Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 42 : Teman yang Tersimpan di Hati


__ADS_3

Aku pernah membaca sebuah kutipan, jika doa yang kita panjatkan untuk seseorang tak dikabulkan Tuhan, mungkin saat itu Tuhan sedang mengabulkan doa yang dipanjatkan seseorang untuk kita. Apakah kau sepakat?


.


.


.


Entah sudah jam berapa ini, yang pasti aku masih berada di antara dimensi mimpi dan kenyataan. Dalam lelapku, aku merasakan sentuhan menggelitik di telinga. Rasanya sungguh geli, sampai aku tak bisa menahan diri untuk terus menutup mata. Aku terbangun kaget saat sesuatu yang lembut itu terus menggelitik.


Di saat yang sama, aku mendengar gelitik tawa anak kecil tepat di samping telingaku. Aku berbalik, menatap Khalila yang duduk bersimpuh di sampingku sambil memegang bulu unggas yang baru saja digunakan untuk menggelitik telingaku.


"Kakak Pirang, kau bangun terlambat lagi!" ucapnya sambil meletakkan kedua tangan di sisi bibirnya.


"Benarkah?" Aku menyingkap gorden jendela di samping tempat tidurku. "Astaga, lihat, bahkan langit saja belum berubah menjadi biru. Kenapa kau suka membangunkan aku di pagi buta seperti ini!" keluhku.


"Kakak Pirang, apa yang kau katakan? Aku tidak tahu!"


Aku terdiam dan menyadari baru saja mengomel memakai bahasa Jepang.


"Aku bilang ... ini masih gelap. Bangunkan aku kalau matahari sudah terbit!" Aku kembali membanting tubuhku di kasur tipis.


Khalila kini mengguncang-guncang tubuhku. "Kakak Pirang, bukannya hari ini kau akan mengantarku pulang?"


Mataku berbuka seketika. Ya, aku lupa hari ini kami akan berangkat ke desa tempat tinggalnya. Aku harus berburu tiket kereta api sepagi mungkin.


Aku kini bersiap-siap untuk berangkat. Tak lama kemudian Khalila keluar dari kamar dengan memakai busana yang kubeli kemarin sore. Aku senang, karena pakaian itu sangat pas di badannya.


Rekan-rekanku mendekat sambil menunjukkan raut penuh kekhawatiran. Karena mereka takut sesuatu akan kembali terjadi padaku, kali ini mereka membekaliku dengan banyak makanan dan minuman. Mereka juga memasukkan kompas dan senter ke dalam ranselku untuk berjaga-jaga.


"Ayano, ini jimat perlindungan yang kuambil dari kuil saat pulang cuti bulan lalu. Ambil dan simpanlah, semoga ini bisa melindungimu!" Eiji memberiku potongan kayu kecil bertuliskan doa. "Kalau kau kembali, jangan lupa pulangkan jimat ini padaku," bisiknya sambil terkekeh.


"Ini jimat keberuntungan untuk karir dan percintaan. Kurasa ini lebih cocok kau simpan agar kau beruntung mendapatkan pengganti mantanmu yang sebelumnya," ucap So yang turut memberiku jimat berupa amplop kecil seukuran jempol berwarna merah.


"Kau sendiri, sudah lama menyimpannya tapi belum juga mendapatkan pacar!" celaku sambil tertawa.


"Hei, ayolah! Jangan mengejekku! Aku hanya bingung memilih wanita yang tepat untukku."


"Ayano-san ..." Aoba maju ke depan lalu menyerahkan sebuah katana kecil. "Semoga ini bisa melindungi kalian berdua."


"Arigatou. Maaf merepotkan dan membuat kalian khawatir. Aku janji akan pulang dengan selamat!" ucapku sambil membungkuk.


"Kakak Pirang, apa yang mereka berikan padamu?" tanya Khalila.


"Mereka memberi benda yang akan melindungi kita selama di perjalanan."


"Katakan pada mereka, Allah (Tuhan) adalah pelindung dan sebaik-baiknya pemberi perlindungan. Jadi, jangan khawatir!" ucapnya kembali.


"Kau benar. Tapi ... kita juga perlu menghormati keyakinan mereka," bisikku sambil tersenyum.


Sejujurnya, aku tidak memercayai hal-hal yang bertabrakan dengan logika, termasuk benda-benda mistis seperti ini. Namun, untuk menghargai mereka, aku tetap menerimanya.

__ADS_1


Aku memasang topi kupluk di kepalaku dan menggendong tas ransel lalu berpamitan pada mereka. Aku dan Khalila bergandengan tangan menuju stasiun. Kami lalu menaiki kereta api dengan tujuan provinsi Aleppo. Karena ini satu-satunya kereta api yang beroperasi, maka aku harus siap berdesakan dengan para penumpang lainnya. Sialnya, aku dan Khalila tak mendapatkan tempat duduk sehingga kami terpaksa berdiri. Wajahku yang tampak berbeda, membuat banyak pasang mata yang mengarah padaku dengan berbagai ekspresi. Padahal, aku sudah memakai topi dan kacamata.



