Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 62 : Aku Siap Bertanggung Jawab


__ADS_3

Ada yang mengatakan, setiap manusia yang mati akan hidup di dalam kenangan orang lain. Kematian membuat manusia memaknai hidup yang seutuhnya. Andaikan hidup kita abadi, pasti akan sangat membosankan.


.


.


.


Kehidupan adalah sebuah misteri besar. Seperti aku yang tak tahu jika hari ini menjadi akhir pertemuanku dengan gadis kecilku. Lelehan bening tak henti-hentinya berproduksi di mataku. Ragaku tumbang, nyawaku seakan ikut melayang.


"Adik, tolong bangun! Bukankah kau hanya bilang ingin beristirahat?" ucapku di sela-sela isakan. "Ayo, berikan lagi pertanyaan padaku lagi. Biarkan aku menjawab pertanyaanmu! Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Kau belum pernah mendengarnya, kan? Aku punya rahasia besar yang kusimpan dan tak berani kuungkapkan. Ini tentang ibumu, tidakkah kau penasaran ingin mengetahuinya?" ucapku sambil membelai wajahnya.


Hatiku masih menolak kenyataan yang terjadi. Aku berharap dia hanya mengerjaiku dan tiba-tiba akan membuka matanya sambil tertawa meledek.


"Adik, bukankah kita akan bertemu ibumu, paman Ahmed dan kawan-kawanmu yang lain? Kau sangat curang! Bagaimana bisa kau pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal padaku?"


Ketika seseorang meninggal, indra pendengarannya lah yang terakhir pergi. Itulah kenapa aku terus berbicara padanya meski semua yang kulontarkan tak akan membuatnya kembali bernapas.


Aku meraung hingga terbatuk-batuk. Ini menjadi tangisan terpanjang dalam sejarah hidupku. Hingga kegelapan merampas kesadaranku dan waktu terlompat begitu saja.


***


Suara ramai beberapa orang menelisik pendengaranku. Meski begitu, aku sama sekali tak berniat membuka mata. Kurasakan seseorang tengah melepaskan genggaman tanganku di tangan Khalila. Namun, telapak tanganku semakin membungkus kuat kepalan mungil itu, tak mau membiarkan siapapun menyingkirkannya.


"Satu orang masih hidup!" teriak seseorang tepat di sampingku.


Mendengar itu, aku lantas mendongak ke arah Khalila dengan cepat. Nyatanya, tak ada yang berubah. Dia telah terbujur kaku. Aroma khas kematian kembali menyayat hidungku.


"Kau baik-baik saja?" tanya orang itu padaku. Ternyata orang yang dia maksud masih hidup adalah diriku sendiri.


Sinar jingga menerpa wajahku hingga membuat mataku refleks terpejam. Entah sudah berapa lama, aku terbangun dari tidur yang bahkan tak kusadari. Tampaknya segerombolan orang-orang ini adalah para relawan dari negara Arab lainnya. Beberapa mayat sudah berhasil dievakuasi dan dimasukkan dalam kantong jenazah. Mereka menyiapkan tandu, lalu hendak mengangkat tubuhku. Namun, segera kutepis kasar semua yang hendak menyentuhku. Air mataku kembali tumpah begitu kupandang wajah kecil tak berdosa itu.


"Apakah dia keluargamu? Dia harus segera dimakamkan. Lahan pemakaman sangat terbatas karena jumlah korban perang yang membludak," kata salah satu pria dengan sorban yang melekat di kepalanya.


Satu pria menepuk pundakku. "Insya Allah surga telah menantinya."

__ADS_1


Kulepas genggaman tanganku dengan perlahan. "Di mana kalian akan memakamkannya? Aku ingin ikut ...."


Butuh perjuangan untuk mengeluarkan Khalila dari bangkai mobil yang menindihnya. Bagai teriris sembilu, hatiku kembali remuk melihat jasad tubuh Khalila yang setengah hancur terutama pada kakinya. Bertahan cukup lama dalam keadaan seperti itu bukankah sangat menyakitkan? Tapi gadis kecilku sangat kuat. Tak ada keluhan dan air mata sedikit pun.


