
Yuna berjinjit, lalu melingkarkan tangannya di leherku. "Kalau begitu ... ubah bualanmu menjadi kenyataan. Aku ingin melihat kekasihku menjadi seorang jurnalis berpengaruh yang disegani di masa depan."
Kudekatkan wajahku ke wajahnya seraya seraya berkata dengan suara berbisik, "Ini bukan bualan, tapi ini sebuah tekad."
Tak bisa kupungkiri, profesi jurnalis masih dipandang sebelah mata oleh banyak orang dibanding profesi lainnya. Meskipun begitu, aku bersyukur memulai karirku sebagai jurnalis perang. Sebab, jurnalis perang lebih dipandang gagah dan terhormat serta sering mendapat penghargaan dunia. Namun, ini masih belum sepadan jika bersanding dengan Yuna yang merupakan seorang calon dokter bedah, sekaligus anak dari panglima tertinggi angkatan darat. Ditambah lagi, latar belakangku sebagai mantan Pasukan Bela-diri Jepang yang sempat membuat masalah besar. Sampai saat ini, aku pun masih keras kepala untuk terus menabrak batas dan tanda-tanda yang diberikan Panglima dalam membentengi anaknya dariku.
Aku melihat ke arah jam tangan. "So mungkin sudah menungguku. Aku berangkat dulu. Akan kukabari jika telah sampai."
"Apa ada yang bisa kulakukan untuk membantumu?"
"Untuk sementara tidak. Jaga saja dirimu untukku."
"Tunggu sebentar! Jangan pergi dulu!" Yuna menahanku seraya berlari masuk ke gedung.
Beberapa saat kemudian, dia datang dengan tangan yang dipenuhi beberapa botol minuman kesehatan.
"Bawa ini untuk menjaga staminamu selama di perjalanan," ucapnya sambil memasukkan botol itu ke dalam ranselku.
"Yuna, kau terlalu berlebihan. Aku dan So mungkin hanya dua hari di sana."
Dia melepas kerudung di kepalanya, lalu memindahkannya di kepalaku. Dia menarik kedua sisi kerudung itu hingga wajahku turut tertarik ke arahnya. "Karena ini musim dingin, jadi sebaiknya kau bawa pashmina ini sebagai pengganti syal."
Aku tertegun selama beberapa detik. Akhirnya, kerudung Ameena kembali padaku. Rasanya seperti baru saja menemukan barang kesayangan yang hilang. Bahkan aku sampai tak sadar ketika Yuna mendaratkan kecupan ringan di bibirku.
"Yuna-chan, arigatou ...."
"Apa tidak ada yang bisa kau berikan padaku sebelum pergi?" tanyanya sambil melilitkan kerudung itu di leherku layaknya sebuah syal.
Aku tersenyum tipis. Kutarik dengan pelan karet kecil yang mengikat setengah rambutnya. Kulipat dua karet itu hingga tampak mengecil dari ukuran aslinya. Kemudian, kiraih tangan Yuna dengan lembut sambil mengarah karet tersebut ke jari manisnya seolah sedang menyematkan cincin.
Yuna menatapku dalam-dalam saat karet itu melingkar sempurna di jari manisnya.
"Maaf, untuk sementara hanya bisa dengan ini. Suatu hari nanti, aku akan menggantinya dengan cincin sungguhan," ucapku pelan.
__ADS_1
Jujur, cincin karet itu sebagai permintaan maafku padanya. Maaf karena telah menghilangkan cincin yang asli sebelum sempat memberikan kejutan. Maaf telah membuatnya khawatir hingga rela datang ke tempat ini. Maaf telah menempatkan dirinya ke posisi sulit dan penuh dilema selama bertahun-tahun. Dan maaf ... karena aku belum bisa menepis sosok yang tiba-tiba menguasai hati dan pikiranku.