
Pada waktu itu, aku sempat berpikir bertahan dengannya di gurun dalam waktu yang lebih lama mungkin lebih baik daripada harus mengalami sakit seperti ini ....
.
.
.
Dari ekspresi mereka setelah melihat foto Ameena di kameraku, tampaknya perempuan itu sosok yang mereka cari-cari selama ini. Aku penasaran apa yang tengah mereka bicarakan saat ini. Namun, ada satu kata yang cukup familiar kudengar. Khair! Ya, pria yang memegang kameraku itu berkali-kali menyebutnya sambil menunjukkan wajah Ameena.
"Di mana kau memotret wanita ini?" tanya pria yang ada di hadapanku dengan nada mendesak.
Aku masih memilih bungkam. Sebenarnya, aku tidak paham mengapa mereka mempertanyakan keberadaan Ameena. Apakah mereka mengenalinya? Apakah perempuan itu adalah tawanan mereka yang kabur? Sungguh, aku tidak tahu! Aku tidak boleh gegabah. Mungkin saja mereka mengincar nyawa Ameena. Aku hanya bisa mengambil jalan aman dengan tidak menjawab pertanyaan mereka.
Seseorang kembali menendang untuk memaksaku berbicara. Satu tendangan tak cukup berhasil membuka suaraku, mereka kini malah menendang dan memukul dari segala arah. Membuatku roboh ke samping dengan mulut yang mengeluarkan darah. Bagian lenganku yang tertembak seperti mengalami mata rasa. Tubuhku semakin lemah. Namun, pendirianku masih teguh untuk tak mengatakan apa pun.
Pria yang memegang pedang menarik ujung bajuku, memaksaku bangun. "Foto itu baru kau ambil beberapa hari yang lalu, 'kan?Katakan, di mana kau memotretnya?"
Aku menatap matanya yang berapi. Penglihatanku mulai buram seolah pria itu memiliki banyak bayangan. Aku masih merapatkan bibir erat-erat, tak berkata apa pun.
"Baiklah, jika kau tidak mau mengatakannya." Dia kembali mengayunkan pedangnya ke arahku.
Tiba-tiba terdengar seruan seorang wanita yang sontak mengalihkan perhatian kami.
"Khai! Khai!"
Mataku terbuka lebar melihat Ameena menyeret langkahnya dengan lebar menuju ke tempat ini. Seketika, belasan senjata yang tadinya diarahkan padaku, langsung beralih padanya. Tak ayal, aku panik dan langsung berdiri.
"Mina-chan, lari! Cepat keluar dari sini," teriakku.
Melihat Ameena yang semakin dekat, pria yang memegang pedang tadi langsung memerintahkan anak buahnya menurunkan senjata.
"Ameena," sebut pria itu dengan tatapan tak percaya.
Ameena mendekati pria itu dan langsung berlutut sambil berbicara dengan nada memohon. Aku penasaran ingin mengetahui apa yang ia katakan pada mereka. Tolong, adakah dari mereka yang mau menerjemahkan ucapan Ameena? Aku ingin mengetahuinya!
Pria yang memegang pedang itu menatapku dengan penuh dilema. Sementara, Ameena masih terus memohon padanya. Nada suaranya begitu memilukan. Air mata perempuan itu mengalir deras. Meski tak tahu satu pun kalimat yang terucap dari bibirnya, tapi melihatnya memohon sambil terisak seperti itu, hatiku terasa diiris-iris sembilu.
Aku menggigit bibir seiring rasa sakit yang mendera seluruh tubuhku. Sulit rasanya mencoba untuk bertahan. Pandanganku semakin tidak jelas. Pusing. Aku limbung. Pada detik berikutnya, tubuhku terampas ke tanah diikuti dengan penglihatan yang berangsur-angsur menggelap. Apa pun yang terjadi setelah ini, aku sudah tidak tahu lagi.
***
__ADS_1
Dalam keadaan setengah sadar, kurasakan tubuhku terayun-ayun. Kucoba mengerjapkan mata. Di mana ini? Aku tersentak menatap ke sekeliling tempat yang cukup redup. Ternyata, saat ini aku berada dalam mobil dengan posisi berbaring dan kedua tangan terikat. Di sampingku, ada Ameena yang duduk bersimpuh sambil tersenyum samar padaku. Melihatnya baik-baik saja adalah sebuah kelegaan bagiku.
