
Sambil menggendong Khalila, aku berlari meninggalkan Ameena dengan harapan kami akan berjumpa kembali dalam keadaan selamat. Kuikat dia dengan tali urat yang disilangkan ke badanku agar aku lebih leluasa bergerak. Sementara tas ransel kupindahkan di bagian depan.
Khalila masih tak sadarkan diri. Ia adalah amanat terbesar yang Ameena berikan padaku. Aku harus bisa menjaga dan menjamin keselamatannya. Selain itu, ini juga merupakan bagian dari rasa peduliku padanya.
Tank-tank tentara pemerintah dan Rusia telah merangsek masuk di desa ini. Aku terus berlari dengan membawa beban bocah berusia enam tahun dan tas ransel yang berisi laptop, kamera serta beberapa benda berharga lainnya. Dentuman dan ledakan mengiringi pelarianku bersama Khalila. Sesekali aku harus bertiarap kala pesawat tempur melintas di atasku.
Karena perang masih terus berkobar, aku tak bisa membawanya keluar dari desa ini menuju Damaskus melewati rute biasanya. Jalan satu-satunya, aku harus berlari menuju desa yang belum dijamah oleh pasukan militer pemerintah dan Rusia.
Aku mendaki perbukitan menuju ladang di tempat aku meninggalkan mobil tempur yang membawaku ke sini. Mungkin aku dan Khalila bisa lolos dari tempat ini dengan menggunakan mobil itu. Begitu tiba di sana, aku bergegas menghampiri mobil itu. Di waktu yang sama, sepatu Khalila terlepas sebelah dan jatuh ke tanah. Aku membungkuk untuk mengambil sepatu tersebut. Namun, mataku teralihkan pada sebuah galian kecil di bawah ban mobil ini.
Di waktu yang sama, kudengar suara orang berbincang-bincang. Ternyata mereka adalah pasukan militan pemerintah. Aku pun buru-buru masuk ke perkebunan dan bersembunyi di dalam batang pohon yang berongga.
Dalam pantauanku, tentara yang berjumlah tiga orang itu tengah duduk menikmati sarapan mereka. Salah satu dari mereka kemudian menyadari keberadaan mobil tempur yang kubawa lari. Mereka bertiga kemudian menghampiri mobil tersebut.
"Jangan ke sana! Jangan ke sana!" bersitku dengan alis yang melengkung.
Mobil itu meledak tiba-tiba tepat saat ketiga tentara itu masuk dan menjalankan mobil. Sesuai dugaanku, di bawah kolong mobil tersebut telah terpasang ranjau. Kurasakan tangan mungil Khalila mencengkram erat pundakku tepat saat ledakan itu terjadi. Aku menoleh ke arahnya. Anak itu sedari tadi menutup matanya, tapi bulu matanya yang lentik terus basah.
Aku keluar dari persembunyianku kemudian berlari ke tempat para tentara itu beristirahat. Kuambil tiga kaleng ransum yang tergeletak begitu saja, kemudian kutelan sisa makanan mereka hingga tak tersisa. Kuteguk habis minuman multivitamin yang tersisa setengah kaleng. Aku harus makan yang banyak agar bisa melindungi Khalila.
Satu kaleng ransum yang belum terbuka kumasukkan ke dalam tas. Aku lalu melanjutkan pelarianku sambil terus menggendong Khalila. Aku terus berjalan tanpa arah menyusuri hutan-hutan dan hanya berbekal instingku.
"Kakak Pirang, kita mau pergi ke mana?" Suara Khalila terdengar lemah.
"Kita akan pergi ke tempat aman. Tempat di mana kita tak mendengarkan kebisingan," jawabku sambil terus berjalan.
"Kenapa kau tak mengajak Ummi? Kenapa kau meninggalkannya?"
Aku tergugu seketika. "Ibumu harus menyelamatkan kawan-kawanmu."
Khalila terisak seketika. Aku menoleh ke belakang, melihatnya menangis.
"Kenapa kau menangis?"
"Aku sempat lihat beberapa teman-temanku terkena ledakan. Bagaimana kalau ummi juga kena ledakan itu? Kita seharusnya tidak meninggalkan ummi di sana!"
__ADS_1
Aku terpegun sesaat. Namun, suara Ameena seolah kembali hadir dan menggaung di telingaku.
Jangan khawatir, Tuhan selalu mengikuti prasangka hamba-Nya.
"Jangan khawatir, Tuhan selalu mengikuti prasangka hamba-Nya." Aku mengulang kalimat terakhir yang terulur dari mulut Ameena. "Ibumu akan baik-baik saja!" ucapku sambil mengulas senyum.
"Paman Ahmed bilang kalau Abi berhasil mengusir orang-orang itu, tapi kenapa masih ada suara bom dan tembakan seperti ini?" tanya Khalila sambil mencengkram kuat pundakku.
"Itu karena mereka terlalu banyak, tapi tenang ... semua akan baik-baik saja dan kembali seperti semula." Setiap kata kulontarkan dengan kaku.
"Benarkah?" Suara Khalila terdengar lirih.
"Hum," sahutku pendek.
Aku melanjutkan perjalanan. Pemandangan suram terlihat sepanjang pelataran desa. Roman pedesaan berubah lesu dan tak berseri lagi. Rumah-rumah penduduk telah rata bersama tanah. Tiang lampu dan pembatas jalan berubah menjadi bongkahan puing-puing. Mayat-mayat bergelimpangan. Air jernih yang mengalir di dalam selokan kini berganti warna menjadi merah. Aroma darah meraba indra penciumanku.
