Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 45 : Ketika Hatiku Secerah Langit


__ADS_3

Embun pagi menyapa sebagai pergantian hari telah terjadi. Aku sudah terbangun sedari tadi. Ah, tidak tepat. Maksudku, aku tidak tertidur semalaman. Hanya untuk menunggu momen ini. Momen di mana aku bisa bertemu dengannya untuk sekadar menunjukkan foto-foto langit yang kuambil. Sayangnya, meski sudah berada di tempat yang sama, kami malah kesulitan untuk bertemu. Aku tak punya waktu banyak di sini dan hanya tinggal menunggu mereka siap mengantarku. Namun, hingga kini aku belum berbicara empat mata dengannya.


Sepagi ini, Ameena telah disibukkan dengan aktivitas mengajar anak-anak panti asuhan di mana Khalila juga menjadi bagian dari muridnya. Sudah hampir satu jam, aku duduk di bawah pohon rindang dengan kamera yang menggantung di leherku. Aku ikut melihat proses pembelajaran di ruang terbuka itu, seolah aku bagian dari muridnya.


Melihatnya dari sini saja, sudah membuat bibirku terus menyunggingkan senyum tipis. Saat mataku terus mengarah padanya, tanpa sadar tanganku sibuk menggali tanah dengan tangkai kayu. Mungkin sebentar lagi, akan tercipta sumur hasil buatan tanganku.


Tak lama kemudian, terdengar suara Khalila yang berlari ke arahku diikuti beberapa kawannya. Ternyata Khalila memperkenalkan aku pada teman-temannya. Dengan bangga dia mengatakan aku adalah sahabatnya. Sepertinya ini sudah jam istirahat mereka. Namun, sebagian anak-anak masih mengerjakan tugas sambil diawasi Ameena.


"Kakak, apa kau orang Amerika?" tanya salah satu dari anak-anak itu.


"Bukan, aku orang Jepang."


"Ah, apa kau seorang artis?" tanya mereka lagi.


"Tidak, aku bukan artis."


"Lalu, apa pekerjaan Kakak?" tanya mereka.


Karena aku tak tahu kosakata pekerjaanku dalam bahasa mereka, maka aku memakai bahasa inggris. "Aku jurnalist!"


"Apa itu?" Mereka kompak mengernyitkan dahi. Mereka pasti asing dengan kalimat itu.


Aku berpikir sejenak untuk menyebutkan kata yang mudah mereka pahami. "Pekerjaanku, menulis."


"Menulis?"


"Ya, menulis. Itu hobi yang menjadi pekerjaanku. Kadang-kadang juga melaporkan kejadian-kejadian yang ada di sekitar."


"Berarti Kakak Pirang sama seperti ummi. Ummi juga senang menulis!" sahut Khalila tiba-tiba.


"Ibumu juga senang menulis?"


"Ya, setiap malam, dia akan mengurung diri di kamar untuk menulis di depan komputer. Ummi bahkan seorang guru sastra."


Fakta ini membuatku terkejut, karena aku sama sekali tak menduga jika Ameena juga memiliki hobi yang sama denganku. Pandanganku sontak mengarah pada Ameena yang masih sibuk mengumpul tugas anak-anak.


"Kakak, ayo ikut bermain bersama kami!" Anak-anak itu malah menarik dan memaksaku untuk bermain bersama mereka.


Mereka lalu menutup kedua mataku dengan sepotong kain hitam hingga membuat penglihatanku menggelap. Kemudian, aku ditugaskan untuk menangkap salah satu dari mereka yang berlari. Hhmm ... cara bermain yang simple, bukan?


Ketika mataku telah tertutup oleh kain, aku mulai berjalan lambat dengan kedua tangan yang terulur ke depan agar bisa menangkap mereka. Anak-anak itu begitu gesit menghindar. Namun, aku menggunakan indra pendengaran untuk menangkap suara pergerakan kaki mereka. Berkat itu, sudah tiga orang yang berhasil kutangkap dengan mata yang tertutup. Khalila menjadi yang terakhir kutangkap.

__ADS_1


"Kau kutangkap!"


