Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 51 : Dinding Penghalang


__ADS_3

Ameena bukan orang pertama yang hadir di hidupku. Aku pun bukan orang pertama yang hadir di hidupnya. Dia pernah menikah dengan adik kandung tuan Ali, sementara aku pernah hidup bersama dengan Yuna. Kami sama-sama memiliki seseorang di masa lalu.


.


.


.


Khalila telah kembali ke ruangannya setelah belajar berjam-jam di kamarku. Aku pun bersiap beristirahat agar kondisiku segera pulih dan bisa pulang ke Damaskus.


"Kakak Pirang, Kakak Pirang, apa kau mendengar suaraku?"


Aku terkejut saat menangkap suara Khalila yang berembus dari sebelah kamar ini. Ia juga menggedor-gedor dinding yang berada tepat di belakangku. Aku berbalik, lalu ikut mengetuk dinding tersebut.


"Ya, aku mendengarnya. Apakah posisi kepala ranjang kita bersebelahan?" tanyaku dengan senyum yang terulas secara spontan.


"Iya. Posisi ranjang kita saling membelakangi. Jadi, Kakak Pirang jangan tidur mendengkur, ya? Karena suaramu akan sampai ke sini!"


Aku tertawa kecil. Apa jangan-jangan semalam aku berdengkur?


Tak lama kemudian, aku turut mendengar suara Ameena yang meminta Khalila untuk segera tidur. Oh, iya, aku lupa kalau kamar Ameena memang bersebelahan dengan Khalila. Bagian luar bangunan ini memang terbuat dari beton, tapi pada bagian dalam, hanya menggunakan sejenis gipsum sebagai pembatas antar ruangan.


Mendengar suara lembut Ameena, membuat perasaanku menghangat. Dia tampak menuntun Khalila untuk melafazkan doa.


Aku merogoh saku, mencoba mencari permen yang tersisa. Ternyata masih ada satu lolipop lagi. Aku segera membuka bungkus plastik lalu mulai mengisapnya. Ya, aku memang sering membawa permen sebagai pengganti rokok. Saat pikiranku buntu, hanya permen dan rokok yang menyelamatkanku.


Langit semakin terbaring di pangkuan malam. Suara Khalila sudah tak terdengar lagi. Aku pun sulit memejamkan mata. Sepi. Hanya sesekali terdengar suara jangkrik yang mengerik. Angin malam yang menyusup masuk ke ruangan, tak sanggup menekan mataku. Aku mencoba duduk, menyandarkan punggung dan kepalaku ke dinding. Sebelah tanganku membentuk kepalan, kemudian mencoba mengetuk dinding yang kupakai bersandar.


"Mina-chan, apa kau sudah tidur?" tanyaku pelan.


Hening. Tak ada suara. Bahkan hingga semenit berlalu. Aku menghela napas panjang seraya tertunduk. Seulas senyum tertarik di bibirku.


"Hei, Mina-chan, kau tahu ... aku sangat senang dapat bertemu lagi denganmu. Aku juga senang mengetahui kau adalah Zaheera. Meski kutahu kau pasti kecewa karena teman penamu selama ini adalah aku. Maafkan atas kebohongan yang kulakukan. Mengatakan aku seorang wanita dan memalsukan identitas. Saat itu aku hanya ingin mengetahui fakta yang terjadi di kamp-kamp pengungsian. Tapi ... kau harus tahu, tidak semua yang kukatakan padamu itu suatu kebohongan. Tentang kisah cinta kandas yang pernah kuceritakan padamu, itu benar-benar terjadi. Selain itu, berita yang kutulis terpaksa harus kuberikan pada jurnalis Al-Jazeera karena media yang menaungiku, menolak untuk mengangkat kasus itu."


Aku menjeda kalimatku sesaat, hanya untuk mengambil napas.


"Aku bahkan pernah berada di fase menyalahkan diri sendiri dan menganggap aku orang yang gagal. Aku mengalami masa-masa sulit secara bersamaan hingga membuatku memutuskan untuk memulihkan mental dan hatiku. Setelah kejadian itu, aku merasa tak bisa membantumu lebih banyak. Aku kehilangan semangat untuk mengungkap kasus yang berpotensi untuk diberitakan. Oleh karena itu, tak ada alasan bagiku untuk terus melanjutkan pertemanan kita di dunia maya."


Aku menghela napas. Paru-paruku terasa lega luar biasa karena bisa mengatakan yang sebenarnya. Walau mungkin dia tak mendengar ucapanku.


"Aku ... juga senang bertemu dengan Khai dan Nissa sekaligus."


Aku terperanjat. Suara Ameena mendadak terdengar dari balik dinding, membuat jantungku terasa kehilangan ketuk iramanya. Tadinya kupikir ia sudah terlelap. Ternyata dia mendengar semua yang kukatakan. Kepalaku memutar pelan menatap ke arah dinding tersebut.

__ADS_1


"Aku turut prihatin dengan apa yang menimpamu selama ini. Semua yang terjadi telah berlalu. Kita selalu dimanjakan oleh kenangan, baik itu pahit maupun manis. Itulah yang membuat kita terus terbelenggu rasa bersalah dan menyesal. Padahal kita hanya perlu memungut setiap hikmah atas perjalanan hidup," sambungnya kembali. Suaranya mengalun tenang di telingaku.


Terlalu lama tertegun, membuatku terdiam beberapa saat. Seperti kehilangan kemampuan bicara. Kini, gantian dia yang mengetuk dinding tersebut.


