
Kakiku sungguh berat meninggalkannya. Namun, jika aku tak melakukan ini, tak akan ada yang selamat di antara kami. Pada langkah yang ketiga, suara Ameena terdengar lirih memanggilku.
"Khai," ucapnya serak bahkan nyaris berbisik.
Aku terus melangkah tanpa menoleh ke arahnya. Aku akan lemah jika menatapnya. Berbekal kayu berukuran satu meter di tangan, aku pun berlari masuk ke tengah tempat terbuka itu.
"Mina-chan, saat mengantarmu ke kamp pengungsian, aku telah bertekad menjaga dan menjamin keselamatanmu. Pergilah ... tinggalkan tempat ini sekarang juga selagi aku mengalihkan fokus mereka. Bahkan meski aku tidak bisa keluar dari tempat ini, kau harus tetap selamat dan tidak perlu menungguku." Itu yang terucap dalam hatiku saat ini.
Dalam waktu sekejap, aku berhasil mengalihkan perhatian kelompok itu. Mereka yang tadinya berpencar ke setiap sudut untuk mencari kami, lantas berbalik dan mengejarku. Aku sengaja berlari ke arah yang berlawanan dengan tempat persembunyian Ameena. Dengan begitu, perempuan itu bisa segera keluar dari tempat ini.
Aku berlari zig-zag untuk menghindari muntahan peluru yang mulai diarahkan padaku. Seseorang datang dari arah depan sambil menghempaskan pelurunya. Tubuhku refleks berguling ke samping bagai bola yang menggelinding ke tanah. Suara desing senjata api terdengar riuh saling bersahut-sahutan dari segala arah. Aku hanya bisa berlindung dari satu pilar, lalu berpindah ke pilar lainnya.
Sial, aku tak menyangka mereka sebanyak ini. Mereka semua berpakaian lengkap serba hitam layaknya pasukan militer dengan wajah yang ditutupi sorban.
Salah seorang datang menghadang dari arah depan sambil mengayunkan pedangnya ke arahku. Tubuhku spontan miring ke samping, kemudian menangkis serangan pedangnya dengan kayu yang kupegang. Sayangnya, setengah dari kayu itu malah terpotong memendek. Dia kembali mengayunkan pedangnya ke arahku. Aku membungkuk lalu memuntir kakinya hingga membuatnya jatuh terbanting. Kesempatan itu kugunakan untuk melarikan diri.
Hujan peluru tak berhenti menyerang, menjadikan aku seperti musang dalam perburuan mereka. Aku memanjat benteng, melangkahi setiap pondasi, meloncat dari satu bangunan ke bangunan lain layaknya seorang peserta ninja warrior yang tengah menyelesaikan tantangan demi tantangan.
Di tengah usahaku untuk menghindari serangan peluru yang kian brutal, batinku malah mencemaskan Ameena. Apakah perempuan itu sudah keluar dari tempat ini? Aku ingin memastikannya. Dengan begitu, aku tinggal memikirkan cara meloloskan diri dari mereka. Kucoba menengok ke tempat persembunyian Ameena saat ini. Di saat yang sama, sebuah peluru melesat dengan cepat dan langsung menembus lengan kiriku tanpa bisa kuhindari. Rasa perih menjalar di tubuhku. Darah pun langsung tercetak di jaketku. Untuk sejenak, aku bersembunyi di balik patung sambil memegang lengan yang baru saja dikoyak timah panas.
Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang menekan bagian belakang kepalaku. Saat hendak menoleh, sesuatu kembali menekan pelipis dan bawah dagu. Ternyata semua itu adalah ujung senapan yang menempel langsung dengan kepalaku. Tak hanya itu, seseorang kembali datang dan menempelkan mulut senapan tepat di jantungku.
Melihat mereka yang mengelilingiku sambil mengarahkan senjata, rasanya sangat mustahil untuk melakukan perlawanan jika tak ingin mati konyol. Kedua tanganku pun terangkat dengan pelan sebagai tanda menyerah.
