
Kedekatanku selama tiga hari dengan perempuan bermata indah itu, telah membuatku mencicipi segala rasa. Rasa senang, rasa sakit, rasa sayang dan peduli, rasa yang berdebar tak keruan, rasa cinta yang bersemi, rasa lelah dan putus asa, rasa bersyukur, rasa panik, dan juga ... rasa takut kehilangan.
.
.
.
Dalam lelap, kurasakan sinar keemasan membelai kulitku. Pelan-pelan, kubuka kedua mata ini. Posisi tidurku saat ini ternyata bertiarap di lantai dengan sebelah kaki yang terjulur di anak tangga. Aku melihat ke depan. Masih di gurun ini dengan suasana yang sama seperti kemarin. Tak ada yang berubah, kecuali tempat yang kami tinggali saat ini.
Aku mencoba mengangkat kepala. Berat sekali. Tenggorokanku bahkan sudah sekering gurun ini. Kulihat matahari sudah sangat terik. Astaga! Aku terlambat bangun. Seharusnya terbangun di subuh buta untuk mencari embun atau sisa-sisa endapan air. Kucoba menoleh ke tempat Ameena. Ternyata dia masih berada di sana dengan posisi yang sama seperti semalam. Apakah dia belum bangun?
Aku mengerang kesakitan saat mencoba berdiri. Bekas pukulan yang diberikan para penyamun itu baru terasa pagi ini. Karena tak mampu meluruskan badan yang penuh nyeri, aku merangkak ke arah Ameena.
"Mina-chan!" panggilku dengan suara yang lemah.
Dia masih tak mengangkat kepalanya.
"Mina-chan, Mina-chan," panggilku kembali.
Kucoba mengintip wajahnya yang bersembunyi di antara lutut. Hanya terlihat bibirnya kering kerontang, mengelupas bagaikan retakan tanah di musim panas. Mungkin seperti itu juga gambaran bibirku saat ini.
"Mina-chan ...."
Dengan ragu, aku mengarahkan telunjukku mencoba menyentuh kulit wajahnya dengan ujung kuku untuk mengecek kesadarannya. Astaga, suhu tubuhnya panas dan kulitnya kehilangan elastisitasnya. Dia terkena dehidrasi parah!
Matanya sedikit terbuka dan dia memandangku dengan tatapan gamang. Hanya sebentar. Mata itu kembali meredup diikuti tangan yang terkulai lemas.
"Mina-chan, bertahanlah! Aku akan mencarikan air untukmu," ucapku panik.
Aku bergegas berdiri dan keluar dari tempat itu, menuju hamparan pasir yang bagaikan lautan tak bergelombang. Kulupakan rasa sakit yang mendera seluruh tubuhku hanya untuk bergegas mencari air. Meski hawa panas di luar benar-benar mencekik, aku tetap berjalan dengan kondisi tubuh yang juga mulai melemah. Karena ada beberapa tumbuhan yang hidup, jadi aku meyakini mungkin ada mata air di sekitar sini. Aku berjongkok dengan kedua tangan yang mulai sibuk mengeruk pasir, berusaha mencari sumber mata air.
Tak menemukan satu tempat, aku pindah ke tempat lain. Begitu seterusnya. Aku memakan tumbuh-tumbuhan liar yang kutemui untuk mengisi perut yang kosong agar tubuhku sedikit bertenaga. Paling tidak, aku harus tetap bertahan untuk menolong Ameena. Sayangnya, aku tidak menemukan kaktus di sini, jika ada pasti sudah kuambil sari airnya.
__ADS_1
sumber gambar: kukau.blogspot.com
Aku sedikit beruntung dapat memakan tanaman-tanaman liar di sini. Saat kuliah di USA, aku pernah membaca kisah orang tersesat di gurun pasir. Dia menangkap ular dan memakannya hidup-hidup, lalu meminum air seninya sendiri. Semua dilakukan untuk bertahan hidup.
Debu pasir yang terbang dibawa angin memercik kulit wajahku. Terasa panas menyengat. Tidak kalah dengan pasir yang kugali saat ini. Pencarian ini sungguh melelahkan dan hanya menghabiskan tenaga. Aku menyeret langkah dengan gontai. Sungguh, aku tidak kuat lagi! Kakiku lunglai dan aku roboh di samping kerukan pasir yang baru kubuat.
