
Ada yang mendadak pergi, tapi ada juga yang tiba-tiba datang. Di titik ini, aku tidak tahu apakah harus senang atau pun sedih.
.
.
.
Aku tergeletak di aspal setelah terguling sepanjang beberapa meter. Mobil yang membawa Ameena masih terlihat di pelupuk mata. Tak menyerah, aku mencoba merangkak sambil menggigit ikatan tali di kedua tanganku. Aku lalu berusaha bangkit untuk mengejar mobil itu. Kupegang lilitan perban di lenganku untuk meredam rasa sakit, sedang tanganku yang satunya lagi menggenggam erat kerudung Ameena. Kuseret langkah kaki ini, mencoba berlari untuk mengejar mobil itu. Perasaanku saat ini terombang ambing seperti kapal tanpa nahkoda. Untuk, pertama kali dalam hidupku, aku merasa setengah dari jiwaku hilang.
Mina-chan, kenapa kita harus berbagi luka jika semua warna telah berhasil kita goreskan bersama? Apakah kau dan aku hanya seperti angin yang singgah sebentar lalu kembali beranjak?
Wajah sendu perempuan itu masih membayang di benakku. Masih melekat di ingatanku pertemuan awal kami di puing-puing reruntuhan, perkenalan tak terduga kami di rumah ibadah, hingga kejadian demi kejadian naas yang terpaksa kami hadapi, semua terekam jelas layaknya sebuah film yang belum memiliki akhir cerita.
Empat hari memang singkat. Namun, untuk waktu yang tidak sebentar itu, kami telah banyak belajar bersama arti berjuang dan bertahan hidup. Setelah melewati suka duka itu, apakah kami akan berpisah seperti ini? Membiarkan semua yang telah berlalu menjadi kenangan pahit? Bahkan tanpa mengucapkan sepatah kalimat perpisahan padaku? Bukankah artinya, sebenarnya dia juga tak ingin berpisah dariku?
Aku terus berusaha berlari tanpa sadar pada realita kalau dia sudah tak mungkin untuk kukejar. Meski dipukul mundur oleh keadaanku yang tak memungkinkan, kakiku tak urung untuk berhenti melangkah. Bahkan jika harus terseok-seok atau pun merangkak, semua akan kulakukan.
Aku menatap gamang ke depan. Tenagaku sudah hampir habis, luka tembak di lengan ini masih terasa nyeri. Sungguh menyiksaku. Mobil itu semakin jauh, mengecil hingga lenyap dari pandanganku. Kakiku melemas. Tubuhku ambruk ke aspal. Di sisa-sisa tenaga, aku masih berusaha bangun. Sayangnya, tubuh ini terlalu lemah sehingga membuatku kembali terkapar tak berdaya. Aku ingin menangis, tapi pasokan air di tubuhku telah habis sehingga membuat air mata ini mengering.
Kami-sama, apakah aku akan mati di sini?
Aku sudah sampai di titik pasrah. Dadaku semakin sesak dan aku kesulitan bernapas. Menyerah mungkin sudah menjadi pilihanku. Kugenggam erat-erat kerudung peninggalan Ameena.
Aku tak ubahnya sampah busuk di tengah kota. Tinggal menunggu seseorang datang mengangkut, entah hidup atau mati. Berpayungkan langit, aku masih berharap keajaiban datang menghampiriku seperti waktu itu.
Di tengah ketidakberdayaan ini, samar-samar terdengar suara helikopter dengan baling-balingnya begitu yang bising. Suaranya semakin dekat, diikuti hempasan angin yang menerpa kuat. Aku yang masih tergeletak, sontak memantau langit untuk mencari keberadaan helikopter itu.
Apakah ini sungguhan? Aku melihat sebuah helikopter tengah melintas dan berputar-putar mengelilingiku. Sayangnya, aku sudah tak memiliki tenaga untuk melambaikan tangan ke arah mereka.
Helikopter itu kemudian melakukan pendaratan tak jauh dariku. Dengan penglihatan yang tak begitu bagus, kulihat beberapa orang keluar dari helikopter itu sambil berlari cepat ke arahku.
__ADS_1
"Ayano-san ...."
"Ayano-san ...."
Aku mengenali suara-suara itu. Siapa lagi kalau bukan So, Eiji dan Aoba. Mereka berlari bersama para tim penyelamat. Dari beberapa orang yang baru saja turun dari helikopter, pandanganku malah terfokus pada sosok perempuan yang sudah tak asing lagi bagiku.
"Kei! Kei-kun ...."
"Yu–yuna! Yuna-chan?" hatiku bergumam kecil.
Apa aku sedang berhalusinasi? Aku malah melihat sosok kekasihku berada di antara mereka yang berlari ke arahku. Semakin dia mendekat, aku semakin yakin itu benar-benar Yuna.