Mereka langsung melilitkan tali ke badanku lalu menggiringku ke tengah ruang teater terbuka. Darahku menetes di sepanjang langkah kakiku. Aku dipaksa berlutut dengan timah panas yang masih bersarang di lenganku.
__ADS_1
sumber gambar: treck zone
Aku tidak bisa menebak apa yang akan terjadi. Ada beberapa desas-desus yang mengatakan kalau kelompok ekstremis sangat membenci orang asing sepertiku dan tak segan untuk memenggal kepala orang. Tapi, aku tidak tahu apakah itu berlaku sama pada kelompok separatis seperti mereka. Yang jelas, saat ini aku hanya bisa pasrah sembari menahan sakit di lenganku. Lilitan tali ini terlalu kuat dan hampir mendekati luka tembak.
"Kau bukan orang Suriah! Katakan, siapa kau! Apa tujuanmu datang ke sini?" tanya salah satu dari mereka sambil mengarahkan ujung pedang ke leherku. Ya, postur tubuh dan bentuk wajahku yang sangat berbeda dari mereka, ditambah rambutku yang sedikit pirang membuat mereka langsung menyadari kalau aku adalah orang asing.
Aku terkejut pria itu cukup bagus berbahasa Inggris. Sayangnya, saat ini aku tak berniat untuk menjawab pertanyaannya. Mataku malah sibuk berkeliling, berharap Ameena telah kabur dari tempat ini.
"Jawab pertanyaan kami!" Satu orang menendang punggungku dengan keras hingga sebelah lututku terkulai.
Satu orang datang mengambil tasku lalu memeriksa isinya. Dia membuka dompetku, lalu melihat tanda pengenal yang tertulis sebagai jurnalis salah satu media besar di Jepang.
"Kau jurnalis?" tanyanya sambil menunjukkan kartu tanda pengenal karyawan yang ada di dompetku.
Aku mengangguk. Mereka terperanjat sekaligus terlihat marah.
"Kau pasti ke sini untuk mencari bahan berita! Siapa yang sudah memberitahumu tempat ini!" tanya pria itu lagi.
(Bunuh dia)
Aku menggeleng cepat. "Aku ke sini tidak untuk pekerjaan. Aku hanya tersesat setelah pulang meliput di kamp pengungsian dekat kawasan ini. Aku lalu menemukan tempat ini untuk beristirahat. Aku bahkan tidak tahu tempat apa ini," ucapku meyakinkan mereka.
Pria yang berada di hadapanku lantas berkata pada pria yang memeriksa tasku. Aku tak tahu apa yang ia perintahkan, tapi tampaknya ia menyuruh pria itu memeriksa file kameraku.
Pria itu lantas menatapku, sambil menunjukkan mata penuh kebencian. "Kalian para jurnalis asing, pasti akan menulis berita buruk tentang kami. Berita yang kalian tulis dan sampaikan ke seluruh dunia selalu menyudutkan kami. Kalian adalah budak rezim laknat ini!"
"Kill him! Kill him!" seruan itu terdengar kembali.
"Aku tidak tahu, jurnalis negara mana yang kalian maksud. Tapi, aku dan kawan-kawanku ... kami hanya menyampaikan apa yang terlihat di lapangan. Berita yang kami muat tidak diintervensi oleh siapa pun."
__ADS_1
"Setelah mengetahui markas ini, jangan harap kami akan membiarkanmu hidup!" Pria itu mengayunkan pedangnya dengan tinggi-tinggi.
Aku langsung berteriak pada mereka, "Bagaimana para jurnalis bisa menulis secara objektif tentang kalian kalau kalian saja tertutup pada kami. Kalian menutup diri dari negara lain yang datang ingin mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya. Kalian bahkan menganggap wartawan seperti kami adalah musuh. Padahal, pekerjaan kami hanya untuk menyampaikan kebenaran yang terjadi di negara ini."