Penumpang di kereta ini rata-rata adalah warga yang hendak mengungsi ke kota kecil yang belum terjamah peperangan. Mereka membawa banyak barang, bahan makanan, buah-buahan, ikan fermentasi hingga hewan ternak seperti ayam dan anak domba. Bisa dibayangkan seperti apa bau yang bercampur padu di sini. Jika digabungkan, maka baunya akan sama seperti sampah organik yang membusuk. Masker menjadi benda dambaanku saat ini, setelah segala jenis aroma menyengat memasuki indra penciumanku secara paksa.


Karena takut Khalila akan jatuh atau terinjak, aku pun menggendongnya sepanjang perjalanan. Untungnya, perjalanan ini hanya membutuhkan waktu kurang lebih empat jam. Kami akhirnya tiba di Aleppo yang merupakan ibukota dari provinsi Aleppo dan menjadi kota terbesar kedua di Suriah. Kota ini dulunya menjadi kota kuno dan tertua di dunia yang diperkirakan sudah ada sejak abad keenam sebelum Masehi. Sayangnya kota ini mengalami kerusakan parah akibat perang sipil.



sumber : BBC



Di kota ini, kami harus menaiki bus menuju kota kecil. Syukurnya, keadaan Bus tak sepadat di kereta sehingga kami bisa duduk tenang berdampingan. Namun tampaknya, perjalanan bus tak bisa dikatakan lebih nyaman karena kami harus melewati jalan yang rusak parah dan juga melewati pos pemeriksaan militer Suriah yang super ketat. Statusku yang seorang jurnalis asing, memudahkan aku untuk lolos di setiap pemeriksaan. Sementara Khalila, aku beralasan dia anak kawanku yang memintaku untuk membawanya ke tempat yang lebih aman.


"Kakak Pirang, apa kita sekarang berteman?" tanya Khalila tiba-tiba.


"Tentu saja! Kita adalah teman," balasku sambil menyodorkan hari kelingking ke arahnya.


"Tapi ... kita akan berpisah," ucapnya dengan wajah merengut.


"Berteman itu tidak selalu bersama seperti ini. Karena teman sejati itu tersimpan di hati," ucapku seraya menepuk dada.


"Apa kau sebelumnya memiliki teman yang tersimpan di hati?" tanyanya kembali.


Aku tertegun sejenak sembari menatap ke jendela bus. Ingatanku terbang saat terakhir kali bertemu dengan Ameena. Saat itu, aku nekad memanjat bus hanya untuk menanyakan apakah aku boleh menjadi temannya? Sayangnya, aku tak mendapat jawaban apa pun.


Kami diturunkan di kota yang lebih kecil sesuai permintaanku. Seperginya bus itu, aku malah kebingungan karena tak satupun petunjuk tentang arah desa tempat tinggal gadis kecil itu. Kucoba tanya padanya, ternyata dia pun tak tahu. Sialnya, tempat yang kami datangi saat ini seperti sebuah kota mati. Tak satu pun manusia yang terlihat. Hanya ada jejak peninggalan puing-puing bangunan yang roboh akibat serangan setahun yang lalu. Yang kutahu, daerah ini menjadi perbatasan antara wilayah kekuasaan pemerintah dan kelompok pemberontak.


Matahari menjelang sore begitu terik, serasa sedang berjalan di negeri Aladin. Setelah berjalan puluhan meter, kami pun melihat sebuah mobil pikap yang berjalan menuju ke arah kami. Ketika hendak menahannya, mobil itu lebih justru lebih dulu berhenti tepat di hadapan kami. Satu orang yang duduk di samping pengemudi keluar.


"Khalila, Khalila, kau selamat, Nak? Kami semua mencarimu! Ayahmu pergi ke Damaskus untuk menemukanmu, ibumu terus-terusan menangis karena khawatir," ucap pria itu sambil memeluk Khalila dengan raut senang. Ia lalu memandangku dengan alis yang mengernyit.


"Aku Ayano Kei, jurnalis Jepang yang bertugas di sini. Aku menemukan anak ini menangis di tengah kontak senjata dua kubu, lalu membawanya ke tempat ini." Aku berucap terbata-bata seraya membungkuk sopan di hadapan pria itu.


"Ah, kau bisa berbahasa kami?" Dia malah terkejut. Namun, setelah itu ia mengalihkan pandangannya pada Khalila. "Khalila, ayo kita pulang! Ibumu dan orang-orang panti asuhan sudah menantimu. Mereka tak berhenti berdoa untuk keselamatanmu."


Khalila malah menggenggam tanganku dengan erat sehingga pria itu kembali menoleh ke arahku.


"Biarkan aku ikut mengantarnya sampai ke kediaman orangtuanya," pintaku.


"Tidak bisa. Desa kami tidak sembarangan orang bisa masuk apalagi warga negara asing!" tolaknya, "Khalila, ayo masuk ke mobil!"


"Aku tidak mau pulang kalau Kakak Pirang juga tidak ikut!" ucap Khalila yang semakin menggenggam tanganku dengan erat.


