Sang Jurnalis

Sang Jurnalis
Part 40 : Aku dan Gadis Kecil


__ADS_3

Di negeri yang pernah dijuluki Sekeping Surga di Tanah Arab ini, aku berjumpa dengan orang-orang spesial dan mengukir kisah bersama mereka yang begitu sulit kulupakan di kemudian hari ....


.


.


.


Langit telah menggelap. Suasana tampak mencekam di mana bau bahan kimia dari ledakan bercampur dengan aroma darah yang menyeruak indera penciumanku. Sudah berjam-jam lamanya aku dan anak kecil itu terjebak di dalam toko yang telah porak poranda. Pertempuran kali ini benar-benar sengit, seolah tak ada waktu untuk beristirahat bagi mereka. Suara tembakan masih bersahut-sahutan tanpa jeda, diiringi bunyi ledakan granat sesekali.


Udara malam kali ini begitu menusuk kulit kami. Aku memeluknya yang tengah meringkuk kedinginan. Anak kecil itu duduk di pangkuanku sambil menggenggam erat kedua tanganku. Setiap terdengar bunyi ledakan, dia akan menggigit punggung tanganku dengan kuat. Kami tak bisa ke mana-mana karena lokasi toko ini berhadapan langsung dengan titik pusat kedua kubu yang saling serang. Sudah tak terhitung jumlah peluru nyasar yang mengarah pada kami. Untung saja kami terlindungi oleh lembaran tembaga yang menumpuk di bagian depan toko.


"Jangan takut!" bisikku.


Dia menoleh ke arahku, tatapan sendu dari sepasang bola matanya itu membuatku teringat seseorang. Ya, anak ini membuatku kembali terkenang akan awal pertemuanku dengan Ameena.


"Apa kau lapar?" tanyaku lagi.


Dia mengangguk cepat. Aku merogoh saku kiri celanaku. Tak ada apa-apa selain ponsel yang sengaja kumatikan. Aku kemudian merogoh saku kanan celanaku, hanya ada dua buah permen. Aku langsung memberikan permen itu padanya.


"Makanlah ini! Begitu keluar dari sini, akan kucarikan makanan yang lebih enak dan mengenyangkan," ucapku sambil membuka pembungkusnya lalu memasukkan permen itu ke mulutnya.


"Terima kasih, Paman Pirang!" ucapnya sambil mengulas senyum.


Mataku terbuka lebar dan tanganku spontan memegang rambutku yang didominasi warna kuning keemasan. Aku lalu tertawa, sambil berkata, "Jangan panggil aku paman! Aku masih muda! Berapa usiamu?"


Dia mengangkat keenam jarinya, tanda usianya enam tahun. Usiaku sendiri tahun ini menginjak dua puluh enam tahun. Namun, bukankah usia itu masih terlalu muda untuk dipanggil paman?


"Kita hanya beda dua puluh tahun. Jadi, panggil aku kakak. Oke?" pintaku.


Dia mengangguk. "Ya, Kakak Pirang."


Berbeda dengan saat bertemu Ameena, kali ini kami tak kesulitan berkomunikasi karena aku telah lancar berbahasa Arab. Sayangnya, aku belum bisa menanyakan jati dirinya lebih jauh karena suara ledakan terus terdengar secara beruntun hingga membuatnya kembali ketakutan.


Satu jam setelahnya, kontak senjata mulai mereda. Ada sekitar tiga puluh menit kubiarkan waktu berlalu untuk memastikan peperangan dua kubu itu telah berakhir. Kutatap anak itu, ternyata dia telah terlelap di lenganku. Tahun lalu, saat bertemu dengannya aku sampai tak tahu kalau dia seorang perempuan jika Zaheera tak mengatakannya lebih dulu. Namun sekarang, ia benar-benar terlihat sebagai gadis kecil yang cantik dalam balutan jilbab putih yang terdapat percikan darah.


Begitu yakin situasi di luar mulai aman, aku lalu menggendong gadis kecil itu untuk keluar dari persembunyian kami. Mirisnya, pemandangan yang harus kami lihat adalah ribuan manusia tanpa nyawa yang tergeletak begitu saja. Aku melangkah penuh hati-hati agar tak menginjak mayat-mayat itu. Beberapa titik tempat masih ada asap dari sisa-sisa pengeboman.


Tak ada kendaraan satu pun yang melintas membuatku harus berjalan kaki dengan rompi dan helm antipeluru yang begitu berat. Ditambah lagi, aku harus menggendong anak itu di atas punggungku. Aku berusaha menghubungi kawan-kawanku, tapi ternyata sinyal di daerah ini hilang karena efek perang tadi. Lapar dan haus bercampur menjadi satu.


"Kakak Pirang ...." Suara gadis kecil itu mengalun pelan di telingaku.


"Ya ...." Aku bergegas menoleh ke belakang.


"Aku ingin turun!"


"Kenapa? Apa ada yang sakit di tubuhmu?"

__ADS_1


Dia menggeleng.


"Mau buang air kecil?"


Dia kembali menggeleng. "Aku juga ingin ikut berjalan di sampingmu. Kalau terus menggendongku, kau akan kelelahan."


Aku tergemap. Bagaimana mungkin anak umur enam tahun memiliki rasa simpatik dan pengertian seperti ini.


"Ah, tidak apa-apa. Aku ini mantan tentara. Sudah pasti kuat."