"Mina-chan!" Aku mencoba bangun. Namun, sulit kulakukan. Pandanganku terarah pada lilitan perban di lenganku. Tampaknya, sudah tidak ada lagi peluru yang bersarang di sana.
Ameena memandangku dengan penuh kekhawatiran.
"Mina-chan, apa mereka yang mencabut pelurunya?" tanyaku sambil menunjuk lilitan perban.
Dia mengangguk kecil. Aku mengangkat kepala, mencoba mengintip ke jendela. Aku terkesiap karena pemandangan di luar bukan lagi gurun pasir.
"Mina-chan, apa mereka akan mengantar kita ke Damaskus?"
Ameena kembali mengangguk.
"Yokatta ..." Aku tersenyum lebar sembari menghela napas. Akhirnya kami telah keluar dari gurun ini.
(Yokatta bahasa Jepang yang artinya syukurlah)
Ameena memberikan sepotong roti gandum padaku.
Aku menatapnya sambil tersenyum kecil. "Bagaimana aku bisa memakannya," ucapku sambil menunjukkan kedua tangan yang terikat.
Dia menunjukkan wajah sungkan, tapi tangannya mulai terulur sambil mendekatkan roti itu ke mulutku. Aku menerima suapan demi suapan dengan pandangan yang tertancap di wajahnya. Seolah wajah teduh itu memiliki magnet yang sulit membuatku berpaling.
Dia menunduk sambil mengambil roti baru lalu kembali menyodorkannya padaku. Aku menggeleng pelan.
"Sudah cukup. Simpan saja untuk berjaga-jaga," tolakku halus.
Tiba-tiba tubuh kami terhuyung tak keruan akibat guncangan mobil yang cukup kuat. Segera kuletakkan kedua tangan ini di kaca mobil agar tidak membuat kepalanya terbentur. Dia terkesiap menyadari kepalanya yang berbantalkan tanganku.
"Kalau seperti ini, tidak apa-apa, kan?" tanyaku sambil menatap dalam manik indahnya.
Mata kami saling beradu. Wajahnya terlihat sendu selama beberapa saat.
"Mina-chan, kau akan ikut denganku, kan? Kau mau tinggal bersamaku, kan?" tanyaku pelan, "jangan khawatir, teman-temanku pasti akan menerima kehadiranmu dengan senang hati. Kau bisa tidur di kamar Aoba. Tapi jangan kaget, dia lebih cerewet dariku. Jika kami bertugas di luar, kau hanya perlu menunggu di rumah sampai kami pulang."
Ameena masih tak berkata apa pun. Hanya memandangku dengan lara. Tidak apa-apa, diamnya kuanggap sebagai sebuah jawaban kalau dia setuju untuk ikut tinggal bersamaku. Aku memejamkan mata sambil bernapas dengan nyaman. Seulas senyum halus kusematkan di bibirku.
"Ah, seharusnya waktu itu kubiarkan saja kau tinggal di sisi kami," ucapku penuh penyesalan, "Apa kau bisa memasak? Jika iya ... aku ingin mencicipi masakanmu. Aku belum terbiasa dengan makanan di sini. Sewaktu tiga hari ditempatkan di negara ini, aku selalu hampir muntah mencoba makanan di sini. Untungnya, ibuku membawakan beberapa makanan kaleng Jepang sebelum aku berangkat," kenangku sambil terkekeh.
Aku terus meracau. Satu jam perjalanan kugunakan untuk bercerita. Meski Ameena hanya terus diam, meski dia tak memahami apa yang kukatakan, tapi setidaknya dia mendengarkan dan tak memalingkan pandangannya sedikit pun dariku. Pada titik ini, aku merasa kami semakin dekat.
__ADS_1
Mobil yang membawa kami tiba-tiba berhenti. Aku mencoba menengok jendela, apakah kami telah sampai di Damaskus?
Di saat yang sama, pintu mobil belakang terbuka membuat cahaya luar langsung menyoroti kami.
Seorang pria yang baru saja membuka pintu mobil itu, berkata padaku, "Kami hanya bisa menurunkan kau di sini. Dua ratus meter dari sini sudah memasuki wilayah Damaskus. Penjagaan sangat ketat di sana. Tenang saja, banyak kendaraan yang berlalu lalang di sini, kau bisa meminta tumpangan pada mereka."