Pria itu tak punya alasan lagi untuk menolak permintaanku. Ia lalu mengajak kami menaiki mobil. Ia memintaku bersembunyi di belakang, tepatnya di tumpukan barang sembako yang tertutup terpal. Ini untuk memudahkan aku masuk ke wilayah itu.


Kupikir, perjalanan dari sini ke desa tempat tinggal Khalila tak terlalu jauh. Nyatanya, sudah memasuki matahari terbenam, kami masih juga belum sampai. Aku mencoba mengintip dari balik celah, pemandangan tebing dan jurang mendominasi perjalanan kami.


Mobil ini berhenti untuk pertama kalinya. Aku kembali mengintip, di tengah suasana remang, kulihat ada banyak sekelompok orang bersenjata lengkap. Tampaknya mereka adalah penjaga area pintu masuk wilayah ini. Mobil kembali berjalan setelah gerbang dibuka. Dari balik persembunyian, aku bisa melihat daerah yang menjadi tempat tinggal Khalila. Aku terkejut mengetahui masih ada daerah yang aman dan bahkan jauh dari hiruk pikuk peperangan.

__ADS_1


Mobil kembali berhenti. Kali ini kudengar suara pintu mobil yang terbuka diikuti jejak kaki yang turun ke tanah.


"Kakak Pirang, kita sudah sampai di tempatku!" teriak Khalila.


Aku memberanikan diri keluar dan turun dari mobil tersebut. Khalila langsung menarikku masuk ke sebuah tempat di mana banyak anak-anak seusianya yang bermain dan berlarian di halaman. Tempat ini cukup luas dan tampak seperti sebuah yayasan. Aku sempat mendengar pria tadi menyebut kata panti asuhan. Apakah itu artinya Khalila tinggal di sini? Tapi bukankah ia memiliki ayah dan juga ibu?


Di tengah kebingunganku, aku mendengar suara teriakan heboh. Beberapa orang menyambut kehadiran Khalila dengan penuh suka cita dan rasa syukur. Tampaknya mereka adalah bagian dari pengurus yayasan ini.


"Khalila, Masya Allah, kau kembali dengan selamat, kami semua tak berhenti mendoakanmu! Bagaimana kau bisa kembali ke sini?" Seorang pria berkopiah putih langsung memeluk anak itu dengan penuh haru.


Pria yang membawa kami ke sini langsung menjelaskan dan juga memperkenalkan aku sebagai pria penyelamat gadis kecil itu.


"Alhamdulillah, terima kasih atas segala perbuatan baik Anda kepada anak ini. Semoga Allah membalasnya. Mari, silakan masuk!" ucap pria berpeci itu dengan ramah.


"Ah, tidak perlu. Sepertinya aku harus segera pulang. Tujuanku ke sini hanya untuk memastikan gadis kecil ini sampai dengan selamat di kediamannya," ucapku sambil berjalan mundur dan berbalik cepat.


"Kakak Pirang, kau akan pergi?" Khalila malah menahan ekor bajuku.


Aku memutar tubuh dengan perlahan, lalu berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya. "Ya, aku harus segera pulang agar tidak membuat teman-temanku khawatir."


"Tapi bukankah aku juga temanmu." Khalila menunjukkan wajah murung.


"Tentu, kau adalah temanku. Teman yang tersimpan di hati," ucapku sambil menepuk dada.


"Kau tidak boleh pergi sebelum bertemu ibuku." Khalila malah mengultimatum.


Pria berpeci putih datang mendekat seraya berkata, "Tuan, kalau boleh tinggallah sehari di sini. Ini sudah malam, tidak ada akses kendaraan menuju keluar desa. Biarkan Tuan kami bertemu Anda dan membalas kebaikan Anda kepada putrinya. Kami juga akan mengantar Anda pulang."


"Ah, tidak perlu repot-repot seperti itu!" tolakku secara halus.


"Ayolah, Tuan! Tuan kami sedang dalam perjalanan pulang. Beliau pasti juga ingin bertemu dengan orang yang menyelamatkan putrinya," bujuknya.


"Ah, sampaikan saja salamku padanya. Aku senang bisa bertemu dengan anaknya yang sangat cerdas!" ucapku masih menolak.


"Khalila! Khalila!" Suara panggilan seorang wanita membuatku tersentak.


Aku berbalik cepat. Di saat yang sama sesosok wanita muda yang cantik dan anggun dengan pashmina yang melilit kepalanya tengah berlari ke arah kami. Pada detik itu juga mataku membesar diikuti tubuh yang membeku.


Khalila sontak melepas pegangan tangannya di ujung bajuku, hanya untuk berlari ke arah wanita itu.


"Ummi ...." (ibu)


Teriakan Khalila pada wanita itu semakin membuatku terperanjat. Apakah yang kulihat ini sungguhan?


Seketika, aku mengingat harapan besar yang sempat terbesit di hatiku kala itu.


Jika kami masih dipertemukan kembali, semoga itu adalah jawaban dari doa yang ia panjatkan pada Tuhannya ....


Semoga itu adalah jawaban dari doa yang ia panjatkan pada Tuhannya ....


.

__ADS_1


.


__ADS_2