"Ah, aku tidak mau jadi yang berikutnya!" rengek Khalila berusaha melepaskan diri dari pelukanku.


"Kau harus menjadi orang yang sportif!" ucapku sambil menahan tubuhnya yang terus meronta.


"Ummi!" panggil Khalila tiba-tiba diikuti tubuh yang berhenti bergerak.


Mendengar itu, aku lantas melepaskan Khalila sambil membuka mataku yang tertutup. Benar, aku melihat Ameena berjalan sambil ditarik kedua muridnya ke arah kami.


"Guru, ayo ikut bermain bersama kami dan kakak itu!" bujuk para murid-muridnya yang kini mengelilinginya.


Aku dan Ameena saling berpandangan dalam diam. Khalila yang berada di depanku, lantas mengambil kain hitam penutup mata yang ada di tanganku. Dia mengedipkan sebelah mata ke arahku, lalu membawa kain itu pada Ameena.


"Sekarang giliran Guru yang menangkap kami," ucap Khalila yang ikut memanggil Ameena secara formal.


"Ayo, Guru, ikut main bersama kami!" desak murid-murid lainnya.


Tampaknya, Ameena tak bisa menolak permintaan murid-murid yang juga menjadi anak-anak asuhnya. Ia berjongkok secara sukarela agar anak-anak itu bisa melilitkan kain penutup di area matanya. Kini, gantian Ameena yang bertugas menangkap anak-anak itu.


Untuk beberapa saat, aku diam termangu. Mataku tak lepas memandangnya. Ia yang tampak kebingungan dan berusaha menggapai anak-anak yang berlari. Ia mencoba berjalan dengan tangan yang berayun-ayun ke depan untuk meraba sekitarnya. Di saat yang sama, aku melihat sebuah batu besar berada tak jauh dari hadapannya. Dengan segera, aku berlari mendekat ke arahnya hanya untuk menyingkirkan batu itu. Lapangan ini memang tandus dan banyak bebatuan. Jika tak hati-hati, maka akan membuat orang tersandung.


"Guru, tangkap aku!"


"Sebelah sini, Guru!"


Aku masih berada di depannya. Berusaha menyesuaikan arah langkahnya. Terus berjalan mundur, sambil mengawalnya dari depan. Dengan kakiku, aku meminggirkan batu atau apa pun penghalang yang akan dilewatinya agar ia tak tersandung. Seperti seorang ayah yang sibuk mengawasi anak kecilnya berjalan agar tak terjatuh. Seolah aku adalah pengganti sepasang matanya yang tertutup.


Entah hanya perasaanku saja, tapi kini langkah Ameena hanya terus tertuju padaku. Meski aku telah bergeser ke samping agar tak lagi mengawalnya dari depan, tapi dia malah terus mengikuti langkahku. Aku pun terus menuntunnya berjalan lurus meninggalkan semua muridnya dan keluar dari lapangan itu. Kami melewati jalan setapak yang dihiasi flamboyan-flamboyan alam.


Langkahnya sempat terhenti ketika murid-murid itu memanggilnya. Namun, hanya beberapa detik saja, tubuhnya kembali menghadap ke arahku saat ujung sepatuku dengan sengaja menggaruk tanah.


Hingga tak terasa, langkah kaki ini membawa kami ke suatu tempat yang begitu luas. Di samping kiri-kanan yang kami lewati terdapat rumput-rumput ilalang yang bergoyang lembut. Gempita suara tercipta dari gesekan daun-daun pepohonan yang ada di sekitar kami, seolah ikut menari bersamaan dengan ujung hijabnya yang diterpa angin. Meski dengan mata yang tertutup, dia tetap terlihat menawan dan anggun.


Aku berjalan cepat meninggalkannya. Sengaja kulakukan untuk mengambil bidikan foto yang bagus. Ya, aku ingin memotretnya dengan latar pemandangan langit yang indah. Tepat saat lensaku fokus untuk memotretnya, serangan panik tampak menyerangnya.


"Kenapa kalian sudah tak bersuara? Apa guru sudah boleh membuka mata?" tanyanya dengan kepala yang menoleh ke sana-kemari kebingungan.