Haus sekali. Aku hanya butuh air untuk berbagi dengan Ameena. Aku melihat jauh ke bangunan kokoh yang menjadi tempat berteduh kami. Ameena masih di sana. Sementara aku terkapar tak berdaya di sini. Aku sudah tak punya kekuatan untuk kembali ke sana. Apakah dia masih bertahan di sana? Entahlah, tampaknya ini akan menjadi akhir dari kehidupan kami.
Aku menatap langit. Di penghujung asaku, tiba-tiba setetes air jatuh membasahi pipi ini lalu merembes ke sudut bibirku yang kerontang. Aku terkesiap. Air apa ini? Apakah ini air mataku? Tidak, aku sedang tidak menangis! Apakah ini keringat? Tampaknya dehidrasi parah juga melandaku, sudah seharian aku tak mengeluarkan urin, bagaimana bisa berkeringat?
Setetes air kembali jatuh ke jidatku. Kali ini semakin banyak membasahi bagian tubuhku. Melihat rintikan dari atas langit di tempat ini, sama halnya melihat matahari bersinar gagah di musim dingin. Benar-benar hal yang langka!
Setetes demi setetes air itu kini berubah menjadi guyuran. Mulutku ternganga lebar seperti pintu gua, sengaja membiarkan air hujan itu terteguk untuk menyapu dahaga. Seperti mendapat kekuatan baru, aku pun langsung bangkit, berdiri dengan riang lalu lari tergesa-gesa menuju kastil, tempat Ameena menungguku.
"Yuuhuuuu!" Aku berteriak sambil meloncat.
Aku terus berlari, menerobos hujan yang semakin deras. Wajahku terasa segar. Meski sempat terpeleset di gundukan gurun yang licin, tidak mematahkan semangatku untuk segera menemuinya. Sungguh, tak ada hal apa pun yang bisa melukiskan rasa syukurku saat ini. Sebab, yang kutahu iklim di gurun terkenal ekstrem dengan curah hujan yang rendah dan tak menentu. Di beberapa lokasi gurun, air hujan mungkin lebih dulu menguap sebelum menyentuh tanah. Apakah ini yang disebut keajaiban, mukjizat, kuasa Tuhan yang sering didengungkan orang-orang?
Dalam keadaan tubuh yang basah kuyup, kuhampiri Ameena yang telah terkulai di lantai.
Wanita itu tak meresponku. Kulihat wajahnya yang memucat seperti mayat. Bibirnya pun tampak kebiruan.
"Mina-chan?" panggilku serak.
Senyum yang mengembang di bibirku hilang secara bertahap. Entah kenapa jantungku terasa bertalu-talu. Aku mencoba mendekatkan jariku di saluran pernapasannya. Mataku terbelalak seketika. Aku langsung memegang pergelangan tangannya, memeriksa denyut nadinya.
Aku memandangnya kaku. Mataku sontak berkaca-kaca. "Mina-chan, Mina-chan, ayo bangun! Lihat, hujan turun sangat deras. Kita tidak akan kehausan lagi. Kau harus segera meminum air hujan sebelum hujannya berhenti dan kembali kering," ucapku dengan nada suara yang bergelombang.
Aku spontan mengguncang-guncang tubuhnya sambil terus memanggil namanya. Entah sudah berapa lama dia tak sadarkan diri. Tidak, aku tak bisa membiarkan ini terjadi. Napasnya berhenti, denyut nadinya pun tak terdeteksi. Dengan cepat, aku melakukan tindakan CPR yang kupelajari dari kekasihku. Kuluruskan tubuhnya lalu kupompa dadanya. Dia tak merespon.
"Tidak! Kau tak boleh meninggalkanku seperti ini! Kita sudah sepakat untuk keluar dari gurun ini bersama-sama, kan? Kau sudah setuju untuk memastikan aku kembali ke teman-temanku, kan? Kalau begitu, kau harus bangun dan temani aku keluar dari tempat ini!" ucapku sambil terus memompa dadanya berkali-kali.
