Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 52 : Aku dan Kamu Rumit


__ADS_3

Cahaya keemasan mulai merambat di kamar kecil ini beriringan dengan suara burung yang terdengar seperti melodi musik. Pada pergantian hari, tubuhku mulai kembali pulih dari sebelumnya. Buktinya, sepagi ini aku sudah ikut bermain bola dengan para bocah laki-laki. Aku berhasil mencetak gol berkali-kali. Entah kenapa hari ini aku seperti mendapat kekuatan baru.


"Goooool!"


Anak-anak bersorak kegirangan seraya berbondong-bondong menghampiriku. Tak peduli lawan atau teman tim, selama ada yang berhasil memasukkan bola ke gawang sudah membuat mereka semua kegirangan. Di saat anak-anak masih mengerumuniku, mataku justru teralihkan ke seberang sana.


Ya, aku melihat Ameena berjalan sambil membawa tumpukan buku. Tanpa sadar, mata, kepala dan leherku terus mengikutinya. Aku terlalu mengagumi wajah dingin tanpa garis senyum yang menjadi khasnya, sehingga pandanganku pun enggan berpaling darinya.


"Kakak awas!" teriak anak-anak beramai-ramai.


Tepat ketika aku berbalik, sebuah bola melesat mulus mengenai hidungku. Sontak saja aku terduduk seraya meringis kesakitan. Setitik darah mengalir dari hidung turun ke bibirku. Aku langsung keluar lapangan sambil menekan hidungku yang masih mengeluarkan darah.


"Kakak Pirang!"


Aku menoleh ke samping ketika mendengar suara Khalila. Gadis kecil itu menghampiriku sambil menyodorkan sapu tangan yang warnanya menyerupai kelopak bunga sakura pada umumnya.


"Terima kasih! Kau memang teman yang sangat peduli!" Aku melempar pujian pada Khalila seraya menggunakan sapu tangannya untuk membersihkan sisa-sisa darah di hidungku.


"Bukan aku tapi ummi! Sapu tangan itu ummi yang memintanya membawakan untukmu."


Aku terperanjat. Mataku menatap lamban ke tempat aku melihat Ameena tadi. Ternyata dia tengah berdiri menghadap ke arahku. Sayangnya, kepalanya langsung berpaling diikuti langkah kaki yang buru-buru beranjak ketika aku menengok ke arahnya.


Bibirku membentuk lengkungan tipis. Aku melipat kembali sapu tangan itu dan memasukkannya dalam saku jaket. Yeah, aku mendapatkan satu barang miliknya lagi!


"Kakak Pirang, apa kita masih bisa bertemu lagi setelah ini?" Wajah Khalila mendadak murung diikuti bibir yang melengkung ke bawah.


Aku lantas berjongkok di hadapannya sambil menarik kedua pipinya ke atas agar bibirnya terlihat senyum.


"Pasti. Pasti kita akan bertemu lagi. Jaga dirimu, ya?"


Khalila mengangguk meski sinar matanya tampak meredup.


Aku menelan ludah yang terasa pahit. "Kau juga harus menjaga ibumu."


"Tentu," jawabnya cepat.


Aku pun berbalik menghadapkan punggungku padanya. "Ayo naik ke pundakku! Aku akan mengajarimu terbang seperti superman!"

__ADS_1


"Hah? Tapi aku takut."


"Ayolah, percaya padaku!"


Khalila lalu naik ke atas pundakku dengan ragu-ragu. Aku berdiri dan mulai berjalan sambil membawa Khalila yang duduk di antara bahuku. Kedua tangannya meremas kuat rambutku karena takut terjatuh.


"Sepertinya sekarang tinggi badanku sama seperti Abi."


Khalila mulai berani merentangkan tangan seperti burung yang terbang dengan mengepakkan sayapnya. Aku membawanya berlari, menabrak angin yang berembus pelan. Beberapa jam lagi aku akan meninggalkan tempat ini. Rasa kekeluargaan yang begitu kental di tempat ini, membuatku berat untuk meninggalkan mereka.


Satu jam kemudian, Ahmed datang menghampiriku dengan terburu-buru. "Saudara Kei, Anda dipanggil tuan Ali ke halaman belakang."


Aku langsung berdiri dan segera menemui tuan Ali. Langkah kecil membawaku menyusuri jalan setapak bersama Ahmed.


"Saudara Kei, sayang sekali kau akan segera pulang ke negaramu. Coba saja kalau kau bisa menetap lebih lama di sini!"


"Memangnya kenapa?"


Ahmed menoleh ke arahku, sambil menahan senyum. "Tuan Ali akhirnya memutuskan akan segera melamar saudari Ameena."


Langkahku terhenti seketika.


"Seharusnya iya. Tuan Ali adalah kakak dari mendiang suaminya. Wajah mereka hampir tak ada bedanya. Tuan Ali juga memenuhi kriteria imam yang baik bagi wanita."


"Imam yang baik?" Aku mengernyit.


"Ah, sudahlah ... kau tak akan paham! Selain itu, Ameena mungkin akan mempertimbangkan keinginan Khalila. Jika dia menerima lamaran tuan Ali, maka pernikahan mungkin akan segera dilaksanakan di bulan ini," balas Ahmed dengan penuh antusias.


