
Rintikan dari atas langit masih menderai tanah gersang ini. Kurang lebih dua jam lamanya hujan bersorak ria di atas tanah berpasir ini. Aku sudah mengumpulkan daun kering yang memiliki bentuk cekung ke dalam untuk kujadikan wadah penampungan air, lalu kusimpan berjejeran di ruang kecil yang terdapat dalam koridor agar tetap terjaga dan tidak menguap.
Kini, aku duduk tercenung di depan tangga. Masih dalam keadaan tubuh yang basah kuyup. Duduk meringkuk kedinginan sambil menyaksikan bagaimana pepohonan yang jauh di sana tengah bertahan dari tamparan angin di segala arah.
Kata orang, ada hikmah di setiap kejadian. Para perampok memang membawa kami ke tempat yang lebih jauh. Namun, kawasan gurun ini masih lebih baik dari yang sebelumnya yang benar-benar gersang dan panas. Di sini, kami bisa mendapatkan tempat bernaung, memakan tanaman liar, dan mendapatkan curah hujan yang belum tentu ada di tempat lain meski masih di gurun yang sama.
Aku menoleh ke belakang, melihat Ameena yang tengah tertidur lelap di sela-sela nyanyian hujan. Kubiarkan perempuan itu beristirahat tanpa mengusiknya. Aku teringat beberapa jam lalu tepatnya saat ia tak sadarkan diri hingga alami henti jantung. Sungguh itu pertama kalinya aku sangat ketakutan. Kukira dia benar-benar akan meninggalkanku sebatang kara di sini.
Aku menarik tas ransel kemudian mengambil kamera dan menghidupkannya. Kulihat kembali file hasil jepretan terakhirku. Itu adalah potret wajah Ameena bersama seorang lansia yang kuambil saat terjadi penyerangan di kamp pengungsian.
Bayangan seseorang sontak mengalihkan perhatianku. Aku terkesiap melihat Ameena berdiri di ujung tangga, sengaja membiarkan hujan membasuh tangannya yang terulur ke depan. Buru-buru kusimpan kembali kameraku.
"Mina-chan, kau baik-baik saja?"
Dia menatapku sambil tersenyum samar. Meski matanya masih cekung, setidaknya wajahnya tak sepucat tadi. Dia lalu duduk sejajar denganku. Hanya saja, aku duduk di samping pilar sebelah kanan, sementara dia di pilar sebelah kiri. Kami bersama-sama menyaksikan hujan tanpa ada satu pun dari kami yang bersuara.
Aku mengambil sebuah potongan batu yang berbentuk lancip dan tajam bagian ujungnya. Iseng-iseng, bagian tajamnya itu kupakai mengukir namaku di pilar samping tempat dudukku.
"Mina-chan!" Aku menunjukkan ukiran namaku dalam huruf hiragana. "Ayano Khai, this is my name," ucapku meski yang tertulis adalah Ayano Kei–nama asliku.
Dia melihat ukiran namaku lalu mengulas senyum tipis. Aku melempar batu yang kujadikan alat ukir kepadanya. Dia menangkapnya dengan baik.
"Tulis namamu di sana," ucapku memintanya menulis namanya di pilar yang berada di sebelahnya.
Dia mengerti maksudku. Buktinya, dia langsung membelakangiku dan sibuk mengukir namanya. Tidak memakan waktu lama, dia langsung menunjukkan ukiran namanya dalam abjad Arab. Aku memerhatikan secara saksama setiap kata tersebut dan berusaha mengingatnya dengan baik.
Hari itu, kami tak ke mana-mana dan memutuskan tetap bertahan di gerbang kastil itu hingga pergantian hari kembali terjadi.
Matahari pagi kembali menyinari tubuhku. Sedikit menyilaukan, bak pin light yang menyoroti tengah panggung. Aku mengernyit sebelum membuka mata. Satu hari berada di gurun, seperti tiga puluh hari berada di tempat lain. Waktu seakan melambat. Tak ada yang bisa dilakukan. Tak ada yang bisa dimakan.