Dengan tangan yang masih mengacungkan pedang ke atas, pria itu lantas membalas pernyataanku dengan dingin. "Memangnya kebenaran apa yang bisa disampaikan oleh wartawan? Selamanya, kami akan dicap sebagai pemberontak oleh negara dan penduduk dunia. Tidak peduli kami melakukan perlawanan atas nama rakyat dan keadilan, negara akan tetap menganggap kami orang-orang yang harus dimusnahkan. Tidak peduli seberapa kejam pemerintah terhadap rakyatnya, kebenaran hanya milik mereka yang berkuasa. Bahkan, jika kami tidak memenangkan perang ini, sejarah akan mencatat kami sebagai penjahat."
Aku menggeleng pelan sebagai bentuk ketidaksetujuanku atas opini mereka. "Kebenaran akan selalu mencari jalan agar bisa terkuak," ucapku pelan sambil menatapnya dengan tajam.
Aku menyapukan pandangan ke arah mereka yang berdiri dan membentuk setengah lingkaran untuk mengelilingiku.
"Apa kalian tahu Christopher Columbus? Dia adalah sang penjelajah Italia yang namanya tercatat dalam sejarah dunia sebagai penemu benua Amerika. Atas penemuan besarnya itu, pemerintah Amerika membuat hari libur nasional khusus untuk mengenang jasanya. Selama puluhan dekade rakyat Amerika pun mengadakan perayaan Columbus day setahun sekali. Tapi, belakangan ini terungkap jika Christopher Columbus adalah tokoh genosida terbesar dalam sejarah dunia. Dia merampas hak penduduk, menjadikan mereka budak, dan melakukan pembantaian besar-besaran terhadap suku asli Amerika hingga menghilangkan sejarah asli penduduk tersebut. Atas terungkapnya kebenaran ini, rakyat pun merobohkan patung-patung Columbus yang tersebar. Pemerintah juga menghapuskan Columbus day dan menggantinya dengan hari penduduk asli," ucapku dengan intonasi yang lambat.
Aku menarik napas sejenak, lalu melanjutkan perkataanku sambil tetap menatap mereka satu per satu. "Bukankah itu artinya, tak peduli butuh ratusan tahun, kebenaran pasti akan terungkap. Manusia boleh saja menilai siapa yang salah dan benar dalam versi mereka masing-masing, tapi kebenaran yang asli selalu bersifat mutlak. Jika kalian merasa berada di jalan yang benar, mengapa kalian harus takut menerima keberadaan jurnalis seperti diriku di tempat ini!"
Kalimat terakhir yang terlontar di mulutku, kuucapkan dengan lantang, tegas dan tanpa ragu. Bahkan suaraku terdengar memantul. Mereka semua terdiam. Untuk sesaat, suasana itu menjadi hening. Aku yakin mereka orang-orang cerdas. Terbukti beberapa dari mereka dapat memahami yang kukatakan.
Seseorang yang memeriksa kameraku tampak berseru sambil menunjukkan wajah Ameena dalam file potret terakhirku. Aku tak mengerti apa yang dia katakan pada teman-temannya.
"Di mana wanita ini kau lihat?" tanya pria di hadapanku dengan ekspresi kaget.
Aku terkesiap. Tampaknya mereka mengenali Ameena.
.
.
catatan author ✍️✍️
Kita tahu ya konflik di Suriah itu adalah perang saudara. Tapi tidak sesederhana itu, ada empat kubu yang berperang. kubu pemerintah vs pemberontak, dan kubu AS vs kelompok ekstremis, ya you know-lah apa nama gerakan untuk kelompok ini. Konflik yang ada di novel ini, tidak mewakili realita yang ada di sana.
__ADS_1
Jadi konflik Suriah di novel ini aku yang buat. jadi jangan sampai nanti kalian berpikir, "oh, ternyata ini yang terjadi di sana." Atau mungkin kalian berpikir, "wah kayaknya kak Yu pro ke kubu ini nih". Enggak ya... novel ini asli imajinasiku. Walaupun tetap mengambil latar belakang pihak-pihak kelompok perang yang sama.
Jangan lupa untuk tancepin jempol dan komengnya.?