"Kau sudah tidur?"


Sempat tersentak, aku yang sempat langsung berkata, "Ah, belum. Aku belum memiliki rasa kantuk.


"Apa kau akan balik ke Jepang?" tanyanya pelan.


"Hum." Aku mengangguk.


"Kapan?"


"Sekitar lima hari lagi."


"Apa kau akan balik lagi ke negara ini?"


"Seharusnya seperti itu," balasku dengan wajah sendu.


Sebenarnya, aku ingin bertanya langsung padanya tentang tuan Ali. Aku ingin tahu perasaannya pada pria itu. Sayangnya, aku tidak punya keberanian. Lebih tepatnya, aku merasa tak punya hak untuk bertanya itu. Siapa aku? Tentu bukan siapa-siapa!


"Hei, apa tidak ada sesuatu yang ingin kau berikan padaku sebelum aku pergi? Seperti benda atau semacam cendera mata yang bisa membuatku ingat padamu?" tanyaku.


Lama aku menunggu balasannya. Nyatanya, ia malah tak bersuara sama sekali.


"Coba lihat sebuah buku yang terletak di atas meja nakas!" pintanya.


Aku menoleh ke samping, mataku tertuju pada sebuah buku kecil nan tebal yang berdekatan dengan origami bangau buatanku. Aku sempat mengambil dan membuka buku itu tadi siang. Namun, tak ada satu pun kalimat yang bisa kubaca.


"Ambillah itu!" perintahnya kembali. "Itu salah satu benda paling berharga yang kumiliki."


Mataku spontan menatap dinding. "Benarkah? Jika buku berharga, maka tak seharusnya untukku."


"Tidak apa-apa."


"Buku apa ini?" tanyaku sambil membuka helaian demi helaian kertas yang dipenuhi tulisan arab.


"Buku tafsir."


"Tafsir?" Aku mengernyit.


"Kau bisa membacanya jika ingin tahu. Tapi, jika tak ingin, sebaiknya tak usah diambil."

__ADS_1


"Hhmm ... aku belum bisa membaca tulisan arab."


"Benarkah?" Ameena tampak terkejut. "Maaf, aku kira kau sudah bisa membaca." Suaranya malah melemah.


"Ah, tapi tidak apa-apa. Sekarang era teknologi. Bahkan bahasa planet lain pun bisa kita ketahui."


"Buku itu berisi tentang tuntunan dan pedoman hidup manusia. Kau orang yang kritis dan senang mencari tahu segala hal yang baru, jadi kupikir itu cocok untukmu. Mungkin saja kau akan ...." Ameena tak melanjutkan ucapannya.


"Kenapa?" tanyaku penasaran.


"Tolong jaga baik-baik buku itu. Jangan letakkan di sembarang tempat."


"Hum." Aku mengangguk. "Aku pasti akan membaca dan berusaha memahaminya."


Aku memeluk erat buku kecil itu. Tentu aku sangat senang menerima kenang-kenangan dari Ameena. Pada saat ini, aku merasa kami seperti duduk saling memunggungi. Aku memutar badanku secara perlahan, menatap dinding yang memisahkan kamar kami.


"Hei, Mina-chan! Terima kasih ... terima kasih telah menganggapku sebagai teman. Terima kasih juga karena masih mengingatku," lanjutku sambil tersenyum simpul.


"Khai ...." Dia memanggilku dengan serak. Hampir tak terdengar.


"Ya, mina-chan."


"Jaa ne ...."


Lagi, kudengar kalimat itu keluar dari mulutnya. Aku mengulum bibirku, menarik napas dalam-dalam sembari kembali menatap dinding dengan sesak yang tertahan.


"Jaa mata," balasku.


Entah kenapa, ucapan perpisahan kami kali ini terasa sulit terembus di mulutku. Aku sepenuhnya sadar jika hatiku telah terpaut padanya. Meski begitu, hanya berbicara dengan situasi seperti ini, sudah membuatku bahagia. Paling tidak, keinginanku untuk mengobrol dengannya telah tercapai.


Jari-jariku mencoba menyentuh dinding tersebut, kemudian menempelkan telapak tanganku seraya mengkhayalkan Ameena melakukan hal yang sama. Dengan kedua telapak tangan yang masih menempel di permukaan dinding, wajahku maju secara perlahan. Sepasang kelopak mataku menutup seiring bibirku yang kering ikut menempel di sana. Sementara di seberang sana, aku membayangkan dia menyambutku penuh kelembutan dan turut membalas sentuhan tanganku. Anggaplah seperti itu jika tak ada dinding yang menghalangi kami.


"Oyasuminasai," bisikku dengan bibir yang bergetar.


(Oyasuminasai: selamat tidur)


Aku menatap dinding polos di hadapanku dengan sayu. Aku tahu, aku bahagia saat ini. Namun, kebahagiaan ini seolah bercampur dengan rasa sesak yang bersemayam di dada. Dinding ini ibarat perbedaan yang berdiri kokoh di antara kami. Meski begitu, tak menjadi penghalang untukku menyalurkan perasaanku padanya. Aku ingin meleburkan setiap pertemuan kami dalam ingatan, kemudian menyimpannya dalam kenangan.


Mina-chan, sudikah kau menjamah cintaku, membiarkannya merambat ke hatimu dan menyebar ke seluruh pikiranmu?


.


.

__ADS_1


.


like dan komeng


__ADS_2