Seperti yang kukatakan sebelumnya, gurun pasir memiliki iklim yang ekstrem. Penguapan lebih cepat dan tingkat kelembapan udara sangat rendah. Sejak hujan berhenti, semua seakan kembali ke sedia kala. Kering. Panas. Gersang. Tubuhku yang basah pun mengering dengan sendirinya dari kemarin.
Di hari keempat ini, entah kenapa aku sangat yakin bisa keluar dari gurun ini. Aku kembali mengirim sinyal permintaan pertolongan. Kali ini kucoba membuat asap di depan gerbang kastil yang kami tinggali. Sejenak, aku menoleh ke arah Ameena yang duduk di tangga sambil memperhatikanku. Kami saling melempar senyum.
Begitu asap keluar, aku langsung menghampirinya. "Mina-chan, aku akan mencari makanan. Tunggulah di sini!" ucapku berjongkok di hadapannya.
__ADS_1
Dua hari bermalam di gerbang kastil ini, aku malah belum pernah menginjakkan kaki ke dalamnya. Oleh karena itu, kuputuskan untuk memasuki kawasan kastil. Ya, siapa tahu saja aku menemukan sesuatu yang bisa dimakan.
Kulangkahkan kaki ini ke halaman utama kastil. Selain pilar-pilar yang menjulang tinggi, terdapat patung-patung dan sejumlah monumen purba di sekitarnya.
sumber gambar ; Getty images
Aku kemudian memasuki halaman teater dengan mata yang berpendar ke segala arah. Tidak ada sesuatu yang bisa kutemukan, aku pun tertarik untuk menjelajahi ruangan lain.
Aku berusaha membuka setiap pintu yang ada. Sayangnya, semua terkunci rapat. Setelah cukup lama mengeksplorasi tempat ini dan tak menemukan apa-apa, aku pun beristirahat sejenak sambil menyandarkan satu tangan ke dinding. Secara mengejutkan, telapak tangan yang kusandarkan itu malah seperti memencet sesuatu. Bersamaan dengan itu, dinding tembok di sampingnya berguncang tiba-tiba.
Aku terkejut, kukira terjadi gempa. Tapi tak menunggu berapa lama, tembok itu malah terbuka dan menunjukkan sebuah ruang rahasia di bawah tanah.
Aku terperanjat melihat hamparan anak tangga di hadapan dinding beton yang terbuka. Mataku pun menatap ke sekeliling penjuru. Tak ada siapa-siapa. Dengan rasa penasaran yang tinggi sebagai seorang jurnalis, kuputuskan turun ke bawah untuk mengetahui isi dari ruang bawah tanah itu. Tempat ini adalah salah satu bukti sejarah peradaban. Mungkin saja, dengan menelusuri di bawah sana, aku bisa menemukan bahan liputan menarik yang akan kubawa pulang nanti saat keluar dari gurun ini.
Keterkejutan berlanjut ketika aku tiba di dasar ruang bawah tanah. Bola mataku serasa membesar dua kali lipat. Bagaimana tidak, ruang bawah tanah ini ternyata tempat penyimpanan senjata api dan terdapat sejumlah bahan pembuatan bom.
Tak hanya itu, aku melihat ada foto sosok tokoh besar di sana. Foto itu penuh dengan bekas anak panah dan coretan kebencian. Aku mengenalinya sebagai presiden Suriah saat ini. Terdapat juga bendera Rusia yang kusam, kotor, dan penuh dengan coretan. Ya, Rusia merupakan negara yang mendukung penuh pemerintahan Suriah dalam perang saudara ini.
Hanya ada dua kemungkinan yang dapat terpikirkan otak ini. Tempat ini adalah markas besar pemberontak atau bisa juga menjadi pusat kelompok ekstremis. Tapi melihat ada bendera Rusia di sini, sepertinya ini adalah markas pertahanan kubu oposisi atau yang disebut pemberontak.