Aku berusaha duduk, lalu membungkuk penuh pada pria itu. "Terima kasih, terima kasih banyak," ucapku senang. Aku lalu menatap Ameena yang masih memandangku dengan sendu. "Mina-chan, ayo kita pergi!"
Aku menaikkan sebelah lutut, bersiap untuk keluar dari mobil itu. Tak sampai sedetik, wajahku kembali menoleh ke arah Ameena yang tertunduk dalam seakan sedang menyembunyikan wajahnya yang dirundung nestapa.
"Mina-chan?" panggilku.
Ameena menatapku dengan pelan. Tak ada suara. Tak ada pergerakan apa pun. Hanya terlihat bibirnya yang tampak bergetar dengan mata yang mulai berkabut. Sampai di sini, aku berpikir Ameena sedang ketakutan sampai tak berani bersuara.
Pandanganku beralih pada pria yang baru saja membuka pintu mobil. "Tuan, biarkan wanita ini turun bersamaku. Kami telah bersama selama empat hari. Aku akan menjaganya."
"Tidak tahu malu! Siapa kau ingin membawanya pergi? Dia istri dari mendiang rekan seperjuangan kami," sergahnya dengan suara sangar, "kau harus berterima kasih padanya, jika bukan karena dia memohon pada ketua kami, kau tidak akan bernapas seperti sekarang ini! Selain itu, ketua kami juga mempertimbangkan kau telah menyelamatkan dia. Kami membawanya untuk memenuhi amanat dari mendiang suaminya. Sudah, cepat turun!"
Kalimat pria itu seolah menamparku. Aku terpukul sambil menatap Ameena dengan pelan, seolah meminta konfirmasi dari kata-kata yang baru saja kudengarkan. Tidak, aku sama sekali tidak kaget mengetahui fakta jika perempuan itu adalah seorang janda muda atau pun kebenaran tentang mantan suaminya yang bagian dari kelompok mereka. Sungguh, aku tidak peduli itu! Keterkejutan ini karena aku tidak terima mereka akan membawa Ameena.
Bukannya segera turun, aku malah maju mendekati Ameena. "Mina-chan, kau ingin ikut denganku, kan? Katakan pada mereka kalau kau ingin ikut denganku!" bujukku.
Ameena hanya memandangku dengan tatapan tak berdaya. Cahaya di matanya berangsur-angsur memudar. Berganti dengan butiran bening mulai mengalir di pipinya.
"Mina-chan?" Kupanggil namanya dengan penuh harap.
Ameena masih memandangku dengan penuh kebisuan. Matanya yang memerah tak berhenti mengeluarkan cairan bening.
"Mina-chan, ayo katakan!" Aku mendesaknya sambil berteriak. Kurasakan butiran air menggenang di pelupuk mataku.
Pria itu menarik badanku dan memaksaku keluar dari mobil. Aku menolak untuk keluar. Lebih tepatnya, aku menolak pergi jika Ameena tak ikut bersamaku. Kedua tanganku yang terikat berusaha berpegangan di pintu mobil. Ia bergegas melepaskan peganganku, tapi tanganku dengan cepat berpindah, menarik kerudung Ameena.
"Mina-chan, aku tidak akan turun jika kau juga tak turun! Katakan pada mereka kau ingin ikut denganku! Kau harus percaya padaku, aku akan menjamin keselamatanmu. Bukankah aku telah berkali-kali membuktikannya padamu?" ucapku memelas. Di ujung kalimat, suaraku sudah hampir habis karena terus berteriak.
Pria itu berusaha menarik tanganku yang tengah meremas kuat ujung kerudung Ameena.
"Mina-chan! Mina-chan!"
Pada detik-detik terakhir, aku menarik kuat kerudungnya hingga berada dalam genggamanku sepenuhnya. Mataku dan matanya beradu dalam nuansa kesedihan yang kental. Itu adalah bola mata terakhir yang kulihat. Sebab, setelah itu aku didorong keluar hingga terguling cukup jauh di jalanan yang beraspal ini. Pria itu ikut membuang tasku sebelum mobil itu berjalan meninggalkanku dan membawa pergi Ameena. Momen ini, terlalu mengoyak hatiku.
.
__ADS_1