Mendengar itu, wajahku seakan berselimut mendung. Perasaanku yang meledak-ledak selama beberapa hari ini seakan tersapu bersih. Dalam waktu satu bulan? Itu artinya aku masih berada di Jepang.


"Ah, itu mereka!" sahut Ahmed.


Melihat tuan Ali sedang bersama Ameena dan Khalila, aku ragu untuk melangkah. Saat kaki ini mundur ke belakang, tuan Ali langsung menengok ke arahku.


"Kau sudah datang rupanya!" Tuan Ali menyapaku dengan senyum yang memperlihatkan gigi-giginya.


Aku menundukkan kepala sebagai bentuk salam hormatku padanya. Pandangan senduku bertemu dengan manik biru Ameena yang berkilau bagai lautan di bawah cahaya matahari. Aku tersesat dalam lamunanku sendiri. Bahkan di saat bola mata indah itu telah berpaling dariku.

__ADS_1


"Saudaraku, ayo ikut bersama kami. Akan kutunjukkan padamu perkebunan buah dan sayuran. Kau bisa membawa pulang yang kau mau," ajak tuan Ali sambil berjalan.


Di saat mereka semua mulai melangkah, aku justru masih menetap, diam dan terpaku. Seolah kaki ini tertancap ke tanah hingga tak bisa bergerak.


"A ... Tuan!" panggilku tiba-tiba, "maaf, aku tidak bisa ikut!"


Dahi tuan Ali membentuk lipatan-lipatan kecil.


"Aku ingin beristirahat sebelum pergi. Perjalanan ke Damaskus akan memakan waktu lama, jadi kurasa aku harus mempersiapkan tubuhku."


"Ah, iya, dia kan baru saja sembuh!" sambung Ahmed.


"Benar juga, ya? Kalau begitu, sebaiknya kau kembali beristirahat. Kami akan memanggilmu jika mobilnya telah siap," ucap tuan Ali.


Entah kenapa, nyaliku selalu menciut ketika berada di antara mereka. Sejatinya, Ameena sangat cocok bersanding dengan tuan Ali. Aku mengakui itu. Apalagi Khalila sangat membutuhkannya sebagai sosok ibu. Rasanya sangat egois jika aku menghalangi mereka bersatu. Aku yang saat ini seperti dipaksa pergi dari cinta yang bahkan belum sempat tergapai.


Aku kembali ke kamar sambil menatap perputaran jarum jam. Aku mempersiapkan diriku, mengemas barang-barang lalu memasukkannya dalam ransel. Aku mengambil buku pemberian Ameena semalam, memegangnya dengan hati-hati.


Kulihat kembali sebuah origami bangau yang berisi tentang ungkapan perasaanku padanya.



Ketika aku mulai mengenalmu, tak ada bahasa dan kata yang dapat kumengerti dan terlalu banyak rasa yang sulit terdefinisikan. Seperti badut yang senang ditertawakan, aku pun menjadi bodoh di hari-hariku. Seperti kelelawar yang beraktivitas di malam hari, dan terlelap di pagi hari, tingkahku berubah 180 derajat terbalik dari aku yang biasanya. Semua perasaan ini mengalir natural apa adanya. Tak bisa kukendalikan. Tak dapat dielakkan.


Aku selalu berusaha biasa-biasa saja saat memandangmu. Namun, tak kuasa! Nyatanya terlalu banyak hal luar biasa yang kutemukan dalam dirimu.


Aku pun mulai bertanya-tanya dalam hati. Dapatkah kita duduk berhadap-hadapan dengan dua cangkir teh yang tersaji di depan kita? Dapatkah kita berdiri berdampingan, diam meresapi setiap titik air yang jatuh dari atas langit? Dapatkah kita berjalan beriringan dengan arah dan tujuan yang sama hingga tak perlu lagi mengucapkan salam perpisahan seperti biasa?


Sayangnya, aku dan kamu rumit. Serumit menyatukan jari kita dalam satu genggaman. Kita tak bisa melampaui asa. Begitu, kan? Ya, aku telah mendapatkan jawabanmu lebih dulu, bahkan sebelum aku mengatakannya padamu tentang perasaanku. Kamu pun harus tahu dengan jawabanku. Aku menyukaimu tanpa perlu disuka balik olehmu. Jadi, jangan merasa terbebani menerima ungkapan perasaanku ini. Sebab, aku tak menuntutmu untuk membalasnya. Namun, jika perasaanku adalah sebuah kelancangan bagimu, aku hanya bisa meminta maaf dengan tulus padamu.


Sempat terpikir di benakku ... mungkinkah kau adalah rasa sakitku yang tertunda? Tidak apa-apa. Akan kunikmati semua rasa sakit itu di kemudian hari. Bahkan jika kau hanya membawa secuil kebahagiaan di hidupku, tak akan pernah kusesali.


Begitulah isi surat berbentuk bangau yang kutinggalkan di atas meja nakas. Semoga dia membacanya dan mengetahui makna setiap goresan tintaku.


visual Kei Ayano


__ADS_1


.


like dan komenglah. terakhir update hari ini ya.


__ADS_2