"Kakak Pirang, aku mau turun!" pintanya.
Aku pun menurunkan Khalila dari punggungku. Dia menatapku dengan saksama. Matanya yang layu seolah hendak menyampaikan sesuatu padaku.
Dia menggeleng.
"Mau buang air?"
Dia kembali menggeleng. Namun, kali ini disertai dengan genangan air di matanya. Aku lantas berjongkok sembari memegang pundaknya.
"Kau kenapa?"
"Aku teringat Abi." Suara Khalila bergelombang. Bulir kesedihan mulai mengalir dari sudut matanya.
Aku bergegas menghapus lelehan bening di wajahnya. "Jangan khawatir! Ayahmu baik-baik saja!"
"Kakak Pirang tidak perlu membohongiku. Aku tahu ayahku sudah meninggal. Aku melihat sendiri semua orang menangis sambil menyebut nama ayahku pagi tadi. Kenapa kakak Pirang, ummi, dan paman Ahmed tidak jujur saja? Aku tidak ingin membuat kalian berdosa karena terus-terusan membohongiku. Jadi, berhentilah berbohong!" Genangan air di matanya tumpah ruah. Tangisannya pecah berhamburan.
Aku terhenyak. Untuk beberapa saat wajahku mengeras dan tubuhku membatu. Sungguh tak kusangka Khalila menyadari ayahnya meninggal dunia. Anak sekecil ini, harus menelan kenyataan pahit kalau dirinya telah menjadi yatim piatu.
__ADS_1
"Paman Ahmed bilang ayahku adalah pahlawan. Tapi aku tidak butuh ayah seorang pahlawan. Aku hanya butuh ayah yang selalu ada di sampingku." Wajah polos gadis itu telah diselimuti air mata yang jatuh bercucuran. Pundaknya berguncang dikepung kesedihan.
Aku mencoba mengalihkan perhatiannya dengan bersalto maju mundur di hadapannya.
"Adik, lihat, aku bisa melakukan ini!"
Usahaku tak berhasil. Tak hilang akal, aku berdiri di sebuah tiang bangunan yang tersisa lalu membalikkan posisi kaki di atas dan kepala di bawah dengan bertumpu pada kedua tanganku.
"Adik, lihat, aku bisa berdiri dengan posisi terbalik!" seruku.
Percuma! Khalila tak sedikit pun menoleh ke arahku. Lelehan bening masih saja mengalir deras di pelupuk matanya. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan sambil terus menangis memanggil ayahnya berulang kali.
Merasa belum bisa mengalihkan perhatiannya, aku pun berjalan setengah berjongkok dengan sebelah tangan memegang kepala dan sebelahnya lagi berada di bokong seolah menirukan gaya monyet.
"Lihat, aku bisa menjadi monyet!" ucapku sambil memaksa tertawa.
"Abii ... aku ingin bertemu abi. Jangan tinggalkan aku!" panggilnya serak disertai napas terengah-engah karena Isak tangis yang tak reda.
Lelucon ini pun gagal menarik perhatiannya. Semua yang kulakukan untuk mengalihkan kesedihannya hanya sia-sia belaka. Suara tangisannya semakin memilukan. Mengaduk-aduk hati siapapun yang melihat.
"Khalila, coba lihat aku!"
Aku menatap nanar ke arahnya sambil terus bertingkah layaknya seekor monyet. Bahkan menggaruk-garuk bagian tubuhku seperti yang sering dilakukan binatang tersebut. Salah satu hal yang paling menyedihkan adalah ketika kau berusaha menghibur orang, sedang ekspresimu sendiri sangatlah menyedihkan.
Khalila akhirnya menoleh ke arahku. Namun, bukan untuk melihat aksi konyolku. Melainkan membuat suatu permintaan yang tak mungkin bisa terjadi.
"Kakak Pirang, bisakah kau membantuku membuat permohonan pada Allah untuk kembalikan ayahku? Aku akan berusaha menjadi anak yang baik dan membanggakan," ucapnya di sela air mata yang mengucur deras.
Aku mematung bodoh. Mataku mendadak memerah, seperti terkena sebuah percikan. Hatiku merutuki keadaan ini. Kenapa anak sekecil dirinya harus menanggung semua pilu ini?
"Kakak Pirang, tolong bantu aku! Mungkin Allah lebih mendengarkan doa orang dewasa dibanding anak-anak," pintanya lirih sambil mengayun-ayunkan ujung jariku. Suaranya bahkan terdengar parau.
Aku berusaha membuka mulutku. Sayangnya, suaraku justru tertahan. Seolah ada bongkahan batu besar yang menyumbat tenggorokanku sehingga membuatku kehilangan seluruh kemampuan berbicara. Kuangkat daguku tinggi-tinggi, berusaha tak menitikkan air mata. Percuma! Satu lelehan bening lolos di sudut mataku.
Sinar jingga menyoroti tubuhnya yang meringkuk. Aku berlutut di hadapannya, kemudian memeluknya dengan erat. Kugerakkan jari-jariku di kepalanya yang tertutup kerudung, mengusap dengan penuh sayang. Pada akhirnya, hanya inilah yang mampu kulakukan padanya.
__ADS_1