Aku memencet hidungnya, menempelkan bibirku ke bibirnya mendorong napas dari mulutku ke paru-parunya. Tubuhnya tetap tak memberi respon. Kuulangi sekali lagi, menempelkan mulut kami untuk menyalurkan napasku.
"Mina-chan! Tolong, bangun ...."
__ADS_1
Tak terasa buliran bening menetes dari sudut mataku dan jatuh ke pipinya. Tangisanku menyatu dengan suara derasnya hujan. Aku tidak tahu kenapa air mata ini bisa keluar. Apakah karena aku takut kehilangannya? Ataukah aku hanya takut ditinggal sendiri.
Aku mengulang pemberian napas buatan untuk yang ketiga kalinya. Kurasakan bibirnya sudah tak sedingin tadi. Kuselingi dengan kembali memompa dadanya. Pada hitungan sepersekian detik, kulihat ujung jari telunjuknya bergerak. Kedua matanya mengerjap secara perlahan. Dia menatapku dengan lemah. Aku buru-buru mengusap mataku yang basah.
"Mina-chan, kau ... kau sudah bangun? Lihat, di luar hujan deras! Aku akan membawakan untukmu," ucapku sambil beranjak dan segera keluar.
Berdiri di ujung tangga, aku langsung menengadahkan telapak tangan untuk menampung air hujan. Begitu penuh, aku berlari ke arah Ameena, membawa air hujan yang tertampung di tanganku. Yang kutahu, air hujan biasanya mengandung garam yang bersifat sebagai zat elektrolit yang bagus untuk cairan tubuh.
"Mina-chan, ayo minum! Kau kekurangan cairan." Kudekatkan ujung tangan ke mulutnya. Sial, airnya malah tumpah sebelum terminum olehnya.
Aku membantunya duduk bersandar di dinding. Dia tampak pasrah dalam rengkuhanku. Tubuhnya masih sangat lemah dan dia belum mengeluarkan sepatah kata pun.
Aku kembali berdiri di pinggir tangga untuk menampung air di kedua tanganku. Kubawa air itu padanya, kudekatkan kedua tangan ini ke mulutnya. Dia menatapku dengan ragu, lalu menunduk untuk menyeruput air itu. Aku terus bolak balik hanya untuk mengambilkan air hujan yang akan diminumnya.
"Minum banyak-banyak, agar cairan tubuhmu terisi," ucapku menyodorkan kembali air hujan yang berada dalam tampungan tanganku.
Air itu kembali terteguk habis olehnya. Aku merogoh saku jaket dan celana, mengeluarkan beberapa tanaman yang telah layu.
"Coba makan ini, aku juga sudah memakannya tadi. Aku tidak tahu apa namanya. Rasanya aneh, tapi lumayan bisa mengisi perut kita," ucapku sambil tertawa kecil.
Dia hanya memandangku dengan mengernyit. Karena merasa dia tak paham apa yang kuucapkan, aku mengambil satu bagian dari tanaman itu, lalu memakannya sebagai contoh.
"Hhmmm ... enak! Enak sekali!" ucapku sambil mengacungkan jempol. Saat tanaman itu tertelan di kerongkongan, aku merasa hampir muntah karena masih belum terbiasa memakannya. Namun, aku berusaha menyembunyikan ekspresi mualku dengan menyampingkan kepala.
Kucoba mengintip wajahnya. Sudut bibirnya tertarik kecil. Ia mengulurkan tangannya yang lemah, untuk mengambil tanaman itu.
"Ah, biar aku saja!" Aku merebut tanaman yang akan diambilnya, lalu kudekatkan ke mulutnya seperti orang yang tengah menyuap. Dia membuka mulutnya. Tidak terlalu lebar, tapi cukup untuk memasukkan makanan ini.
Tidak seperti aku yang memaksa menelan tanaman itu, kelihatannya Ameena lebih terbiasa memakannya. Terbukti, dia terus menerima suapanku hingga tanaman itu habis.
"Aku akan mengambil minum untukmu," ucapku sambil berlari ke luar.
"Khai ...."
Aku berbalik cepat begitu mendengar dia memanggilku. Seulas senyum halus tersemat di bibirnya. Aku tertegun. Itu adalah senyum pertama yang diberikan padaku secara langsung. Jika bisa, aku ingin menyimpan senyum itu.
__ADS_1