"Benarkah? Apa Kakak Pirang pernah menembak orang? Apa kau juga suka menangkap orang? Berapa banyak yang sudah kau bunuh?"


Aku terdiam. Profesi tentara seharusnya menjadi profesi kehormatan dan kebanggaan di setiap negara. Tapi anak kecil di negara ini menganggap tentara tak ubahnya adalah pembunuh. Sebab, itulah yang terlihat dan terekam oleh otak mereka selama ini.


"Kakak Pirang, apa kau punya teman di sini?"


"Teman? Hhmm ... punya!"


"Seperti apa temanmu?"


"Aku punya tiga orang teman."


"Seperti apa mereka? Apa ada yang perempuan?" tanyanya lagi.


"Ada. Mereka semua rekan kerjaku."


Setelah berjalan jauh, aku menemukan kantor polisi. Aku memutuskan ke sana untuk menitipkan anak ini. Di sana, aku lalu membuat laporan temuan anak di tengah perang, berharap agar polisi dapat mencarikan orangtuanya. Sebelum selesai menulis laporan, aku menoleh sejenak ke anak itu. Ternyata dia juga tengah menatapku sambil duduk diam di bangku tunggu.


Aku mendapat telepon dari So yang ternyata telah menungguku di luar kantor. Ya, aku memang menghubungi mereka untuk menjemputku pulang. Begitu selesai membuat laporan, aku menghampiri gadis kecil itu sambil berjongkok di hadapannya.


"Adik, polisi tengah berusaha mencari keluargamu. Kau harus berada di sini sampai seseorang datang menjemputmu." Aku menepuk kepalanya dengan lembut, lalu berdiri dan berbalik.


Baru dua langkah, aku merasakan tarikan kuat di ujung bajuku. Aku berbalik, menatap dia yang berdiri di belakangku dengan tangan mungil yang meremas kuat ujung bajuku.


"Adik, kau tidak boleh ikut aku. Kau harus menunggu keluargamu di sini!" Aku kembali berbalik dan berjalan cepat menghampiri So yang sudah menungguku. Namun, kurasakan langkah kakiku diikuti seseorang. Aku memutar badanku, ternyata gadis kecil itu masih membuntutiku.


"Tetaplah di tempat! Jangan mengikutiku!" pintaku sambil mengarahkan gadis kecil itu agar tetap diam tak bergerak. Aku bahkan sampai berjalan mundur untuk memastikan dia tak mengikutiku.


Aku kembali berjalan cepat. Namun, suara serak gadis kecil itu membuat langkah kakiku tertahan.


"Kakak Pirang ...."


Aku menghela napas, kemudian berusaha tak mengacuhkannya. Namun, dia terus memanggilku dengan lirih.


"Ayano, apa dia anak kecil yang kau tolong tadi?" tanya So.


Aku mengangguk sambil bersiap menaiki motor yang disewa So untuk menjemputku. Anak itu masih terus memanggilku.

__ADS_1


"Dia terus memanggilmu! Sepertinya dia ingin ikut denganmu."


"Mana mungkin kita membawanya. Bagaimana kalau orangtuanya sedang mencarinya saat ini. Membawa dia ke kepolisian terdekat sudah tepat," ucapku.


"Bagaimana kalau orangtuanya ternyata meninggal saat kontak senjata tadi. Bukankah banyak penduduk setempat yang tewas? Ah, aku jadi teringat pada keponakanku yang seumur anak ini."


Mataku membulat seketika. Aku spontan menoleh ke arah gadis kecil itu. Kemudian kulihat keadaan di sekeliling. Ini sudah larut malam, polisi yang berjaga-jaga pun tampak tak peduli padanya. Aku menghampirinya dengan cepat. Kedatanganku disambut dengan senyum yang menawan.


Aku berjongkok di depannya sambil memegang kedua tangannya. "Adik, apa kau mau ikut denganku?"


Dia mengangguk cepat.


"Tapi kau harus menjawab pertanyaanku."


Dia hanya memandangku dengan tatapan polos.


"Siapa namamu?"


"Khalila Ali."


"Ka–kha–khari–khalila?" Aku dan So kesulitan menyebut namanya.


"Kenapa ada nama yang sesulit ini!" protes So.


Dia malah menertawakan kami yang tampak mengeja namanya. Sebagai orang Jepang asli, kadangkala aku masih kesulitan melafazkan konsonan L dan R. Ini karena dalam bahasa kami tidak ada penyebutan L dan R secara jelas.


"Namaku Ayano. Panggil aku Kak Ayano! Dan ini temanku, So."


So melambaikan tangan ke arahnya dengan ramah.


"Apa kau memang tinggal di wilayah ini?" tanyaku lagi.


Dia menggeleng. "Tidak, aku hanya datang bersama ibuku untuk membagikan sembako ke tempat ini. Tapi tentara datang menyerang tiba-tiba hingga membuat aku dan ibuku terpisah," ucapnya dengan gaya penjelasan anak kecil yang khas.


"Hei, Ayano, apa yang dia katakan?" tanya So penasaran.


Aku menjelaskan kembali ucapan anak itu pada So.


So terkejut. "Jangan-jangan ibunya sudah tewas!"


Aku kembali menatap gadis itu. Kali ini, sinar matanya meredup.


Aku lantas menggendongnya sambil berkata, "Jangan sedih! Besok kita akan mencari ibumu!"


.


.

__ADS_1



visual Khalila Ali


__ADS_2