Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 38 : Coretan Salam Perpisahan


__ADS_3

Ada satu hal yang tak bisa ditunda di dunia ini, yaitu waktu. Ya, waktu terus bergulir, berjalan tanpa menunggu dan menantikan siapapun. Bulan demi bulan berganti, menjadikan tanggal-tanggal di kalender telah terlewati.


Aku masih di sini. Di negara yang mendapat julukan paling mematikan bagi para jurnalis. Selama beberapa bulan ini, tercatat ada puluhan jurnalis yang tewas saat tengah peliputan di medan perang, sedangkan belasan lainnya dinyatakan hilang.


Tak terasa, sudah setahun lebih aku berada di sini, bertahan hidup demi seonggok informasi yang kami kais setiap hari. Aktivitasku masih seperti biasa, meliput berbagai peristiwa yang terjadi di negara ini. Setiap hari aku berjuang untuk menekan perihnya hati yang sepi. Menyibukkan diri dengan pekerjaan adalah caraku berlatih memulihkan perasaan.


Yuna tak lagi menjadi bagian dari tujuan hidupku. Yang kutahu, dia telah pulang ke Jepang dan mungkin telah menikah dengan Yoshizawa. Inilah juga yang membuatku ragu mengambil cuti pulang ke Jepang meski bulan depan adalah giliranku setelah So, Eiji, dan Aoba telah lebih dulu.


Bagaimana dengan Zaheera? Hubungan kami tak berlanjut setelah kasus eksploitasi wanita di negara ini terungkap dan menjadi pembahasan di berbagai media selama berminggu-minggu. Selama ini aku menggunakan identitas palsu serta foto Yuna agar bisa akrab dengannya. Rasanya sudah tak pantas untuk menjalin hubungan pertemanan ini. Aku tak mau membuatnya kecewa saat tahu ternyata aku berbohong tentang identitas asliku.


Assalamualaikum, Zaheera ....


Tugasku untuk membantumu mengungkap kasus penindasan wanita di negara ini telah selesai. Setelah ini, kurasa kita tidak bisa lagi menjalin persahabatan maya ini. Tak perlu bertanya sebabnya, karena tak ada yang salah dari persahabatan kita. Segala sesuatu tak ada yang abadi seperti katamu, bukan? Begitu pula jalinan pertemanan ini.


Terima kasih atas waktu, informasi, motivasi serta nasihat berharga yang pernah kau berikan untukku. Kau memang tak pernah memegang pundakku untuk sekadar menguatkan, tapi kata-kata yang kau berikan telah mampu menyambung asaku yang sempat putus. Jika diberi kesempatan di lain waktu, aku ingin kembali menjalin pertemanan ini. Namun, rasanya mustahil, ya?


Terima kasih telah membaca coretan terakhirku ini. Doaku akan terus kulantunkan untukmu dan wanita-wanita di negeri ini. Tolong jaga dirimu baik-baik.


Dariku,


Yang mungkin akan kau lupakan ....


Ini menjadi surat terakhir sekaligus pesan perpisahan yang kukirim padanya. Tak sampai sejam setelah surat elektronik itu terkirim, Zaheera langsung membalas pesanku.


Walaikum salam, yaa Nissa ....


Bukan bermaksud tak menghormati keputusanmu, tapi ... tidakkah kau mau memperpanjang tali persaudaraan kita? Kau adalah bentuk cinta tak sedarah yang kumiliki saat ini. Aku bahagia bisa bertukar pikiran denganmu selama ini. Jadi, tolong jangan membuat ini menjadi berakhir bagi kita.


Membaca balasan pesannya, aku pun hanya tertegun. Tentu aku mengingat masa-masa kami sibuk bertukar informasi dan mengumpulkan data demi sebuah berita yang harus diketahui seluruh dunia.

__ADS_1


Zaheera, mungkin kau tak akan mengatakan hal ini jika tahu aku seorang pria.


Setelah hari itu, aku berhenti berkomunikasi dengannya. Aku tak pernah mengirim email lagi. Kulakukan ini untuk mengembalikan semuanya ke posisi sebenarnya. Aku pria dan dia wanita, sedari awal dia membatasi pertemanan dengan lawan jenis.


Aku memilih fokus bekerja dengan aktif menulis artikel lepas. Sejak artikelku viral dan membawa keberuntungan bagi karir Kamal Malek, ia pun membantuku masuk ke media Reuters. Media itu merupakan salah satu kantor berita terbesar di dunia yang memperkerjakan sekitar 2.500 jurnalis yang tersebar di seluruh dunia. Lewat media itulah, sejumlah artikel lepas yang kutulis berhasil terbit. Melalui ini juga aku mampu mengasah keterampilan dalam menulis kritikan yang tajam. Karena aku masih terikat sebagai jurnalis Jepang, maka aku hanya bisa memakai nama pena untuk artikel yang kumuat di media tersebut. Lagi-lagi aku memilih "Khai" sebagai nama penaku.


Kamal Malek juga memperkenalkan aku pada seorang guru bahasa untuk warga asing di negara ini. Berkat belajar pada guru tersebut, dalam sebulan terakhir ini aku telah mampu berbahasa Arab dalam komunikasi sehari-hari. Meski belum bisa dikatakan fasih, tapi aku sudah tak butuh lagi alat penerjemah bahasa atau kamus genggam.


Selama tujuh bulan, aku telah hidup berdampingan dengan kehampaan. Hati ini sudah lama kosong, tak ada cinta yang menetap kecuali kenangan yang bahkan tak berani kuingat. Waktu luang pun kugunakan untuk terus memperlancar bahasa Arab.


Kamal Malek menyarankan aku untuk mencoba mencari teman kencan wanita agar hidupku tak terlihat monoton.