Jangan ke sini! Jangan melihatku! Aku tidak siap bertemu dengannya sekarang. Aku terlalu menyedihkan saat ini. Terlalu buruk untuk dia ketahui, kalau aku sedang meratapi wanita lain.
"Ayano-san, ini benar-benar dirimu? Kenapa kau bisa sampai seperti ini"
"Apa yang terjadi padamu? Kami mencarimu selama berhari-hari."
"Kei, ada apa dengan lenganmu?"
"Dia terluka parah! Ambilkan oksigen, cepat!"
Suara-suara itu masih terdengar jelas di telingaku. Bahkan aku bisa merasakan sentuhan tangan Yuna yang menggenggam lembut jari-jemariku.
Sesungguhnya, aku ingin berbicara, berteriak, dan meminta tolong pada mereka. Mungkin saja masih ada harapan untuk mengejar Ameena. Sayangnya, lidahku seakan kehilangan kemampuan untuk berkata-kata. Suaraku hilang. Kucoba mengangkat tangan dan menunjuk ke arah perginya mobil yang membawa Ameena. Tak sampai sedetik tanganku kembali jatuh, hanya telunjuk yang dapat kuarahkan. Namun, siapa yang peduli dengan bahasa isyarat ini?
"Kei-kun, bertahanlah!" Suara Yuna terdengar lirih. Kurasakan air matanya jatuh di punggung tanganku.
Yuna Sakurai adalah satu-satunya wanita yang kucintai sejak bangku sekolah. Hampir semua impian dalam hidupku, ingin kulakukan bersamanya. Kota ini pun tahu betapa aku merindukannya. Sekarang, aku justru memalingkan pandangan darinya. Di saat yang sama, mataku malah terjurus ke arah kepergian Ameena.
Yuna-chan, maafkan aku. Aku tak bermaksud melupakanmu beberapa hari ini ....
__ADS_1
Aku mulai dievakuasi ke helikopter. Oksigen pun telah terpasang di saluran pernapasanku. Mataku mulai terkulai dan menutup sempurna. Andaikan mereka datang tiga puluh menit lebih awal, mungkinkah Ameena bisa ikut bersamaku? Entahlah, yang jelas persimpangan jalan ini menjadi saksi perpisahanku dengan perempuan bermata biru itu.
***
Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Sepertinya sudah memakan waktu berhari-hari. Saat kelopak mata ini terbuka perlahan, wajah cemas Yuna lebih dulu memasuki retinaku.
"Kei ...." Yuna mengelus kepalaku dengan lembut. Seutas senyum tersemat di bibirnya.
Aku melihat ke sekeliling tempat. Ini bukan rumah sakit, hanya di ruang kamar losmen yang aku dan kawan-kawanku tempati. Namun, peralatan medis di tempat ini cukup memadai. Bisa kutebak, pasti Yuna yang merawatku.
Aku meringis saat mencoba bergerak. Kulihat jahitan di bekas luka tembak yang ada di lenganku.
"Kei, jangan banyak bergerak dulu!"
"Yuna-chan, kenapa kau bisa berada di sini? Di sini bukan tempat yang aman untukmu, pulanglah!"
"Pacarku hilang di kamp pengungsian dan menjadi pemberitaan beberapa negara, apakah aku hanya bisa berdiam diri sambil menunggu kabar?" Yuna menatapku dengan penuh prihatin. "Lihatlah, kau sudah sekurus ini! Kulitmu menggelap, wajah dan badanmu penuh luka, kau juga kekurangan banyak nutrisi. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kau sempat disandera? Kau bahkan tertembak tapi pelurunya telah dikeluarkan!" tanya Yuna dengan nada cemas.
Aku tertegun selama beberapa detik. Sederet pertanyaan yang dilayangkan Yuna seakan membangunkan ingatanku pada Ameena. Bagaimana keadaannya saat ini? Di mana dia tinggal? Apakah mereka memperlakukannya dengan baik? Bukankah aku perlu mencarinya?
Seketika aku menjadi gusar. Aku bernapas pendek-pendek dengan raut panik yang tercetak jelas di wajahku.
Melihatku seperti itu, Yuna mendekat lalu melingkarkan tangannya di dadaku. "Tidak apa-apa. Tidak apa-apa kalau kau belum siap ceritakan yang kau alami. Aku tahu, itu pasti adalah pengalaman traumatis di hidupmu. Tenang saja, Pamanmu telah meminta redaksi media tempatmu bekerja untuk menarikmu kembali ke Tokyo."
Aku terperanjat. "Kembali ke Tokyo?"
.
.
visual Yuna Sakurai
__ADS_1