Menemukan kenyataan seperti ini membuatku terguncang. Seketika, aku berlari kencang meninggalkan ruangan itu menuju ke tempat Ameena. Kami harus segera kabur sebelum orang-orang itu kembali ke sini dan melihat kami. Sialnya, aku sempat mengirimkan sinyal S.O.S di depan kastil yang jika terbaca oleh mereka, itu bisa diartikan sebagai kode bahaya untuk markas mereka.
Aku menghampiri Ameena yang menyambutku dengan senyum.
"Mina-chan, kita harus pergi dari sini! Ayo, ikut bersamaku," ucapku panik sambil segera memakai jaket dan menggendong tas ransel.
Ameena tampak tak paham. Ya, sejak ponselku mati, kami kesulitan untuk berkomunikasi.
"Ayo pergi! Di sini tidak aman!" perintahku lagi.
__ADS_1
Bertepatan dengan itu, aku mendengar suara gemuruh mobil menuju ke arah sini. Kami kompak memandang ke depan. Dari jarak yang tak begitu jauh, kami dapat melihat beberapa kendaraan tempur yang menuju ke tempat ini. Bagaimana bisa mereka datang secepat ini?
sumber gambar: fasnlow.net
Tidak ada waktu lagi, aku langsung memerintahkan Ameena untuk lari bersama ke arah belakang. Ia memegang ujung jaketku sambil mengikuti arah langkahku. Kami tidak punya pilihan lain selain memasuki lingkungan kastil dan bersembunyi di salah satu tempat. Sialnya, mereka masuk dengan cepat dan menyebar ke dalam lokasi kastil, sehingga membuat kami terkepung dan tak bisa meloloskan diri.
Tampaknya, mereka menyadari kehadiran kami yang mungkin dianggap sebagai penyusup. Apalagi, aku belum sempat mematikan asap yang kubuat. Mereka mulai menyisir ke setiap sudut kastil ini. Beberapa di antaranya memegang senapan api, ada juga yang memegang pedang panjang.
Sedang sibuk mengawasi pergerakan mereka, tiba-tiba kurasakan jaketku tertarik. Saat menoleh, rupanya itu adalah remasan tangan kecil Ameena. Perempuan itu masih bersembunyi di belakang punggungku dengan mata yang terpejam kuat. Melihatnya ketakutan seperti itu, membuatku tak tega menempatkannya pada situasi buruk seperti ini.
"Mina-chan," panggilku berbisik.
Dia membuka matanya. Sepasang mata kami bersirobok.
"Aku akan menghalau mereka untuk mengalihkan fokus. Di saat itu juga kau harus segera tinggalkan tempat ini dan pergilah ke tempat kita sebelumnya, tempat para perampok menurunkan kita. Setelah itu, aku akan segera menyusulmu ke sana."
Dia hanya memandangku. Sepertinya kata-kataku terlalu sulit untuk dicernanya.
"Mina-chan, aku akan mengalihkan fokus mereka dan kau harus memanfaatkan itu untuk segera lari dari sini." Aku berusaha menjelaskan kembali meski aku tak yakin dia dapat memahami kata-kataku.
Dia masih bergeming. Namun, matanya yang mulai memerah itu tak lepas memandangku.
Kali ini kugunakan bahasa Inggris yang mudah dipahami sambil menatap matanya lamat-lamat.
"Mina-chan, go! Go away, please ...."
Aku berbalik cepat untuk melancarkan aksiku. Namun, kurasakan jaketku kembali tertarik kebelakang. Aku memutar kepala, menatapnya yang memandangku dengan lara. Ada genangan air di sepasang bola matanya. Tatapan mata itu seolah berbicara padaku untuk tidak pergi.
"Tunggulah aku di sana! Jangan khawatir, aku pasti akan menemukanmu!" ucapku sambil melepaskan tarikan jaketku di tangannya.
Kuambil sebilah kayu yang ada di sekitar situ, kemudian mulai berjalan meninggalkannya. Sejujurnya, aku ingin memeluknya. Sangat ingin memeluknya. Seakan aku memiliki firasat kalau kami akan berpisah di hari ini.
__ADS_1
.