Aku ikut bersama mereka menuju lokasi pemakaman yang ternyata ada di kampung halaman Khalila. Aku tidak membawa apa pun di badanku selain celana dan baju yang kupakai dan sebelah sepatu Khalila. Kupandang sepatu milik Khalila. Sepatu ini telah dua kali menyelamatkanku dari ancaman nyawa.


Laptop, kamera, dompet, hingga ponsel kutinggal di dalam mobil sebelum memutuskan keluar untuk mengambil sepatu Khalila. Semuanya tertimbun dan hancur bersama bangkai mobil. Termasuk buku tafsir pemberian Ameena yang belum sempat kuketahui isinya.


Kami tiba di area yang dipenuhi batu nisan. Aku melihat warga dan para relawan sibuk bergotong-royong membangun kuburan berlapis. Beberapa orang lainnya tampak menyembayangkan jenazah. Ini karena kondisi lahan yang telah penuh sehingga mereka terpaksa membuat kuburan berlapis. Di tempat ini pula, para pejuang perang dari kelompok pemberontak dimakamkan.



credit: Amer Almohibany


Aku memandang hening jasad Khalila yang telah diletakkan dalam lubang persegi panjang kemudian tenggelam ditimbun tanah. Perang telah usai setelah PBB menyerukan gencatan senjata, tapi kepiluan masih terlihat jelas di lokasi ini di mana orang-orang menangisi keluarganya yang meninggal.


Usai menguburkan, satu per satu relawan itu meninggalkanku. Aku memandang kosong gundukan tanah di hadapanku yang baru saja ditancapkan nisan. Pandanganku mulai mengabur seiring mata ini memuntahkan cairan kesedihan.


Aku memandang ke samping. Sebuah pisau kecil yang tergeletak di atas tanah mengalihkan fokusku. Kuambil pisau tersebut sambil memandang kembali pusara Khalila. Kusimpan pisau itu ke dalam saku celanaku lalu aku berbalik pergi.


"Mm ... mina-chan," panggilku serak.


Dia menoleh pelan ke arahku. "Khai ...." Suaranya tak kalah lirih dariku.


Aku memandang kuburan di hadapannya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku dengan suara lemah.


Dengan bibir yang menahan getar, dia berkata, "Ahmed ... tertembak saat ingin membawaku dan anak-anak bersembunyi. Dia merelakan tubuhnya menjadi perisai kami."


Satu lelehan bening mengalir dari sudut matanya. Ternyata, Ahmed pun menyusul tuan Ali. Teman sehidup semati itu benar-benar ada.


Ameena memandang lara ke arahku. "Kau sendiri kenapa ...." Kalimatnya terpotong saat matanya tertuju pada sepatu Khalila yang berada di tangan kiriku."


Aku lantas berlutut di hadapannya dengan kepala menunduk penuh.


"Aku ... sungguh-sungguh minta maaf! Aku ... tidak bisa menjaga Khalila dengan benar sesuai amanatmu!" ucapku dengan kepala yang kian merunduk, "maafkan aku!" Kuucapkan itu berkali-kali.

__ADS_1


Ameena spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil terisak. Mendengar tangisan tertahan dari wanita yang kucintai, aku pun hanya mampu menggigit bibirku yang penuh luka. Bola mataku bergerak tak menentu. Suara tangisan itu semakin membuatku tenggelam ke lembah keterpurukan yang semakin dalam.


Tanganku merambat pelan, mengambil pisau dari saku celana. "Aku ... akan bertanggung jawab!" ucapku sambil menggenggam pisau.


Dengan sebilah pisau ini, aku siap membayar kesalahanku yang tak becus menjaga Khalila. Di hadapan Ameena, aku mengarahkan pisau itu ke perutku. Tepat saat mata pisau itu hendak mengoyak perutku, Ameena tiba-tiba berlari ke arahku sembari menahan pisau yang hampir menancap di kulitku. Ia menggeleng pelan sembari menggenggam erat bagian tajam pisau itu.


