
Dengan banyaknya perbedaan yang kami miliki, akal sehatku cukup sadar diri untuk tak berani jatuh cinta padanya. Namun, ternyata perasaanku telah mendahului semuanya. Pada saat itu, aku sepenuhnya lupa, hatiku telah ditempati oleh seseorang yang jauh di sana ....
.
.
.
Kegelapan masih menguasai kami saat ini. Sentuhan jari-jari Ameena sungguh melenakan. Tak hanya belaian, aku bahkan bisa merasakan hembusan napasnya. Bisa ditebak, seberapa dekatnya kami saat ini. Aku rela membisu dan menahan napas sejenak demi mendapatkan momen langka ini lebih lama. Namun, aku segera sadar kalau ini tak benar. Bagaimanapun, aku adalah pria normal yang sudah memiliki kekasih dan dia seorang perempuan dengan segala prinsip hidupnya yang belum kupahami. Dengan adanya hal itu, mencukupkan kami untuk tak melewati batas.
"Khai!" Tangan Ameena malah turun ke bawah, meraba-raba dadaku.
Aku jadi khawatir, apa dia bisa merasakan bunyi detak jantungku yang berdentam-dentam tak keruan?
"Ya ... Mina-chan, ini aku!"
Perlahan, ia menarik jari-jari lentiknya itu. Di saat yang sama, ujung sepatu kami malah saling bersenggolan.
"Tetap diam, jangan bergerak!" pintaku.
Ameena malah tanpa sadar menginjak kedua sepatuku dan itu membuat jari-jariku menahan sakit. Karena aku menyuruhnya diam, dia tak bergerak sama sekali di atas kakiku. Sialnya, ini membuatku tak bisa bergerak. Aku pun bingung bagaimana cara mengambil ponsel dengan keadaan seperti ini.
"Mina-chan, kau menginjak kakiku," bisikku.
Ameena hanya bergumam, tapi masih tak bergerak. Apa mungkin dia tak mengerti ucapanku?
"Mina-chan, bisakah kakimu menyingkir? Aku jadi tidak bisa bergerak!"
Dia masih tak bersuara dan juga tak melakukan apa yang kupinta. Bagaimana ini? Hingga kini, tak ada setitik cahaya pun yang bisa terlihat. Aku takut malah tak sengaja menyentuh bagian tubuhnya seperti yang dia lakukan padaku sebelumnya. Kucoba mengangkat kakiku. Tampaknya dia langsung tersadar kalau kakinya menginjak kakiku.
Ketika hendak menurunkan kakinya, ia tampak kehilangan keseimbangan. Ia menjerit kecil sambil menarik kedua sisi jaketku. Tarikan kuat tangannya di jaketku, membuat tubuhku condong ke depan. Aku refleks menangkap tubuhnya. Aku tak tahu apakah tindakanku ini salah, tapi jika tak kulakukan dia pasti akan jatuh.
__ADS_1
Dengan segera, dia mendorongku hingga jatuh terduduk. Kesempatan ini kugunakan dengan cepat untuk mengambil ponsel yang jatuh. Begitu ponsel itu di tanganku, segera kuhidupkan senter untuk menerangi koridor ini.
Tepat saat cahaya ponsel itu berpendar, mata kami langsung bertemu. Aku melihatnya duduk meringkuk memeluk lutut. Ada ketakutan di bola matanya. Aku tidak mengerti dengan arti ketakutannya saat ini. Apakah karena takut gelap atau jangan-jangan takut melihat wajahku yang buruk rupa. Aku pun buru-buru menutup wajah ini dengan sebelah tangan sambil mengetik sesuatu yang akan diperlihatkan padanya.
"Mina-chan, jangan takut! Tampaknya tempat ini cocok untuk kita tinggali sementara waktu. Tunggulah di sini! Aku akan mencari sesuatu yang bisa dijadikan penerang."
Aku segera keluar dari tempat itu, menuruni anak tangga untuk mencari beberapa daun kering yang berserakan di sekitar halaman gerbang kastil. Ponselku yang dayanya tersisa tiga persen, kubiarkan tetap dipegang oleh Ameena. Sementara aku hanya berbekal pemantik api yang tersimpan dalam tas.
Daun-daun kering dan ranting kecil sudah cukup terkumpul untuk membuat api unggun di depan koridor gerbang. Setidaknya ini bisa menjadi penerang dan juga penghangat tubuh kami.
Aku kembali padanya dengan tangan yang masih sibuk menutupi wajah buruk rupa ini agar tak dilihat oleh Ameena. Meski bukan pria yang senang tebar pesona di hadapan para wanita, tetap saja aku ingin menjadi diriku yang seperti biasanya untuk tampil di depan Ameena. Tidak seperti ini!
"Khai?" panggilnya sambil mencoba mengintip wajah jelek yang berusaha kututupi.
Segera kuingat, bukankah Ameena telah lebih dulu melihat wajahku yang buruk rupa. Mungkin saja dia lebih terbiasa melihat wajahku yang seperti ini dibanding diriku sendiri. Ya, benar, meskipun keadaanku seperti ini, dia sama sekali tak takut maupun jijik.