"Kau harus berkenalan dengan wanita di negara ini. Mereka terkenal cantik jelita dengan rasa cinta kasihnya yang mendalam pada pasangan. Bahkan di zaman dulu sampai ada yang berkata: barang siapa yang belum menikahi wanita Syam, maka seakan-akan belum memiliki istri alias membujang. Itulah kenapa banyak pria di negara lain berbondong-bondong menikahi wanita Suriah."


Aku hanya diam mendengarkan ucapan Kamal Malek yang begitu bersemangat. Soal pria luar yang menikahi wanita di negara ini, aku sudah pernah dengar dari Zaheera. Kenyataannya, itu juga hanya bagian dari eksploitasi. Pria-pria pengusaha asal Yordania, Qatar, Kuwait dan belahan negara Timur-Tengah lainnya, banyak yang melakukan praktek pernikahan kontrak dengan wanita Suriah hanya untuk sekadar memuaskan hasrat mereka dalam batas waktu tertentu. Hal ini pun sudah pernah kuungkap dalam artikel yang rilis di media Reuters.


Dengan sedikit memaksa, Kamal Malek lalu mengajakku pergi ke sebuah tempat yang tidak pernah kujelajahi sebelumnya. Ternyata dia membawaku ke sebuah bar di daerah kota tua Damaskus yang jaraknya hanya sekitar satu kilo meter dari tempat yang penuh konflik.


"Bagaimana? Kau tinggal mendekati salah satu dari wanita-wanita yang tengah berjoget di sana, maka mereka akan menemanimu semalaman penuh," ucap Kamal Malek sambil duduk di depan meja bartender.


Aku mengedarkan pandangan seraya mendekatkan wajahku ke telinga pria itu. "Kukira ... kau akan memperkenalkan aku pada wanita Suriah yang memakai penutup kepala seperti hijab." Saat mengatakan itu, bayangan wajah Ameena sontak memenuhi ingatanku.


"Jangan bercanda! Mana ada wanita berhijab berada di tempat seperti ini!" ucap Kamal Malek dengan intonasi yang keras, "lagi pula tidak ada wanita seperti itu yang mau menjalin hubungan denganmu!"


"Memangnya kenapa denganku? Aku bukan penjahat!"


Kamal Malek menghela napas. "Apa kau tak bisa melihat sendiri perbedaanmu dengan mereka? Kau datang dari negara lain dengan budaya dan agama yang tak sama."


"Maaf, tapi aku tak memiliki agama."

__ADS_1


"Itu lebih parah dari sekadar berbeda! Setampan apa pun dirimu, mereka lebih memilih mencari pasangan dengan pria yang seiman."


Aku mendenguskan napas. "Lalu, untuk apa kau membawaku ke sini? Ketahuilah, di Tokyo tempat seperti ini sepuluh kali jauh lebih baik."


"Untuk membantumu mendapatkan teman kencan. Bukankah kau bilang sebulan lagi akan pulang ke negaramu. Paling tidak, kau harus punya pengalaman satu malam dengan wanita di negara ini untuk bisa kau ceritakan dengan teman-temanmu saat pulang nanti. Bukankah orang Jepang pandai bercinta seperti di film-film sekss yang diproduksi negara kalian?"


"Sepertinya kau salah sangka terhadap negara kami. Negara kami melegalkan industri porrno justru salah satunya karena ingin membangkitkan gairah sekss penduduknya. Sebagian besar dari kami tak memiliki minat terhadap sekss karena terlalu sibuk bekerja."


Aku lalu mengapitkan sebatang rokok di bibirku. Baru saja hendak merogoh pemantik api dalam saku celana, seseorang telah menyalakan ujung rokokku. Aku melirik ke samping, seorang wanita cantik bertubuh tinggi tersenyum padaku sambil menarik pemantik api yang baru saja dipakai untuk menyalakan rokokku. Kamal Malek lantas segera meninggalkanku berharap aku bisa akrab dengan gadis itu.


"May I sit here?" tanya perempuan itu sambil menunjuk tempat duduk kosong di sampingku. (Bolehkah aku duduk di sini?)


"Sure, have a seat." (Tentu, duduklah!)


Setelah mempersilakan gadis itu duduk, aku langsung berdiri dan meninggalkannya. Kamal Malek terkejut ketika aku menyusulnya dengan cepat.


"Kenapa kau tidak mengobrol dengannya?"


"Aku tidak tertarik."


Harus kuakui, wanita Suriah memang berparas cantik. Mereka lebih terlihat mirip orang Eropa dibanding orang Timur Tengah pada umumnya. Aku tak menyangkal pernah terbius dengan keindahan mata Ameena dan terkesima dengan kelembutan wajahnya. Wanita-wanita di tempat ini, banyak yang lebih cantik darinya. Bahkan pandai bersolek dan tampak fashionable. Namun, entah kenapa aku tak dapat merasakan makna terkesima seperti yang pernah kurasakan saat berhadapan dengan Ameena.


.


.


.


catatan author:

__ADS_1


FYI tentang media Reuters nih. ternyata ada juga jurnalis lawas kita yang bekerja di bawah naungan media ini. Dan di era orde baru, beberapa jurnalis kita yang pakai nama samaran untuk bisa kerja di dua media, media Indonesia sama media asing.


Oh, iya, aku punya teman bule Swiss di sosmed. Dia suka beli foto2 sejarah Indonesia dari media Reuters ini yang diambil oleh jurnalis foto. jadi koleksi instagramnya itu penuh dengan foto saksi sejarah dari era peralihan orde lama ke orde baru sampai era reformasi di mana foto-foto itu gak akan pernah kita lihat ada di museum atau buku sejarah. jurnalis foto di Reuters hebat-hebat sih menurut gua.


__ADS_2