"Apa kalian sudah meninggalkan Guru?" Suara dengan nada panik mulai keluar dari mulutnya.


Aku melangkah pelan dan berjalan mendekat ke arahnya. Kakiku berhenti tepat di hadapannya. Tampaknya, Ameena menyadari keberadaan seseorang di hadapannya. Tangannya terangkat pelan dan langsung bersentuhan dengan dadaku. Meraba-raba tepat di jantungku yang telah berdenyut tak keruan.

__ADS_1


Aku memandang alisnya yang bergelombang. Tangannya mencoba naik ke atas, menyusuri leher, rahang, dagu, bibir, hidung, hingga mataku. Ini yang kedua kalinya dia menyentuh seluruh wajahku, setelah sebelumnya saat kami tersesat di gurun. Jika dia enggan disentuh, maka aku tak keberatan dijamah olehnya.


"Siapa ini? Apa kau naik di atas kursi?" tanyanya dengan kepala yang sedikit miring. Dia mungkin mengira aku adalah salah satu muridnya.


Kedua tanganku melingkari kepalanya untuk membuka ikatan penutup matanya. Begitu terlepas, bola mata kami pun bertemu. Ameena terhenyak menatapku. Tinggi badan kami yang sama, membuat pandangan kami sejajar. Kakinya bahkan sampai mundur ke belakang. Ia lalu menoleh ke sekeliling tempat. Aku memang membawanya cukup jauh dari tempat sebelumnya.


Tanpa berkata apa pun, dia pun berbalik seakan hendak meninggalkanku.


"Mina-chan!"


Dia memutar kaku ke arahku. "Khai, sebaiknya kita kembali. Jangan sampai mendatangkan prasangka dari orang yang melihat kita. Itu akan menyulitkan dirimu sendiri."


"Jika kita tidak bisa berbicara di sini, kenapa kau terus mengikutiku?"


Dia terdiam sebentar, lalu berkata, "Aku hanya ... mengikuti instingku. Saat berjalan, aku seperti mengenal aroma tubuh yang khas dan tak asing."


Aku menyodorkan kamera ke arahnya, bermaksud menunjukkan kumpulan foto-foto langit yang kupotret langsung. "Sebenarnya, aku mengajakmu ke sini hanya ingin ...."


"Maaf, Khai," ucapnya kembali dengan kepala tertunduk.


Aku bergeming. Tak ada yang bisa kukatakan. Aku tak bisa memaksa jika dia tidak mau. Baru selangkah kakinya meninggalkanku, dia justru berbalik kembali ke arahku.


"Aku senang bisa berjumpa kembali denganmu di sini," ucapnya dengan tangan yang meremas kuat sisi bajunya, "Semoga Allah senantiasa melindungimu dalam perjalanan pulang ke Damaskus."


Aku mematung sesaat. Dia tidak dengan sengaja menghindari ku, kan? Tidak, tidak mungkin! Dari ucapannya, dia hanya tak mau membuat orang salah paham pada kami.


"Aku hanya ... mengikuti instingku. Saat berjalan, aku seperti mengenal aroma tubuh yang khas dan tak asing."


"Aku senang berjumpa kembali denganmu di sini."


Dua kalimat itu kembali berputar di ingatanku. Ketika bayangannya telah menghilang dari pandanganku, aku berbalik pelan, lalu meletakkan kameraku di atas tanah. Detik itu juga, aku melompat sambil berteriak kegirangan. Tak hanya itu, aku bahkan bersalto di antara ilalang yang mungkin akan membuat tubuhku gatal. Aku tak peduli!


Aku tak bisa mendeskripsikan rasa ini. Kehampaan yang cukup lama bertahan di hatiku seakan tergencet dengan perasaan senang yang sudah sekian lama tak kurasakan. Permadani biru yang luas membentang di atas kepalaku seakan ikut bersorak kegirangan. Namun, apakah perasaan senang ini akan bertahan lama?


.


.


.


rekomendasi lagi untuk part ini. J-soul brother dengan judul living in your sky. silakan denger di Yusup.com

__ADS_1


__ADS_2