Aku pun memberanikan menatap Ameena seperti biasa. Dia mengembalikan ponselku yang sudah mati total karena kehabisan daya.
Dia mengangguk. Namun, masih menatapku yang berdiri diam di depannya. Caranya memandangku seolah ada kata-kata yang tertahan untuk diucapkan.
Sadar jika dia tak ingin kami berdekatan seperti biasa, aku lantas berkata. "Jangan khawatir, aku akan tidur di sebelah sana!"
Aku menunjuk pilar besar di luar sana yang berdekatan dengan anak tangga dan api unggun. Kelihatannya dia memahami apa yang kuucapkan. Hanya saja mungkin dia bingung kenapa aku masih berdiri tanpa segera beranjak.
Sadar diri kalau keberadaanku di dekatnya membuatnya sedikit tak nyaman, aku lantas berkata, "Ah, aku tidur dulu. Oyasuminasai."
Meski telah mengucapkan selamat tidur, tapi aku masih mematung di tempat. Entah kenapa kakiku terasa berat untuk beranjak. Pandanganku pun tak bisa berpaling ke tempat lain. Karena terlihat seperti menunggu kepergianku, apa boleh buat ... aku pun mulai menggerakkan kaki dengan berat hati.
"Aku ... sudah ... mau tidur," ucapku putus-putus sambil berjalan mundur.
Dia mengangguk. Aku berbalik pelan. Baru beberapa langkah, aku kembali memutar tubuhku ke arahnya.
__ADS_1
"Mina-chan," panggilku tiba-tiba yang m membuatnya kembali menatapku. "Kalau kau butuh bantuan, tinggal teriak panggil namaku. Khai! Khai!" ucapku menirukan agar dia bisa memahami apa yang kukatakan.
Dia kembali mengangguk. Aku malah terpaku diam sambil senyum-senyum tak keruan. Dia kembali menatapku, aku langsung berbalik cepat dan kembali melangkah.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Kuputar kembali badanku menghadapnya.
"Mina-chan, besok jika kau bangun cepat, tolong bangunkan aku juga. Aku akan mencari bahan yang bisa kita makan," ucapku penuh semangat. Entah dia paham atau tidak, yang jelas aku hanya ingin terus menatapnya.
Aku berjalan mundur dengan pandangan yang masih tertancap padanya. Bibirku sedari tadi tak berhenti menyunggingkan senyum.
"Mina-chan," panggilku kembali. Saat dia menoleh ke arahku, aku sedikit bingung. Semacam kehabisan kata-kata. Namun, karena dia tampak menunggu, aku lantas segera berkata, "Mina-chan, oyasuminasai."
Kali ini dia hanya menatapku dengan wajah datar. Aku yakin mungkin dia mulai kesal karena terus memanggilnya.
Aku menggaruk-garuk kepala sambil tertawa bodoh, "Ah, aku lupa. Aku sudah mengatakan padamu tadi."
Aku terus melangkah mundur dengan tatapan yang masih tak lepas darinya. Apa ini? Ada sesuatu yang membumbung tinggi di dadaku. Aku tak mengerti apakah tubuhku sedang mengalami reaksi kimia? Aku dapat merasakan gabungan dari hormon feromon, endorfin dan serotonin yang membuatku bahagia hanya dengan menatapnya. Rasa yang meluap-luap ini sungguh ambigu. Baru saja memutar tubuhku, kepalaku malah terbentur pilar besar yang ada di depanku.
BUGH!
Bunyi yang ditimbulkan dari benturan ini menjadi bukti betapa sakitnya kepalaku. Untuk sesaat, aku hampir limbung ke belakang.
"Khai?" panggil Ameena penuh kekhawatiran setelah melihatku menabrak tiang.
"Temboknya tak sengaja menabrakku," ucapku menyengir bodoh sambil mengelus-elus pilar itu. Meski sakit, tentu saja tak ingin menampakkan di hadapannya.
Raut khawatirnya berganti dengan tawa ringan di bibirnya. Mungkin baginya aku seperti makhluk aneh yang datang dari dunia lain. Melihatnya menyembulkan tawa tertahan, tidak membuatku merasa diejek. Malah aku pun ikut tertawa. Sejujurnya, aku tidak pernah bertingkah konyol seperti ini. Teman-temanku bahkan menilaiku sebagai sosok yang serius.
Aku duduk bersandar di pilar besar itu. Tak sampai lima menit, aku menengok ke belakang hanya untuk melihatnya. Tampaknya, dia mulai tertidur. Besok, telah memasuki hari ketiga berada di gurun ini. Namun, tak ada tanda-tanda penyelamatan maupun pencarian. Aku penasaran, mungkinkah So dan lainnya menganggap aku menjadi salah satu korban dari serangan di kamp pengungsian? Jangan-jangan mereka malah menganggap aku sudah mati!
Sempat terpikir di benakku, akankah kami seperti kisah antara prajurit dan pelayan yang hidup di gurun? Ah, mana mungkin! Bagaimana pun caranya kami harus keluar dari gurun ini. Namun, masih ada satu hal yang mengganjal, apakah Ameena mau tinggal bersamaku dan kawan-kawan?
__ADS_1