Aku memandangnya dengan mata membulat. Tanganku refleks melepas pisau yang melukai tangan Ameena hingga darah menetes di sela-sela jarinya.


"Jika kau bunuh diri, maka kau juga membunuh orang-orang yang mencintaimu. Khalila, tuan Ali, Ahmed bahkan yang lainnya ... kematian mereka telah digariskan Tuhan. Kita hanya menunggu waktu saja, tapi jangan bertindak mendahului ketetapan-Nya!"


Dalam tradisi Jepang, bunuh diri adalah bagian dari pertanggungjawaban seseorang dan bentuk memulangkan kehormatan. Namun, Ameena justru melarangku melakukan itu. Ia menyebutkan kematian setiap manusia adalah hal yang tak bisa ditunda, dihindari, atau diprediksi kapan datangnya.


Sinar keemasan menyoroti kami berdua. Menghangatkan hati yang lara. Kami bersama-sama menatap langit di mana matahari sore hendak pulang ke pangkuan senja.


"Khalila Sayang, selamat ... kau telah menuju ke surga sekarang. Impian yang dimiliki banyak orang. Kau tidak perlu takut lagi mendengar suara tembakan dan ledakan karena di surga hanya ada kedamaian yang tidak dimiliki di belahan bumi mana pun. Semoga kelak ummi juga dapat menyusulmu ke sana," ucap Ameena pelan sambil membelai nisan.


Aku memandang nanar Ameena yang duduk di sisi pemakaman Khalila. Otakku berputar mengingat pertemuan awal dengan gadis kecil itu, di mana ia langsung mengangkat kedua tangannya saat melihatku memotretnya dengan lensa panjang yang mirip senapan.


Ameena mungkin benar, Khalila tidak cocok berada di tempat seperti ini. Akan sungguh panjang penderitaan yang dialaminya jika terus-terusan hidup di dunia yang penuh kekacauan dan haus akan darah manusia. Biarkan untuk kali ini saja, aku memercayai surga itu memang ada dan gadis kecilku telah berada di sana.


.


.


.


Catatan Author:


Soal bunuh diri di Jepang sudah pernah aku bahas ya di NN. Jadi bunuh diri itu bisa dikatakan hal yang lumrah di Jepang bahkan bisa disebut tradisi dari era lampau. Alasannya bukan hanya sekadar putus asa. Bisa sebagai ungkapan kesetiaan pada majikan/pemimpin, ungkapan rasa malu, rasa bersalah dsb. kalo dalam militer mereka dulu, ada yang paling terkenal dgn sebutan kamikaze, yaitu pasukan berani mati di mana prajurit akan peluru atau bom yang siap diledakkan pada lawan. Mungkin ini yang menjadi inspirasi para bom bunuh diri. Saat kekalahan perang dunia 2 para prajurit, perwiranya, hingga rakyatnya pun melakukan bunuh diri masal sebagai bentuk rasa malu dan kesetiaan terhadap kaisar.


Terus, tentang Kei dan Khalila menjadi bagian dari kisah emosional yang aku favoritkan di novel ini, terlepas dari kisah cinta Kei dan Yuna yang kandas, atau kisah cintanya dengan Ameena yg belum nampak hilalnya. Seperti yg kita tahu, anak-anak selalu menjadi bagian paling menyayat dari perang. Namanya juga perang, ya ... pasti ada adegan kematian.


Untuk cerita kisah masa depan Kei sendiri sebenarnya sebagian dari kalian udah tahu, kan. Tapi pasti kalian penasaran hal apa yang membuat Kei pulang ke Jepang kemudian menjadi jurnalis politik dan hukum dengan sosok yang berbeda.


Happy ending gak kak Yu? Nah ini dari awal chapter banyak yang bertanya-tanya. Happy ya... Happy versi aku tapi 🤣. Serius, happy kok. NN yang rumit aja bisa happy, kan. Aku menghargai kalian yang berderai2 mengikuti novel ini dari awal. Kalian pasti udah tahulah ending-ending di novel aku kek gimana.

__ADS_1


__ADS_2